Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI PADI SAWAH (Oryza sativa) TADAH HUJAN (STUDI KASUS DI DESA SUNGAI DUA KECAMATAN RAMBUTAN KABUPATEN BANYUASIN) Yuwinti Nearti; Budi Fachrudin; Rahmah Awaliah
Agripita: Jurnal Agribisnis dan Pembangunan Pertanian Vol 4 No 2 (2020): JURNAL AGRIPITA
Publisher : Agribusiness Study Program Universitas Sriwijaya in Collaboration with Indonesian Society of Agricultural Economics (PERHEPI/ISAE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Food security can be established in agricultural sector as a main supplier of foods (Sumastuti, 2010). Agricultural sector especially subsector of crops plays an important rule for the life of Indonesian people as the source of foods and nutritions. It relates to the fact that rice comodity is not only as a main supply of foods but also has a strategic rule, causes the dynamical price and the inflation of macro variable in the national economics (BPS, 2015). This research aims to describe farmers income by evalutating the production costs and the ability to run the business according to R/C ratio. The research used survey method and purposive sampling. The population of this research were 43 farmers having rainfed land affected by tidal. The number of sampling used Slovin formulation with 10% error standard, as 30 farmers in Sungai Dua Village Sub-District Rambutan Banyuasin Regency were involved as respondents. The analysis method used income and feasibility study. The results showed thatthe average production was 6.522 Kg as the average revenue was 29.349.505/Ha/MT. Total cost was Rp. 14.337.467/Ha/MT as the income was Rp. 15.012.038/Ha/MT. Rice faming in Sungai Dua Village Sub-District Rambutan Banyuasin Regency was feasible with the 2.05 RCR value. It means that for each Rp. 1.000 cost rice famers would gain Rp.2.050. revenue.
Rice Demfarm Financing Model in Trial Of Excelent Variety on New Operating Land Cooperation Between Stakeholders and Partners Yuwinti Nearti; Budi Fachrudin; Nirmala Jayanti
Sriwijaya Journal of Environment Vol 7, No 2 (2022): ENVIRONMENTAL CARE AND PROTECTION
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22135/sje.2022.7.2.119-129

Abstract

Rice productivity can be increased by expanding the number of inputs or through the application of new technologies. Demonstration Farm (Demfarm) is one of the methods used for the adoption of agricultural technology according to the developed potential commodities. This study intended to determine the financing model for lowland rice located in Sungai Dua Village, Rambutan District, Banyuasin Regency based on the variety used in relation to rice field construction. The method used was a trial or experiment. This research was conducted on an outdoor laboratory area of the University of South Sumatra in collaboration with partners (IPB University, PT ATS Inti Sampoerna, PT PUSRI, BPTP). There are 3 superior varieties used consisting of IPB3S, Inpari 32 and Ciherang covering an area of 6 hectares in 2021. The population of this study are all farmers who participate in the new rice field printing program that will be formed into the Rice Estate Community (KEP), as many as 15 people who own land and farm laborers by using the census method considered that the entire population as the sample. The analysis used is qualitative and quantitative analysis. The results showed that the income earned by the University of South Sumatera in the first period was Rp.(7,3977,235)/0.5 Ha/MT for the IPB3S variety, Rp.(6,638,485)/0.5 Ha/MT for the IPB3S variety. Inpari 32 and p(5,949,235) /0,5 Ha/MT for Ciherang variety. Constraints faced were soil pH <4, pH of water between 2-3 and still contains pyrite, shallow swamp land type endanger to flooding, inappropriate irrigation and land conditions that still had a lot of tree trunks left. The feasibility analyses used were the B/C ratio and R/C ratio, the results of which showed that based on superior varieties the B/C ratio for the IPB3S variety was (0.80), the Inpari 32 variety was (0.79 ) and Ciherang variety was (0.74). While the R/C ratio in the IPB3S variety was 0.20, the Inpari 32 variety was 0.21 and the Ciherang variety was 0.24. The B/C ratio and the R/C ratio value < 1 indicated that the activities of this model of financing of new rice farming for the first planting period were not feasible due to natural hazard, technical and inappropriateĀ  facilities. This research showed that the better resistance and adaptation were shown by the Ciherang variety.
