Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PEMANFAATAN LIMBAH SAYURAN PASAR PADA FORMULASI MEDIA PAKAN YANG BERBEDA TERHADAP KONSUMSI NUTRISI LEMAK KASAR, SERAT KASAR DAN GROSS ENERGI PADA ULAT JERMAN Wirimananga, Umbu Hina; Fitasari, Eka; Supartini, Nonok
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to determine the effect marketwaste vegetable in different feed media formulations to the nutritional intake of crude fat and fiber and gross energy on Superworm.The method used was experimental completely randomized design (CRD) with factorial pattern which the first factor, namely crude protein (CP) = 10%, 12%, 14% and 2 factors was gross energy (GE) = 4000, 4500, and 5000 kcal so that there were 9 treatments in three replications. G1P1 4000 kcal PK 10%, G1P2 4000 kcal PK 12%, G1P3 4000 kcal PK 14%, G2P1 4500 kcal PK 10%, G2P2 4500 kcal PK 12%, G2P3 4500 kcal PK 14%, G3P1 5000 Kcal Pk 10%, G3P2 PK 12% 5000 kcal and 5000 kcal G3P3 PK 14%.Results showed that utilization of market waste vegetable in different feed media formulations provided a significant influence (p 0.05) to the crude fiber consumption and gross energy consumption. So it could be concluded that the use of market waste vegetable treatment in the feed media by gross energy of 4000 Kcal and 14% crude protein (feed formulation consist of pollard, corn rice, dried to su waste, dried cassava waste) was the best treatment. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh limbah sayur pasar pada formulasi media pakan yang berbeda terhadap konsumsi nutrisi lemak kasar dan gross energy pada ulat jerman. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola factorial dengan faktor 1 yaitu protein kasar (PK) = 10%. 12%, 14%, dan faktor 2 yaitu gross energy (GE) = 4000, 4500, dan 5000 Kkal sehingga terdapat 9 perlakuan 3 ulangan. G1P1 4000 Kkal PK 10%, G1P2 4000 Kkal PK 12%, G1P3 4000 KkalPK 14%, G2P1 4000 Kkal PK 10%, G2P2 4500 Kkal PK 12%, G2P3 4500 Kkal PK 14%, G3P1 5000 Kkal PK 10%, G3P2 5000 Kkal PK 12%, G3P3 5000 Kkal PK 14%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah sayuran pasar pada formulasi media pakan yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (p0,05) terhadap konsumsi serat kasar dan konsumsi gross energy, sehingga dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan limbah sayuran pasar pada media pakan perlakuan gross energy 4000 Kkal dan protein kasar 14% (pollard, mpok jagung, ampas tahu kering, ampas gamblong kering) merupakan perlakuan terbaik.
ENERGI METABOLIS DAN RETENSI NITROGEN AYAM ARAB AKIBAT PENGGUNAAN TEPUNG KEONG MAS DALAM FORMULASI PAKAN Muda, Yakobus; Susanti, Sri; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari pengaruh penambahan tepung keong mas dalam formulasi pakan terhadap energi metabolis dan retensi nitrogen ayam arab. Penelitian dilaksanakan di Desa Sumber Sekar, Kec. Dau, Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakasanakan pada bulan Februari 2015 sampai Juni 2015. Ayam yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam arab betina fase layer sebanyak 50 ekor dengan bobot badan rata-rata 1236,8 ±27,90 g. Penelitian ini menggunakan metode percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 5 perlakuan dan 5 ulangan yaitu P0 = pakan kontrol, P1 = Pakan kontrol 97,5 % + 2,5 % tepung keong mas, P2 = pakan kontrol 95 % + 5 % tepung keong mas, P3 = pakan kontrol 92,5 % + 7,5 % tepung keong mas, P4= pakan kontrol 90 % + 10 % tepung keong mas. Penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan tepung keong mas dalam formulasi pakan tidak memberikan perbedaan pengaruh yang nyata P>0,05 terhadap energi metabolis dan retensi nitrogen ayam arab betina. Nilai energi metabolis tertinggi pada perlakuan P4 yaitu 3394,24 Kkal/kg dan nilai retensi nitrogen tertinggi pada perlakuan P2 yaitu 4,31 g. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung keong mas dalam formulasi pakan efisien digunakan namun secara nyata tidak mampu meningkatkan energi metabolis dan retensi nitrogen ayam arab.
