Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

STUDI KASUS: OPTIMISASI TEKNIK PENGADUKAN, PEMBENTUKAN GULUNGAN, DAN KEMASAN PRODUK DODOL DI KABUPATEN BEKASI Dessy Agustina Sari; Azafilmi Hakiim; Vita Efelina; Mohammad Djaeni; Hadiyanto Hadiyanto
AGROINTEK Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Agroindustrial Technology, University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v14i2.6408

Abstract

Dodol is a type of food made from coconut milk, sticky rice flour, and sugar. Its main characteristic is stickiness, which becomes a difficulty during the stirring and packaging process. The need for mechanization results in the instability of production capacity. For 25 years, the core problem solving is a stainless steel material mixer with a pitch blade type that maintains the use of copper pans. This thing overcomes human strength, uniformity of dodol dough, and eliminates shifts between workers. The second is the feeding of dodol, which has been cooled to the screw extrusion rotation and results in uniform diameter of the product roll. The duration of this stage cuts the packaging time from 1-2 minutes to 26-50 seconds per dodol package (250 grams). Besides, the updating of conventional methods has been able to encourage products to reach food shops by submitting marketing authorizations at the Bekasi District Health Office. Lack of sales licenses become middlemen loopholes. Labeling production on selling products could increase the level of consumer confidence in market competition. The proximate test of dodol UKM could compete with the quality of Garut dodol.
Bananas Muli as a product fruit leather through using microwave and oven dryers Dessy Agustina Sari; Nurcahyo Widyodaru Saputro; Azafilmi Hakiim; Sukanta
Journal of Sustainable Engineering: Proceedings Series Vol 1 No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/joseps.v1i2.24

Abstract

Post-harvest processing of bananas Muli local Karawang – Loji area became a research study on a breakthrough the kind of food products. Previously, this fruit only sold to consumers in the roadside, and the rest was thrown away or not utilized. Users prefer to consume directly and fresh. After that, its medium size with a diameter 3 to 4 cm caused this raw material did not display to be a selling outcome such as “sale” or chips. Bananas Muli has never received further food processing compared to other types of bananas (such as bananas Kepok, bananas Raja, bananas Tanduk, bananas Ambon, and others). The term of fruit leather gave the development and novelty for product fruit categories in the form of sheets. Furthermore, the process that occurred was decreasing water content used microwave and oven dryers, then temperature range between 60-80oC with constant sample thickness in three suitable stabilizers. Utilization of oven dryers to produce banana leather products without stabilizers was more likely to choose a temperature of 70oC as the best condition for decreasing water content in the ingredients. Meanwhile, the use of microwaves was able to produce electromagnetic waves and caused collisions between molecules owned by the sample. The results indicated a positive effect. Carrageenan and starch were more capable of binding the water molecules. This way helped the process of reducing water content much faster from the surface (free water) to the area in the sample (water bound to the equilibrium water content). This research resulted in a decrease in water content in the example by 10,5701-12,8639% within 3 hours of the drying process at the optimum conditions
Karakteristik Ekstraksi Dan Fermentasi Daun Indigofera Sebagai Pewarna Alami Pada Tekstil Azafilmi Hakiim; Dessy Agustina Sari
Chimica et Natura Acta Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.714 KB) | DOI: 10.24198/cna.v6.n3.19293

Abstract

Keberadaan potensi tanaman Indigofera di wilayah Jawa Barat yang dikenal dengan “Tarum”, banyak diperuntukan sebagai pakan ternak. Kemanfaatan lainnya adalah penghasil pigmen warna biru yang berguna sebagai zat warna alam (ZWA). Peranan ZWA pada kain tekstil memberikan dampak positif bagi lingkungan, karena material hasil buangan warna yang dicelupkan bersifat biodegradable dan mampu teruraikan. Kelemahan dari ZWA diantaranya terletak pada daya ikat,  daya cuci, daya luntur, dan daya tahan sinar yang dinilai tidak kuat menempel pada kain. Perlu adanya variasi perlakuan metode untuk memberikan informasi kajian terbaharukan pada produk material ZWA. Tujuan penelitian ini, memvariasikan beda perlakuan antara fermentasi (aerob) dan ekstraksi pada variabel kain katun dan sutera dengan varibel bebas penggunaan fiksasi tawas, kapur, dan tunjung terhadap daya tahan pencucian, daya tahan kelunturan, dan daya tahan cahaya matahari. Metode yang digunakan meliputi tahapan perlakuan beda konsentrasi daun indigo 1kg/5L dan 1kg/10L, kemudian dilanjutkan proses beda perlakuan yaitu ekstraksi dan fermentasi (aerob). Selanjutnya perlakuan penggunaan fiksasi/non fiksasi sebagai variabel bebas dan variabel terikat sebagai uji daya tahan. Hasil uji ketahanan daya tahan pencucian, daya tahan luntur, dan daya tahan sinar mtahari menunjukkan bahwa kategori nilai yang dihasilkan pada beda kondentrasi, menghasilkan penilaian yang tidak jauh berbeda. Sedangkan perlakuan penggunaan fiksasi/non fiksasi diperoleh kategori nilai terbaik rata-rata pada perlakuan fermetasi (aerob).
Enhancing Quality of Drying Mixed Shrimp Paste from Karawang with Red Pigment by Angkak Dessy Agustina Sari; Muhamad Djaeni; Azafilmi Hakiim; Sukanta Sukanta; Nurul Asiah; Didik Supriyadi
IPTEK The Journal for Technology and Science Vol 29, No 3 (2018)
Publisher : IPTEK, LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j20882033.v29i2.3575

