Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Polemik Usia Baligh Sebagai Kriteria Pemimpin Dalam Fikih Islam Ahmad, Ahmad; Agus Muchsin; Muh Nur Hidayat; Usman; Haidir Hasba
Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 14 No. 3 (2025): Maqasid Jurnal Studi Hukum Islam
Publisher : Muhammadiyah University of Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/mqsd.v14i3.27850

Abstract

This study examines the polemic surrounding the concept of puberty (baligh) as a criterion for leadership in Islamic jurisprudence (fiqh). In classical Islamic fiqh, baligh marks the onset of religious and legal accountability (mukallaf), typically indicated by biological signs or an age threshold of 15-18 years, as outlined in texts like Safinatun Najah and Al-Fiqh ‘Alā Al-Mażāhib Al-Arba’ah. However, its application as a leadership criterion sparks debate due to varying interpretations across the Syafi’i, Hanafi, Maliki, and Hambali schools, particularly regarding whether puberty alone suffices or requires additional qualifications like intellectual maturity, justice, and managerial competence. Using a qualitative library research approach, this study analyzes classical fiqh texts, Qur’anic verses (e.g., Surah An-Nur: 59), hadiths, and modern academic literature. Findings reveal that while baligh is a fundamental requirement, leadership in modern political contexts, such as Indonesia’s electoral laws (e.g., UU No. 7/2023), demands a holistic maturity encompassing intellectual, emotional, and spiritual dimensions. The study contributes to bridging classical fiqh with contemporary leadership needs, highlighting the necessity of reinterpreting baligh within a maqashid syariah framework to address modern governance complexities. Recommendations include integrating pre-baligh education to foster moral and intellectual readiness and further research into harmonizing fiqh-based criteria with democratic systems.   Keywords: Jurisprudence, Puberty (Baligh), Leadership Criteria, Age Maturity, Politics.
ANALISIS CACAT SAMBUNGAN PENGELASAN SMAW 3G PADA PELAT BAJA ST 60 DENGAN VARIASI ARUS MENGGUNAKAN METODE NDT (NONDESTRUCTIVE TEST) ULTRASONIC TEST DAN PENETRAN TEST Muh Nur Hidayat; Saripuddin Muddin; Musrawati
Al-Gazali Journal Of Mechanical Engineering (AJME) Vol. 2 No. 02 (2024): Volume 2, No 2, Oktober, 2024
Publisher : Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelasan merupakan suatu proses penting di dalam dunia industri dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pertumbuhan industri, karena memegang peranan utama dalam rekayasa dan reparasi produksi logam. Tujuan penilitian ini adalah untuk mengetahui variasi arus yang paling optimal pada pengelasan SMAW dan untuk mengetahui jenis cacat sambungan butt joint terhadap pengaruh besar variasi arus. Metode analisa data yang digunakan adalah menggunakan metode NDT(Non Destructive Test) tanpa merusak benda kerja yaitu ultrasonic test dan penetran test,data dari hasil pengujian dimasukkan sehingga diperoleh data yang bersifat deskripsi kuantitatif untuk menerjemahkan dalam bentuk deskripsi, hasil penilitian ditafsirkan dengan metode kualitatif.Hasil pengujian ultrasonic test dan penetran test menggunakan pelat baja ST 60 tebal 10 mm posisi pengelasan 3G pengelasan SMAW Arus 70 diidentifikasi 10 cacat dengan rata-rata tinggi cacat adalah 2,87 mm,rata-rata panjang cacat 14,02 mm dan rata-rata jenis cacat yang terjadi adalah lack of fusion dan slag inclusion, pada arus 90 diidentifikasi 6 cacat dengan rata-rata tinggi cacat 2,51 mm, rata-rata panjang cacat 10,83 mm kemungkinan cacat terjadi lack of fusion dan crack, pada arus 110 diidentifikasi 4 cacat dengan rata-rata tinggu cacat 1,25 mm, rata-rata panjang cacat6,5mm kemungkinan cacat terjadi crack dan slag inclusion.Sehingga dapat diartikan bahwa terjadi penurunan jumlah cacat dan ukuran cacat pada arus besar,ini disebabkan karena arus rendah tidak dapat melebur baik pada logam induk dan logam las sehingga banyak terjadi defect pada area pengelasan, maka arus 90 dan 110 arus yang baik digunakan untuk pengelasan SMAW menggunakan elektroda 3,2 mm.