Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

KEARIFAN ARSITEKTUR LOKAL DALAM BERADAPTASI TERHADAP KONDISI IKLIM DI DAERAH TROPIS LEMBAB (Studi Kasus: Pemukiman Rumah Rakit di Sungai Musi Palembang) Ferdiant Diem, Anson
Journal of Architecture and Wetland Environment Studies Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Journal of Architecture and Wetland Environment Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract There are a variety of patterns of raft housing found in the traditional settlement along the Musi River of Palembang. They form a specific dwelling environment consisting of traditional housing on water. Customary values cultivated in the traditional settlement contain aesthetic values and local wisdom of the society. The social and cultural variety of the society along the Musi River and its upper stream called batang hari sembilan ‘the nine rivers’ does not exist instantly but gradually. This paper tries to present those aspects based on the research the writer did using phenomenological descriptive method, that is aimed at describing an architectural phenomenon emerged through local wisdom of Palembang society. The analysis of this study covering formation, building orientation, season variables, and thermal convenience is intended to dig up local wisdom and expose building architectural values and conditions of Palembang traditional settlement. It is expected that local wisdom is internalized and accepted by the people concerned as local creativity which is wise, valuable, and beneficial. Key words: Local wisdom, raft housing, thermal conveniencePendahuluan Sejalan dengan kemajuan jaman, rumah-rumah tradisional seperti rumah rakit Palembang mengalami desakan modernisasi yang sangat kuat sehingga keberadaannya menjadi semakin langka, padahal referensi tentang keaneka ragaman budaya bangunan ini belum banyak tersedia.  Kalau tidak dipelajari, dapat diperkirakan bahwa suatu saat kelak anak cucu kita tidak dapat mengenali dan berbangga hati atas budaya yang pernah dimilikinya.  Ironisnya lagi, referensi tentang rumah-rumah tradisional Nusantara malah dibuat oleh bangsa asing.  Buku yang berjudul “The Tradisional Architecture of Indonesia”, buah karya Barry Dawson dan John Gillow, terbit tahun 1994 merupakan bukti tentang hal ini, walaupun kurang lengkap karena masih merupakan garis besar dan tidak mencakup semua bangunan tradisional yang kita miliki. Sebagai bangunan pribadi rumah harus dilengkapi dengan studi tentang keinginan penghuninya agar selaras dengan keinginan tersebut dan dapat melindungi penghuninya dari pengaruh cuaca dan bahaya lain yang ada (Kureja, 1978).  Hal ini sesuai dengan pendapat Amos Rapoport (1969), yang mengatakan bahwa sebagai tempat berlindung, rumah sangat diperlukan manusia karena merupakan faktor utama dalam usahanya untuk tetap bertahan melawan musuh, iklim, hewan buas dsb. Cara-cara untuk beradaptasi dengan kondisi iklim maupun lingkungan merupakan buah hasil kearifan lokal daripada masyarakat itu sendiri. Kondisi geografis kawasan juga memiliki pengaruh terhadap bentuk rumah tradisional yang meliputi aspek arsitektur, konstruksi, bahan bangunan dan filosofi. Sumatera Selatan yang sebagian besar merupakan wilayah lahan basah (wetland) di mana tanahnya jenuh dengan air, baik bersifat permanen (menetap) atau musiman. Wilayah-wilayah itu sebagian atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal. Walaupun beberapa tipe rumah tradisional Palembang memiliki bentuk rumah panggung, tetapi masing-masing tipe rumah panggung memiliki perbedaan sistem struktur yang adaptif terhadap lingkungan di sekitarnya. Demikian juga dengan Rumah Rakit yang sesuai dengan wilayah yang memilki banyak sungai besar. Kearifan Lokal Kearifan lokal (local wisdom, local knowledge, local genious) diterjemahkan sebagai kecerdasan/pengetahuan setempat atau pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas masyarakat lokal (adat, agama, ilmu pengetahuan, ekonomi, tehnologi, organisasi sosial, bahasa dan komunikasi, serta kesenian) dalam menjawab berbagai masalah untuk mempertahankan, memperbaiki, mengembangkan unsur kebutuhan mereka, dengan memperhatikan ekosistem serta sumberdaya manusia yang terdapat pada warga mereka sendiri (Hermana, 2006). Kearifan lokal telah menjadi tradisi-fisik-budaya, dan secara turun-temurun menjadi dasar dalam membentuk bangunan dan lingkungannya, yang diwujudkan dalam sebuah warisan budaya perkotaan. Budaya lokal tercipta melalui proses yang panjang, bersifat evolutif, dan proses transfer ilmunya melalui bahasa tutur/lisan dan praktek langsung secara trans generasi. Dengan demikian tidak ada hak cipta, tidak diketahui penemunya, namun dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, dan bahkan menjadi nilai budaya