Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Seleksi dan Optimasi Proses Produksi Bakteriosin dari Lactobacillus sp Sri Usmiati; Tri Marwati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n1.2007.27-37

Abstract

Bakteriosin sebagai agen biopreservatif sangat potensial digunakan untuk mengendalikan beberapa bakteri kontaminan pada daging dan produk daging, tetapi secara komersial ketersediaanya masih sedikit dan harganya sangat mahal, padahal koleksi bakteri asam laktat (BAL) sebagai produsernya di Indonesia tersedia cukup banyak. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mendapatkan bakteri calon penghasil bakteriosin yang potensial dari beberapa isolat bakteri Lactobacillus sp. yang mampu menekan pertumbuhan Escherichia coli, Salmonella thypimurium, dan Listeria monocytogenes, serta kondisi optimum proses produksi bakteriosin. Penelitian dilakukan dengan dua tahap yaitu pemilihan isolat dan optimasi proses produksi bakteriosin. Pemilihan isolat meliputi kegiatan: pertama yaitu aktivasi isolat dan penghitungan jumlah koloni. Parameter yang diamati adalah visualisasi adanya kekeruhan pada media cair nutrien broth serta jumlah koloni isolat yang telah aktif. Kedua merupakan kegiatan produksi bakteriosin dan aktivitas penghambatan. Parameter pengamatan adalah didapatkannya bakteriosin dari isolat terpi lih dan hasi l uj i terhadap bakteri E.coli , S. thypimurium, dan L.monocytogenes. Ketiga adalah mencari kurva dan fase pertumbuhan isolat terpilih. Parameter yang diamati yaitu nilai pH, optical density (OD) kultur pada media MRS dan nilai log dari jumlah koloni isolat terpilih yang diplot ke dalam bentuk kurva sigmoid (S). Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat yang paling potensial sebagai calon produser bakteriosin adalah SCG 1223. Kondisi optimum produksi bakteriosin yang memiliki daya hambat representatif adalah pH 5, suhu 33,5 oC selama 9 jam inkubasi dengan penghambatan terhadap S.thypimurium sebesar 638,803 mm2/ml, E.coli sebesar 623,264 mm2/ml dan L.monocytogenes sebesar 509,434 mm2/ml.Selection And Optimation Of Process Of Bacteriocin Production From Lactobacillus sp,Bacteriocin as biopreservative agent was potential to suppress some contaminant bacteria on meat and meat products, but commercial availability still limited and costly. On the other hand, the availability of lactic acid bacteria collection as a source of bacteriocin producer in Indonesia is abundant and cheap. For this reason, bacteriocin from some potential Lactic Acid Bacteria (LAB) need to be produced to suppress contaminant bacteria on meat and meat products. The objectives of research were to select bacteria as bacteriocin producer from some isolate Lactobacillus sp which suppress growth of Escherichia coli, Salmonella thypimurium, dan Listeria monocytog enes, and to optimize the process of bacteriocin production. The research was done by two steps activities, i.e. potential isolate selection and optimization of bacteriocin production process. Isolate selection activity included: firstly, isolate activation and counted number of colony. The parameters were visualization of turbidity the liquid nutrient broth and number of colonies isolate activated. Secondly, step to produce bacteriocin and its inhibition. The parameters were bacteriocin production of selected isolate and result of its inhibition on E.coli, Suhypimurium. dan Limonocytogenes, Thirdly, activity to obtain the curve and growth phase of selected isolate. The parameters of observation were pH, optical density (00) of culture on MRS media and log number of selected isolate colony which has been plotted on sigmoid curve (S). Result of research showed that isolate which was selected as bacteriocin producer was SCG 1223. The optimum condition for bacteriocin production which was optimum in inhibition were pH 5, temperature 33.5°C for 9 hours incubation which has inhibition on S.thypimurium 638.803 mm2/ml, E.coli 623.264 mm2/ml and L.monocytogenes 509.434 mm2/ml,
Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Belimbing Wuluh Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Hewan Uji nFN Hernani; Christina Winarti; Tri Marwati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v6n1.2009.54-61

