Alifiar, Ilham
Departemen Farmakologi Dan Farmasi Klinik Prodi S1 Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PROFIL PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN DI BANGSAL KEBIDANAN DAN KANDUNGAN DI SALAH SATU RUMAH SAKIT DI KOTA TASIKMALAYA Rehana, Dila Kusherawati; Alifiar, Ilham; Gustaman, Firman
Journal of Pharmacopolium Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : P3M STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jop.v3i2.627

Abstract

Gambaran Potensi Interaksi Obat dengan Makanan pada Pasien Hepar yang Dirawat di Sebuah Rumah Sakit di Kota Tasikmalaya Ilham Alifiar
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol 2 No 1 (2016): Jurnal Surya Medika
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.613 KB) | DOI: 10.33084/jsm.v2i1.374

Abstract

Interaksi obat adalah salah satu tipe dari permasalahan yang terkait dengan obat.penggunaan obat bersama dengan makanan berpotensi untuk merubah efek dari obat yang bersangkutan, baik meningkatkan efek atau justru menurunkan efek dari obat yang bersangkutan.Penelitian ini bertujuan untuk mencari potensi interaksi obat dengan makanan pada pasien dengan gangguan hepar yang dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan penelitian kohort, dengan pengambilan data dilakukan secara prospektif. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara consecutive sampling.Jumlah pasien didapatkan sebanyak 40 orang pasien dengan gangguan hepar dan pasien kontrol.Pasien dengan gangguan hepar mencakup sirosis hepatic, abses hepar, dan hepatitis.Sebanyak 7 obat berpotensi untuk mengalami interaksi obat dengan makanan.Obat tersebut adalah furosemide, spironolakton, omeprazole, lansoprazole, parasetamol, ondansetron, dan aspirin. Pasien dengan gangguan hepar mempunyai potensi 1,294 kali lebih tinggi untuk mengalami interaksi antara obat dengan makanan (p: 0,040; RR: 1,294; CI: 1,032-1,623) dengan potensi paling tinggi untuk berinteraksi dengan makanan adalah antara furosemide, spironolakton, ondansetron, dan aspirin Kesimpulan dari penelitian ini adalah pasien dengan gangguan hepar mempunyai potensi lebih tinggi untuk mengalami interaksi obat dengan makanan.
Studi ketidaksesuaian pengobatan pada pasien geriatri rawat inap Ulfi Handayani; Ilham Alifiar; Keni Idacahyati
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 14 No. 2 (2018): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol14.iss2.art4

Abstract

IntisariLatar belakang: Kecenderungan pasien geriatri mengkonsumsi banyak obat menimbulkan resiko timbulnya efek yang tidak diinginkan akibat obat. Salah satu acuan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi penggunaan atau peresepan obat pada geriatri adalah Beers Criteria, panduan yang spesifik untuk pengobatan pada populasi geriatri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase jumlah penggunaan obat berdasar Beers Criteria (Beers List). Metode: Metode yang digunakan adalah observasional dengan rancangan deskriptif dan pengambilan data dilakukan secara prospektif terhadap resep pasien geriatri rawat inap RSUD dr. Soekardjo. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40 pasien (61,0%) dari total 65 pasien geriatri rawat inap menggunakan obat yang tidak tepat berdasarkan Beers Criteria. Dari 40 pasien tersebut terdapat 59 obat yang masuk kedalam Beers Criteria dengan 5 jenis obat yang memiliki rekomendasi dari bukti ilmiah yang kuat untuk dihindari, yaitu kategori 1 digoxin 10 item obat (17,5%), alprazolam 2 item obat (3,5%), ketorolac 8 item obat (14,0%), kategori 2 tramadol 2 item obat (3,5%) dan kategori 3 ranitidin 35 item obat (61,4%). Kesimpulan: Sehingga dapat disimpulkan dari penelitian ini yaitu pada pasien geriatri yang di rawat inap di RSUD dr. Soekardjo terdapat ketidaksesuain pengobatan (PIMs; potentially inappropriate medication) berdasar Beers Criteria.Kata kunci : Geriatri, Beers Criteria, PIMs, ketidaksesuaian pengobatan.Potentially inappropriate medication among geriatric inpatientsAbstractBackground: The pathology and physiology in geriatrics tend to make them consume more medications that carry a greater risk of experiencing side effects and adverse drug interactions. One of the references to evaluate drug use or prescription in geriatrics is the Beers Criteria, which describe a new type of basic guidelines, a specific guide to the treatment for geriatric population. Objective: This study aimed to determine the percentage of drug use according to the Beers Criteria. Methods: The method used was observational descriptive design in which data was taken retrospectively from the prescriptions for geriatric inpatients. Results: Forty patients (61.0%) out of a total of 65 identified geriatric inpatients experienced a potentially inappropriate drug use based on the Beers Criteria. In 40 patients, 59 drugs were found to meet the Beers Criteria with 5 types of drugs to be avoided based on the recommendation of strong scientific evidence, including 10 items of Digoxin (17.5%) 2 items of Alprazolam (3.5%), and 8 items of Ketorolac (14.0%) all in category 1, 2 items of Tramadol (3.5%) in category 2, and 35 items of Ranitidine (61, 4%) in category 3. Conclusion: The geriatric inpatients in dr. Soekardjo Hospital experienced PIMs (potentially inappropriate medications) according to the Beers Criteria.
Kajian Farmakoekonomi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi yang Dirawat di RSUD Kota Tasikmalaya Ilham Alifiar; Keni Idacahyati
Jurnal Pharmascience Vol 5, No 2 (2018): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v5i2.5794

