Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGARUH TEKNIK PELUNAKAN TERHADAP RENDEMEN, DERAJAT PUTIH, DAN BENTUK SERTA UKURAN GRANULA PATI SORGUM MANIS (Sorghum bicolor (L). Moench) Agus Budiyanto; Rahmawati Rahmawati; Abdullah bin Arif; Evan Wijaya
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal of Food Technology and Health) Vol 3, No 1 (2021): Mei
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v3i1.535

Abstract

ABSTRAK: Sorgum manis (Sorghum bicolor (L) Moench) merupakan salah satu serealia sumber karbohidrat yang potensial karena  tahan kekeringan, kadar garam tinggi, serta daya adaptasi pertumbuhan yang baik. Kelemahannya biji sorgum keras sehingga sulit diolah dan menghasikan rendemen rendah. Untuk mengatasinya, telah dilakukan teknik pelunakan biji sorgum  dengan penyosohan dan perendaman, namun belum optimal. Berdasarkan hal tersebut dipelajari 3 metode pelunakan biji sorgum, yaitu  (A1) Biji sorgum tidak sosoh tapi direndam air biasa pada suhu ruang selama 12 jam;  (A2)         Biji sorgum tidak sosoh tapi diseduh air bersuhu 100oC dan didiamkan pada suhu ruang selama 12 jam; (A3) Biji sorgum sosoh satu kali serta direndam air biasa pada suhu ruang selama 12 jam. Mutu pati ditentukan oleh rendemen, derajat putih dan bentuk serta ukuran granula. Hasil menunjukkan bahwa nilai rata-rata rendemen, derajat putih, dan bentuk serta ukuran granula pati yang berbeda. Teknik pelunakan dengan penyosohan menghasilkan rendemen terendah (42,24%) tetapi derajat putih pati sorgum tertinggi (94,53%). Pati yang dihasilkan berbentuk bulat berukuran 7,82 – 24,26 um. Di mana teknik pelunakan dengan penyeduhan air bersuhu 100°C menghasilkan rendemen tertinggi (49,77%), dengan derajat putih lebih tinggi dibandingkan biji yang direndam air biasa (92,97%) dan pati yang dihasilkan berbentuk bulat dan poligonal dengan ukuran granula 5,02 – 22,40 um, dan teknik pelunakan dengan perendaman air biasa menghasilkan rendemen 48%, derajat putih 92,40% dan granula pati berbentuk bulat, segi lima, dan poligonal dengan ukuran 5,02-22,34 um. ABSTRACT: Sweet sorghum (Sorghum bicolor (L) Moench) is one of the cereals with potential carbohydrate sources because of its drought resistance, high salt content, and good growth adaptability. The disadvantage is that sorghum seeds are hard so that they are difficult to process and produce low yields. To overcome this, the technique of softening sorghum seeds has been carried out by grinding and soaking, but it has not been optimal. Based on this, three methods of softening sorghum seeds were studied, namely A1: Sorghum seeds were not polished but soaked in plain water at room temperature for 12 hours; A2: Sorghum seeds are not soft, but brewed with water at 98oC and allowed to stand at room temperature for 12 hours; A3: Sorghum seeds grind once and soak in plain water at room temperature for 12 hours. The quality of starch is determined by the yield, the degree of whiteness and the shape and size of the granules. The results showed that the average value of yield, degree of whiteness, and the shape and size of starch granules were also different. The softening technique by grinding resulted in the lowest yield (42.24%) but the highest whiteness degree of sorghum starch (94.53%). The resulting starch is round in size 7.82 – 24.26 um. Where the softening technique by brewing water at a temperature of 98°C resulted in the highest yield (49.77%), with a higher degree of whiteness than seeds soaked in plain water (92.97%) and the starch produced was round and polygonal with a granule size of 5 .02 – 22.40 um. The softening technique with ordinary water immersion resulted in the yield of 48%, the degree of whiteness 92.40% and the starch granules were round, pentagon, and polygonal in size with a size of 5.02-22.34 um.
PENGARUH PENAMBAHAN SARI CEMPEDAK TERHADAP UMUR SIMPAN DAN NUTRISI SARI BUAH NANAS (Effect of Addition Cempedak Juice For Shelf Life and Nutrition Pineapple Juice) Abdullah Bin Arif; Setyadjit Setyadjit; Irpan Badrul Jamal; Heny Herawati; Suyanti Suyanti
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v11n1.2014.30-38