Abstract

Daun belimbing wuluh secara tradisional dimanfaatkan untuk mengobati sakit perut, encok dan demam, sedangkan buahnya untuk gejala darah tinggi. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kasar dan ekstrak yang telah dimurnikan dari daun belimbing wuluh terhadap penurunan tekanan darah pada hewan uji kucing. Metode penelitian dilakukan dalam beberapa tahap kegiatan, yaitu pengolahan bahan baku, pembuatan ekstrak, pemurnian ekstrak dan uji anti hipertensi terhadap hewan uji kucing. Pembuatan ekstrak kasar dilakukan secara maserasi dengan perlakuan ukuran partikel daun belimbing wuluh (40, 50 dan 60 mesh) terhadap rendemen yang dihasilkan. Untuk pemurnian ekstrak kasar menggunakan metode ekstraksi dengan pelarut heksan 80 %. Uji aktivitas antihipertensi terhadap hewan uji kucing dengan metode berdarah. Hasil pernbuatan ekstrak kasar rnenunjukkan bahwa rendemen ekstrak yang tertinggi dari ukuran partikel 50 mesh, yaitu 16,17%. Rendemen ekstrak hasil pemurnian adalah 70,5%. Uji anti hipertensi terhadap hewan uji menunjukkan bahwa ekstrak yang telah dimurnikan ternyata mempunyai efek penurunaan tekanan darah lebih tinggi dibandingkan ekstrak kasar. Untuk durasi penurunan tekanan darah, ekstrak yang telah dimurnikan mempunyai waktu lebih lama dibandingkan ekstrak kasar. Ekstrak daun belimbing wuluh yang telah dimurnikan mempunyai prospek untuk dikembangkan sebagai obat antihipertensi; karena obat yang dikembangkan dari bahan alam dinilai cukup aman bila dibandingkan obat antihipertensi sintetik yang mempunyai efek samping yang tidak diinginkan. Effect Of Bilimbi Leaf Extracts On Decrease Blood PressureTraditionally, the leaves of bilirnbi has been used for stomach ache, rheumatism and fever, while the fruits used for blood pressure symptom. The aim of the research was to find out the effect of crude and purified extracts of bilimbi leaves on animal testing (cat) blood pressure. The method of research was divided in to several stages, such as processing of raw material, extract preparation, extracts purification and anti hypertension tested with animal. Extraction was done by maceration with treatment of particle size of bilimbi leaves (40, 50 and 60 mesh) to the yield of extract. Extract purification used extraction method using 80% hexane as a solvent. Anti hypertension testing used blood methods and cat as tested animal. The result showed that the highest yield of extract gave from 50 mesh particle size (16.17%). Then, the higher yield of purified extract was found 70.5%. Anti hypertension testing indicated that pure extract was higher than crude extract in decreasing of cat blood pressure. The duration of blood pressure decreasing was found longer in pure extract than crude extract. Purified extract of bilimbi leaf has a potential for antihypertensive medicine because medicine which is developed from natural product should be safely compared with synthetic antihypertensive drugs.
Pemilihan Pelarut pada Pemurnian Ekstrak Lengkuas (Alpinia galanga) secara Ekstraksi nFN Hernani; Tri Marwati; Christina Winarti
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n1.2007.1-8

Abstract

Lengkuas (Alpinia galanga) merupakan salah satu tanaman biofarmaka. Secara farmakologis, ekstrak lengkuas mempunyai aktivitas sebagai anti jamur, anti kanker, anti tumor, antioksidan, sitotoksik, karminatif, dan anti ulcer. Untuk mendapatkan produk biofarmaka dari ekstrak murni lengkuas diperlukan proses pemurnian, antara lain dengan ekstraksi pelarut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan memilih jenis pelarut yang tepat untuk pemurnian ekstrak lengkuas secara ekstraksi pelarut, dengan mempelajari parameter rendemen, mutu dan kadar senyawa aktif dari ekstrak murni yang dihasilkan. Percobaan dilakukan dengan menggunakan 2 jenis pelarut yaitu heksan dan toluen dengan konsentrasi 60, 70 dan 80 % yang disusun dalam rancangan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasar analisis rendemen, mutu dan kadar bahan aktif ekstrak murni, pelarut yang paling sesuai untuk pemurnian ekstrak lengkuas adalah heksan 80%. Rendemen ekstrak murni lengkuas yang dihasilkan dari pelarut tersebut adalah 57,84 %, dengan komponen mutu yaitu pH 3,94 ; total padatan terlarut 82,89%; sisa pelarut 0,18 % dan kadar senyawa aktif 1’-asetoksikhavikol asetat adalah 0,88 %.Selection of solvent on purification of galangal (Alpinia galanga) extract by solvent extractionGalangal is one of the medicinal plants since its extract pharmacologically acts as antifungal, anti cancer, anti tumor, antioxidant, cytotoxic, carminative, and anti ulcer. To produce biopharmacological product from galangal extract need a further purification process such as solvent extraction. The aim of the research was to find out the proper solvent on galangal extract purification by solvent extraction. Parameters observed were yield, quality and active compound content of the purified extract. The experiments used two solvents, i.e hexane and toluene with the concentration of 60, 70 and 80% and arranged using completely randomized design. The result showed that based on yield, quality and active compound content analyses of purified extract, the proper solvent on extraction process was 80% hexane. By those solvent, purified extract gave 57.84% on yield, quality component such as pH 3.94; 82.89% total soluble solid; 0.18% solvent residue and 0.88% l' -acetoxychavicol acetate content as active compound
Peningkatan Mutu Minyak Daun Cengkeh Melalui Proses Pemurnian Tri Marwati; Meika Syahbanna Rusli; Erliza Noor; Edy Mulyono
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v2n2.2005.93-100