yang mengikat perilaku masyarakat. Itulah yang disebut “tradisional” sebagai ungkapan yang berlawanan dengan “modern” yang selalu diketahui penemunya. Penciptaan atau temuan yang bermakna bagi keberlangsungan hidup masyarakat setempat itulah yang lebih sering disebut kearifan lokal. Dalam konteks rumah tradisional, kearifan lokal yang menyertai proses pembangunan rumah sudah mengatur harmonisasi antara kebutuhan teknologi, bahan bangunan, desain, tata letak, dengan kemampuan alam. Harmonisasi dicapai oleh masyarakat tradisional dengan terlebih dahulu mengenal dan memahami dengan baik kondisi lingkungannya. Masyarakat tradisional sangat menguasai konsep ekologi dimana mereka hidup. Mereka mengetahui dengan baik interaksi antara makhuk hidup dengan lingkungan biotik dan abiotiknya, sehingga tercipta kehidupan yang seimbang, serasi dan selaras (Frick dan Suskiyatno 1998). Komponen ekosistem terdiri atas lingkungan abiotik, organisme produsen, organisme konsumen, dan organisme perombak. Masyarakat tradisional telah menyelaraskan diri terhadap keberadaan komponen ekosistem tersebut sehingga terciptalah rumah tradisional sebagaimana banyak kita lihat dengan seperangkat kearifan lokal yang berupa pranata teknologi, kelembagaan, agama, dan lain-lain. Inilah yang dimaksudkan dengan adaptasi ekologis perumahan tradisional. Organisme yang beradaptasi terhadap lingkungannya mampu untuk (Forum sains 2011): Memperoleh air, udara dan nutrisi (makanan), Mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti temperatur, cahaya dan panas, Mempertahankan hidup dari musuh alaminya, Bereproduksi, Merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya. Adaptasi ekologis tersebut jika berlangsung secara evolutif, akan menghasilkan sebuah kehidupan yang harmoni dengan alam. Pada masyarakat Rakit Palembang, harmonisasi dapat digambarkan dengan mudahnya mereka mencari sumber-sumber penghidupan di sekitar rumah mereka antara lain mengail ikan di teras rumah, memelihara ikan dalam karamba di samping rumah, berdagang minyak, dan lain-lain. Meskipun demikian, aktivitas domestik dan sosial tetap berjalan. Dengan kata lain, fungsi rumah sebagai wadah aktivitas sosial, ekonomi, fisik tetap terlaksana dengan baik meskipun lahan mereka berupa air.
KEARIFAN ARSITEKTUR LOKAL DALAM BERADAPTASI TERHADAP KONDISI IKLIM DI DAERAH TROPIS LEMBAB (Studi Kasus: Pemukiman Rumah Rakit di Sungai Musi Palembang) Anson Ferdiant Diem
Journal of Architecture and Wetland Environment Studies Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Journal of Architecture and Wetland Environment Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract There are a variety of patterns of raft housing found in the traditional settlement along the Musi River of Palembang. They form a specific dwelling environment consisting of traditional housing on water. Customary values cultivated in the traditional settlement contain aesthetic values and local wisdom of the society. The social and cultural variety of the society along the Musi River and its upper stream called batang hari sembilan ‘the nine rivers’ does not exist instantly but gradually. This paper tries to present those aspects based on the research the writer did using phenomenological descriptive method, that is aimed at describing an architectural phenomenon emerged through local wisdom of Palembang society. The analysis of this study covering formation, building orientation, season variables, and thermal convenience is intended to dig up local wisdom and expose building architectural values and conditions of Palembang traditional settlement. It is expected that local wisdom is internalized and accepted by the people concerned as local creativity which is wise, valuable, and beneficial. Key words: Local wisdom, raft housing, thermal conveniencePendahuluan Sejalan dengan kemajuan jaman, rumah-rumah tradisional seperti rumah rakit Palembang mengalami desakan modernisasi yang sangat kuat sehingga keberadaannya menjadi semakin langka, padahal referensi tentang keaneka ragaman budaya bangunan ini belum banyak tersedia.  Kalau tidak dipelajari, dapat diperkirakan bahwa suatu saat kelak anak cucu kita tidak dapat mengenali dan berbangga hati atas budaya yang pernah dimilikinya.  Ironisnya lagi, referensi tentang rumah-rumah tradisional Nusantara malah dibuat oleh bangsa asing.  Buku yang berjudul “The Tradisional Architecture of Indonesia”, buah karya Barry Dawson dan John Gillow, terbit tahun 1994 merupakan bukti tentang hal ini, walaupun kurang lengkap karena masih merupakan garis besar dan tidak mencakup semua bangunan tradisional yang kita miliki. Sebagai bangunan pribadi rumah harus dilengkapi dengan studi tentang keinginan penghuninya agar selaras dengan keinginan tersebut dan dapat melindungi penghuninya dari pengaruh cuaca dan bahaya lain yang ada (Kureja, 1978).  