PENGGUNAAN PAKAN KONSENTRAT HIJAU TERHADAP TINGKAT KONSUMSI DAN KECERNAAN BAHAN KERING, PROTEIN KASARDAN SERAT KASAR PADA KAMBING PERANAKAN ETAWA Ta'ena, Adelfina; Susanti, Sri; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of research was study the effect using 10-30% leaf meal on Green concentrate to feed intake and digestibility Etawah Croosbreed goat. The research was conducted in Klampok Village Singosari Subdistrict. The feed material used were rice bran, milled corn flour, soybean meal, coconut meal, mineral, molasses, and mixed of Gliricidia maculata, Leucaena leucocephala, Calliandra calothyrsus, Artocarpus heterophyllus leaf meal (1: 1: 1: 1 ratio) of 10%, 20% and 30% in green concentrate. Sixty male Etawah Croosbreed goat at the average body weight of 26,63 ± 2,07 kg arranged in Randomized Block Design (RBD) with 4 treatments and 4 groups. The treatments applied were P0 (basal diet+concentrate 18% crude protein/CP, without leaf meal), P1(basal diet+green concentrate 18% CP with 10% mixed leaf meal), P2 (basal diet+green concentrate 18% CP with 20% mixed leaf meal), P3(basal diet+green concentrate 18% CP with 30% mixed leaf meal). Basal diet concists of various kinds of leaves(Tithonia diversifolia, mixed grass, nimba leaf, groundnut straw, Centrosema pubescens, lier leaf, avocado leaf, mindi leaf, Gliricidia maculata, Leucaena leucocephala, cassava leaf, and Calliandra calothyrsus).The results showed that the use of 20% mixed leaf meal in green concentrate (CP 18%) gave to produce good levels of feed intake and digestibility in Etawah Crossbreed Goat. Penelitian bertujuan mempelajari penggunaan10-30% tepung daun dalam konsentrat hijau terhadap tingkat konsumsi pakan dan kecernaan kambing Peranakan Etawa.Penelitian dilaksanakan di Desa Klampok Kacamatan Singosari, analisis proksimat dilakukan di laboratorium nutrisi dan makanan ternak, Universitas Brawijaya. Bahan pakan yang digunakan adalah bekatul, jagung giling, bungkil kedelai, bungkil kelapa, mineral, molases dan campuran tepung daun Gliricidia maculata, Leucaena leucocephala, Calliandra calothyrsus, Artocarpus heterophyllusdengan perbandingan 1:1:1:1 sebanyak daun 10-30% dalam konsentrat hijau. Materi percobaan sebanyak 16 ekor kambing Peranakan Etawa jantan dengan bobot badan 26,63 ± 2,07 kg, dirancang dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 4 perlakuan dan 4 kelompok. Perlakuan yang diuji adalah: P0 (Pakan basal + Konsentrat tanpa campuran daun dengan PK), P1(Pakan basal+ Konsentrat hijau (tepung daun tepung gamal, tepung daun lamtoro, tepung daun kaliandra, dan tepung daun nangka) PK18% penggunaan tepung daun 10%),P2(Pakan basal + konsentrat hijau (tepung daun gamal, tepung daun lamtoro, tepung daun kaliandra, dan tepung daun nangka) PK18% penggunaan tepung daun 20%), P3(Pakan basal + konsentrat hijau (tepung daun gamal, tepung daun lamtoro, tepung daun kaliandra, dan tepung daun nangka) PK18% tepung daun 30%). Pakan basal yang diberikan paitan, rumput campuran, daun nimba, jerami kacang tanah, daun sentrosema, daun lier, daun alpukat, daun mindi, gamal, lamtoro, daun singkong, dan kaliandra. Hasil penelitian menunjukan penggunaan tepung daun gamal, lamtoro, kaliandra dan nangka dengan perbandingan (1:1:1:1) sebanyak 20% dan PK 18% dalam pakan konsentrat hijau dapat menghasilkan konsumsi dan kecernaan yang baik pada kambing peranakan etawa.