Abstract

° Minyak daun cengkeh dari hasil penyulingan daun dan ranting tanaman cengkeh berwarna hitam kecoklatan dan kotor. Kondisi ini terutama disebabkan oleh adanya ion - ion logam Mg, Fe, Mn, Pb dan Zn yang berasal dari daun dan alat penyuling. Masalah tersebut dapat diatasi dengan proses pemurnian. Pemurnian yang dilakukan pada penelitian ini adalah proses adsorpsi menggunakan bentonit dan pengkelatan dengan asam sitrat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi bentonit dan asam sitrat yang tepat, melalui kajian terhadap kejernihan, kecerahan, warna, dan mutu minyak. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah (1) anal isis kejernihan, kecerahan, warna dan mutu minyak sebelum adsorpsi atau pengkelatan dan (2) pemurnian minyak. Pada percobaan adsorpsi digunakan benton it dengan sepuluh macam konsentrasi (I %, 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, I %) dengan riga ulangan pada percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap. Percobaan pengkelatan dilakukan pada lima konsentrasi as am sitrat, yaitu 0,2%,0,4%, 0,6%, 0,8% dan 1,0% dengan Rancangan Acak Lengkap tiga ulangan. (3) Analisis kejernihan, kecerahan, warna dan mutu minyak setelah adsorpsi atau pengkelatan, Hasil penelitian proses adsorpsi menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi benton it dari 1 sampai 10 % meningkatkan kejernihan minyak dari 31,2%T menjadi 91,7 %T, meningkatkan kecerahan minyak dari 32,93 menjadi 48,42, meningkatkan kekuningan warna minyak dari 11,41 menjadi 42,65 dan meningkatkan mutu minyak dari yang tidak memenuhi stan dar menjadi memenuhi SNI (Standar Nasional Indonesia) No. 06-2387-1998 dan EOA (Essential Oil Assosiation of USA). Dari hasil penelitian proses pengkelatan menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi asam sitrat dari 0,2 sampai 1,0 % dapat meningkatkan kejernihan minyak dari 23,8 %T menjadi 96,5 %T, meningkatkan kecerahan minyak dari 30,96 menjadi 50,51, dan meningkatkan kekuningan warna minyak dari 15,75 menjadi 44,72. Sebelum pengkelatan, minyak daun cengkeh tidak memenuhi standar tetapi setelah pengkelatan dengan asam sitrat 0,6 %. minyak yang dihasilkan dapat memenuhi standar SNJ No. 06-2387-1998. Dengan pcningkatan mutu minyak daun cengkeh melalui proses pemurnian, maka akan memberikan peningkatan pendapatan petani. The enhancement quality of clove leaf oil by purificationThe clove leaf oil is produced by distillation from the whole leaves and twigs of the clove tree. The color of the oil is brownish black and dirty. That condition is due to the presence metal ions of Mg, Fe, Mn, Pb and Zn in the oil. Those metal ions may come from the clove leaves and distillation apparatus. That problem could be solved by purification process. The purifications done in this research were adsorption using bentonite and chelating process using citric acid. The objective of this experiment is to find out the suitable concentration of bentonite and citric acid and their effects on the clearness, brightness, color and quality of oil. This experiment consisted of three activities, those were: (I) Analysis of clearness, brightness, color and quality of oil before adsorption or chelating process. (2). Purification of oil. Adsorption experiments were conducted using Completely Randomized Design, with ten treatments (1%,2%.3%,4%. 5%, 6%, 7%, 8%,9% and 10% of bentonite) and three replications. Chelating process experiments were done using a Completely Randomized Design, with five treatments (0.2%, 0.4%, 0.6%, 0.8% and 1.0% of citric acid) and three replications. (3) Analysis of clearness, brightness, color and quality of oil after adsorption or chelating process. Result showed that increasing of bentonite concentration from 1 to 10 % in adsorption process could enhance the clearness of oil from 31.2 %T to 91.7%T, enhance the brightness of oil from 32.93 to 48.42, enhance the yellowish color of oil from 11.41 to 42.65, and enhance the quality of oil. Before adsorption the clove leaf oil could not up to standard, but after adsorption using 10 % bentonite, the oil was able to fulfill the SNI No. 06-2387-1998 and EOA (Essential Oil Association of USA) standard. Chelating process showed that the increasing of citric acid concentration from 0.2 to 1.0% could enhance the clearness of oil from 23.8%T to 96.5%T, enhance the brightness of oil from 30.96 to 50.5 I, and enhance the yellowish color of oil from 15.75 to 44.72. Before chelating the clove leaf oil could not up to standard, but after chelating using 0.6 % citric acid, the oil was able to fulfill the SNI No. 06-2387-1998. By The enhancement quality of clove leaf oil by purification, the farmer income could be increased.
Pemanfaatan Supernatan Kultur Pediococcus acidilactici F11 Penghasil Bakteriosin untuk Memperpanjang Masa Simpan Tahu Eni Harmayani; Endang S. Rahayu; Titiek F. Djaafar; Nuri Wahyuningsih; Tri Marwati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v6n2.2009.85-93

