Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Transitive and Intransitive Sentences in Savu Language Olivia de Haviland Basoeki; Lusia Eni Puspandari; Rulli Saragi
Journal Polingua: Scientific Journal of Linguistics, Literature and Language Education Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Politeknik Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.294 KB) | DOI: 10.30630/polingua.v8i1.81

Abstract

Language is a communication tool that is seen as a channel for delivering information or messages to others. Language is expressed through sentences that composed of several words in order to form a certain meaning. To form a certain sentence which is apply in a language must follow its rules. For example, Indonesian has a main element that must exist in a sentence, namely predicate or verb. The verb forms become the basic of forming the various sentences, including in determining the types of transitive and intransitive sentences. Predicate or verb is one characteristic that determines whether the sentence is transitive or intransitive in language skills. This reason is one of the authors' interests in discussing more details about the transitive and intransitive sentences of Savu language, which is one of the local languages in the East Nusa Tenggara Province, with speakers of the Savu tribe. Transitive and intransitive sentences in Savu have the most flexible additional elements which can be accompanied by various kinds of objects and adverb. Transitive sentences have two core arguments that are broadly called actors and undergoers, as in the following sentence: (1) ana  no  era do  due do; (2) ta ngedi ke no pidu bue moto; these two transitive sentences of Savu have two core arguments. The predicate on transitive sentences, namely: era  'having' in data (1): ngedi 'see' in data (2), with two core arguments, they are ‘ana no’ ‘his son’ 'and due do 'two people' in data (1), then, no ‘he’ and pidu bue motto ‘seven stars’ in data (2).. Whereas the intransitive sentence has no object. Then, the arrangement of functional elements is Subject + Predicate and Predicate + Subject. The following is an example of the intransitive sentence of Savu: (3) ta mari ina; (4) ro kako la rae; the intransitive sentence of Savu language indicates that they do not have objects. In data (3) ta mari  'laugh’ is the verb; ina ‘lady' is the subject. As well as in data (4) ro 'they’ is the subject, while kako la ‘go to' and rae ‘adverb of place’.
Mendorong Kinerja Pegawai Melalui Iklim Etika Kerja Dan Kepatuhan Organisasional Di Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kota Kupang Asbi Nasar; Feny Susana Eky; Rulli Saragi; Nasaruddin Nasaruddin
TheJournalish: Social and Government Vol. 7 No. 3 (2026): Social and Government
Publisher : CV The Journal Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55314/tsg.v7i3.1102

Abstract

Peningkatan kinerja pegawai merupakan isu strategis dalam organisasi sektor publik, khususnya pada instansi pelayanan yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Meskipun berbagai penelitian telah mengidentifikasi determinan kinerja pegawai, kajian yang secara simultan menguji peran iklim etika kerja dan kepatuhan organisasional pada instansi pelayanan administrasi kependudukan di tingkat pemerintah daerah masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh iklim etika kerja dan kepatuhan organisasional terhadap kinerja pegawai di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Kupang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 55 pegawai yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim etika kerja dan kepatuhan organisasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai, baik secara parsial maupun simultan. Temuan ini memberikan kontribusi empiris dengan menunjukkan bahwa integrasi lingkungan kerja yang berlandaskan nilai etika dan kepatuhan terhadap aturan organisasi merupakan mekanisme penting dalam meningkatkan kinerja pegawai pada organisasi pelayanan publik. Hasil penelitian diharapkan menjadi dasar bagi pengambil kebijakan dalam merancang strategi penguatan etika organisasi dan kepatuhan pegawai guna meningkatkan kualitas pelayanan administrasi kependudukan.