Hal ini sesuai dengan pendapat Amos Rapoport (1969), yang mengatakan bahwa sebagai tempat berlindung, rumah sangat diperlukan manusia karena merupakan faktor utama dalam usahanya untuk tetap bertahan melawan musuh, iklim, hewan buas dsb. Cara-cara untuk beradaptasi dengan kondisi iklim maupun lingkungan merupakan buah hasil kearifan lokal daripada masyarakat itu sendiri. Kondisi geografis kawasan juga memiliki pengaruh terhadap bentuk rumah tradisional yang meliputi aspek arsitektur, konstruksi, bahan bangunan dan filosofi. Sumatera Selatan yang sebagian besar merupakan wilayah lahan basah (wetland) di mana tanahnya jenuh dengan air, baik bersifat permanen (menetap) atau musiman. Wilayah-wilayah itu sebagian atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal. Walaupun beberapa tipe rumah tradisional Palembang memiliki bentuk rumah panggung, tetapi masing-masing tipe rumah panggung memiliki perbedaan sistem struktur yang adaptif terhadap lingkungan di sekitarnya. Demikian juga dengan Rumah Rakit yang sesuai dengan wilayah yang memilki banyak sungai besar. Kearifan Lokal Kearifan lokal (local wisdom, local knowledge, local genious) diterjemahkan sebagai kecerdasan/pengetahuan setempat atau pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas masyarakat lokal (adat, agama, ilmu pengetahuan, ekonomi, tehnologi, organisasi sosial, bahasa dan komunikasi, serta kesenian) dalam menjawab berbagai masalah untuk mempertahankan, memperbaiki, mengembangkan unsur kebutuhan mereka, dengan memperhatikan ekosistem serta sumberdaya manusia yang terdapat pada warga mereka sendiri (Hermana, 2006). Kearifan lokal telah menjadi tradisi-fisik-budaya, dan secara turun-temurun menjadi dasar dalam membentuk bangunan dan lingkungannya, yang diwujudkan dalam sebuah warisan budaya perkotaan. Budaya lokal tercipta melalui proses yang panjang, bersifat evolutif, dan proses transfer ilmunya melalui bahasa tutur/lisan dan praktek langsung secara trans generasi. Dengan demikian tidak ada hak cipta, tidak diketahui penemunya, namun dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, dan bahkan menjadi nilai budaya yang mengikat perilaku masyarakat. Itulah yang disebut “tradisional” sebagai ungkapan yang berlawanan dengan “modern” yang selalu diketahui penemunya. Penciptaan atau temuan yang bermakna bagi keberlangsungan hidup masyarakat setempat itulah yang lebih sering disebut kearifan lokal. Dalam konteks rumah tradisional, kearifan lokal yang menyertai proses pembangunan rumah sudah mengatur harmonisasi antara kebutuhan teknologi, bahan bangunan, desain, tata letak, dengan kemampuan alam. Harmonisasi dicapai oleh masyarakat tradisional dengan terlebih dahulu mengenal dan memahami dengan baik kondisi lingkungannya. Masyarakat tradisional sangat menguasai konsep ekologi dimana mereka hidup. Mereka mengetahui dengan baik interaksi antara makhuk hidup dengan lingkungan biotik dan abiotiknya, sehingga tercipta kehidupan yang seimbang, serasi dan selaras (Frick dan Suskiyatno 1998). Komponen ekosistem terdiri atas lingkungan abiotik, organisme produsen, organisme konsumen, dan organisme perombak. Masyarakat tradisional telah menyelaraskan diri terhadap keberadaan komponen ekosistem tersebut sehingga terciptalah rumah tradisional sebagaimana banyak kita lihat dengan seperangkat kearifan lokal yang berupa pranata teknologi, kelembagaan, agama, dan lain-lain. Inilah yang dimaksudkan dengan adaptasi ekologis perumahan tradisional. Organisme yang beradaptasi terhadap lingkungannya mampu untuk (Forum sains 2011): Memperoleh air, udara dan nutrisi (makanan), Mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti temperatur, cahaya dan panas, Mempertahankan hidup dari musuh alaminya, Bereproduksi, Merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya. Adaptasi ekologis tersebut jika berlangsung secara evolutif, akan menghasilkan sebuah kehidupan yang harmoni dengan alam. Pada masyarakat Rakit Palembang, harmonisasi dapat digambarkan dengan mudahnya mereka mencari sumber-sumber penghidupan di sekitar rumah mereka antara lain mengail ikan di teras rumah, memelihara ikan dalam karamba di samping rumah, berdagang minyak, dan lain-lain. Meskipun demikian, aktivitas domestik dan sosial tetap berjalan. Dengan kata lain, fungsi rumah sebagai wadah aktivitas sosial, ekonomi, fisik tetap terlaksana dengan baik meskipun lahan mereka berupa air.
Model Perencanaan Rumah Deret yang Meminimalkan Resiko Bocor dan Genangan Air di Perumahan Griya Teratai Palembang Sary, Reny Kartika; Angrini, Sisca Novia; Diem, Anson Ferdiant
Arsir Vol 6, No 2 (2022): Arsir
Publisher : Universitas muhammadiyah palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/arsir.v6i2.5317