Abstract

Tahu merupakan makanan yang mudah rusak akibat aktivitas bakteri pembusuk. Pediococcus acidilactici F11 potensial digunakan sebagai pengawet karena mampu memproduksi bakteriosin yang bersifat antibakteri. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan supernatan kultur P. acidilactici F11 (PaF11) dalam menghambat bakteri dan coliform pada tahu sebagai upaya memperpanjang umur simpan tahu. Variasi perlakuan yang dicobakan yaitu : pasteurisasi dengan supernatan kultur PaF11 pada suhu 95oC selama 5 menit (PDS), perendaman dengan supernatan kultur PaF11 pada suhu 4oC selama semalam (RSS) dan perendaman dengan supernatan kultur PaF11 pada suhu kamar selama 15 menit (RSL). Sebagai kontrol dilakukakn perlakuan pasteurisasi dengan air pada 95oC selama 5 menit (KON), dan perendaman dengan NisaplinR (200 mg/l) pada suhu kamar selama 15 menit (RNL). Supernatan kultur PaF11 diperoleh dengan cara sentrifugasi kultur PaF11 yang ditumbuhkan dalam limbah cair tahu dengan penambahan 1% sukrosa dan diinkubasi 37oC selama 18-24 jam. Total bakteri dan coliform pada tahu dianalisis pada penyimpanan hari ke 0,3 dan 7 dan uji organoleptik dilakukan pada hari ke 7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasteurisasi dengan supernatan kultur PaF11 pada suhu 95oC selama 5 menit (PDS) dapat menekan bakteri tahu sebesar 2 log cycle dan coliform 475 APM/g dan perendaman dengan supernatan kultur PaF11 pada suhu 4oC selama semalam (RSS) dapat menekan bakteri sekitar 2 log cycle dan coliform sebesar 550 APM/g. Pasteurisasi dengan air pada 95oC selama 5 menit (KON), total bakteri dan coliform dalam tahu terus mengalami peningkatan selama penyimpanan. Baik perendaman dengan supernatan kultur PaF11 pada suhu kamar selama 15 menit (RSL) maupun perendaman dengan NisaplinR (200 mg/l) pada suhu kamar selama 15 menit (RNL) tidak mampu menekan bakteri maupun coliform tahu. Penggunaan supernatan kultur PaF dengan cara pasteurisasi pada suhu 95oC selama 5 menit (PDS) dan perendaman pada suhu 4oC selama semalam (RSS) dapat memperpanjang masa simpan tahu sampai 7 hari, dan meningkatkan tingkat penerimaan panelis. Utilization Of The Culture Supernatant Of P. Acidilactici F11 As A Bacteriocin Producer To Extend Shelf-Life Of Tofu. Tofu is a nutricious food and prone to spoilage by bacterial activity. pediococcus acidilacticii  F11 can be used as food preservatives because of their ability to produce bacteriocin as an antibacterial metabolite. The purpose of this research was to determine the ability of the culture P acidilactici  F11 (Pa F11) supernatant to inhibit bacteria and coliform and to extend shelf-life of tofu. Treatments done were: pasteurization using PaFl1 culture supernatant at 95°C for 5 min (POS), soaking using PaF11 culture supernatant at room temperature for 15 min (RSL), and soaking using PaF11 culture supernatant at 4°C overnight (RSS). Pasteurization tofu in water at 95°C for 5 min (KON) and soaking tofu in Nisaplin" (200 mg/L) at 4°C for IS min (RNL) were used as control. Culture supernatant of Pa F11 was obtained by centrifuging the culture of Pa F11 which was grown for 18-24 h at 37 'C in tofu liquid waste with addition of 1% sucrose. Total bacteria and coliform on tofu were analyzed at 0, 3, 7 days and sensory test were conducted at 7 days of storage. Result showed that pasteurized tofu in PaF11 supernatant at 95°C for 5 min (PDS) had low bacteria and coli/arm counts (2 log cycle and 475 APM/g respectively) during storage. Tofu soaked in Pa F11 supernatant at 4°C overnight (RSS) had lower both bacteria and coliform counts compared to control (2 log cycle and 550 APM/g, respectively) during storage. Data indicated that both bacteria and coliform counts of pasteurized tofu in water at 95°C for 5 min (KON) increased during storage. Addition of 200 mg/l Nisaplin" at 4°C for 15 min (RNL) or supernatant soaked at room temperature for 15 min (RSL) did not inhibit both bacteria and coliform on tofu during storage. Utilization of PaF 11 supernatant for pasteurization at 95 'C for 5 min (PDS) and soaking at 4°C overnight (RSS) prolonged the shelf-life of tofu up to 7 days and increased the acceptance level of panelis.
Teknik Produksi Dan Purifikasi Pediosin Paf-11 Dari Pediococcus Acidilactici F-11 Tri Marwati; Nur Richana; Eni Harmayani; Endang S Rahayu
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v9n1.2012.11-17

