Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

HALAL LIFESTYLE AND ISLAMIC BRANDING TREND (AN EVALUATIVE STUDY OF THE “HALAL PRODUCT BRANDING” STRATEGY OF CHOCOLICIOUS INDONESIA) Shadriany Saleh; Marhaeni Saleh
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 22 No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v22i1.21384

Abstract

This research focuses on how the Halal Product Branding strategy encourages awareness and consumer’s acceptance aspects for culinary products brand produced by PT. Chocolicios Indonesia. The research was conducted using evaluation methods on 2 main aspects, namely: message content and readability measures. The evaluation of message content looks at how messages conveyed through Halal Branding can attract public attention, how the public responds to how to message Halal Product Branding and how the public evaluates the messages carried by the Halal label, whether it’s positive or negative.. The research method used is the evaluative research of public relation program by. Ronald D Smith, and the nature of the research is descriptive research. The approach used is qualitative data techniques in the form of interview with the informant and respondents. Results of this study indicate thatHalal Brand strategy is an effective communication strategy where this strategy enabled Chocolicious to be widely recognized as a producer of good quality halal products, which in turn encourages buyers to be more confident and trust in using or consuming products from Chocolicious Indonesia.
Filsafat Agama Dalam Ruang Lingkupnya Marhaeni Saleh
Sulesana Vol 6 No 1 (2011)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/.v6i1.1396

Abstract

Istilah filsafat dan agama mengandung pengertian yang dipahami secara berlawanan oleh banyak orang. Filsafat dalam cara kerjanya bertolak dari akal, sedangkan agama bertolak dari wahyu. Oleh sebab itu, banyak kaitan dengan berfikir sementara agama banyak terkait dengan pengalaman. Filsafat mebahas sesuatu dalam rangka melihat kebenaran yang diukur, apakah sesuatu itu logis atau bukan. Agama tidak selalu mengukur kebenaran dari segi logisnya karena agama kadang-kadang tidak terlalu memperhatikan aspek logisnya.Perbedaan tersebut menimbulkan konflik berkepanjangan antara orang yang cenderung berfikir filosofis dengan orang yang berfikir agamis, pada hal filsafat dan agama mempunyai fungsi yang sama kuat untuk kemajuan, keduanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Untuk menelusuri seluk-beluk filsafat dan agama  secara mendalam. Perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan agama dan filsafat  itu.
TRADISI AKKATTERE DI DESA TANAH TOWA, KECAMATAN KAJANG, KABUPATEN BULUKUMBA Ardiyanto Ardiyanto; Marhaeni Saleh
Sulesana Vol 13 No 2 (2019)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v13i2.13405

Abstract

Penelitian ini membahas tentang Tradisi Akkattere di Desa Tanah Towa, Kec. Kajang, Kab. Bulukumba. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Adapun data penelitian ini diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam di lapangan. Sebagai hasilnya, ditemukan bahwa tradisi akkattere adalah pesta adat dalam bentuk ritual pemotongan rambut yang dilaksanakan oleh masyarakat adat Tanah Towa yang mampu dan masih dari keturunan adat, serta taat terhadap Pasang Ri Kajang. Proses pelaksanaannya dimulai dengan apparungrungi dan diakhiri dengan pembagian dallekang. Dalam pelaksanaannya terdapat ritual meminta doa, mereka meyakini apabila tidak dilakukan maka keluarga yang  melaksanakan hajatan akan mendapatkan musibah dan orang telah melaksanakan dianggap memiliki kepribadian yang baik dan dianggap telah memahami apa yang dilarang oleh Tuhan. Karena akkattere menjadi tidak ada nilainya jika orang yang melaksanakan memiliki kepribadian yang buruk.
EKSISTENSI GERAKAN WAHDAH ISLAMIYAH SEBAGAI GERAKAN PURITANISME ISLAM DI KOTA MAKASSAR Marhaeni Saleh
Aqidah-ta: Jurnal Ilmu Aqidah Vol 4 No 1 (2018)
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.467 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v4i1.5174

