Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Analisis Hubungan Kesehatan Mental Terhadap Hasil Belajar Anak 5-6 Tahun Kabupaten Sukabumi Nurhasanah; Ibnu Hurri; Elnawati
Jurnal Pelita PAUD Vol 6 No 1 (2021): Jurnal Pelita PAUD
Publisher : STKIP Muhammadiyah Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33222/pelitapaud.v6i1.1407

Abstract

Kondisi kesehatan mental anak usia dini merupakan salah satu aspek perkembangan yang harus diperhatikan dan dikembangkan karena kesehatan mental anak akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan yang ditunjukkan oleh anak salah satunya dalam hasil belajarnya. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitaif survey, melakukan analisis mengenai hubungan antara kesehatan mental anak terhadap hasil belajar anak usia 5-6 tahun dengan responden yaitu para pendidik di lembaga PAUD di Kabupaten Sukabumi, yang terdiri dari 43 pendidik PAUD yang berasal dari Kecamatan Parungkuda sebagai sampel penelitian ini. Hasil penelitian menyatakan bahwa kesehatan mental memiliki hubungan yang kuat dan positif terhadap hasil belajar anak dengan nilai koefisien determinasi sebesar 44,22%. Artinya, hasil belajar anak 44,22% dipengaruhi oleh kesehatan mentalnya. Hal ini didukung oleh hasil nilai signifikansi hasil olah data lapangan yang menunjukkan bahwa kesehatan mental berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar anak usia 5-6 tahun di Kabupaten Sukabumi.
PERAN KEHARMONISAN KELUARGA TERHADAP PRESTASI ANAK USIA DINI DI RA NUURUSSHIBYAN KABUPATEN SUKABUMI Neni Sumarni; Elnawati Elnawati; Asep Munajat
PELANGI: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Vol 5 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini - IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/pelangi.v5i2.1742

Abstract

Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang paling utama bagi anak-anak dalam mendapatkan pengetahuan,bimbingan dan kasih sayang juga perlindungan yang akan memberikan kekuatan bagi perkembangan diri anak tersebut. Oleh karena itu membangun suasana kekeluargaan harus harmonis antar sesama anggota keluarga,baik ayah terhadap ibu dan anak,bagitupun ibu kepada ayah dan anak,bahkan anak terhadap orangtua.Keluarga adalah lembaga yang mendasari kehidupan seorang anak, karena keluarga memilikinya waktu dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya diluar . Jadi, tidak bisa dipungkiri keluarga juga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan yang paling utama yang dapat meningkatkan prestasi pendidikan anak sejak dini.Penelitian dengan menggunakan pendekatan study kasus diaman dalam penelitian ini menggunakan metode yang bersifat komprehensif, intens, rinci dan mendalam serta lebih diarahkan dalam upaya menelaah masalah ataupun fenomena yang bersifat kontemporer, dan terkini dimana pada penelitian ini fenomena pengaruh keharmonisan keluarga menjadi pokok utama penelitian yang berpengaruh terhadap prestasi anak usia dini di RA Nuurusshibyan Kabupaten Sukabumi,hasil dokumentasi menunjukkan bahwa dalam keluarga yang memiliki perhatian dan kasih sayang terhadap anggota keluarga menjadikan anak tersebut lebih aktif dalam kegiatan yang baik di sekolah dan memiliki rasa kasih sayang terhadap teman,juga tolong menolong yang tinggi kepada sesama.
Lokakarya Penyusunan Program Pembelajaran Individu PAUD dan SD Inklusi Muhammadiyah di Sukabumi, Indonesia Elnawati Elnawati; Astri Sutisnawati; Redi Awal Maulana; Ibnu Hurri
Lentera Pengabdian Vol. 4 No. 02 (2026): April 2026
Publisher : Lentera Ilmu Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59422/lp.v4i02.1215

Abstract

Lokakarya ini bertujuan membantu guru dalam menyusun laporan Program Pembelajaran Individu (PPI) yang sesuai dengan kebutuhan unik setiap anak berkebutuhan khusus. Peserta kegiatan adalah guru PAUD dan SD Muhammadiyah di bawah naungan amal usaha Universitas Muhammadiyah. Pelaksanaan lokakarya ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap inti, dan tahap akhir yang dirancang secara sistematis. Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan kompetensi guru dalam menyusun dan mengimplementasikan PPI, disertai dengan meningkatnya komitmen untuk mendukung perkembangan optimal siswa di lingkungan pendidikan. Namun, Sebagian besar guru masih menghadapi kendala dalam proses penyusunan PPI, terutama dalam mengidentifikasi kebutuhan individual siswa secara tepat dan komprehensif. Melalui lokakarya ini, sebagian besar guru telah mampu menyusun PPI dengan lebih baik serta mulai menerapkan analisis kebutuhan siswa di sekolah masing-masing secara lebih terarah. Dengan demikian, kegiatan ini memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran yang inklusif, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik khususnya anak berkebutuhan khusus secara berkelanjutan.
UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN MERONCE MENGGUNAKAN BAHAN CLAY PADA KELOMPOK USIA 4-5 TAHUN DI RA ROFA KECAMATAN CIAWI KABUPATEN BOGOR Eva Farhanah Hasyim; Elnawati Elnawati; Indra Zultiar
JIP: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. 3 No. 4 (2025): APRIL
Publisher : CV. Adiba Aisha Amira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the impact of threading activities using clay materials on the development of fine motor skills in children aged 4-5 years at RA ROFA, Ciawi District, Bogor Regency. Fine motor skills are an important aspect of child development, influencing their ability to perform daily activities. The method used in this research is Classroom Action Research (CAR), conducted in two cycles, involving 16 children as research subjects, consisting of 13 boys and 3 girls. The results of the study indicate that threading activities with clay media can significantly improve children's fine motor skills. Before the implementation of the activities, the children's fine motor skills were in the underdeveloped category, with an average score of 50.32%. After the threading activities were applied, there was a significant improvement, with the average score increasing to 84.06% in the second cycle. This research is expected to contribute to the development of more effective learning methods to enhance early childhood fine motor skills, as well as provide insights for educators and parents in supporting child development.
MENGEMBANGKAN BAHASA EKSPRESIF MELALUI METODE BERCERITA (TUDI KASUS PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN DI PAUD SPS TP KENANGA 1) Siti Sopiah; Elnawati
Jurnal Salome : Multidisipliner Keilmuan Vol. 1 No. 3 (2023): Jurnal Salome: Multidisipliner Keilmuan
Publisher : CV. ADIBA AISHA AMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research is to document the methods used by preschool teachers at SPS TP Kenanga 1 to encourage the development of expressive language in children aged four to five years through the use of stories. The research methodology used is a case study. Teachers from Paud SPS TP Kenanga 1 participated in this research. Interviews, eyewitness accounts, and written notes are means of gathering information. Data reduction, data presentation, and drawing conclusions are the three steps of the Miles & Huberman interactive model used in this data study. This research found that in group A at PAUD SPS TP Kenanga 1, the teacher tried to help students improve their expressive language skills by inviting them to tell stories. The teacher plans the story based on the goals and themes chosen by the students, but he also provides media and materials. lots of things are happening. The teacher provides the materials needed for storytelling activities, but students are only allowed to use media that suits the needs of the class. Instead of leading with questions about the content to be presented, the instructor starts by doing a storytelling activity. Some students do not get the opportunity to participate in storytelling activities even though the teacher offers them. It is not the teacher who decides how to evaluate his or her students; rather, it is the students themselves.