Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

SIFAT VENIR DAN KAYU LAPIS SEMBILAN JENIS KAYU BERASAL DARI KALIMANTAN BARAT DAN JAWA BARAT Suwandi Kliwon; M I Iskandar; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 7 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1991.9.7.268-273

Abstract

This paper presents study   result on the log peeling properties  and the glueing,  physical and mechanical properties of the veneer and plywood  made from nine wood species are described in this paper. The result shows that all of the, logs could be peeled in cold condition. The average veneer shrinkage from green to oven dry moisture content was 7.00 % and veneer swelling from oven dry to air dry  condition the average value was 3.39 %. The average thickness reduction due to pressing in plywood manufacturing was  3. 78 mm. The  bonging strength of plywood  from 8  wood species (89 %)  conforms  with the Indonesian standard  for  type  II, 9 wood species  (100 %)   with Japanese standard and 9 wood species (100 %)  with German standard.  The average specific gravity  of multiplex  was 0.61 while the average specific gravity of trplex was  0.60. Bending strength. tensile strength and compression  strength parallel to grain of triplex are higher  than multiplex.
PEMBUATAN BAMBU LAPIS DARI BAMBU TALI (Gigantochloa apus) Suwandi Kliwon
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 3 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1997.15.3.190-199

Abstract

Penelitian pembuatan bambu lapis dari batang bambu tali dengan ukuran besar telah dilaksanakan di pabrik kayu lapis. Ukuran nominal bambu lapis yang dibuat adalah 213,5 cm x 91,5 cm x 12 mm dengan perekat urea formaldehida cair. Untuk meningkatkan keawetan bambu lapis diberikan bahan pengawet ke dalam perekat urea formaldehida, yaitu CCB (chlor, chrom, boraks) dan boraks sebanyak 5% dari bagian berat urea formaldehida cair. Bambu lapis yang dibuat terdiri dari tiga lapis (tripleks) dengan macam lapisan pelupuh bambu semua dan yang lapisan luarnya pelupuh bambu sedangkan lapisan intinya venir meranti merah tebal 4 mm.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan pengawet dan pengaruh jenis lapisan bambu lapis terhadap sifat mekanisnya serta mengetahui rendemen pelupuh bambu dan bambu lapisnya. Hasilnya menunjukkan rendemen pelupuh bambu 67,62% (tebal4, 7 mm), dan rendemen bambu lapis 54, 45%. Kadar air, tebal dan kesikuan memenuhi StandarIndonesia, akan tetapi panjang dan lebar bambu lapis hanya 50% yang memenuhi syarat dan 33% tidak memenuhi persyaratan tersebut.Keteguhan lentur dan keteguhan rekat pada umumnya memenuhi Standar Jepang. Modulus patah bambu lapis dengan bahan pengawet CCB adalah yang paling rendah, sedangkan yang paling tinggi terdapat pada bambu lapis yang lapisan dalamnya venir. Dengan demikian bila yang diutamakan faktor kekuatan, maka dianjurkan membuat bambu lapis dengan lapisan dalam berupa venir tebal 4 mm.
SIFAT VENIR DAN KAYU LAPIS 8 JENIS KAYU DARI SULAWESI TENGAH M I Jslrandar; Suwandi Kliwon; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 4 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1990.8.4.150 - 156

Abstract

A muly  reault on• the suitability  of 8 wood 1peciesfrom Central Sulawesia  raw  material-for veneeri and plywood  iB re~rted   in ~hiB paper. 1'ae •tudy cons!ited of log peeling characteristic, veneerpropgty 'and  tome phy~cal/mechanical AU  of  ita.  lo,. Tram wood  speciu  could  be peeled in cold c0ndition, producing 0.9 mm and 1.6  mm veneer at propertitia  of plywood  (tripl•     and multiplaa cuffln6 angle between 910  -   92080'.                      •                                                       -                                                                            .7'le average111rinkage of  veneer iB   6.27%,  with  a minimum of 4.98'fo  (Nyatoh) and maximum of 8.14%  (Palapi). Veneer •welling from oven_-dry  to aiNlry  condition  varied between 2.lB'fo   (Nyatoh) and 8.60%  (Durian) with an avera.e-    2.81'-'.                                                                                             '7'1, bondi!JI atrerwth of _p_'f¥_~~     fro_~-~   woo4_•!!1!'*-• (76_'fo)  ti>ntOrms with the Indonaian ttandard for  type IIor ""*" rniatant,  6 wood specia  (62,6'fo) with Japanue standard and 4 specia  (60!1>) with German 1tandard•a:Peciflc •fnJvlty   of  multiplex  ;.  higher than triplex.  Some. mechanical propertie• of multiple% are higher than
CAMPURAN TERAK DENGAN SEMEN SEBAGAI PEREKAT PAPAN WOL KAYU Suwandi Kliwon
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 1 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1998.16.1.27-35