Abstract

Pediosin PaF-11 dari Pediococcus acidilactici F-11 berpotensi sebagai pengawet pangan karena kemampuannya dalam mengendalikan pertumbuhan bakteri pembusuk pangan. Efektivitas purifikasi diperlukan dalam aplikasi pediosin PaF-11 pada industri pangan. Untuk itu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui aktivitas pediosin PaF-11 selama proses inkubasi sel P. acidilactici F-11 dan meningkatkan efektivitas purifikasi pediosin PaF-11. Perlakuan yang dicobakan pada proses purifikasi yaitu adsorpsi dan desorpsi pada pH yang bervariasi dan penambahan biomassa sel mati dari P. acidilactici F-11 pada konsentrasi yang bervariasi selama proses adsorpsi. Aktivitas antibakteri pediosin PaF-11 diuji dengan metode difusi agar menggunakan bakteri indikator Lactobacillus pentosus LB42. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pediosin PaF-11 yang diproduksi dengan menggunakan kultur awal P. acidilactici F-11 sebanyak 10% dengan lama inkubasi 16 jam mempunyai aktivitas 2000 AU/ml. Pediosin PaF-11 yang dihasilkan P. acidilactici F-11 dengan kultur awal 1% dan purifikasi pada pH adsorpsi pH 6,5 dan pH desorpsi 2,0 memiliki aktivitas tertinggi yaitu 1500AU/ml, dibandingkan perlakuan pH yang lain. Aktivitas pediosin PaF-11 yang dihasilkan dari proses purifikasi tanpa penambahan biomassa sel mati yaitu 1500AU/ml, sedangkan dengan penambahan biomassa sel mati 3, 6 dan 11 kali dari konsentrasi awal menjadi 3000AU/ml. Hal ini berarti bahwa dengan penambahan biomassa sel mati P. acidilactici F-11 dengan 3 kali konsentrasi awal mampu meningkatkan pediosin PaF-11 yang diperoleh.
Pengaruh Larutan Pengawet dan Cara Sterilisasi Terhadap Sifat Fisik, Kimia, Mikrobiologi serta Sifat Organoleptik Produk Lada Hijau dalam Larutan Garam nFN Widaningrum; Tri Marwati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v4n1.2007.44-56