Abstract

existence of shrimp paste farmer is supported by activities of auction fish place one of which located Ciparage beach, Karawang – West Java. Perpetrators produced 2 products such as shrimp paste and mixed shrimp paste. Utilization of Rebon shrimp by totality does not need other additives because drying process brings out the color that had itself so final product becomes redness. Involvement of Petek fish almost partially could reduce the color quality so the society used Rhodamine-B dye. This is widely spreading in the area because this matter is distributed by seller directly – door to door and the price is affordable – cheaper. Novelty this research is application of tray dryer with operating temperature variables – 40, 50, 60oC for 7 hours and the presence of Angkak as natural the red pigment that it is safe for human health. The results showed that the optimum condition of drying mixed shrimp paste was achieved by temperature 40oC. This is not about how much and quickly the moisture that evaporating into the air. Paradigm to chemical composition – organoleptic and antioxidant activity – DPPH method also was be consideration for that matter. Physically, this dried product had normal smell, salty taste, brown color, soft texture, solid shape, and normal appearance.
Kajian Ulang Pemahaman Konsep Integral-Turunan Pasca Ujian Akhir Semester Dessy Agustina Sari; Azafilmi Hakiim; Vita Efelina
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 10, No 1 (2019): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v10i1.2050

Abstract

Matematika I dan II merupakan mata kuliah dasar di semester satu dan dua yang menjadi tumpuan Matematika Lanjutan (Probabilitas dan Statistik, Matematika Teknik I, dan Matematika Teknik II). Salah satu kompetensi akhir mahasiswa tingkat satu adalah pemahaman konsep Turunan dan Integral. Kesulitan pemahaman pada ilmu dasar menjadi titik kebingungan mahasiswa di semester selanjutnya. Selain itu, variasi lulusan peserta didik menjadi beban bagi dosen dalam menyampaikan materi karena beberapa hal dasar harus disampaikan kembali di kelas seperti aturan cosinus, integral-turunannya, dan bentuk lainnya. Kajian ulang integral-turunan bagi mahasiswa program studi Teknik Elektro Angkatan 2016 bertujuan menanamkan ulang prinsip dasar dari konsep integral-turunan terhadap soal-soal Ujian Akhir Semester melalui pemaparan secara bertahap. Metode yang digunakan tim pengabdian adalah workshop (pendidikan berkelanjutan) yang melibatkan 3 orang dosen (pengajaran dan diskusi). Persoalan yang belum sempat diselesaikan menjadi tugas selama liburan. Pengajar memberikan jawaban akhir dari setiap persoalan sehingga mahasiswa menjadi termotivasi untuk mengerjakan kembali. Trik yang diberikan para pengajar adalah apabila soal sebelumnya telah selesai, silakan dikerjakan kembali dengan menutup jawaban yang kami berikan. Kegiatan mandiri dapat dilakukan di rumah dengan bantuan internet, buku bacaan sebelum perkuliahan baru dimulai
EDUKASI PENDETEKSIAN BAKSO BERBORAKS DAN pH AIR KONSUMSI BAGI WARGA KARAWANG Dessy Agustina Sari; Azafilmi Hakiim; Muhammad Fahmi Hakim; Rahmat Hidayat; Reza Setiawan; Sukanta Sukanta; Kamilah Pathun Ni'mah; Iyan Iyan
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 4, No 6 (2020): DESEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.094 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v4i6.3077

