Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Analisis Kelayakan Teknis dan Ekonomis Teknologi Budidaya Bawang Merah dengan Benih Biji Botani dan Benih Umbi Tradisional Rofik Sinung Basuki
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n2.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kelayakan teknis dan ekonomis teknologi budidaya bawangmerah menggunakan benih biji botani dibandingkan dengan benih umbi tradisional. Percobaan dilakukan di lahan petanidi Brebes, ketinggian + 8 m dpl, dengan jenis tanah Aluvial, pH = 6,7, pada musim kemarau dari bulan April sampaidengan Agustus 2008. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuanyang dicoba adalah 13 macam perlakuan, terdiri dari 10 perlakuan pengaturan kerapatan tanaman dari benih bijibotani (TSS) varietas Tuk Tuk dan Hibrida dengan mengkombinasikan faktor jarak tanam, jumlah bibit ditanam perlubang, serta asal persemaian bibit, dan 3 perlakuan benih umbi menggunakan varietas lokal Bima Curut yang dibelidari toko dan asal petani serta varietas impor Tanduyung yang dibeli dari toko sebagai pembanding. Analisis budgetpartial digunakan untuk menilai kelayakan ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan TSS layaksecara teknis karena dapat meningkatkan hasil sampai 2 kali lipat dibanding penggunaan benih umbi tradisional danlayak secara ekonomis karena dapat meningkatkan pendapatan bersih antara 22-70 juta rupiah per ha dibanding benihumbi tradisional. Penggunaan TSS varietas Tuk Tuk yang memberikan tingkat hasABSTRACT. Basuki, R.S. 2009. Analysis of Technical and Economical Feasibility of Shallots Cultivation fromTrue Shallot Seed and Traditional Bulb Seed. Experiment was conducted in farmer’s field in Brebes (altitude + 8 masl, Aluvial soil type and pH = 6.7), from April to August 2008. The experiment was arranged in a randomized blockdesign with 3 replications. The total of 13 treatments was applied, consisted of 10 treatments of plant population ofTSS of Tuk Tuk and Hibrida varieties by combining plant spacing, number of seedling per hole, and source of seedling,and 3 control treatments of traditional bulb seed, i.e. local variety of Bima Curut bought from store and from farmer,and imported variety of Tanduyung. Budget partial analysis was used to measure the economical feasibility. Results ofthe research showed that the use of TSS was technically feasible because it increased the yield of shallots 2 times ascompared to bulb seed, and economically feasible because it increased the net income from 22 to 70 million IDR/haas compared to bulb seed. The highest yield and net income from TSS as compared to bulb seed was obtained byplanting single seedling of TSS with population of 150 plants per m2.
Preferensi Petani Brebes terhadap Klon Unggulan Bawang Merah Hasil Penelitian rofik Sinung Basuki
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n3.2009.p%p

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui preferensi petani Brebes terhadap klon unggulan bawangmerah hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang. Penelitian dilakukan di Desa Slatri,Brebes, pada bulan Juni sampai Agustus 2003. Metode penelitian yang digunakan adalah kombinasi antara percobaanlapangan dan penelitian partisipatif petani. Percobaan lapangan dimanfaatkan sebagai petak observasi bagi 20 petanipartisipan. Percobaan lapangan menggunakan rancangan acak kelompok. Perlakuan terdiri dari 9 klon unggulanbawang merah dan kontrol varietas lokal Bima Brebes dengan 3 ulangan. Data penelitian partisipatif dikumpulkandari jawaban tertulis petani partisipan pada kuesioner yang dibagikan peneliti pada saat petani melakukan observasilapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara agronomis, daya hasil dan ukuran umbi klon unggulan Balitsatidak lebih unggul dibanding varietas lokal Bima Brebes kecuali klon No. 9. Di antara klon unggulan yang diuji,klon No. 8 merupakan klon yang paling potensial diadopsi petani karena pertumbuhan tanaman dan hasil panennyadisukai petani. Klon No. 9 kurang disukai petani karena warnanya pucat, sehingga perlu perbaikan warna umbiuntuk meningkatkan peluang adopsi oleh petani. Preferensi petani dan pemulia terhadap klon unggulan berbedasangat nyata. Klon No. 9 yang paling disukai pemulia namun kurang disukai petani. Penelitian preferensi petaniperlu diintegrasikan dalam penelitian perakitan varietas unggul untuk meningkatkan peluang adopsi varietas unggultersebut setelah dilepas.ABSTRACT. Basuki, R.S. 2009. Farmers’ Preferences in Brebes to Shallots Promising Clones Generatedfrom IVEGRI. The objective of the research was to understand farmer’s preferences to promising shallots clonescreated by the Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI). Research was conducted in Slatri, Brebes, fromJune to August 2003. A combination of field experiment and farmer’s participatory was used in the research. Thefield experiment was used as an observation plot for 20 farmer participants. The field experiment was arranged in arandomized complete block design with 3 replications. The treatments consisted of 9 promising shallots clones and alocal variety of Bima Brebes as control. Data from farmer participatory research were collected from farmer’s writtenanswers on the questionnaire distributed by researchers. Results showed that agronomically the yield and tuber sizeof the promising clones, except clone No.9, were not significantly higher or bigger than that of local variety of BimaBrebes. Among the promising clones, only clone No.8 has the potential to be adopted by farmers because farmerswas in favor with the growth and tuber quality of the clone. In order to increase the potential adoption of clone No.9improvement of the tuber color from pale red to red is needed. Farmers and breeder preferences to the promisingclones were significant difference, due to the different criteria used in evaluating the clones. Research on farmerspreference should be integrated into the research on creating a new variety to increase the potential adoption of thenew variety after released.
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Putih pada Berbagai Penambahan Lama Penyinaran Lampu LED Putih Cartika, Ika; Suwarni Tri Rahayu; Rofik Sinung Basuki; Thomas Agoes Soetiarso
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 50 No. 1 (2022): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.141 KB) | DOI: 10.24831/jai.v50i1.39300

Abstract

Lampu LED dapat digunakan untuk menambah lama penyinaran pada tanaman bawang putih yang memerlukan panjang hari lebih dari 12 jam karena dapat membantu proses fotosintesis sebagai pengganti cahaya matahari. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penambahan lama penyinaran menggunakan lampu LED putih 100 watt dengan nilai intensitas 9685±385 lux terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang putih. Percobaan dilakukan pada bulan Mei sampai September 2021 di kebun percobaan Balitsa Lembang, Jawa Barat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak jalur dua faktor. Faktor pertama adalah penambahan lama penyinaran, yaitu 3 jam, 5 jam, 7 jam, dan kontrol. Faktor kedua adalah varietas bawang putih, yaitu Lumbu Hijau dan Tawangmangu Baru. Hasil penelitian menunjukkan penambahan lama penyinaran selama 5 jam pada varietas Tawangmangu Baru mampu meningkatkan tinggi tanaman, bobot tajuk tanaman dan lebar siung. Penambahan lama penyinaran selama 3, 5, dan 7 jam tidak berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, SPAD index, luas daun, luas daun spesifik, biomassa tanaman, bobot umbi, diameter umbi dan ukuran siung bawang putih varietas Lumbu Hijau. Kata kunci: fotoperiode, lampu LED, panjang hari, varietas