Abstract

Terjadinya kecenderungan penurunan ekspor lada Indonesia memicu munculnya pemikiran untuk menambah sekaligus menjamin kelangsungan pendapatan petani serta meningkatkan nilai ekonomi lada, melalui diversifikasi produk lada. Salah satu produk diversifikasi lada yang dapat diterima di pasar internasional dan potensial dikembangkan di Indonesia adalah lada hijau dalam larutan garam. Komposisi larutan pengawet seperti garam dan asam sitrat serta cara sterilisasi sangat menentukan mutu produk lada hijau dalam larutan garam. Berdasar latar belakang tersebut maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi garam dan asam sitrat sebagai larutan pengawet dan cara sterilisasi terhadap sifat fisik, kimia, mikrobiologi dan organoleptik lada hijau dalam larutan garam. Lada hijau segar diperoleh dari Serang, Banten. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi karakterisasi buah lada hijau segar, proses pengolahan lada hijau dalam larutan garam dan karakterisasi lada hijau dalam larutan garam yang dihasilkan. Percobaan dirancang secara Acak Lengkap Faktorial dengan dua kali ulangan. Faktor pertama yaitu konsentrasi garam dapur (A), A1= 10%, A2= 12% dan A3 = 14%. Faktor kedua konsentrasi asam sitrat (B), B1= 1,5%, B2 = 2,0 % dan B3 = 2,5 %. Faktor ketiga adalah cara sterilisasi (C), C1= air mendidih (100°C) dan C2 = autoklaf (121°C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi garam berpengaruh nyata terhadap pH larutan produk; konsentrasi asam sitrat berpengaruh nyata terhadap tekstur produk, pH buah lada, pH larutan produk; sedangkan cara sterilisasi secara tunggal berpengaruh nyata terhadap pH buah lada, kejernihan larutan produk dan jumlah mikroba (TPC) lada hijau dalam larutan garam. Melalui kajian terhadap hasil penelitian tersebut, lada hijau dalam larutan garam 10% dan asam sitrat 1,5% sebagai larutan pengawet serta sterilisasi dengan air mendidih merupakan kombinasi perlakuan yang optimal.Effect Of Preservative Solution And Sterilization Method On Physical, Chemical, Microbiological And Organoleptic Properties Of Green Pepper In Brine.Decreasing trend on Indonesian pepper export activity triggered the opinion to add a guarantee farmer's income continuity, and to improve economic value of pepper, through product diversification. One of pepper product diversification which can be accepted in international market and potential tp be developed in Indonesia is green pepper in brine. Composition of preservative solution (i.e. salt and citric acid) and sterilization method effects the quality of green pepper in brine. The objective of this study was to know the effect of salt and citric acid concentration and sterilization method on physical, chemical, microbiological and organoleptic properties of green pepper in brine. Fresh green pepper berries were obtained from Serang, Banten. The experiments done were: characterization of fresh green pepper berries, processing of green pepper in brine, and characterization of green pepper in brine. The process was designed in Factorial Completely Randomized Design, with two replicates. First factor was salt concentration (A), AI= 10%, A2= 12% and A3 -14%. Second factor was citric acid concentration (B), B I= 1,5%, B2 = 2,0 % and B3 = 2,5 %. Third factor was sterilization method (C), C I - boiling water (T 100oC),and C2 = autoclave (T 121oC). Results showed that concentration of salt had an effect on pH of product's solution; concentration of citric acid had effects on product's texture, pH of green pepper berries and pH of product's solution; while sterilization method had effects on pH of green pepper berries, the clarity of product's solution and total plate count (TPC) on green pepper in brine. By studying the research results, green pepper in brine processing used 10% salt and 1,5% citric acid as preservative solution combined with boiling water sterilization was the optimum treatment combination.
PENGARUH KONSENTRASI NaOH DAN ENZIM SELULASE: XILANASE TERHADAP PRODUKSI BIOETANOL DARI TONGKOL JAGUNG Abdullah Bin Arif; Agus Budiyanto; Wahyu Diyono; Maulida Hayuningtyas; Nur Richana; Tri Marwati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v13n3.2016.107-114