Abstract

Tulisan ini membahas tentang eksistensi gerakan Wahdah Islamiyah sebagai gerakan puritanisme Islam di Kota Makassar. Adapun problem riset seputar; dinamika perkembangan Wahdah Islamiyah sebagai gerakan puritanisme Islam di kota Makassar, Implementasi ajaran Islam Wahdah Islamiyah di Kota Makassar. Penelitian ini termasuk kategori penelitian lapangan yang bersifat  kualitatif-deskriptif, dengan menggunakan pendekatan filosofis, teologis, dan sosio-kultural, dengan metode analisis bersifat deskriptif-kritis. Wahdah Islamiyah adalah gerakan dakwah purifikasi atau pemurnian dan penyucian sifat Tauhid dan akidah umat Islam dari segala kemusyrikan. Gerakan tersebut berbentuk seruan kepada segenap lapisan masyarakat agar menjalankan kalimat syahadat yang telah mereka ikrarkan secara konsisten, Wahdah Islamiyah menjadikan akidah Ahlussunnah wal Jamaah sebagai manhaj dan dasar bagi pandangan dan gerakan purifikasinya. Meski Wahdah Islamiyah mengakui bahwa mereka adalah organisasi yang mengusung misi purifikasi Islam, bukan berarti Wahdah Islamiyah dapat dikategorikan sebagai kelompok takfiri. Wahdah Islamiyah adalah organisasi dan gerakan Islam yang memilih jalan wasathiyah (tengah/moderat) sebagai frame gerakannya. Wahdah Islamiyah bertransformasi menjadi gerakan yang lebih kontekstual dalam beradaptasi dengan kondisi dan kultur masyarakat. Gerakan dakwah dan tarbiyah menjadi model strategis bagi Wahdah Islamiyah dalam menjalankan misinya sebagai organisasi Islam yang puritan. Dakwah yang dilakukan tidak hanya bersifat formal namun juga fokus pada dakwah yang bersifat bil hal. Wahdah Islamiyah senantiasa mengedepankan cara-cara persuaif dan dialogis dalam mengembangkan metode dakwahnya di tengah masyarakat. Sebagai organisasi yang concern pada gerakan dakwah puritanisme Islam, Wahdah Islamiyah bertransformasi menjadi sebuah organisasi modern yang tidak hanya berkutat pada pendekatan dakwah yang bersifat klasikal saja. Wahdah Islamiyah melebarkan sayap gerakannya pada gerakan sosio-kultural, ekonomi, politik, hingga gerakan keperempuanan. Pilihan pada model Islam wasathiyah membuat Wahdah Islamiyah kemudian hadir dalam wajah yang moderat, sehingga puritanisme Islam Wahdah Islamiyah terartikulasi dalam wajah yang khas Salafi Islahi, yaitu kelompok Islam yang sejatinya bercorak Salafi namun menghadirkan artikulasi yang moderat dan inklusif serta cenderung menempuh cara-cara modern dalam dakwahnya, Meski puritanis tapi Wahdah menampilkan wajah yang persuasif, meski sangat militan dalam prinsip namun Wahdah Islamiyah tetap tampil sebagai gerakan yang inklusif, meski revivalis tapi Wahdah Islamiyah tidak menggunakan cara dan pendekatan politik dalam gerakannya melainkan menempuh cara-cara kultural. Oleh karena itu, paradigmatik Wahdah Islamiyah dapat dikategorikan sebagai kelompok puritan/pemurnian tetapi berwajah moderat Wahdah Islamiyah.
ALI SYARI’ATI; Pemikiran dan Gagasannya Marhaeni Saleh M
Aqidah-ta: Jurnal Ilmu Aqidah Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.724 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v4i2.7301

