Septi Dewi Rachmawati
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA TIPE KEPRIBADIAN DENGAN TINGKAT STRES PADA MAHASISWA PROFESI NERS Ridhoyanti Hidayah; Aan Trisnayanti; Septi Dewi Rachmawati
Jurnal Kesehatan Mesencephalon Vol 6, No 2 (2020): Jurnal Kesehatan Mesencephalon - Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36053/mesencephalon.v6i2.224

Abstract

Profesi Ners yang merupakan tahap lanjutan dari pendidikan sarjana keperawatan merupakan salah satu stresor terbesar yang dihadapi oleh mahasiswa. Salah satu faktor yang mempengaruhi respon stres adalah tipe kepribadian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipe kepribadian, tingkat stres dan menganalisis hubungan antara tipe kepribadian dengan tingkat stres mahasiswa profesi ners di Universitas Tribhuwana Tunggadewi. Metode penelitian ini adalah deskriptif korelasional, dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah sampel 36 responden. Instrumen pada penelitian ini menggunakan behavior pattern scale dan student nurse stress index yang telah dimodifikasi oleh peneliti. Hasil penelitian dianalisis menggunakan Chi-Square. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa profesi ners memiliki tipe kepribadian B (63,9%) dan mengalami stres sedang (61,1%), dengan nilai p sebesar 0,036. Kesimpulannya adalah terdapat hubungan antara tipe kepribadian dengan tingkat stres pada mahasiswa profesi ners di Universitas Tribhuwana Tunggadewi. Mahasiswa diharapkan mampu memahami tipe kepribadian dan manajemen stres untuk mencegah terjadinya stres berlebihan selama menjalani praktik profesi.
PENGALAMAN PREHOSPITAL PASIEN DENGAN STEMI (ST ELEVATION MYOCARD INFRACT) PERTAMA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. MOEWARDI SURAKARTA Anissa Cindy Nurul Afni; Sri Andarini; Septi Dewi Rachmawati
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 5 No. 2, Juli 2014
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.359 KB)

Abstract

ABSTRAK Keterlambatan diagnosis dan penanganan biasanya terjadi pada dua puluh empat jam pertama setelah serangan terutama pada fase prehospital. Tujuan penelitian adalah mengeksplorasi pengalaman prehospital pasien dengan STEMI pertama. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif fenomenologi dengan pendekatan interpretif. Partisipan yang ikut dalam penelitian ini delapan pasien dengan STEMI pertama yang pernah dirawat di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Analisis data dengan pendekatan Braun and Clarke menghasilkan delapan tema yaitu ketidaknyamanan fisik, ketidaktepatan menafsirkan gejala, keputusan mencari pertolongan, perilaku terhadap keluhan, ungkapan penolakan, reaksi psikologis, penanganan awal, dan perjalanan mendapatkan pelayanan kesehatan. Secara umum keluhan yang dirasakan pasien dengan STEMI pertama berupa ketidaknyamanan fisik yang dirasakan bervariasi oleh masing-masing partisipan. Munculnya ketidaktepatan menafsirkan keluhan dapat disebabkan karena keterbatasan pengetahuan pasien terkait keluhan dan gejala STEMI sehingga mampu menunda keputusan pasien dalam mencari pelayanan kesehatan. Pasien STEMI pertama cenderung menunggu keluhan semakin memberat untuk memutuskan mencari pelayanan kesehatan. Dibutuhkan health education kepada masyarakat mengenai tanda dan gejala STEMI, penanganan prehospital, dan kebutuhan mencari tenaga kesehatan segera.Kata kunci: pasien, prehospital, STEMI ABSTRACT Delay in diagnosis and treatment usually occurs in the first twenty-four hours after the attack, especially in the Prehospital phase. The purpose of this study is to explore the Prehospital experience patients with first STEMI. Qualitative methods in this study using the approach interpretive phenomenological design. Participants in this study were eight patients with a first STEMI who ever cared for in hospitals Dr. Moewardi Surakarta. The data analysis approach Braun and Clarke (2006) resulted in eight themes, namely physical discomfort, inaccuracies interpret symptoms, the decision to help seek, the behavior of the complaint, the expression of rejection, psychological reactions, initial treatment, and the journey to get health care. The conclusion obtained is the appearance of inappropriateness interpret complaints can be caused due to lack of knowledge related to the patient’s complaints and symptoms of STEMI patients so as to delay the decision to seek health care. Needed health education to the public about the signs and symptoms of STEMI, Prehospital treatment, and the need to find medical personnel immediately.Keywords: client, prehospital, STEMI
STUDI FENOMENOLOGI : PENGALAMAN PERAWAT TERKAIT KETIDAKBERHASILAN RESUSITASI PADA NEONATAL DENGAN ASFIKSIA DI RUANG NEONATUS RSUD DR. R. SOEDJONO SELONG LOMBOK TIMUR Rita Rinjani Mekka; Retty Ratnawati; Septi Dewi Rachmawati
Journal of Nursing Science Update (JNSU) Vol. 4 No. 2 (2016)
Publisher : Department of Nursing, Faculty of Health Sciencce, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.616 KB)

Abstract

Asfiksia masih menempati urutan kedua sebagai penyebab kematian neonatal di RSUD Dr. R Soedjono Selong Lombok Timur. Ketidakberhasilan suatu tindakan resusitasi yang menyebabkan kematian neonatus melibatkan kondisi yang kompleks dan memberikan dampak secara psikologis yang merupakan stressor tersendiri bagi perawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman perawat terkait ketidakberhasilan resusitasi pada neonatal dengan asfiksia di ruang neonatus RSUD Dr. R. Soedjono Selong Lombok Timur. Desain penelitian yaitu kualitatif dengan pendekatan fenomenologi interpretif yang melibatkan 7 orang perawat ruang neonatus yang pernah mengalami ketidakberhasilan resusitasi pada neonatal asfiksia. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis berdasarkan pendekatan  analisa tematik Braun & Clarke. Penelitian menghasilkan 8 tema yaitu memahami kondisi kegawatanpada neonatus  yang membutuhkan tindakan resusitasi segera, melakukan resusitasi dengan kesadaran akan keterbatasan yang dimiliki, mengalami dilema dengan adanya kehadiran keluarga,  merasakan ketidaktentraman hati karena kegagalan resusitasi, berupaya meringankan beban pikiran, mengembalikan semua permasalahan kepada Tuhan, menerima kegagalan sebagai bagian dari pembelajaran, dan menginginkan peningkatan kualitas pelayanan pada kegawatan neonatus. Dapat disimpulkan bahwa perawat memahami kondisi kegawatan pada neonatus dengan asfiksia dan  melakukan tindakan resusitasi segera walaupun sadar akan keterbatasan kompetensi  dan peralatan yang dimiliki serta hambatan yang timbul dari kehadiran keluarga pasien. Ketidakberhasilan resusitasi menyebabkan stressor dan mepengaruhi psikologis perawat. Strategi perawat untuk mengatasi permasalah tersebut dengan mekanisme koping yang konstruktif  sehingga perawat dapat mengambil hikmah dibalik kegagalan. Dukungan dari manajemen terkait peningkatan sumber daya manusia, dan pemberian dukugan serta penyediaan fasilitas resusitasi yang memadai dibutuhkan guna mengurangi kejadian ketidakberhasilan resusitasi pada neonatal dengan asfiksia di masa yang akan datang.Kata Kunci: Pengalaman perawat, ketidakberhasilan resusitasi neonatal, asfiksia