Abstract

Pencarian bahan energi alternatif yang tidak berkompetisi dengan pangan dan pakan sangatlah perlu dan mendesak untuk dipikirkan. Biomassa lignoselulosa merupakan salah satu sumber energi yang potensial. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendapatkan perlakuan konsentrasi NaOH dan enzim selulase: xilanase yang optimum untuk produksi bioetanol dari tongkol jagung. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2014 sampai Nopember 2014 di Laboratorium Mikrobiologi dan Kimia Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian dan Pusat Penelitian Kimia LIPI. Bahan baku yang digunakan adalah tongkol jagung. Terdapat empat tahapan dalam penelitian ini, yang meliputi: 1). Karakteristik bahan baku, 2). Optimasi pengaruh perlakuan dosis NaOH pada proses delignifikasi terhadap perubahan karakteristik bahan serbuk tongkol jagung, rancangan percobaan pada tahapan ini yaitu rancangan acak lengkap (RAL) 1 faktor. 3). Optimasi pengaruh penambahan enzim selulase dan xilanase terhadap produksi bioetanol skala 500 g bahan baku, pada tahapan ini terdapat dua perlakuan penambahan perbandingan dosis enzim selulase: xilanase yang berbeda yaitu 1:1 % dan 2:2 %, analisis statistik yang digunakan pada tahapan ini yaitu analisis uji t-student. 4). Optimasi proses produksi bioetanol skala 50 kg bahan baku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi produksi bioetanol dari tongkol jagung yaitu dengan cara serbuk tongkol jagung dilakukan pretreatment menggunakan larutan NaOH 10% dan dipanaskan menggunakan autoklaf dengan suhu 120-130 oC selama 20 menit. Selanjutnya bahan hasil delignifikasi dilakukan proses hidrolisis dan sakarifikasi menggunakan enzim xilanase:selulase dengan perbandingan 1 : 1. Proses selanjutnya yaitu proses fermentasi selama 3 hari dengan cara ditambahkan Saccharomyces cereviciae sebanyak 1%. Bioetanol yang dihasilkan sebanyak 14,65% dari total serbuk tongkol jagung yang digunakan dengan kadar alkohol 83,3%.English VersionEffect of NaOH Concentration and Cellulose:Xilanase Enzymes For Bioethanol Production From Corn cob.The effort to search an alternative for energy materials that do not compete with food and feed is necessary and urgent to think about. Lignocellulosic biomass is one potential source of energy. The aim of this study is to obtain treatments NaOH concentration and cellulase:xylanase enzymes that optimum for bioethanol production from corn cobs.. The study was conducted in January until November 2014 at the Laboratory of Microbiology and Chemistry at Indonesian center for Agricultural Postharvest Research and Development and Indonesian Center for Chemical Research of LIPI. The raw material is corn cob. There were four stages in this study: 1). Characteristics of raw materials, 2). Optimization of pretreatment effect NaOH dose on delignification process to change the characteristics of corn cob powder, experimental design at this stage is completely randomized design (CRD) 1 factor 3). Optimization effect of cellulase and xylanase enzymes to bioethanol production scale 500 g of raw materials, there are two treatment concentration of enzymes cellulase:xylanase ie 1: 1% and 2: 2%, statistical analysis that used in this stage is the analysis of t-student test. 4). Optimization of the process of bioethanol production scale 50 kg of raw material. The results showed that the production of bioethanol from corncobs that is the way to do pretreatment of corncob powder using 10% NaOH solution and heated using autoclave at temperature of 120- 130 oC for 20 minutes. Furthermore, the resulted material from delignification was procced to saccharification and hydrolysis process using enzyme xylanase: cellulase with ratio of 1:1. The bioethanol produced was 14.65% from total corn cob powder used with alcohol content of 83.3%.
Mekanisme Awal dan Aplikasi Antibakteri Pediosin PaF-11 Sebagai Pengawet Tahu Tri Marwati; Nur Richana; Irinne D.P; Eni Harmayani; Endang S Rahayu
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v9n2.2012.54-62

Abstract

Pediosin PaF-11 dari Pediococcus acidilactici F-11 merupakan peptida antibakteri yang aktif pada kisaran pH luas dan stabil pada perlakuan suhu tinggi dan rendah sehingga potensial digunakan sebagai pengawet tahu. Penelitian ditujukan untuk mengetahui mekanisme awal penghambatan pediosin PaF-11 sebagai antibakteri dan aplikasinya sebagai pengawet tahu. P. acidilactici F-11 dan Lactobacillus pentosus LB42 berturut turut digunakan sebagai bakteri penghasil dan indikator uji aktivitas pediosin PaF-11. Mekanisme awal kerja penghambatan pediosin PaF-11 ditentukan berdasar kajian pengaruh gadolinium (Gd3+) terhadap aktivitas pediosin PaF-11, kadar Gd3+ pada dinding sel dan morfologi sel indikator. Uji aktivitas pediosin PaF-11 dilakukan dengan metode difusi agar sumur. Aplikasi pediosin PaF-11 dan bakteriosin komersial nisin dilakukan terhadap tahu produksi CV. Kitagama Yogyakarta. Perlakuan meliputi perendaman tahu dalam larutan nisin (500 IU/g, 1000 IU/g dan 2000 IU/g) dan larutan pediosin PaF-11 30 AU/g. Setelah perendaman, dilanjutkan dengan pasteurisasi pada suhu 90oC selama 10 menit dan penyimpanan pada suhu 4oC selama 16 hari. Tahu tanpa perendaman dalam larutan nisin dan pediosin PaF-11 digunakan sebagai kontrol. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa mekanisme awal penghambatan pediosin PaF-11 sebagai antibakteri yaitu melalui interaksi pediosin PaF-11 yang bermuatan positif dengan asam teikoat dan asam lipoteikoat yang bermuatan negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total bakteri awal pada tahu kontrol adalah 105 dan mengalami kenaikan menjadi 108 setelah disimpan. Penambahan larutan nisin dengan konsentrasi minimal 500 IU/g mampu menghambat populasi bakteri pada tahu sebesar 2 log cycle sedangkan larutan pediosin PaF-11(30 AU/g) mampu menghambat populasi bakteri pada tahu sebesar 0,5 log cycle.
Pemanfaatan Kultur Pediococcus Acidilactici F-11 Penghasil Bakteriosin sebagai Penggumpal pada Pembuatan Tahu Eni Harmayani; Endang S. Rahayu; Titiek F. Djaafar; Citra Argaka Sari; Tri Marwati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v6n1.2009.10-20

