Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI POLA DAN EFISIENSI TATA NIAGA ROTAN DI JAWA Achmad Supriadi; Osly Rachman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 19, No 4 (2001): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2001.19.4.209-218

Abstract

The marketing chain of rattan commodity is closely related to the income distribution of those who perform efficiently the marketing and mechanism system of rattan. This study deals with the investigation on the patterns of rattan-marketing in Java, i.e. (I) Inter-islands merchant --> rattan crafter --> crafter collector --> domestic consumer; (2) Inter-islands merchant --> rattan crafter --> domestic consumer; (3) Rattan crafter --> exporter producer --> overseas consumer.Viewed from the degree of benefit, all the parties involved in those rattan-marketings have gained a reasonable benefit with the revenue and cost ratio (RCR) values ranging between 1.11 and 1.27. Evaluated from the benefit distribution, rattan marketing with pattern (1) was efficient, while those with pattern (2) and (3) were inefficient and the most efficient, respectively. In the pattern (3). there appeared a positive trend about the presence of domination by Exporter producer. This is be cause that domination has brought about some benefit to those taking part in the other rattan-marketing activities. Keywords : Rattan, marketing, efficiency, and benefit.   
KARAKTERISTIK DOLOK DAN SIFAT PENGGERGAJIAN KAYU SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) Achmad Supriadi; Osly Rachman; Edi Sarwono
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 1 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1999.17.1.1-20

Abstract

Kayu  sawit  merupakan  salah  satu  komoditas  dari limbah perkebunan yang  mempunyai potensi  untuk  menambah pasokan  kayu  bundar di  Indonesia. Penelitian  ini bertujuan  untuk menyediakan informasi tentang sifat fisis  (kerapatan, kadar air dan kerapatan ikatan pembuluh), dimensi dolok dan  rendemen penggergajian kayu sawit. Untuk maksud itu diteliti sebanyak 9 dolok dari pohon  sawit yamg berasal dari tanaman perkebunan di Lampung.Kerapatan kayu sawit berkisar antara 0,21 sampai 0,41  g/cm3.  Kadar air basah berkisar antara 138,90 sampai 343, 69%. Kerapatan ikatan pembuluh berkisar antara 0,84 sampai 1,01 bh/mm2.  Posisi  kayu  dalam  arah transversal  berpengaruh  nyata  terhadap  ketiga  sifat fisis tersebut.Diameter rata-rata dolok termasuk kulit adalah 46,64 cm,  tanpa kulit 42,55 cm, diameter bagian medium dan lunak 24,54 cm.  Volume rata-rata dolok untuk tiap meter panjang dengan kulit adalah 0,1745 m3,  tanpa kulit 0,1456 m3, bagian keras 0,0988  m3, bagian medium 0,0288 m3 dan  bagian  lunak  0,019  m3.  Mutu dolok  menunjukan kebundaran  di atas  95% dengan  pengurangan    diameter  rata-rata  2,61 cm/m.  Rendemen  penggergajian  rata-rata  adalah  44%, terdiri  dari bagian    keras   31%,  bagian  medium  9%  dan bagian  lunak  4%  serta  limbah penggergajian  sebesar    56%. Posisi  dolok  dalam  arah  vertikal  batang  berpengaruh   nyata terhadap  rendemen penggergajian.Berdasarkan  kerapatan,  bagian  keras  batang  kayu  sawit   termasuk   kelas  kuat  IV.   Bagian medium  dan   lunak   termasuk  kelas  kuat V, sehingga  bagian  keras  batang  dapat     digunakan sebagai  bahan  konstruksi  ringan  seperti  mebel. Berdasarkan  bagian  keras  ini  tersedia  potensi kayu  sebanyak  2,8 juta  m3/tahun yang berasal dari penebangan pohon sawit tua.
PENERAPAN MODEL SIMULASI PENGGERGAJIAN PADA DOLOK HASIL PENJARANGAN HTI UNTUK MENINGKATKAN RENDEMEN DAN PRODUKSI PAPAN SAMBUNG Achmad Supriadi; Osly Rachman; Edi Sarwono
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 1 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1999.17.1.40-56