Abstract

Sari buah nanas merupakan sari buah yang digemari oleh masyarakat. Namun umur simpan sari buah nanas cukup singkat. Oleh karena itu dibutuhkan teknologi untuk memperpanjang umur simpan sari buah nanas. Penambahan sari cempedak pada sari buah nanas dapat memperbaiki umur simpan dan mutu sari buah nanas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan sari cempedak terhadap umur simpan dan kelayakan sari buah nanas. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu buah nanas dan cempedak. Sari buah nanas dan nanas-cempedak disimpan pada suhu 15, 30 dan 450C selama 2 bulan. Pengamatan yang dilakukan terdiri atas vitamin C, total asam, total padatan terlarut, komponen flavor, rasa, aroma, warna dan kelayakan. Pendugaan umur simpan sari buah menggunakan metode Accelarated Shelf Life Test (ASLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan vitamin C, asam sorbat dan asetaldehida sari buah nanas cempedak lebih tinggi dibandingkan sari buah nanas. Umur simpan sari buah nanas-cempedak 41 hari lebih lama dibandingkan sari buah nanas. Sari buah nanas dan nanas-cempedak masih layak untuk dikonsumsi hingga 2 bulan.Kata kunci :Sari buah nanas, sari buah nanas-cempedak, umur simpan, nutrisiEnglish Version AbstractPineapple juice is a fruit juice that is favored by the people. The shelf life of pineapple juice is quite short. Therefore, it needs the technology to extend the shelf life of pineapple juice. The addition of cempedak juice at pineapple juice has expected to extend the shelf life and improve quality of pineapple juice. This research aimed to study the effect of the addition cempedak juice for shelf life of pineapple juice. The materials used in this research was the fruit of pineapple and Cempedak. Pineapple juice and pineapple- Cempedak were stored at the temperature of 15, 30 and 45 0C for 2 months. Observations were carried out on of vitamin C, total acid, total soluble solids, flavor compounds, taste, flavor, color and edibility. The estimation of shelf life for the juice used a method Accelarated Shelf Life Test (ASLT). The results showed that the content of vitamin C, sorbic acid and acetaldehyde pineapple-cempedak juice higher than pineapple juice. Shelf life of pineapple-cempedak juice was 41 days longer than pineapple juice. Pineapple juice and pineapple-cempedak juice was still fovorable for the consumption until 2 months.Keywords :pineapple juice, pineapple-cempedak mixed juice, shelf life, nutrition
Effect of Cocoa Liquor Temperature To The Yield And Fat Content Of Cocoa Powder Fermented and Unfermented Cocoa. Erina Septianti; Abdullah Bin Arif
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v13n1.2016.43-51