Abstract

Terak (slag) merupakan limbah peleburan baja pada pabrik baja. Selama ini pemanfaatan terak masih belum maksimal, sampai sekarang digunakan sebagai bahan pengerasan jalan di lingkungan pabrik. Guna meningkatkan pemanfaatan bahan terak tersebut salah satu caranya adalah sebagai bahan campuran perekat semen dalam pembuatan papan wol kayu.Papan wol kayu dibuat dari kayu tusam Pinus merkusii berukuran 30 x 30 x 2,5 cm Kadar terak yang dipergunakan ada 2 macam yaitu 33% dan 100% dari berat semen. Perlakuan perendaman wol kayu tusam di dalam air dingin ada 2 macam yaitu selarna 24 jam dan 48 jam.Kerapatan papan wol kayu tusam tidak memenuhi syarat Standar Jerman. Sifat mekanis berupa pengurangan tebal dan keteguhan lentur papan wol kayu tusam hanya pada perlakuan kadar terak 33% dan wol kayu direndam selarna 48 jam yang memenuhi syarat Standar Jerman.Secara ekonomi penambahan terak sebanyak 33% dari semen dan perendaman wol kayu selarna 48 jam belum tentu dapat menurunkan biaya pembuatan papan wol kayu.
SIFAT PAPAN SEMEN DARI BATANG KELAPA SAWIT (Elaeis guinensis) Suwandi Kliwon
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 10 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1996.14.10.454-461

Abstract

Tanaman  kelapa sawit  (Elaeis  guinensis) ditanam orang guna diambil minyaknya dari buahnya  sebagai  produk  utama. Setelah berumur 25 tahun tanaman kelapa sawit ditebang habis, disebabkan  minyak yang dihasilkan dari buahnya sudah tidak ekonomis lagi. Untuk meningkatkan pemanfaatan batang kelapa sawit, salah satu alternatif adalah dibuat sebagai bahan baku papan semen.Papan semen dibuat dari batang kelapa sawit dengan perekat semen dan berukuran 30 x 30 x 2,5 cm.  kadar perekat yang dipergunakan 2 macam yaitu 150% dan 200% terhadap berat ekselsior kering  udara.  Perlakuan perendaman ekselsior di dalam  air dingin selama 24 jam dan 72 jam.Papan semen tersebut diuji sifat fisis dan mekanisnya menurut Standar Jerman (DIN 1101). sifat fisis dan mekanis tersebut adalah kadar air, kerapatan, penurunan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2 dan keteguhan lentur.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan kadar semen dan  lamanya perendaman wol kayu kelapa sawit terhadap sifat fisis mekanis papan semen.                         ,Hasil penelitian  ini adalah sebagai  berikut: nilai rata-rata kadar air 10,65%, kerapatan 0,47  g/cm3, penurunan tebal  akibat  tekanan 3 kg/cm2 10,55% dan keteguhan lentur 9,37 kg/cm2.     Dibandingkan dengan standar DIN 1101 kadar air dan penurunan tebal akibat tekanan sebesar 3 kg/cm2 memenuhi standar Jerman. Akan tetapi hanya keteguhan lentur papan semen yang berasal dari perlakuan kadar semen 200% dan lamanya perendaman ekselsior di dalam air dingin selama 72 jam  (16,29 kg/cm2) dapat tnemenuhi standar Jerman. Hasil sidik ragam menunjukkan pengaruh  tunggal semen dan lamanya perendaman ekselsior di dalam air dingin berpengaruh sangat nyata pada sifat keteguhan lentur dan penurunan tebal akibat tekanan 3 kg/cm2.
SIFAT PAPAN BLOK DENGAN INTI LIMBAH EKSPLOITASI HUTAN LAMPUNG Suwandi Kliwon; M I Iskandar; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 2 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3182.628 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1987.4.2.16-20

Abstract

Blockboards   of six wood species of  logging  waste from  Lampung as core strip material were manufactured in the laboratory, and  their physical  and mechanical properties were tested.The average value of  moisture  content, board density  and strip  density  were 10.09%, 0.63  g/cm3  and 0.49  g/cm3, respectively.  Bending strength parallel to the grain varied between  690.47 kg/cm2  (red meranti)  and 1041.99 kg/cm2 (keruing).  The bending strength  perpendicular   to the grain varied between 112.40 kglcm2 (Bima) and 319.90 kg/cm2 (Pulai), and bending strength parallel to the grain were significantly affected by wood species, but bending strength  perpendicular to the grain  were not. 
PEMANFAATAN LIMBAH SAGU SEBAGAI BAHAN PAPAN PARTIKEL Suwandi Kliwon; Rozak Memed
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 6 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1989.6.6.364-367