Abstract

Penyakit hipertensi merupakan penyakit menahun yang membutuhkan pengobatan jangka panjang, seringkali seumur hidup. Banyak pasien kemudian mengeluhkan mengenai biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian dan pengobatan penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengobatan yang paling cost minimal pada pasien hipertensi yang dirawat di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan penelitian obsevasional dengan desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dan pengambilan data dilakukan secara prospektif. Data dikumpulkan pada periode bulan April sampai dengan September, Data yang dihimpun kemudian dianalisa secara farmakoekonomi. Total jumlah pasien yang bersedia untuk mengikuti penelitian ini sebanyak 100 orang pasien, namun yang termasuk dalam criteria inklusi sebanyak 32 pasien. Hasil analisa cost effective analysis untuk obat golongan ACEI sebesar 1,320.397.5, untuk golongan CCB 435,230.5, untuk golongan ARB 1,113.380.5, dan untuk golongan B-Bloker sebesar 556,411.5. Oleh karena itu, pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa golongan obat Calcium Channel Blocker merupakan obat yang paling cost minimal terhadap golongan obat hipertensi yang lain. Kata kunci : Farmakoekonomi, Cost Minimalize Analysis, Obat Antihipertensi
ANALISIS MEDICATION ERROR SEDIAAN PARENTERAL DI BANGSAL PENYAKIT DALAM RAWAT INAP SALAH SATU RUMAH SAKIT DI PRIANGAN TIMUR Esti Deviana; Ilham Alifiar; Yedy Purwandi Sukmawan
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.845 KB) | DOI: 10.37874/ms.v4i2.131

Abstract

Sediaan parenteral merupakan suatu sediaan yang penggunaannya dengan cara menyemprotkan larutan atau suspensi ke dalam tubuh untuk tujuan terapeutik dan diagnostik. Pada sediaan parenteral diperlihatkan bahwa proses absorbsi obat akan lebih cepat dibandingkan dengan pemberian rute lain. Jika terjadi kesalahan dalam pemberian obat ini, kemungkinkan dapat terjadi hal yang tidak diinginkan. Medication error merupakan suatu kejadian yang tidak diinginkan, yang dilakukan dengan ketidaktahuan atau tidak kesengajaan yang sebenarnya dapat dicegah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi medication error dan parameter terbesar terjadinya medication error. Penelitian ini bersifat observasional dengan desain penelitian yang digunakan yaitu cross sectional serta pengambilan data dilakukan secara prospektif pada periode bulan Maret-Mei 2018. Pada penelitian ini, data medication error dibandingkan dengan Amerian Hospital Formulary Service,  Handbook on Injectable Drug, serta jurnal hasil penelitan terbaru sebagai acuan yang  digunakan. Hasil Penelitian menunjukan bahwa kejadian Medication error tertinggi terdapat pada parameter inkompatibilitas dengan prosentase sebesar 23,43%, serta pada parameter waktu penginjeksian dengan prosentase sebesar 82,43%. Sedangkan untuk parameter kelarutan, penyimpanan dan waktu kadaluarsa tidak ditemukan potensi terjadinya medication error. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa potensi medication error terdapat pada parameter inkompatibilitas dan waktu penginjeksian dengan parameter terbesar terdapat pada parameter waktu penginjeksian sediaan parenteral.Kata Kunci : Sediaan Parenteral, Medication Error, Pasien Rawat Inap
PROFIL PENCAMPURAN INTRAVENA DI RUANG MELATI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. SOEKARDJO KOTA TASIKMALAYA M. Ikbal Fauzi; Ilham Alifiar; Firman Gustaman
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 5 No 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.003 KB) | DOI: 10.37874/ms.v5i1.155