PENGARUH LEVEL PEMBERIAN “PUYER HERBAL” TERHADAP BOBOT HIDUP, KARKAS, GIBLET DAN LEMAK ABDOMEN PADA AYAM BROILER Bebhe, Gabriela; Sumarno, Sumarno; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine the best dosage of puyer herbal in variable addition of herb powder which consists of kencur flour, turmeric powder and wild ginger flour against live weight, carcass, giblet and abdominal fat. The material used is 80 broiler chickens purchased from PT. Panca Patriot Prima kept in postal cage. The feed used is BR1 for 1-7 days old and feeding age 8-35 days formulation consisting of yellow corn, pollard, meat meal, soybean meal, salt, Dl-methionine and lysin. The research treatment P0: feed formulation without puyer herbal, P1: feed formulation + 0.3% puyer herbal, P2: feed formulation + puyer herbal 0.6%., P3 feed formulation + puyer herbal 0.9%. Provision of puyer herbal based on weekly body weight. The research method was Rancangan Randomized Design (RAL) with 4 treatments and 4 replications. The variables studied were live weight, carcass, giblet and abdominal fat. The results showed that the provision of puyer herbal with different levels did not have a significant effect (P>0.05) on live weight, giblet weight and abdominal fat weight in broiler. The weight of carcass had a very significant effect (P0,05) terhadap bobot hidup, bobot giblet dan bobot lemak abdomen pada ayam broiler. Bobot karkas berpengaruh yang sangat nyata (P
PENGARUH LEVEL ENZIM (0,1 dan 0,2%) TERHADAP APPARENT METEBOLIZABLE ENERGI (AME) TEPUNG BULU AYAM (BGA DAN BAG) PADA TIKTOK Gobay, Melianus; Achmanu, Achmanu; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dimulai tanggal 2 April sampai 6 Juni 2012 di Laboratorium Lapang Universitas Tribhuwana Tunggadewi. Analisa daya cerna asam amino threonin dilakukan di Laboratorium Sarawanti Genetech Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Apparent Metabolizable Energi (AME) pada tiktok. Materi yang digunakan adalah 20 ekor tiktok hasil persilangan entok jantan dan itik betina berjenis kelamin jantan dengan bobot badan rata-rata 2089,10 ± 0,22 g. Penelitian menggunaka 5 perlakuan P0 (pakan kontrol), P1 (enzim alizyme fd 0,1% tambah 5% tepung bulu ayam yang autoklaf lalu giling), P2 (enzim alizyme fd 0,2% tambah 5% tepung bulu ayam yang autoklaf lalu giling), P3 (enzim alizyme fd 0,1% ditambah 5% tepung bulu ayam yang giling lalu autoklaf),dan P4 (enzim alizyme fd 0,2% ditambah 5% tepung bulu ayam yang digiling lalu autoklaf) dan ulangi 4 kali. Variabel yang diamati adalah kecernaan Apparent Metabolizable Energi (AME) pada tiktok. Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Apabila terjadi perbedaan yang nyata antara perlakuan maka dilanjutkan dengan uji BNT. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim alizyme fd dan tepung bulu ayam pada ransum perlakuan terhadap Apparent Metabolizable Energi (AME) pada tiktok memberikan perbedaa pengaruh yang sangat nyata (P
PENGARUH KONSENTRASI EM4 PADA FERMENTASI BATANG PISANG TERHADAP KANDUNGAN SERAT KASAR, LEMAK KASAR, DAN KADAR pH Watu, Oktavianus; Fitasari, Eka; Sumarno, Sumarno
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine changes in the content of crude fiber, crude fat, and pH levels of fermented bananas by using EM4 at different concentrations. The material used in this research is banana stem, EM4 solution, and rice bran. This study used a Completely Randomized Design (RAL) with 5 treatments and 5 replications with details P0 = Banana stalk + Rice Bran, P1 = Banana stalk + Rice Bran + EM4 0.1%, P2 = Banana stalk + Rice Bran + EM4 0 , 2%, P3 = Banana stalk + Rice Bran + EM4 0.3%, P4 = Banana stalk + Rice Bran + EM4 0.4%. The variables observed were Rough Fiber Concentration, Crude Fat, and pH Level. The results showed that the average of Crude Fiber content of each treatment was P0 = 35.02%, P1 = 36.81%, P2 = 28.02%, P3 = 26.88%, P4 = 26.87%. The average fat content of each treatment was P0 = 4.54%, P1 = 4.35%, P2 = 3.53%, P3 = 3.50%, P4 = 4.06%. Average pH levels of each treatment were P0 = 4.16, P1 = 4.24, P2 = 3.88, P3 = 4.38, P4 = 4.06. The conclusion of this research is the addition of EM4 concentration on fermented feed made from banana stems decrease the content of Rough Fiber, Crude Fat, and pH Level. The best treatment in this study was P4 with a higher level of EM4 addition of 0.4% because it yielded 26,87% Crude Fiber, Crude Fat 3.16% and pH level of 4.06. