Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Tax Efficiency, Leverage, and Financial Performance of FMCG Companies in Indonesia Dhio Dimas Alibfiansya; Juniati Gunawan
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10590

Abstract

Kinerja keuangan merupakan indikator penting yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya untuk menghasilkan laba dan mempertahankan daya saing, terutama pada sektor Fast Moving Consumer Goods (FMCG) yang memiliki tingkat persaingan tinggi, kebutuhan modal kerja besar, serta sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat. Dalam konteks tersebut, efisiensi pajak dan keputusan pendanaan melalui leverage menjadi faktor yang diduga memengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tax efficiency dan leverage terhadap financial performance pada perusahaan sektor FMCG yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020–2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling sehingga diperoleh 43 perusahaan dengan total 215 observasi selama periode penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan regresi data panel dengan bantuan perangkat lunak E-Views 14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tax efficiency yang diproksikan dengan Effective Tax Rate (ETR) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return on Assets (ROA) maupun Return on Equity (ROE). Sementara itu, leverage yang diproksikan menggunakan Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap ROA, sedangkan terhadap ROE menunjukkan pengaruh positif dan signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengelolaan beban pajak yang efisien serta penggunaan struktur modal yang optimal merupakan faktor penting dalam meningkatkan kinerja keuangan perusahaan FMCG, sehingga dapat menjadi pertimbangan bagi manajemen maupun investor dalam pengambilan keputusan keuangan.
Determinan Pengungkapan Karbon: Komite Keberlanjutan, Keterlibatan Pemangku Kepentingan dan Pengungkapan Limbah pada Perusahaan Energi dan Basic Materials di Indonesia Refi Apriyani; Juniati Gunawan
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11014

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menguji pengaruh komite keberlanjutan, keterlibatan pemangku kepentingan, dan pengungkapan limbah terhadap pengungkapan emisi karbon pada perusahaan, mengingat pentingnya isu perubahan iklim saat ini. Penelitian ini juga menggunakan ukuran perusahaan dan kepemilikan institusional sebagai variabel kontrol untuk memperkuat model analisis. Pendekatan kuantitatif diterapkan dalam penelitian ini dengan memanfaatkan data sekunder yang diperoleh secara komprehensif dari laporan tahunan serta laporan keberlanjutan perusahaan sampel. Populasi penelitian meliputi seluruh perusahaan sektor energi dan sektor basic materials yang terdaftar resmi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode tahun 2023–2024. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria tertentu hingga menghasilkan balanced data sebanyak 139 data pengamatan. Analisis data statistik dilakukan menggunakan bantuan perangkat lunak Eviews 14. Hasil penelitian membuktikan bahwa komite keberlanjutan, keterlibatan pemangku kepentingan, dan pengungkapan limbah terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengungkapan karbon. Sementara itu, variabel kontrol ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan, sedangkan kepemilikan institusional berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap pengungkapan karbon. Secara keseluruhan, hasil ini mengindikasikan bahwa perusahaan dengan tata kelola keberlanjutan baik, keterlibatan pemangku kepentingan tinggi, dan pengungkapan limbah memadai cenderung lebih transparan dalam melakukan pengungkapan karbon.