Abstract

Abstrak: Area sekitar kawasan industri kabupaten Karawang dipenuhi oleh masyarakat lokal dan berdekatan kampus negeri Universitas Singaperbangsa Karawang. Kedua hal ini menarik perhatian sejumlah penjualan bahan makanan dan minuman. Usia pembeli yang disoroti dimulai anak kecil hingga orang tua dengan permasalahan meningkatnya produk olahan daging sapi dan air minum. Hal ini terlihat oleh melimpahnya penjual air minum dan bakso. Harga jual kedua item tersebut bervariasi dan memberikan ruang besar daya tarik pembeli. Namun, dari segi perhitungan bahan baku menjadi produk ditemui adanya gap dari harga yang dicantumkan penjual. Selain itu, penduduk sekitar memiliki kegelisahan tentang air sumur yang digunakan sehari-hari seperti menimbulkan bau, berwarna kuning, dan berminyak. Rendahnya pengetahuan masyarakat sekitar atas dari dua bahasan ini membutuhkan edukasi sebagai langkah awal pendampingan kebutuhan masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat desa Wadas berupa demonstrasi untuk makanan bakso dan sampel sejumlah air konsumsi dengan lokasi peragaan di sekitar pekarangan warga. Hasil di lapangan menunjukkan bahwa pengggunaan kunyit mampu menunjukkan adanya bakso berboraks (tidak aman dikonsumsi). Kemudian, air konsumsi saat ini dapat dialihkan ke penggunaan air mineral telah mencantumkan SNI dan kondisi penyimpanan sesuai aturan yang diberikan. Masyarakat menjadi lebih peka dan mewaspadai kembali atas perilaku konsumtif untuk menjaga kesehatan tubuh. Abstract: The around the industrial area of Karawang was filled with local people and is adjacent to the Universitas Singaperbangsa Karawang (state campus). These two things attracted the attention of some food and beverage sales. The age of buyers who highlighted was from small children to the elderly with increasing processed beef products and drinking water. The abundance of drinking water and meatball sellers could show that. The selling price of these two items varied and provided a large space for buyer appeal. However, for calculating raw materials into products, there was a gap in the seller's price. Besides, residents had anxiety about the well water used daily, such as odor, yellow color, and oily. The community's shared knowledge of these two topics required education as the first step in assisting community needs. Community service activities in the village of Wadas were demonstrations for meatball food and samples of some water consumption at the demonstration's location around the residents' yards. The field results showed that turmeric could indicate the presence of borax meatballs (unsafe for consumption). According to the given rules, the current consumption water could then be diverted to mineral water, having included SNI and storage conditions. People were becoming more sensitive and wary of consumptive behavior to maintain a healthy body
PENINGKATAN PRODUKSI BUBUK JAHE MERAH MELALUI INTRODUKSI SISTEM PENGHALUSAN Dessy Agustina Sari; Sukanta Sukanta; Wagiono Wagiono; Azafilmi Hakiim; Adetiya Irawan
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 5, No 2 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.249 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v5i2.4104

Abstract

Abstrak: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di desa Karyabakti kecamatan Batujaya kabupaten Karawang bersama mitra UPPKS Jahe Merah. Fokus aktivitas yang diselenggarakan dari Oktober 2020 hingga Maret 2021 adalah peralihan peralatan produksi bubuk jahe merah sebagai hasil peninjauan lokasi usaha mitra bersama aparatur desa. Hasil diskusinya adalah memprioritasikan terlebih dahulu perubahan perlengkapan penghalusan (pelumatan) bahan baku jahe merah. Hal ini disebabkan oleh penggunaan blender yang memiliki tantangan atas beban yang diberikan (jahe merah dan air). Dampaknya adalah alat hanya mampu mengolah 3 kg jahe merah selama 1 jam dan juga ditambahkan permasalahan kinerja lainnya (yang memberikan waktu proses lebih panjang. Tujuan transformasi peralatan produksi ini adalah menghemat waktu penghalusan bahan baku dan selanjutnya mengarahkan ke peningkatan kapasitas produksi dan manajemen produksi. Solusi ini memberikan ruang bagi mitra untuk menerapkan purwarupa dan tim pelaksana menjelaskan tata cara pembersihan pasca digunakan (sisi umur alat) dan juga K3 bagi konsumen (dibantu oleh PT TEiN Karawang). Hasil kegiatan pengabdian di desa Karyabakti mampu menurunkan waktu proses penghalusan menjadi 30 menit untuk 3 kg jahe merah segar dibandingkan peralatan semula. Keberhasilan ini menjadi peluang dan kesempatan bagi UPPKS setempat atas transformasi tersebut ke depannya yaitu semula 40-50 kg per bulan menjadi per hari. Abstract:  Karyabakti village, Batujaya sub-district, Karawang district was the location for community service activities and UPPKS Jahe Merah (MSME red ginger) acted as a partner. The focus of activities held from October 2020 to March 2021 was the transfer of red ginger powder production equipment. This was the result of a survey of partner business locations with village officials. The result of the discussion was to prioritize changes in the refining equipment (mashing, pulverize, or milling) of the red ginger raw material. Previously, the use of a blender had challenges over the weight given (red ginger and water). The impact was that the equipment was only able to process 3 kg of red ginger for 1 hour and also added other performance problems (which give longer processing time. The purpose of this production equipment transformation was to save time for refining raw materials and then lead to increased production capacity and production management. This provided space for partners to implement prototypes and the implementation team explained the procedures for post-use cleaning (tool life side) as well as K3 for consumers (assisted by PT TEiN Karawang). The results of community service activities in Karyabakti village were able to reduce the refining process time to 30 minutes for 3 kg of fresh red ginger compared to the original equipment. This success was an opportunity and opportunity for the local UPPKS for this transformation in the future, from 40-50 kg per month to per day.
Karakterisasi Metode Panas-Dingin Zat Warna Alam Bakau Dan Konsentrasi Merang Dengan Variasi Perlakuan Fiksator Pada Aplikasi Kain Azafilmi Hakiim; Dessy Agustina Sari; Cintiya Septa Hasannah
Jurnal Teknologi Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Teknologi
Publisher : Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.2 KB) | DOI: 10.31479/jtek.v7i1.36