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kandungan serat kasar, lemak kasar, dan kadar pH batang pisang yang difermentasi dengan menggunakan EM4 pada konsentrasi yang berbeda. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah batang pisang, larutan EM4, dan dedak padi. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan dengan rincian P0 = Batang Pisang + Dedak Padi, P1 = Batang Pisang + Dedak Padi + EM4 0,1 %, P2 = Batang Pisang + Dedak Padi + EM4 0,2 %, P3 = Batang Pisang + Dedak Padi + EM4 0,3 %, P4 = Batang Pisang + Dedak Padi + EM4 0,4 %. Variabel yang diamati meliputi Kandungan Serat Kasar, Lemak Kasar, dan Kadar pH. Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan Serat Kasar setiap perlakuan adalah P0 = 35,02 %, P1 = 36,81%, P2 = 28,02%, P3 = 26,88%, P4= 26,87%. Kandungan Lemak Kasar setiap perlakuan adalah P0 = 4,54%, P1 = 4,35%, P2 = 3,53%, P3 = 3,50%, P4= 4,06%. Kadar pH setiap perlakuan adalah P0 = 4,16, P1 = 4,24, P2 = 3,88, P3 = 4,38, P4= 4,06. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan konsentrasi EM4 pada pakan fermentasi berbahan dasar batang pisang menurunkan kandungan Serat Kasar, Lemak Kasar, dan Kadar pH pada lama fermentasi selama 21 hari. Perlakuan terbaik pada penelitian ini adalah P4 dengan level penambahan EM4 yang lebih tinggi yaitu 0,4 % karena menghasilkan Serat Kasar 26,87 %, Lemak Kasar 3,16 % dan kadar pH sebesar 4,06.
SUBSTITUSI TEPUNG KEONG MAS DALAM PAKAN BASAL TERHADAP KONSUMSI GROSS ENERGI, PROTEIN KASAR DAN LEMAK KASAR AYAM ARAB Gau, Erlinda; Zakaria, Achmanu; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai bulan April 2015 di Desa Sumber Sekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timui. Analisis proksimat dilakukan di Laboratorium Nutrisi Dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan mempelajari pengaruh penambahan tepung keong mas dalam formulasi pakan terhadap konsumsi gross energi, konsumsi protein kasar dan lemak kasar ayam arab. Materi dalam penelitian yang digunakan adalah Ayam Arab fase layer (yang sudah memasuki masa bertelur) sebanyak 50 ekor yang dibeli dari Bapak Darmawan di Desa Joyogrend. Penelitian ini menggunakan metode percobaan, Rancangan Acak Lengkap (RAL), 5 perlakuan yakni: P0 = Pakan Dasar atau Kontrol (Tanpa Penambahan Tepung Keong Mas), P1 = (Pakan Dasar 97,5% + 2,5% Tepung Keong Mas), P2 = (Pakan Dasar 95% + 5 % Tepung Keong Mas), P3 = (Pakan Basal 92,5% + 7,5% Tepung Keong Mas), P4 = (Pakan Dasar 90% + 10% Tepung Keong Mas), Masing- masing perlakuan diulang 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tepung keong mas dalam pakan basal ini memberikan perbedaan pengaruh yang nyata (P
PENGARUH LEVEL PEMBERIAN “PUYER HERBAL” TERHADAP BOBOT HIDUP, KARKAS, GIBLET DAN LEMAK ABDOMEN PADA AYAM BROILER Bebhe, Gabriela; Sumarno, Sumarno; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine the best dosage of puyer herbal in variable addition of herb powder which consists of kencur flour, turmeric powder and wild ginger flour against live weight, carcass, giblet and abdominal fat. The material used is 80 broiler chickens purchased from PT. Panca Patriot Prima kept in postal cage. The feed used is BR1 for 1-7 days old and feeding age 8-35 days formulation consisting of yellow corn, pollard, meat meal, soybean meal, salt, Dl-methionine and lysin. The research treatment P0: feed formulation without puyer herbal, P1: feed formulation + 0.3% puyer herbal, P2: feed formulation + puyer herbal 0.6%., P3 feed formulation + puyer herbal 0.9%. Provision of puyer herbal based on weekly body weight. The research method was Rancangan Randomized Design (RAL) with 4 treatments and 4 replications. The variables studied were live weight, carcass, giblet and abdominal fat. The results showed that the provision of puyer herbal with different levels did not have a significant effect (P>0.05) on live weight, giblet weight and abdominal fat weight in broiler. The weight of carcass had a very significant effect (P0,05) terhadap bobot hidup, bobot giblet dan bobot lemak abdomen pada ayam broiler. Bobot karkas berpengaruh yang sangat nyata (P