Identifikasi Limbah Rumah Tangga sebagai Bahan Baku Utama Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) yang Ramah Lingkungan untuk Tanaman Holtikultura Ismail; Yuwinti Nearti S.P., M.Si; Budi Fachrudin
KaliAgri Journal Vol. 5 No. 2 (2024): Jurnal KaliAgri
Publisher : Program Studi Agribisnis Universitas Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi limbah rumah tangga sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik cair (POC) yang ramah lingkungan untuk tanaman holtikultura, hasil dari identifiksi akan dibuat permentasi berdasarkan jenis limbah rumah tangga, yang selanjutnya dilakukan percobaan pada tanaman holtikultura. Limbah rumah tangga adalah bahan sisa yang dihasilkan dari kegiatan sehari-hari di rumah tangga, yang berupa limbah padat, cair, dan kotoran manusia, Limbah rumah tangga dapat mencemari lingkungan, seperti air, tanah, dan udara. Pencemaran ini dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan ekosistem. POC dari limbah rumah tangga organik merupakan salah satu solusi pemanfaatan limbah rumah tangga yang efektif. Metode pelaksanaan penelitian ini dibagi menjadi beberapa tahapan sesuai kondisi dari setiap tahapan yang dilakukan yaitu Langkah 1 melakukan identifikasi limbah rumah tangga dengan melakukan pengelompokan berdasarkan jenis limbah yang sering muncul di rumah-rumah, Langkah 2 melakukan permentasi limbah rumah tangga sebagai bahan baku utama POC berdasarkan hasil pengelompokan limbah dan Langkah 3 melakukan percobaan hasil permentasi POC pada tanaman holtikultura. Berdasarkan penelitian diketahui hasil identifikasi pengelompokan limbah rumah tangga terdiri dari kelompok organik yang direkomendasikan untuk bahan baku pupuk organik cair, sedangkan kelompok anorganik dan limbah berbahaya dan beracun (B3) tidak direkomendasikan untuk bahan baku pupuk organik cair. Secara umum pembuatan POC dari bahan baku limbah rumah tangga mudah dilakukan, dengan bahan dan alat yang tersedia disekitar kita, dan dapat dilakukan siapun tanpa harus ada keahlian khusus. POC dari limbah rumah tangga organik merupakan salah satu solusi pemanfaatan limbah rumah tangga yang efektif, POC menawarkan cara untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan memberikan pendekatan holistik terhadap pengelolaan limbah rumah tangga. Direkomendasikan penelitian lanjutan aplikasi detail terhadap pengunaan POC pada beberapa jenis tanaman hortikultura semusim.