Abstract

Bakau merupakan sumber potensi lokal pesisir Kabupaten Karawang, yang diolah menjadi serbuk warna pada implementasi kain tekstil. Pada penelitian ini menyajikan kajian terbaharukan dari pengolahan zat warna alam (ZWA) dari serbuk dengan perlakuan panas dingin dengan variasi komposisi merang dan diuji terhadap pengaruh jenis fiksator terhadap variasi jenis kain (kain katun polos, sutera polos dan katun batik). Metode panas dingin dilakukan dengan merendam serbuk bakau dengan komposisi 100gr/1liter air, ditambahkan dengan variabel komposisi merang yang dibakar (metode panas) 100gr/1liter dan 200 gr/1liter air selama 48 jam. Zat warna alam yang dihasilkan, kemudian diujikan ke variasi jenis kain, dengan perlakuan non fiksator (sebagai pembanding dan kenampakan originalitas warna) dan variasi fiksator (tawas, kapur, dan tunjung). Parameter hasil uji dilakukan terhadapa skala penilaian kualitatif berdasarkan staining scale pada uji pencucian, uji kelunturan dan terik matahari. Pengolahan data kualitatif tersebut menggunakan ANOVA dua arah dengan beda nyata pada taraf uji 5%. Hasil penelitian menunjukkan, pada pengolahan ANOVA dua arah dihasilkan perbedaan yang signifikan antara beda perlakuan komposisi A dan B  terhadap ragam penilaian persepsi keberadaan fiksator. Berdasarkan hal tersebut diperoleh kondisi terbaik pada perlakuan komposisi A. Sedangkan pengaruh ragam penilaian terhadap jenis kain, tidak ditemukan perbedaan yang nyata.
Perbandingan Pengaruh Adaptasi Aspergillus niger Terakumulasi Litium Pada Proses Bioleaching Cintiya Septa Hasannah; Muhammad Fahmi Hakim; Azafilmi Hakiim
Jurnal Teknologi Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Teknologi
Publisher : Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.635 KB) | DOI: 10.31479/jtek.v7i1.38

Abstract

Perkembangan teknologi tidak serta merta memberikan dampak yang selalu positif. Sebagai contoh, seiring meningkatnya produk-produk portable maka kebutuhan baterai akan meningkat secara signifikan. Hal tersebut justru akan menambah jumlah limbah baterai. Konsumen membuang ratusan bahkan jutaan limbah baterai pertahunnya yang mengandung bahan beracun dan korosif ke lingkungan begitu saja. Oleh karena itu, perlu ada treatment untuk mengolah limbah baterai, salah satunya adalah dengan merecovery logam yang terkandung dalam baterai. Bioleaching merupakan suatu proses ekstraksi logam yang dilakukan dengan bantuan bakteri atau jamur yang mampu mengubah senyawa logam yang tidak dapat larut menjadi senyawa logam yang dapat larut dalam air melalui reaksi biokimia. Pada Proses bioleaching, jamur berperan menghasilkan asam organik yang mampu melarutkan logam. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh adaptasi mikroorganisme pada litium terhadap jumlah akumulasi litium dan membandingkannya dengan akumulasi litium tanpa adanya adaptasi mikroorganisme. Jamur yang digunakan adalah Aspergillus niger dan limbah baterai yang digunakan adalah baterai laptop bekas. Perbandingan dapat ditunjukkan dari hasil bioleaching litium dengan proses adaptasi yaitu sebesar 80% litium terleaching, sedangkan untuk hasil bioleaching litium tanpa proses adaptasi hanya sebesar 58% litium terleaching.