Abstract

Banyak jenis-jenis rumah yang terdapat di Indonesia salah satunya adalah rumah deret. Pembangunan rumah deret ini adalah sebagai salahsatu solusi dalam mengatasi masalah permukiman yakni kekurangan lahan yang ada dikota-kota besar. Rumah deret indentik dengan perkampungan kumuh, akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan semakin banyaknya kebutuhan akan tempat tinggal (rumah), maka model atau perencanaan rumah deret yang ada sekarang semakin modern. Namun rumah deret ini selain menjadi solusi semakin sedikitnya lahan yang tersedia ternyata juga memiliki permasalahan lainnya yang harus segera dicari jalan keluarnya. Sehingga model rumah deret ini akan tetap bisa digunakan di masa yang akan datang. Adapun permasalahan yang sering dihadapi oleh rumah deret adalah: 1. Bocor pada bagian dinding kamar mandi; 2. Kebocoran Atap; 3. Banjir pada bagian belakang rumah. Pada penelitian ini akan di bahas bagaimana mengatasi masalah yang timbul pada rumah deret yang seharusnya tidak terjadi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif  kualitatif, dengan cara melakukan survei lapangan dimana peneliti langsung melakukan survei ke Komplek Perumahan Griya Teratai yang merupakan salahsatu komplek perumahan yang berbentuk rumah deret di kota Palembang
Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis untuk Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Kota Bandung Angrini, Sisca Novia; Diem, Anson Ferdiant; Safitri, Della
Jurnal TekstuReka Vol 1, No 2 (2023): Jurnal TekstuReka
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/tekstureka.v0i0.6426

Abstract

Urban changes characterized by concrete and steel dominance have threatened the existence of green spaces in cities. Urban greening is crucial to address urban environmental issues. The city of Bandung, faces challenges of limited green spaces and suboptimal park management. The aim of this research is to examine and apply a park asset management model using the asset management approach and GIS. This approach aims to optimize park functionality and enhance the quality of Bandung's green spaces. The study adopts a descriptive approach with interview and field observation techniques. Park attribute data is collected through direct observation and organized in GIS format. Spatial analysis using GIS is conducted to identify park characteristics and potential management opportunities. By employing the asset management approach and GIS, relevant and significant park attributes for asset management can be identified. This information aids in making better park management decisions. Additionally, GIS enables spatial analysis to evaluate the strategic level of parks and optimize their utilization. The asset management approach and the implementation of GIS provide effective solutions for the development and management of Bandung's green spaces. By optimizing the use of park assets and applying asset management principles, it is expected to improve the quality of green spaces and provide greater benefits to the city's residents.
Analisis Semiotik Elemen Arsitektur Islam pada Rumah Adat Komering: Studi Terhadap Rumah Carahulu Iskandar Iskandar; Akhmad Hamdi Asysyauki; Sisca Novia Angrini; Anson Ferdiant Diem
Arsir: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 2 (2024): Arsir
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/arsir.v8i2.231

