Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

POTENSI SEDATIF-HIPNOTIK DAUN KAYU GALALA (ERYTHRINA LITHOSPERMA) SEBAGAI KANDIDAT OBAT INSOMNIA Efraim Samson; Wahyudi Abdul Hamid Ridwan; Chomsa Dintasari Umi Baszary
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.826 KB) | DOI: 10.33830/jmst.v20i2.166.2019

Abstract

The use of drugs from the sedative-hypnotic group to overcome are less popular of insomnia are more and turned to the use of traditional medicines made from plants. The purpose of this study is to determine the potential of kayu galala leaves (Erythrina lithosperma) as a popular of insomnia. A total of 15 male mice to live (Mus musculus) aged ± 2 months weighing ± 20 grams, divided into control mice (K- and K +), and mice treated with infusion dose of kayu galala leaves, ie P1 0,3 mL/mice; P2 0,5 mL/mice; and P3 0,7 mL/mice. The results showed that kayu galala leaves had a sedative-hypnotic effect. All infusion doses of kayu galala leaves were ‎‎‎‎‎‎able to accelerate sedative onset and increase the duration of mice hypnotics, and the most effective dose is 0,7 mL/mice. The statistical test results showed that awarding of kayu galala leaves infusion had more significant effect in accelerating sedative onset and increasing the duration of mice hypnotics, when compared to the positive control group (+). Penggunaan obat-batan dari golongan sedatif-hipnotik untuk mengatasi masalah insomnia mulai ditinggalkan dan beralih pada penggunaan obat-obatan tradisional berbahan tumbuhan. Tujuan dilakukannya penelitian ini, yakni untuk mengetahui potensi sedatif-hipnotik daun kayu galala (Erythrina lithosperma) sebagai kandidat obat insomnia. Sebanyak 15 ekor mencit (Mus musculus) jantan umur ± 2 bulan dengan berat badan ± 20 gram, dibagi ke dalam kelompok mencit kontrol (K- dan K+), serta kelompok mencit perlakuan dosis infusa daun kayu galala, yakni P1 0.3 mL/ekor; P2 0.5 mL/ekor; dan P3 0.7 mL/ekor. Hasil penelitian membuktikan bahwa daun kayu galala memiliki efek sedatif-hipnotik. Seluruh dosis infusa daun kayu galala mampu mempercepat onset sedatif serta meningkatkan durasi hipnotik mencit, dan yang paling efektif yakni dosis 0.7 mL/ekor. Hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa pemberian infusa daun kayu galala memiliki pengaruh yang lebih signifikan dalam mempercepat onset sedatif serta meningkatkan durasi hipnotik mencit, bila dibanding kelompok kontrol positif (+).
POTENSI EKSTRAK ETANOL AKAR SUKUN (Artocarpus altilis (Park) Fosberg) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN FETUS MENCIT (Mus musculus) Wempi Elwuar; Chomsa Dintasari Umi Baszary; Efraim Samson
Molucca Medica VOLUME 13, NOMOR 1, APRIL 2020
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.984 KB) | DOI: 10.30598/molmed.2020.v13.i1.29

Abstract

Kontrasepsi hormonal beresiko terjangkit kanker payudara dan endometriosis. Eksplorasi suatu sumber bahan kontrasepsi dari bahan alami, terutama dari tanaman dapat dijadikan solusi sebagai bahan pengatur fertilitas. Salah satu jenis tanaman yang mengandung senyawa metabolit sekunder yang dapat berpotensi dalam menghambat pertumbuhan fetus adalah Sukun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi ekstrak etanol akar sukun (Artocarpus altilis) dalam menghambat pertumbuhan fetus mencit (Mus musculus). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Mencit betina dikawinkan dengan metode one mating (1 mencit jantan dan 1 mencit betina). Mencit yang sudah mengalami kebuntingan kemudian diberi perlakuan. Setiap induk mencit kontrol hanya diberi aquades dan untuk induk mencit perlakuan diberi ekstak etanol akar sukun dengan dosis 0,4 ml/ekor/hari, dosis II sebanyak 0,6 ml/ekor/hari dan dosis III sebanyak 0,8 ml/ekor/hari mencit pada hari ke 6 sampai ke 15 periode perkembangan embrio (organogenesis). Pada hari ke-21 mencit dibedah untuk diambil fetus mencit, kemudian diukur panjang dan berat fetus. Data hasil penelitian dianalisis dengan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol akar sukun berpengaruh terhadap perkembangan fetus mencit. Ekstrak etanol akar sukun dosis 0,6 ml/20g BB efektif menghambat perkembangan fetus mencit.
PENGARUH INDUKSI EPIDERMAL GROWTH FACTOR (EGF) TERHADAP PROTEIN Cx43 SELAMA EKSPANSI SEL KUMULUS Chomsa Dintasari Umi Baszary; Sutiman Bambang Sumitro; Mochammad Sasmito Djati; Edi Widjajanto
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 1 (2012): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.406 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i1.350

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh induksi EGF terhadap lokalisasi Cx43 dan gap junction selama ekspansi sel kumulus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekspansi sel kumulus mempunyai signifikansi dengan meningkatnya konsentrasi EGF dan waktu kultur. Ekspansi sel kumulus diindikasikan dengan perubahan bentuk sel menjadi memanjang dan menyebar. Ekspresi Cx43 meningkat pada kultur jam ke-5 dan semakin meningkat pada kultur jam ke-10 dengan semakin padatnya protein pada badan sel. Pada kultur jam ke-15 terjadi penurunan ekspresi Cx43 pada badan sel. EGF berpengaruh terhadap peningkatan ekspansi sel kumulus tetapi tidak pada ekspresi Cx43 dengan bertambahnya konsentrasi dan waktu kultur. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi antar sel kumulus menurun, karena jarak antar sel yang semakin jauh.