Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS BANJIR SUBDAS CIMANUK UNTUK MENENTUKAN STATUS PERINGATAN DINI BANJIR KOTA GARUT Jennifer Gerina Putri; Suharyanto Suharyanto; Pranoto Samto Atmojo
Rang Teknik Journal Vol 4, No 2 (2021): Vol. 4 No. 2 Juni 2021
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.799 KB) | DOI: 10.31869/rtj.v4i2.2369

Abstract

Kabupaten Garut khususnya Kawasan Kota Garut merupakan daerah dengan potensi bencana banjir yang tinggi. Kawasan Garut masih dinyatakan sebagai daerah rawan bencana. Hal tersebut berdasarkan hasil laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut. Kawasan Kota Garut dilalui oleh Sungai Cimanuk yang berhulu di Pegunungan Mandalagiri di Kabupaten Garut mengalir ke dan bermuara di Laut Jawa di Kabupaten Indramayu. Pada tanggal 21 September 2016, Garut mengalami banjir bandang yang banyak menyebabkan korban jiwa. Banjir yang menimpa Kota Garut disebabkan oleh buruknya kondisi DAS Cimanuk, dikarenakan alih fungsi tata guna lahan. Selain upaya struktural, kerusakan dan kerugian dapat diminimalisir dengan upaya nonstruktural yaitu peringatan dini banjir. Peringatan dini banjir pada penelitian ini melakukan analisis banjir menggunakan pemodelan hidrologi dan hidrolika, dimana analisis hidrologi dilakukan di DAS Cimanuk Hulu mulai dari Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut, hingga batas daerah genangan Waduk Jatigede di Kecamatan Wado Kabupaten Sumedang. Analisis hidrolika dilakukan mulai Bendung Cimanuk di Kecamatan Bayongbong hingga Bendung Copong di Kecamatan Garut Kota. Hasil analisis berdasarkan kala ulang 2, 5, 10, 25, 50 dan 100 tahun menunjukan bahwa debit banjir Q5, Q10, Q25, Q50 dan Q100 berpotensi menimbulkan bencana banjir di 9 desa atau 6 kecamatan yaitu Kecamatan Bayongbong, Cisurupan, Cilawu, Garut Kota, Tarogong dan Banyuresmi. Waktu tempuh desa yang berada di luar Kawasan Kota Garut adalah Desa Bayongbong dan Desa Cilea di Kecamatan Bayongbong yaitu 0.1 jam (6 menit) jika banjir terjadi dengan Q ≥ Q50 tahun. Untuk desa yang berada di dalam Kawasan Kota Garut adalah Desa Sukakarya dan Desa Cisurupan di Kecamatan Bayongbong, yaitu 1.5 jam (90 menit) jika banjir terjadi dengan Q ≥ Q50 dan Q100 tahun. Warga mulai evakuasi saat status level peringatan dini menunjukkan peralihan dari level Siaga ke level Awas.
ANALISA LAJU SEBARAN YIELD SEDIMEN PADA DTA WADUK SAGULING DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN USLE-GIS Juan Indra; Suharyanto Suharyanto
Wahana Teknik Sipil: Jurnal Pengembangan Teknik Sipil Vol 27, No 1 (2022): Wahana Teknik Sipil
Publisher : Politeknik Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32497/wahanats.v27i1.3678

Abstract

One of the issues that is still a problem in the upstream watershed, including thewater catchment area of Saguling Reservoir, is land use change. Changes in landuse in water catchment conservation areas into economic, industrial and residentialareas, will cause an increase in run-off during the rainy season and sedimenttransport to the reservoir inlet, while changes in land use downstream of thereservoir will cause an increase in demand. Therefore, research is needed todetermine the rate of increase in sediment yield that occurs in the watershed of theSaguling Reservoir. The integration of USLE and GIS allows us to determine thespatial distribution of parameters. Each factor in USLE is calculated using theexisting facilities in the GIS software. The results showed that there was anincreasing rate of sediment yield in the "Very Heavy" TBE category, while in the"Medium" TBE category the trend of sediment yields showed a downward trend.
Residual Strength Parameter Method for Slope stability on a Toll Road with Expansive Clay Goji Pamungkas; Thomas Triadi Putranto; Suharyanto; Muhrozi; Yanuar Niko Priambodo
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 7 No. 2 (2022): JGEET Vol 07 No 02 : June (2022)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jgeet.2022.7.2.9251

Abstract

The decreasing stability phenomenon needs to be considered during the design of cut slopes on problematic soil. Excavation slope of toll road construction tends to fail when it lies above clay-shale strata. Certain common correlations and ordinary analytical methods are not recommended for safety calculation. This study is intended to find out the characteristic of clay-shale and proper slope inclination design on Semarang Batang Toll Road. The behaviour of a clay-shale area on the cut slope of Batang-Semarang toll road segment STA 438+000–STA 439+000 was identified. The degradable and expansive properties caused slope failure of the initial design with an inclination of 1 H: 1 V. Laboratory tests found that the soil had a clay faction > 40% and can be categorized as high plasticity (LL > 50%). An empirical approach determined that the residual shear strength decreased to phi < 6 degrees. To describe the swelling after the excavation stage, the flow deformation was determined by a finite element simulation. During the swelling phase, the pore water pressure was maintained at a certain value, and a gentler slope fulfilled the minimum safety factor with an inclination of 1 V: 3 H. Furthermore, the shear strength of the clay-shale was reduced to that for a fully softened material, and all the slope factors for safety moved to a critical state. According to the simulation, the minimum suggested slope inclination is 5 H: 1 V. This approach is important for the maintenance of pore water pressure and the prevention of an additional reduction in the shear strength so as to avoid slope failure on clay-shale regions in the yielding stage.
PENILAIAN RISIKO KEGAGALAN BENDUNGAN KEDUNGOMBO SEBAGAI DASAR PRIORITAS PEMELIHARAAN BENDUNGAN Rais Buldan; Suharyanto Suharyanto; Sriyana Sriyana
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12616