Abstract

This study explores the architecture of Rumah Carahulu Komeryng, a form of vernacular house in South Sumatra Province. The Carahulu House not only functions as a place to live, but also as a center of social, cultural and religious life for the Komering Tribe community. This study uses a qualitative method with a semiotic approach to understand the meaning of the architectural elements of Rumah Carahulu in an Islamic perspective. The results of the study show that architectural elements such as the shape of the roof, space, main door, main window and ornaments have a deep symbolic meaning. The shape of the roof symbolizes the upper world as the ancestral residence and relationship with God. The separation of space between men and women reflects the principles of purity and honor in Islam. The main door facing the Qibla and decorated with Arabic calligraphy shows a spiritual orientation and openness to the teachings of Islam. The main window with Islamic ornaments depicts openness and transparency in religious life. Calligraphy ornaments and flora motifs contain profound moral and philosophical messages. This study concludes that the architecture of Rumah Carahulu Komering integrally incorporates Islamic values in its design and function, reflecting the life philosophy of the Komering community which adheres to the teachings of Islam.
Tinjauan Literatur Sistematis Praktik Pendinginan Aktif Level Bangunan di Negara Iklim Tropis Anson Ferdiant Diem; Zuber Angkasa; Wiwin A. Oktaviani
Arsir: Jurnal Arsitektur Vol 10 No 1 (2026): Arsir
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/arsir.v10i1.978

Abstract

The objective of this paper is to provide a systematic literature review of published research related to active cooling at the building level, specifically in tropical countries, using carefully selected keywords and strict inclusion and exclusion criteria. A total of 82 relevant papers were identified and analyzed. These studies were retrieved using the keywords “air conditioning” and “tropical” in the Scopus database, limited to the period between 2019 and 2025. This review highlights the critical importance of estimating building energy consumption patterns in order to inform strategic decisions regarding active cooling. The available strategies include optimizing existing active cooling systems, integrating passive cooling methods to improve indoor thermal comfort, or replacing conventional systems with more energy-efficient alternatives. Furthermore, the required energy demand is assessed for potential supply through on-site renewable energy sources, such as solar panels, with the aim of achieving net zero energy buildings. To date, there has been no comprehensive literature review focused on active cooling technologies in tropical regions. This study identifies research gaps that have received limited attention and contributes to the development of sustainable cooling policies, which are becoming increasingly urgent in the face of global environmental challenges.
Kinerja Termal Pasif dan Kenyamanan Ruang Dalam Arsitektur Vernakular: : Tinjauan Sistematis Berbasis PRISMA Zuber Angkasa; Erfan M Kamil; Iskandar Ilyas; Anson Ferdiant Diem
Arsir: Jurnal Arsitektur Vol 10 No 2 (2026): Arsir
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/arsir.v10i2.2213

Abstract

Vernacular architecture is often referenced in the development of low-energy buildings, yet evidence of its thermal performance remains dispersed across the literature. This systematic review examines passive thermal performance and indoor thermal comfort in vernacular architecture, with climate-responsive design studies used as supporting evidence. Scopus was searched via Publish or Perish on May 23, 2026, for English-language publications from 2010 to 2026. Reporting followed PRISMA 2020 and PRISMA-S. Of 72 search results, 35 publications met the eligibility criteria, including 28 studies of vernacular or traditional buildings and seven application-oriented studies. Meta-analysis was not conducted because study designs and outcomes were too heterogeneous. The synthesis identified four recurring strategy groups: material systems and thermal mass; courtyard configuration and spatial organization; natural ventilation and opening control; and shading, vegetation, and solar radiation control. Associated mechanisms included temperature moderation, thermal buffering, air movement, humidity regulation, radiation control, and seasonal heat storage and release. Occupant-based studies generally indicated positive patterns in satisfaction, thermal acceptability, and adaptive comfort, although outcomes remained context-dependent. The review proposes a framework linking architectural parameters, passive strategies, environmental mechanisms, comfort indicators, and occupant responses. Vernacular principles should be tested and adapted to specific contexts rather than applied as universal solutions.