Abstract

The  experiment  result  of  using  sago  waste  for particleboard   is reported  in this paper.   The experiment  covers  the process   of   making   particleboard    with   several  raw  material  compositions    and   testing   their  physical   and  mechanical properties.   The  particleboard   is bonded   with  urea formaldehyde    resin with  the dimension   of  30 cm x  30 cm  x  1,5 cm,The  results  indicate  that  most  of  the physical  properties  of particleboard   meet  Indonesian  or FAO standards,  while many   of  mechanical  properties   do  not  meet  those  standards.  Veneer   lamination   improves  the  bending  strength  and  the addition   of  sago  bark  do  not  improve  physical   and  mechanical  properties   of  particleboard.
SIFAT VENIR DAN KAYU LAPIS 9 JENIS KAYU DARI JAWA BARAT M I lskandar; Suwandi Kliwon; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 2 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14429.225 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1991.9.2.89 ­ 94

Abstract

A  study result on the suitability of  9 wood species  from   West  Java  as raw material for  veneer and plywood is reported in this paper study  conaisted of  log peeling characteristic, veneer property   and some  physical/ mechanical properties  of plywood  (triplex and multiplex):All  of the logs  from 9 wood species could be peeled in cold condition, producing 1.5 mm veneer at a cuting angle between 90°30-91°30. The average shrinkage of veneer  is  7.21%, with a minimum of 4.08% (Enteroloblum)  and maximum 10. 75% (keruing). Veneer swelling from oven-dry to air-dry  condition varied between 2.04% (Enterolobium)  and 4.28%  (Damar)  with an average of  2.93%.The bonding strength of plywood  from 6 wood species (66%.) conform with the Indonesian standard fo  type 11 or water resistant, all wood  species conform with Japanese and German standard.The specific gravity of multiplex (0,60) is  higher than triplex (0,58). Some mechanical properties of multiplex are higher than triplex.
SIFAT VENIR DAN KAYU LAPIS 7 JENIS KAYU DARI MALUKU M I Iskandar; Suwandi Kliwon; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 2 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3736.451 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1987.4.2.36-41

Abstract

 The characteristics studied  are peeling properties,  physical  properties  of  the veneer, gluing properties  and some physical  and  mechanical properties  of  the plywood   (both  triplex and multiplex).All logs from the 7 wood species could be peeled satisfactorily  in cold condition.   Veneer of  0.9 mm and 1.5  mm thickness  could be produced at a cutting  angle between  91°-93°.Average shrinkage  of  the veneer is 7%.  Average swelling from oven dry condition  is 3%.Water resistant,  bonding  strength  for all wood  species studied  meet Indonesian,   Japanese  and German standards. Average thickness reduction due to pressing in the plywood   manufacturing  process  is 0.15 mm.Specific  gravity  of  the plywood   is about  6 percent  higher than that  of  the wood from   which it is made  of
SIFAT VENIR DAN KAYU LAPIS ENAM JENIS KAYU DARI IRIAN JAYA M I Iskandar; Suwandi Kliwon; Paribntro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 2 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4704.941 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1989.6.2.83 - 89

Abstract

A  study   result on  the  suitability  of  wood  species  from  Irian Jaya as raw material for veneer and plywood  is reported  in this paper.  This  study   consisted  log  peeling  characteristic,  veneer  property,  some physical  and mechanical properties of  plywood   (triplex  and multiplex).All  of  the  logs from  6 wood  species  could  be peeled  in cold  condition, producing 1.5   mm veneer at a cutting  angle between   920-92°30-The  average shrinkage  of  veneer  is  7.99%,    with  a  minimum of  6. 74% (sehiega) and  maximum   of  9. 71 %  (petuon).  Veneer  swelling from oven-dry  to air-dry  condition varied between   2. 68% (katulampa)  and 4.01 % (petuon)  with  an   average  of 3.19%.The  bonding  strength  of plywood   for  type  11  from  6 wood  species  (100%)  conform's  with  the Indonesian  Standard6 wood species  (100%)  with Japanese Standard  and 6 species  (100%)  with German Standard.The specific  gravity  of   multiplex    is  higher  than  triplex.  Some  mechanical  properties of  multiplex are higher  than triplex