pembibitan kelapa sawit, khususnya pada fase main nursery. Dalam praktiknya, masih sering ditemukan kendala seperti ketidaksesuaian antara perencanaan dan realisasi produksi, keterlambatan distribusi, serta perbedaan kualitas bibit. Kondisi ini dapat menimbulkan pemborosan biaya dan menurunkan mutu bibit, sehingga diperlukan evaluasi manajemen rantai pasok yang lebih terarah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas manajemen rantai pasok bibit kelapa sawit pada fase main nursery dengan menggunakan Metode Supply Chain Operations Reference (SCOR). Penilaian dilakukan pada lima proses utama, yaitu plan, source, make, deliver, dan return, untuk mengetahui bagian mana yang sudah berjalan baik dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Penelitian dilaksanakan di Pusat Penelitian Karet Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan, pada saat kegiatan operasional main nursery berlangsung. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada pihak yang terlibat dalam kegiatan rantai pasok. Sampel dipilih secara purposive, kemudian data dianalisis berdasarkan indikator manajemen Metode SCOR dengan menggunakan nilai rata-rata dan skala penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen rantai pasok pada fase main nursery sudah berjalan, tetapi belum sepenuhnya efisien. Pada tahap perencanaan masih terdapat ketidakseimbangan antara kebutuhan dan produksi. Pada tahap pengadaan, penyediaan input produksi belum selalu tepat waktu. Pada tahap pengelolaan, standar pemeliharaan yang belum seragam memengaruhi kualitas bibit. Pada tahap distribusi, ketepatan waktu pengiriman masih perlu ditingkatkan. Sementara itu, pada tahap pengembalian, penanganan bibit yang tidak layak belum tertata dengan baik. Kesimpulannya, efektivitas rantai pasok bibit kelapa sawit pada fase main nursery masih perlu ditingkatkan melalui koordinasi yang lebih baik, sistem kerja yang lebih terintegrasi, dan penerapan indikator manajemen yang jelas. Metode SCOR terbukti membantu dalam menilai manajemen setiap proses dan menentukan prioritas perbaikan.