Abstract

A dams must always be maintained for their performance, function, and safety, so it is necessary to carry out various maintenance, repairs, and rehabilitation on dams that have been built and operating. Priority systems for the implementation of repair and rehabilitation of dams can be arranged based on the status of safety hazards or the level of risk of failure due to natural disasters or other consequences. Based on this, it is necessary to carry out an assessment of the dam to estimate the magnitude of the risk to the dam. According to the Risk Analysis Guidelines, the estimation of the probability of failure can be done using two methods, namely the traditional method and the event tree method. Based on the results of assessment analysis, the risk probability of the Kedungombo Dam with the traditional method and the event tree method is 4,010 x 10-1 and 1,548 x 10-3 where the acceptable limit conditions for the existing dam are a maximum of 1,000 x 10-5. The risk probability value of the Kedungombo Dam does not meet the requirements of an acceptable risk value. Therefore, it is necessary to recommend risk reduction for the risk assessment results. ABSTRAKBendungan harus selalu dijaga kinerja operasi, fungsi, dan keamanannya, sehingga perlu dilakukan berbagai kegiatan pemeliharaan, perbaikan, dan rehabilitasi pada bendungan yang sudah terbangun dan beroperasi. Sistem prioritas pada pelaksanaan kegiatan perbaikan dan rehabilitasi pada bendungan dapat disusun berdasarkan status bahaya bendungan dari segi keamanan atau besarnya risiko terhadap kegagalan bendungan akibat bencana alam maupun akibat lain. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penilaian risiko pada bendungan untuk memperkirakan besarnya risiko bahaya pada bendungan. Berdasarkan Pedoman Analisis Risiko, perkiraan probabilitas kegagalan dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode tradisional dan metode pohon kejadian (event tree). Berdasarkan hasil analisis penilaian risiko, probabilitas risiko Bendungan Kedungombo metode tradisional dan metode pohon kejadian sebesar 4,010 x 10-1 dan 1,548 x 10-3 dimana syarat batas yang dapat diterima untuk bendungan eksisting maksimum 1,000 x 10-5. Nilai probabilitas risiko Bendungan Kedungombo tidak memenihi syarat nilai risiko yang dapat diterima. Dengan demikian, diperlukan rekomendasi tindakan pengurangan risiko untuk risiko hasil penilaian tersebut. 
EVALUASI PENANGANAN LONGSORAN TEBING SUNGAI BODRI DI DESA LANJI KECAMATAN PATEBON KABUPATAN KENDAL Muchamad Ali Nidhom; Sri Prabandiyani R.W.; Suharyanto Suharyanto
Rang Teknik Journal Vol 6, No 1 (2023): Vol. 6 No. 1 Januari 2023
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.256 KB) | DOI: 10.31869/rtj.v6i1.3328

Abstract

Sungai Bodri melewati tiga kabupaten yaitu Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Semarang di bagian hulu serta Kabupaten Kendal di bagian tengah hingga hilir. Sungai Bodri berhulu di Gunung Sindoro, Gunung Prahu dan Gunung Ungaran serta bermuara di Pantai Utara Jawa. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri sampai muara adalah 1.610,8 km2 terbagi atas 5 sub DAS, yaitu Sub-DAS Wringin, Sub-DAS Lutut, Sub-DAS Logung, Sub-DAS Putih dan Sub-DAS Bodri Hilir. Alih fungsi lahan di hulu Sungai Bodri dan aktivitas penambangan material batu, kerikil dan pasir tanpa ijin mengakibatkan keseimbangan transport sedimen menjadi terganggu sehingga di beberapa tempat di ruas Sungai Bodri mengalami degradasi dasar sungai dan kelongsoran tebing/tanggul sungai. Salah satu lokasi longsoran yang perlu perhatian yang lebih mendetail adalah longsoran tebing kanan sungai di Desa Lanji Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal. Untuk mengatasi permasalahan ini, telah dilakukan penanganan yang sifatnya darurat maupun permanen. Dalam pelaksanaan konstruksinya dijumpai banyak permasalahan, seperti kesulitan dalam pelaksanaan pekerjaan timbunan tanggul di bantaran, sampai putusnya kontruksi pile cap turap dan angkur yang telah terpasang hingga mengakibatkan separuh badan tanggul longsor. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan kajian yang lebih konprehensip meliputi aspek hidrologi, hidrolika dan geoteknik untuk memastikan penyebab terjadinya longsoran serta dapat digunakan sebagai dasar dalam penentuan jenis penanganan yang akan dilakukan selanjutnya. Dari hasil analisis ini, disarankan beberapa hal sebagai langkah penanganan permanen, yaitu perlu dilakukan pengupasan tanah yang mengalami longsor dan dilakukan penimbunan ulang dengan material tanah yang baru, perlu dilakukan perbaikan tanah pondasi karena tanah pondasi termasuk jenis tanah lunak, untuk menghindari terjadinya longsoran di lereng sisi dalam dan meningkatkan stabilitas maka di kaki tanggul diperkuat konstruksi turap, untuk mengurangi efek gerusan dan laju aliran serta menangkap sedimen maka di depan turap perlu ditambah dengan kontruksi krib/bronjong.