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang kualitas sediaan intravena (IV) dipengaruhi oleh ketercampuran obat (compatible) yang berperan dalam keberhasilan terapi pasien di Ruang Melati Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Tujuan dari penelitian ini melihat pola incompatible dan persentase incompatible pada sediaan intravena (IV) di  Ruang Melati Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan observasional deskriptif pada pasien di Ruang Melati Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya selama periode februari – April 2020. Pada penelitian ini pembanding yang digunakan Handbook on Injectable Drugs Edisi 15 (2009) dan Injectable Drugs Guide sebagai acuan untuk analisis kompatibilitas pada sediaan intravena (IV). Hasil penelitian di Ruang Melati didapatkan 103 pasien yang diamati, dan terdapat data yang incompatible pada pencampuran ceftriaxone + RL. Berdasarkan 2 pembanding didapatkan data yang tidak diketahui kelarutannya sehingga dikategorikan Not Information (laki – laki 4,3%, perempuan 3,5%). Kemudian peneliti melakukan pengujian langsung dikarenakan didapat hasil yang Not Information, uji yang dilakukan yaitu uji visual dan uji pH. Hasil dari uji visual pada jam ke – 24 dikatakan incompatible karena mengalami perubahan warna, sedangkan untuk uji pH didapatkan hasil incompatible berdasarkan data yang didapat dengan nilai selisih perubahan pH obat lebih dari 0,5 dihitung dari waktu ke waktu pengamatan. Dari hasil penelitian ditemukan pola inkompatibilitas obat intravena pada pasien di Ruang Melati Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya antara obat dengan cairan infus. Dari hasil analisis, persentase potensi terjadinya inkompatibilitas pada penggunaan obat intravena pada pasien di Ruang Melati Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya adalah 1,0%.
UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN KECOMBRANG (Etlingera elatior (Jack)R.M.Sm) SEBAGAI PERTUMBUHAN RAMBUT TERHADAP KELINCI PUTIH JANTAN Ilham Alifiar
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v4i1.6679

Abstract

Kerontokan rambut yang sering diakhiri dengan kebotakan merupakan problema estetis yang sangat dikhawatirkan setiap orang. Rambut sehat mempunyai siklus pertumbuhan rambut yang panjang dan kelembaban yang cukup dimana pertumbuhan rambut terjadi karena sel-sel daerah matriks atau umbi rambut secara terus menerus membelah. Bahan alam yang diperkirakan berpotensi dalam pertumbuhan rambut adalah daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M. Sm) terhadap pertumbuhan rambut kelinci putih jantan dan konsentrasi mana yang memiliki aktivitas paling baik. Dalam penelitian ini dilakukan 6 perlakuan yaitu kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif, ekstrak etanol daun kecombrang konsentrasi 2,5%, konsentrasi 5% dan konsentrasi 10%. Perlakuan dilakukan setiap hari dengan volume pengolesan 1 ml setiap konsentrasi selama 28 hari. Pengukuran panjang rambut dilakukan pada hari ke 7, 14, 21 dan 28 menggunakan jangka sorong dan pengukuran bobot rambut dilakukan pada hari ke 28 dengan cara mencukur rambut yang tumbuh kemudian ditimbang. Data yang diperoleh diolah secara statistik dengan metode Anova. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol daun kecombrang memiliki aktivitas sebagai penyubur rambut pada konsentrasi 10% serta konsentrasi yang paling baik adalah konsentrasi 10% yaitu 1,40 cm sebagai pertumbuhan rambut dalam 28 hari. Dan konsentrasi 10% memiliki bobot rambut terbesar yaitu 0,11 gram dalam 28 hari.
TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL SEBAGAI PENGOBATAN ALTERNATIF DI DESA IMBANAGARA KABUPATEN CIAMIS Fuzi Khoirurifa; Ilham Alifiar; Vera Nurviana
BORNEO JOURNAL OF PHARMASCIENTECH Vol 4 No 2 (2020): Borneo Journal of Pharmascientech
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/bjp.v4i2.311