Efektivitas Manajemen Rantai Pasok Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Pada Fase Main Nursery di Pusat Penelitian Karet Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Muhammad Wahyu Wardhana; Elmeizy Arafah; Budi Fachrudin
KaliAgri Journal Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal KaliAgri Juni 2026
Publisher : Program Studi Agribisnis Universitas Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

pembibitan kelapa sawit, khususnya pada fase main nursery. Dalam praktiknya, masih sering ditemukan kendala seperti ketidaksesuaian antara perencanaan dan realisasi produksi, keterlambatan distribusi, serta perbedaan kualitas bibit. Kondisi ini dapat menimbulkan pemborosan biaya dan menurunkan mutu bibit, sehingga diperlukan evaluasi manajemen rantai pasok yang lebih terarah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas manajemen rantai pasok bibit kelapa sawit pada fase main nursery dengan menggunakan Metode Supply Chain Operations Reference (SCOR). Penilaian dilakukan pada lima proses utama, yaitu plan, source, make, deliver, dan return, untuk mengetahui bagian mana yang sudah berjalan baik dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Penelitian dilaksanakan di Pusat Penelitian Karet Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan, pada saat kegiatan operasional main nursery berlangsung. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada pihak yang terlibat dalam kegiatan rantai pasok. Sampel dipilih secara purposive, kemudian data dianalisis berdasarkan indikator manajemen Metode SCOR dengan menggunakan nilai rata-rata dan skala penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen rantai pasok pada fase main nursery sudah berjalan, tetapi belum sepenuhnya efisien. Pada tahap perencanaan masih terdapat ketidakseimbangan antara kebutuhan dan produksi. Pada tahap pengadaan, penyediaan input produksi belum selalu tepat waktu. Pada tahap pengelolaan, standar pemeliharaan yang belum seragam memengaruhi kualitas bibit. Pada tahap distribusi, ketepatan waktu pengiriman masih perlu ditingkatkan. Sementara itu, pada tahap pengembalian, penanganan bibit yang tidak layak belum tertata dengan baik. Kesimpulannya, efektivitas rantai pasok bibit kelapa sawit pada fase main nursery masih perlu ditingkatkan melalui koordinasi yang lebih baik, sistem kerja yang lebih terintegrasi, dan penerapan indikator manajemen yang jelas. Metode SCOR terbukti membantu dalam menilai manajemen setiap proses dan menentukan prioritas perbaikan.
Analisis Strategi Pemasaran Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Pada Fase Main Nursery Di Pusat Penelitian Karet Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Ami Febiola; Budi Fachrudin; Yuwinti Nearti; Doris Saputra
KaliAgri Journal Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal KaliAgri Juni 2026
Publisher : Program Studi Agribisnis Universitas Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penerapan strategi pemasaran yang efektif dalam meningkatkan daya saing bibit kelapa sawit pada fase main nursery. Meskipun Pusat Penelitian Karet Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin menghasilkan bibit kelapa sawit unggul dan bersertifikat, masih terdapat beberapa kendala dalam kegiatan pemasaran, seperti promosi yang belum optimal, pemanfaatan media digital yang masih terbatas, distribusi yang belum maksimal, serta persaingan dengan perusahaan swasta. Kondisi tersebut menyebabkan potensi pemasaran bibit belum dimanfaatkan secara optimal sehingga diperlukan strategi pemasaran yang tepat berdasarkan bauran pemasaran (marketing mix) dan analisis SWOT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam penerapan strategi pemasaran bibit kelapa sawit serta menganalisis strategi pemasaran yang diterapkan di Pusat Penelitian Karet Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin. Penelitian dilaksanakan di Pusat Penelitian Karet Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, penyebaran kuesioner, dan dokumentasi. Sampel penelitian menggunakan teknik sampling jenuh (sensus) sebanyak 14 responden yang seluruhnya merupakan tenaga pemasaran. Analisis data dilakukan menggunakan skala Likert, analisis bauran pemasaran (produk, harga, distribusi, dan promosi), serta analisis SWOT melalui matriks IFAS dan EFAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemasaran bibit kelapa sawit pada Pusat Penelitian Karet Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin telah diterapkan dengan baik melalui penyediaan bibit unggul bersertifikat, penetapan harga yang kompetitif, sistem distribusi kepada petani dan perusahaan perkebunan, serta kegiatan promosi melalui seminar, pameran, sosialisasi, dan media digital. Namun demikian, masih terdapat beberapa kendala yang perlu diperbaiki, antara lain keterbatasan promosi digital, distribusi yang belum optimal, jumlah tenaga pemasaran yang masih terbatas, serta tingginya persaingan dengan perusahaan swasta. Berdasarkan hasil analisis SWOT, posisi strategi berada pada Kuadran I (Strategi SO) sehingga lembaga memiliki kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk menangkap peluang pasar melalui peningkatan promosi digital, perluasan jaringan distribusi, peningkatan kualitas pelayanan, dan optimalisasi pemanfaatan keunggulan bibit bersertifikat.