Abstract

Kayu hasil penjarangan Hutan  Tanaman Industri  (HTI)  mempunyai ciri yang  khas yaitu berdiameter  kecil,  sehingga proses  penggergajiannya  menghasilkan  rendemen papan  yang rendah dan berukuran sempit. Untuk meningkatkan rendemen, maka dalam  penggergajian  akan diterapkan model simulasi penggergajian, dan hasil penggergajian sebenamya  dibandingkan dengan pola konvensional. Penelitian menggunakan dua jenis kayu hasil penjarangan, yaitu leda (Eucalyptus deglupta Bl.) dan damar (Agathis loranthifolia).Rendemen papan dengan penerapan pola simulasi dan pola konvensional untuk kayu leda masing-masing adalah 55,99% dan 53,37%, sedangkan untuk kayu damar adalah 58,33% dan 55, 24%. Pembelahan  papan dari masing-masing pola tersebut menjadi bilah untuk bahan papan sambung menghasilkan rendemen yang  tidak berbeda nyata. Rendemen bilah pola simulasi dan pola konvensional untuk kayu leda masing-masing adalah 52,59% dan 49,90%, sedangkan untuk kayu damar  adalah  54,01%  dan 51,43%. Papan sambung yang dibuat dari kayu leda, damar dan campuran keduanya, hanya yang dari kayu damar dan campuran leda dan  damar saja yang memenuhi syarat Standar Indonesia untuk kayu bangunan non struktural.
SIFAT PEMESINAN 10 JENIS KAYU DARI DAERAH NUSA TENGGARA BARAT Osly Rachman; Sri Rulliaty
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 7, No 4 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1990.7.4.121-129

Abstract

Machining  properties  of  ten  wood  species from West Nusa Tenggara is reported  in this paper.The sample material was tested under ASTM D-1666 that was modified   according to  Forest Products Research  Institute Report No.160 (1982). The  samples (25  pieces/species) were  dried  to  equilibrium   moisture content condition (15 to18 %  of  MC). The  machining  properties   tested  are planing,  shaping,  boring,  turning,  and sanding.Four species  that have good  to  very good  machining properties  are Anthocephalus cadamba  Miq., Duabanga moluccana BL., Eugenia longiflora (Presl.) F. Viii., and  Eugenia polyantha Wight. Whereas the other species have poor  machining properties   i.e.,  Ailanthus  malabarica DC, Ficus  microcarpa   L.f  and  Palaquium  javense Burck.
SIFAT PEMESINAN 32 JENIS KAYU DARI DAERAH JAWA BARAT DAN NUSA TENGGARA TIMUR Osly Rachman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 4 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1988.5.4.216-225

Abstract

 The paper presents  a  test result of machining properties  of 32 wood species from  West Java  and East of Nusa  Tenggara East. The air dried samples were tested according  to  the ASTM  D­1666/64 standard  that was modified  according  to the Forest Products Research Institute  Report  No. 160  (1982).   In most  of the species 25 or more samples were available  for  test.  The machining  properties   tested  included  planning,  shaping, boring,  turning  and sanding.The  result  reveals  that  eighteen  wood  species have good  to  very good machining   properties, five  species  have  very good  machining  properties namely gintung, pongokan,    rasamala, melur,  tanjung  and leda  II.The  other  species are  good  or fair in some  properties  and poor  or very poor  in other.  The species with poor  or very poor   machining  properties   are  bareuhbeuy, hantap heulang  and  leda   III.
PENGARUH POLA PENGGERGAJIAN TERHADAP RENDEMEN DAN WAKTU MENGGERGAJI KAYU MERANTI (SHOREA SPP.) *) Osly Rachman; Sadan Widarmana; Surjono Surjokusumo
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 5 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1988.5.5.249-258

Abstract

The  effects  of sawing pattern on recovery  and sawing   time   was studied  using  72 logs of meranti  (Shorea spp.).  The logs were divided  into  4 grades  i.e., Prime, First,  Second  and Local, each group consisting of 18 logs.  Each group  was sawn with  3  different  sawing  patterns,    namely semi  quarter, round  and  live  sawing. In  the sawing pattern study the  effect of logs  diameter, brittle heart, and sapwood  on recovery were  also observed.The  results  indicated  that  semi  quarter,  round,  and  live sawing patterns  generated  a  recovery  as much  as 46,37  %, 43,48  % and  37,61 %,  respectively. The  recovery  of Prime  grade  logs was 46,92 % which  was  not  significantly  different from  that of the First grade logs.  The  Second  grade logs produced  a recovery  of 37.12 % and was not significantly different from  that  obtained  from Lokal grade  logs. The sawing rate  was highest  when  live sawing  pattern  was applied, i.e.,  0.92  m3/ hour.
PERCOBAAN PENDAHULUAN MENGGERGAJI BATANG KELAPA Osly Rachman; S Karnasudirdja
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 1, No 2 (1984): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1984.1.2.1-5

Abstract

Fourteen   air  dry   logs  of   coconut   trunk   were  sawn  into   boards  and  squares of  varying  dimensions  following   a "sawing  around"   pattern   to  obtain   the  best  lumber  yield  from the hard outer portion of the trunk. A 43.16 percent yield was obtained.                                                                                                                                          The productivity  of  break down  saw based on  the optimum  feed  speed  of  8.67  meters  per  minute   was  0.0542 m3 per minute. Only saw blades hardened by stellite tipping are recommended for sawing coconut trunks. 
KETEGUHAN LENTUR STATIS SAMBUNGAN JARI PADA BEBERAPA JENIS KAYU HUTAN TANAMAN Osly Rachman; Nurwati Hadjib
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.4.252-360