Abstract

Syari’ati dilahirkan di Desa Mazinan dan berasal dari keluarga terpandang yang menurut garis ayahnya termasuk keturunan para pemuka agama dan seorang pembaru yang bersemangat untuk menerapkan metode-metode baru dalam studi agama. Ayahnya memiliki perpustakaan besar dan lengkap yang selalu dikenang oleh Syari’ati, yang secara metaforis Syari’ati lukiskan sebagai mata air yang terus menyirami pikiran dan jiwanya. pemerintah menganggap Syari’ati radikal dan berbahaya sehingga dia ditahan dan dipenjara lagi. Pemerintah menyatakan bahwa Syari’ati wafat akibat penyakit jantung, tetapi kebanyakan orang meyakini bahwa dia dibunuh oleh polisi rahasia Syah. Ciri pemikirannya adalah bahwa agama harus ditransformasikan dari ajaran etika pribadi ke program revolusioner untuk mengubah dunia. yang senantiasa menolak gagasan bahwa Islam itu hanya merupakan persoalan hukum dan ritual yang mengatur hal-hal teknis seperti wudhu, menstruasi, kelahiran, makanan, dan sejenisnya.Syari’ati selalu mencari hal-hal baru dan orisinal di dalam Islam, dan tidak sabar dengan model pemikiran tradisional. Dalam ajakannya untuk melakukan pembebasan melalui reinterpretasi keyakinan, Syari’ati secara jelas menolak pandangan revolusioner Barat bahwa agama itu “candu masyarakat”. Agama dalam pandangan Syari’ati, dapat mengantarkan orang kepada komitmen ideologi untuk membebaskan idividu dari tekanan. Dalam hal ini, dia memiliki banyak persamaan dengan filosof Mesir kontemporer, Hasan Hanafi. Agenda kedua pemikir itu ialah menyegarkan pembacaan Al-Quran untuk merekonstruksi konsep Islam menjadi ideologi yang modern, orisinal, dan progresif guna membebaskan dan memberdayakan massa.Gagasan Syari’ati dalam konteks perubahan di masyarakat, peran yang lebih penting hanya bisa dimainkan cendekiawan. Menurutnya, sekalipun ilmuwan menemukan kebenaran sistematis dan filosof rajin menuangkan banyak renungan dalam pekerjaan ilmiah, tetapi mereka tidak memiliki ideologi yang menggerakkan. Cendekiawan beda dengan keduanya karena ia memiliki ideologi yang diyakini dan selalu diperjuangkannya. Masyarakat lebih membutuhkan cendekiawan yang bisa meneriakkan perubahan-perubahan di masyarakat.
TOLERANSI UMAT BERAGAMA DI INDONESIA: (Perspektif Nurchalish Madjid) Marhaeni Saleh
Aqidah-ta: Jurnal Ilmu Aqidah Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/aqidahta.v6i1.37349

Abstract

Toleransi beragama menurut Nurcholish Madjid adalah sebagai sikap atau sifat, saling menghormati dan menghargai manusia yang beragama lain demi untuk menjalin hubungan yang baik antar sesama umat beragama serta menjauhkan sikap tekanan dan intimidasi demi untuk memperlihatkan kedewasaan kita sebagai umat beragama dalam mewujudkan hubungan yang rukun dan harmonis. Pemikiran Nurcholish Madjid ini patut didukung karena pemikiran dan analisisnya itu sesuai dengan ajaran Islam yang sangat menghormati keberadaan agama lain. Sebenarnya Islam merupakan pelopor toleransi, dan Islam sangat mencela sikap fanatisme dalam arti yang negatif yaitu membabi buta dan mengklaim kebenaran sebagai otoritas sendiri. Sifat toleransi itu menghendaki, bahwa perbedaan agama, perbedaan kepercayaan, perbedaan keyakinan dan pendirian, perbedaan paham dan penilaian dan yang seumpama itu tidak boleh membuat satu garis pemisah mempengaruhi hubungan di segala bidang-kehidupan.
AKKAMMISI: TRADISI MAJELIS TAKLIM ATAS KAJIAN KELOMPOK PENGAJIAN KAMIS DI PATTALLASSANG DESA PAO KECAMATAN TOMBOLO PAO KABUPATEN GOWA Saleh, Marhaeni
Aqidah-ta: Jurnal Ilmu Aqidah Vol 10 No 1 (2024)
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/aqidahta.v10i1.50643