EVALUASI PRODUKSI KARKAS DAN NON KARKAS PEMOTONGAN KAMBING (STUDI KASUS DI RUMAH POTONG HEWAN KECAMATAN SUKUN KOTA MALANG) Rahafid, Rahafid; Supartini, Nonok; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the level of carcass and non-carcass production, in slaughtering goats in slaughterhouses, District of Sukun, Malang. This study used 75 goats per week, namely from etawa (PE) goats aged ± 2 years with varying life weights. The method used in this study is a case study, while the research data obtained from the observation process. Observation is conducting direct observations and conducting interviews about cutting patterns. The variables observed in this study include life weight, carcass weight, non carcass weight, carcass percentage, and non carcass percentage. The results of this study indicate that the highest level of carcass production in slaughtered PE goats is at a cut weight of 20-25 kg, with an average percentage of carcasses being 43.05 ± 2.62% and the average non-carcass percentage is 11.77 ± 3.55%. Whereas in the cut weight of 25-30 kg, the percentage of carcass is 46.77 ± 0.50% and the percentage of non carcass is 15.58 ± 0.37%. The level of carcass and non carcass production on the results of slaughtering PE goats with a total input of 75 fish per week and carried out for 1 month, will produce an average cut weight is 28, 97 kg, the average carcass weight is 46, 12 ± 0.17% and the average non carcass weight was 15.02 ± 0.20%. Based on the results of the study it can be concluded that to increase carcass production it is necessary to pay attention to the age and nation of livestock. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat produksi karkas dan non karkas, pada pemotongan kambing di rumah potong hewan Kecamatan Sukun Kota Malang. Penelitian ini menggunakan 75 ekor kambing per minggu yaitu dari kambing peranakan etawa (PE) yang berumur ±2 tahun dengan bobot hidup yang bervariasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, sedangkan data penelitian didapatkan dari proses observasi. Observasi adalah melakukan pengamatan langsung serta melakukan wawancara tentang pola pemotongan. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi bobot hidup, bobot karkas, bobot non karkas, persentase karkas, dan persentase non karkas. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat produksi karkas pada pemotongan kambing PE yang tertinggi adalah pada bobot potong 20-25 kg, dengan persentase karkas rata-rata adalah 43,05 ± 2,62% dan persentase non karkas rata-rata adalah 11,77 ± 3,55%. Sedangkan jika pada bobot potong 25-30 kg, diperoleh prentase karkas adalah 46,77 ± 0,50% dan persentase non karkas adalah 15,58 ± 0,37%. Tingkat produksi karkas dan non karkas pada hasil pemotongan kambing PE dengan jumlah input sebesar 75 ekor per minggu dan dilakukan selama 1 bulan, akan menghasilkan Bobot potong rataan adalah 28, 97 kg, didapatkan bobot karkas rataan adalah 46, 12 ± 0,17 % dan bobot non karkas rataan adalah 15,02 ± 0,20 %. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulakan bahwa untuk meningkatkan produksi karkas maka perlu memperhatikan umur dan bangsa ternak.
PENGGUNAAN KOMBINASI KADAR PROTEIN PAKAN DAN THREONIN TERHADAP PENAMPILAN PRODUKSI DAN KECERNAAN PAKAN PADA AYAM KAMPUNG UNGGUL Santoso, Erik Priyo; Fitasari, Eka; Togola, Veronika; Leuhapu, Robertus Aba
BUANA SAINS Vol 23, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/bs.v23i3.5671

Abstract

This research aimed to determine the effect of a combination of feed protein levels and threonine, namely feed formulations with crude protein (PK) levels of 19%, 18%, and 17% combined with the addition of the amino acid threonine 100%, 110%, and 120%. The research used a Completely Randomized Design Method repeated three times. The parameters measured in this study were production performance (feed consumption, body weight gain, FCR, feed efficiency) and digestibility (metabolic energy and N retention). The combination of feed PK and threonine content did not significantly affect all parameters (p0.05). Feed PK significantly affected feed consumption, FCR value, and N retention value. The results showed that the highest body weight gain was in 80-day-old chickens produced in the 18% PK treatment 1264.43 gr/head and decreased in the 17% CP treatment. The highest feed efficiency occurred in the PK 18% treatment at 34.99%. The 18% protein at all threonine levels gave an AMEn value with an average value of 3418.15 Kcal/kg and N Retention with a value of 89.12%. Feed treatment with a protein content of 18% combined with 100%, 110%, and 120% threonine treatment gave the best results in body weight gain and feed efficiency.