Abstract

Penelitian kayu sambung jari pada kayu gmelina, mangium, manii, karet dan sengon dari hutan tanaman menunjukkan bahwa kerapatan kayu sangat mempengaruhi keteguhan rekat lentur statik serta efisiensi sambungan papan sambung jari. MOE dan MOR meningkat dengan kenaikan kerapatan kayu dan mencapai maksimum pada kerapatan 0,456. Efisiensi sambungan jari mencapai maksimum pada kerapatan 0,380, yaitu 86%. Walaupun hanya sengon yang dapat mencapai maksimum, namun semua kayu yang diteliti memenuhi standar untuk efisiensi sambungan. Kayu sengon dan karet dapat dimanfaatkan untuk keperluan non struktural, sedangkan gmelina, mangium dan manii dapat dimanfaatkan untuk konstruksi. Kerapatan kayu dapat menjadi penduga terbaik keteguhan rekat (R2=0,72). Keteguhan rekat dapat digunakan sebagai penduga terbaik efisiensi sambungan (R2=0,85). Nilai MOR dapat diduga dari nilai MOE-nya, karena 79,4% dari nilai MOR kayu sambung jari yang diteliti dipengaruhi oleh nilai MOE-nya.
SIFAT PEMESINAN JENIS KAYU JAWA BARAT Osly Rachman; Jamal Balfas
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 3 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1987.4.3.54-64

Abstract

 This paper presents  the result of test on machining properties  of 28 wood species from  Bogor and Sukabumi, West Java.  The test method used was the modified  ASTM  D-1666 described in the Forest Products  Research Institut  Report No.  160 (1982).   The samples  (25 pieces/species) were dried  to equilibrium moisture  content condition (15  to  18%).  The machining  properties   investigated   were planning, shaping, boring, mortising,  turning and sanding.The species that have good or very good machining properties  are kobari, pasang jambe,  pasang beureum,  mahoni  daun lebar, pentadesma, cloropora,  eucalyptus,  meranti  batu,  pinus  I, mahoni,  mahagoni  and pinus  III.  Species such  as kelumpang,  entorolobium   and  cecropia  are consistenlly poorer. The other species are good in some properties  and fair or poor  in others. 
PENGUPASAN DAN PEMOLISAN ROTAN DALAM KEADAAN BASAH DAN KERING Efrida Basri; Osly Rachman; Achmad Supriadi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 8 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1998.15.8.475-487

Abstract

Pengupasan  dan pemolisan   rotan  berdiameter  besar selama  ini dilakukan  pada  keadaan kering. Yang menjadi permasalahan  di sini adalah  untuk mencapai  keadaan  kering,  waktu pengeringan  yang  diperlukan  sangat  lama yakni  bisa satu bulan atau lebih untuk mencapai  kadar air ±  16%. Keadaan yang  demikian  tentu tidak menguntungkan   karena selain menghambat  proses produksi, juga keawetan rotan  menjadi  turun.Penelitian  ini dilakukan  dengan  tujuan memperoleh  beberapa faktor   konversi  dalam pengupasan dan pemolisan yang   dilakukan  pada  rotan  dalam  keadaan  basah  dan  kering.  Sasarannya   adalah untuk  mengetahui   apakah  pengupasan  dan  pemolisan  rotan  pada  keadaan   kering  dapat  diganti dengan pada keadaan  basah.Bahan yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah  tiga jenis  rolan  berdiameter   besar,  yaitu manau (Calamus manan Miq.),  seuti (Calamus  ornatus BL.), dan nunggal  (Calamus ornatus BL.) yang masing-masing  dikupas  dan dipolis  dalam keadaan  basah  (KA. 70-80%) dan kering  (KA.  15 - 18%). Faktor yang  diamati  pada  saat pengupasan  dan pemolisan  adalah pengurangan   diameter,  rendemen, cacat  serat  berbulu  dan serat patah,  cacat warna, dan produktivitasnya.Pengupasan   dan  pemolisan  rotan  dalam  keadaan  basah  menghasilkan  rendemen  lebih  rendah  serta  cacat  serat   berbulu  dan  serat  patah  lebih  tinggi, namun  pengurangan  diameter    dan produktivitas   sama dengan  rotan yang  dikupas  dan dipolis dalam keadaan kering.Mengacu  kepada  klasifikasi  pemesinan,   pengupasan   dan pemolisan  rotan  dalam  keadaan  basah menghasilkan   rotan  dengan  mutu  baik  untuk jenis  manau  dan nunggal,  dan mutu  sedang  untuk jenis seuti.  Sedangkan,   apabila  ketiga  jenis  rotan  tersebut  dikupas   dan  dipolis  dalam   keadaan  kering mutunya  menjadi  sangat  baik.Mengingat  alat pengupasan  dan pemolisan rotan yang  ada sekarang  hanya  untuk  rotan  kering, maka untuk meningkatkan   mutu  rotan kupas dan polis  basah perlu merekayasa  kedua  alat tersebut.