Abstract

Traditional medicine is an ingredient or a compound which comes from animals,plants, herbal preparations (galenic), and minerals that have been used fromgeneration to generation for treatment and can be applied in the communityaccording to the existing norms in their society. Indonesia has unlimited naturalresources and biodiversity, also known as an agricultural country, 40% ofIndonesian people use traditional medicine and 70% of them come from ruralareas. This study aims to discover the level of public knowledge regarding the useof traditional medicine. Methodology used in this research was observational witha cross sectional research design and the sampling technique used was nonrandom sampling with a purposive sampling approach. The number of samplesobtained in this study were 103 respondents who met the inclusion and theexclusion criteria. The results showed that the level of knowledge of the people inDesa Imbanagara regarding traditional medicine was sufficient (48.5%). Thereason of why people in Desa Imbanagara use traditional medicines is because itis easy to get (32%), the purpose of using traditional medicine is to cure suddenor minor illnesses (68.9%), the place or the way to get traditional medicine is in asmall shop (54.4%), the average use of traditional medicine is 2 - 3 days (37.9%),sources of information obtained from family and / or friends (51.5%). Inconclusion, the level of knowledge of the people in Desa Imbanagara regardingtraditional medicine is sufficient.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA PASIEN PASCA BEDAH RAWAT INAP DI RSUD SMC KABUPATEN TASIKMALAYA PERIODE APRIL-MEI 2017 Sani Nurlela; Ilham Alifiar; Keni Idacahyati
JFL : Jurnal Farmasi Lampung Vol. 7 No. 1 (2018): JFL: Jurnal Farmasi Lampung
Publisher : Fakultas MIPA Universitas Tulang Bawang Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.406 KB) | DOI: 10.37090/jfl.v7i1.32

Abstract

Bedah merupakan suatu tindakan pengobatan dengan cara membuka dan menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani, pembukaan ini umumnya dilakukan dengan membuat sayatan, dan selanjutnya dilakukan perbaikan yang diakhiri dengan penutupan. Penyayatan yang dilakukan dapat menyebabkan perlukaan sehingga dapat beresiko tinggi menimbulkan infeksi, adanya infeksi harus ditangani dengan antibiotik yang tepat dan rasional. Penggunaan antibiotika yang tidak terkontrol memungkinkan munculnya bakteri yang resisten, sehingga pengobatan infeksi menjadi tidak efektif. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi data penggunaan antibiotika pada pasien pasca bedah rawat inap di sebuah Rumah Sakit di Kabupaten Tasikmalaya periode bulan April-Mei 2017 dan melakukan evaluasi gambaran pola penggunaan antibiotika. Penelitian ini merupakan penelitian obsevasional dengan pengambilan data dilakukan secara prospektif dan desain penelitian cross sectional. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS 21.0. jumlah sampel penelitian yang didapatkan sebanyak 80 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan antibiotika tunggal yang paling banyak digunakan adalah ceftriaxone, baik pada operasi bersih maupun pada operasi bersih terkontaminasi. Sedangkan antibiotika kombinasi yang paling banyak digunakan adalah ceftriaxone kombinasi dengan metronidazole, baik pada operasi bersih maupun pada operasi bersih terkontaminasi. Kata kunci: pasca bedah, antibiotika, evaluasi obat
PENGARUH KRONOFARMAKOLOGI TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN TRIGLISERIDA DALAM DARAH PASIEN PENGGUNA OBAT GOLONGAN STATIN DAN FIBRAT Resna Sari Asih; Ilham Alifiar; Yedy Purwandy
JFL : Jurnal Farmasi Lampung Vol. 9 No. 2 (2020): JFL: Jurnal Farmasi Lampung
Publisher : Fakultas MIPA Universitas Tulang Bawang Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jfl.v9i2.335

Abstract

ABSTRACT Chronopharmacology is a therapy based on circadian rhythms that can be said to be relevant if the risk and symptoms of the disease are predicted to vary over time. This study aims to determine the effect of chronopharmacology on total cholesterol and triglyceride levels in the blood of patients with fibrates and statin groups, so that patients with certain diseases are encouraged to take drugs according to the organ picket hours or circadian rhythms. This study was an observational descriptive study with a cross sectional study design involving 18 patients. Primary data were obtained through interviews and checking total cholesterol and triglyceride levels while secondary data were obtained from the patient's medical record. Based on the results of the analysis using SPSS for statin drug use in the morning and at night getting a value of P = 0.003. whereas for drug use in the fibrat group in the morning and evening, P = 0.083 was obtained. Based on the results of the research that has been done, it can be concluded from 18 patients using statins and fibrates in RSUD Dr. Soekardjo Tasikmlaya, for the use of statin drugs at night is more beneficial, but in the use of fibrates in the morning or evening the same effectiveness. Keyword : chronopharmacology, statin, fibrat