Abstract

Artikel ini membahas mengenai “Akkammisi: Tradisi Majelis Taklim Atas Kajian Kelompok Pengajian Kamis Di Pattallassang Desa Pao Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Bagaimana latar belakang lahirnya Akkammisi di Pattallassang Desa Pao (2) Bagaimana tata cara pelaksanaan Akkammisi di Pattallassang Desa Pao (3) Bagaimana manfaat pengajian kamis Majelis Taklim di Pattallassang Desa pao. Pelaksanaan tradisi Akkammisi dimulai pada tahun 2017 dan sudah diadakan pula ceramah dan pengajian kamis. Pada tahun 2017 pembangunan tradisi Akkammisi di Pattallassang Desa Pao yaitu dengan ditetapkannya sholat berjamaah di hari kamis, pelaksanaan tradisi Akkammisi oleh Majelis Taklim di masjid. Adapun proses tradisi Akkammisi ini sama halnya dengan proses pelaksanaan sholat dzuhur berjamaah pada umumnya, namun yang membedakaan yaitu jamaah perempuan lebih banyak dari jamaah laki-laki pada saat sholat dzuhur di hari kamis saja. Dan Masyarakat Pattallassang Desa Pao menganggap bahwa Akkammisi merupakan salah satu tradisi yang sejak lama berlangsung dan menganggap suatu kewajiban bagi setiap perempuan yang ada di Pattallassang Desa Pao ini dan untuk mempererat tali silaturahmi dan sangat dianjurkan bagi masyarakat Pattallassang untuk menyampaikan informasi dari pemerintah desa karena dengan adanya Akkammisi ini dapat mempermudah untuk menyampaikan informasi, juga fungsinya untuk mempererat kebersamaan antar warga dengan adanya Majelis Taklim.
URBAN COMMUNITY EMPOWERMENT THROUGH THE COMMUNITY GERAKAN PEDULI UMMAT IN MAKASSAR Ramli, Muhammad; Mahmud, Akilah; Saleh, Marhaeni
Journal of Islam and Science Vol 9 No 2 (2022): July-December
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jis.v9i2.26724

Abstract

.
Optimizing the Role of Mosques in Empowering the Muslim Economy in the Metaverse Era: A Case Study in Makassar City Marhaeni Saleh; Farid Fajrin
Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam 2024: Proceeding International Conference on Islamic Challange in Metaverse Era (ICICME)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jumdpi.vi.54329

Abstract

This research explores the economic potential of mosques in Makassar, focusing on their role in community empowerment through business development, social welfare, education, and digital integration. Mosques, as central hubs within their communities, provide opportunities for entrepreneurial ventures such as halal food businesses, souvenir shops, and religious education centers. These businesses cater to the needs of worshippers and the surrounding community, offering products and services that align with Islamic values. In addition to economic activities, mosques play a pivotal role in social welfare by organizing charitable events, health services, and educational programs that support the well-being of the community. The study also highlights the increasing potential of digital technologies, such as the metaverse, to enhance mosque-based economic empowerment. By utilizing virtual platforms, mosques can expand their outreach, offering online training, promoting sharia-compliant e-commerce, and facilitating discussions on economic management, reaching a broader audience beyond physical limitations. The research further emphasizes the importance of effective management, training, and mentorship for mosque administrators to ensure the sustainability of these programs. Ultimately, this research demonstrates how mosques in Makassar can leverage their economic, social, and educational functions to empower their communities, creating sustainable development opportunities that align with Islamic values. The findings provide practical insights for utilizing digital platforms in mosque activities, with the potential to replicate these models in other regions, contributing to broader social and economic progress.
Theological Influences on Religious Perceptions in South Sulawesi: A Mashlahah-Based Study of the FKUB Saleh, Marhaeni; Rahmawati, Rahmawati; Abubakar, Muhammad bin
Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol. 9 No. 2 (2025): Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/6jtqa602

Abstract

This article explores the influences of purificative theology on the interpretation of religious teachings, with a particular focus on the Interfaith Communication Forum (FKUB) in South Sulawesi, Indonesia. As a descriptive qualitative study, it examines the perspectives of interfaith leaders, highlighting how religious understanding is shaped by individual and institutional theological interpretations. The research employs a theological framework grounded in the maqasid al-shariah (objectives of Islamic law), utilizing in-depth interviews and literature analysis as primary data collection methods. Informants include FKUB leaders, Islamic scholars (ulama), and Christian pastors. The FKUB plays a vital role in promoting religious harmony in Indonesia by facilitating dialogue among leaders of different faiths. Findings reveal that theological orientation significantly affects religious understanding, encompassing tendencies such as puritanism, exclusivism, inclusivism, fundamentalism, and moderation. In this context, the FKUB promotes an inclusive and moderate theological stance that encourages interfaith dialogue, mutual respect, and the preservation of religious diversity. Members of the FKUB engage in open discussions, seeking shared values while upholding their own beliefs. From the perspective of Islamic law, such inclusivity aligns with the concept of mashlahah (public benefit), fostering social harmony and ensuring the well-being of the broader society. This approach helps sustain a tolerant and peaceful religious environment in Indonesia.