Abstract

Tahu merupakan hasil penggumpalan protein kedelai oleh whey yang terfermentasi spontan (kecutan).  Permasalahan yang dihadapi pengrajin tahu yaitu munculnya flavor asam pada tahu yang dihasilkan dari penggumpal tipe asam, sehingga perlu alternatif bahan penggumpal. Penelitian ini bertujuan untuk  (i) mengetahui pertumbuhan P. acidilactici F-11 dan produksi bakteriosin dalam whey tahu,  (ii) mempelajari pemanfaatan kultur P. acidilactici F-11 sebagai penggumpal pada pembuatan tahu dan (iii) mengetahui kualitas mikrobiologis dan organoleptik tahu selama penyimpanan pada suhu 4oC. Penelitian terdiri dari 3  tahap.  Pertama,  pertumbuhan P. acidilactici F-11  dan produksi bakteriosin. Kedua, pemanfaatan kultur sebagai penggumpal tahu. Ketiga, uji kualitas mikrobiologi (total bakteri) dan organoleptik (tekstur, pH, warna, flavor, dan kenampakan)  tahu selama penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P. acidilactici F-11 tumbuh lebih baik dalam whey dengan penambahan 1% sukrosa, pada suhu 37oC, namun tidak sebaik dalam media TGE cair. Aktivitas bakteriosin dapat dideteksi dengan adanya zona jernih yang jelas pada media TGE agar dan perpanjangan fase lag bakteri indikator, P. acidilactici LB-42.  Total bakteri awal pada tahu antara 3,9.105 - 9,1.105 CFU/g. Selama penyimpanan, total bakteri pada tahu kontrol meningkat sebesar 2 log cycle, sedangkan tahu dengan kultur P. acidilactici F-11 hasil fermentasi suhu 37oC dan suhu kamar meningkat sebesar 1,5 dan 1 log cycle. Tahu yang dihasilkan dari kultur P. acidilactici F-11 sebagai penggumpal memiliki tekstur lebih lunak dan kompak serta flavor tidak asam dibanding tahu kontrol.Tahu dengan kultur P. acidilactici F-11 hasil fermentasi pada suhu kamar memiliki kualitas organoleptik sama dengan tahu dengan kultur P. acidilactici F-11 hasil fermentasi pada suhu 37oC. Utilization of bacteriocin producer culture Pediococcus acidilactici F11 as coagulant in tofu processingTofu is a food product made from soy protein coagulated with spontaneously fermented whey. One of problem in tofu processing is the presence of acid flavor of tofu due to the use of acid coagulant type the coagulant alternative become urgently required. The purposes of this research were (i) to study the growth and bacteriocin production of P acidilactici F-11 in tofu whey, (ii) to study the utilization of P. acidilactici F-11 culture as coagulant in tofu production, and (iii) to investigate microbiological and sensory quality of tofu coagulated with the culture during storage at 4°C. The reseach was conducted in three steps including: production of bacteriocin from P acidilactici F11, utilization of P. acidilactici F-11 culture as coagulant on tofu production, and total bacteria and sensory analysis of tofu during storage. The result showed that the growth of P. acidilactici F-11 in whey with addition 1 % sucrose at 37°C was better than that without sucrose but not as good as the growth in TGE broth. Bacteriocin activity was detected by appearance of clear zone on TGE agar and prolonged lag phase of indicator bacteria, P. acidilactici LB-42. The initial bacterial count on tofu was 3.9xI0' - 9.1xlO'CFU/g. During storage, bacterial count of control increased by 2 log cycle, whereas tofu coagulated with P. acldilactici F-11 culture at 3rC and room temperature increased by 1.5 and 1 log cycle, respectively. Tofu coagulated with P. acidilactici F-11 culture had smoother and more compact texture and less sour than control. The sensory quality of tofu coagulated with P. acidilactici F-11 culture at room temperature was similar to tofu coagulated with P. acidilactici F-11 culture a t 37°C.