Abstract

Cocoa has become one of the strategic export commodities which accounted for the fourth largest foreign exchange after oil palm, rubber, and coconut. Indonesian cocoa production is significantly increasing, but the quality is still unsatisfactory. This will give conveying pathern of low quality of Indonesian cocoa in international markets. The producers need to improve the cocoa beans quality and start selling intermediate to final processed product. The fermentation process is an essensial stage of cocoa beans processing to guarantee a good flavor and aroma. Pressing process is also a very important step of process in determining the quality of cocoa.This research was aimed to determine the influence of cocoa liquefied temperature on the fat yield and fat content of the cocoa powder obtained from pressing of cocoa paste with a hydraulic pressing system. The result of this study is expected to provide information on the effectiveness of pressing at several cocoa paste temperatures. The treatments was arranged in Factorial Designwith 3 treatments of cocoa paste temperature (room temperature (± 30oC), 40oC and 50oC), and 3 replication for fermented and without fermentation cocoa. The results of this study show that effective temperature on compression of paste is at a temperature of 50 oC which generated the most fat yield and the lowest fat content of cocoa powder. PENGARUH SUHU PEMASTAAN TERHADAP RENDEMEN DAN KADAR LEMAK BUBUK KAKAO HASIL PENGEMPAAN DARI BIJI KAKAO FERMENTASI DAN NON FERMENTASIKakao telah menjadi salah satu komoditas ekspor strategis yang menyumbang devisa negara terbesar keempat setelah kelapa sawit, karet, dan kelapa. Produksi biji kakao Indonesia secara signifikan terus meningkat, namun mutu yang dihasilkan masih kurang memuaskan. Hal tersebut akan menurunkan citra kakao Indonesia di pasaran luar negeri. Keadaan ini menuntut produsen kakao untuk terus meningkatkan mutu biji kakao dan mulai mengalihkan perhatian untuk tidak hanya menjual kakao dalam bentuk biji, tetapi juga dalam bentuk bahan jadi maupun setengah jadi. Proses fermentasi merupakan tahapan pengolahan biji kakao yang vital dan mutlak untuk menjamin dihasilkannya citarasa maupun aroma cokelat yang baik. Proses pengempaan juga merupakan proses yang sangat penting dalam menentukan mutu kakao. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu pasta kakao terhadap rendemen lemak dan kadar lemak bubuk kakao dengan pengempaan sistem hidrolik. Perlakuan disusun dalam Rancangan faktorial, dengan 3 perlakuan suhu pasta yaitu suhu ruang (± 30 oC), suhu 40 oCdan suhu 50 oC masing-masing 3 ulangan untuk jenis bahan kakao fermentasi dan tanpa fermentasi. Hasil penelitian menunjukkan suhu efektif pada pengempaan yang dilakukan adalah pengempaan pasta pada suhu 50 oC dimana dihasilkan rendemen lemak paling banyak dan kadar lemak bubuk kakao paling rendah.
PENGARUH KONSENTRASI NaOH DAN ENZIM SELULASE: XILANASE TERHADAP PRODUKSI BIOETANOL DARI TONGKOL JAGUNG Abdullah Bin Arif; Agus Budiyanto; Wahyu Diyono; Maulida Hayuningtyas; Nur Richana; Tri Marwati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v13n3.2016.107-114

Abstract

Pencarian bahan energi alternatif yang tidak berkompetisi dengan pangan dan pakan sangatlah perlu dan mendesak untuk dipikirkan. Biomassa lignoselulosa merupakan salah satu sumber energi yang potensial. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendapatkan perlakuan konsentrasi NaOH dan enzim selulase: xilanase yang optimum untuk produksi bioetanol dari tongkol jagung. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2014 sampai Nopember 2014 di Laboratorium Mikrobiologi dan Kimia Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian dan Pusat Penelitian Kimia LIPI. Bahan baku yang digunakan adalah tongkol jagung. Terdapat empat tahapan dalam penelitian ini, yang meliputi: 1). Karakteristik bahan baku, 2). Optimasi pengaruh perlakuan dosis NaOH pada proses delignifikasi terhadap perubahan karakteristik bahan serbuk tongkol jagung, rancangan percobaan pada tahapan ini yaitu rancangan acak lengkap (RAL) 1 faktor. 3). Optimasi pengaruh penambahan enzim selulase dan xilanase terhadap produksi bioetanol skala 500 g bahan baku, pada tahapan ini terdapat dua perlakuan penambahan perbandingan dosis enzim selulase: xilanase yang berbeda yaitu 1:1 % dan 2:2 %, analisis statistik yang digunakan pada tahapan ini yaitu analisis uji t-student. 4). Optimasi proses produksi bioetanol skala 50 kg bahan baku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi produksi bioetanol dari tongkol jagung yaitu dengan cara serbuk tongkol jagung dilakukan pretreatment menggunakan larutan NaOH 10% dan dipanaskan menggunakan autoklaf dengan suhu 120-130 oC selama 20 menit. Selanjutnya bahan hasil delignifikasi dilakukan proses hidrolisis dan sakarifikasi menggunakan enzim xilanase:selulase dengan perbandingan 1 : 1. Proses selanjutnya yaitu proses fermentasi selama 3 hari dengan cara ditambahkan Saccharomyces cereviciae sebanyak 1%. Bioetanol yang dihasilkan sebanyak 14,65% dari total serbuk tongkol jagung yang digunakan dengan kadar alkohol 83,3%.English VersionEffect of NaOH Concentration and Cellulose:Xilanase Enzymes For Bioethanol Production From Corn cob.The effort to search an alternative for energy materials that do not compete with food and feed is necessary and urgent to think about. Lignocellulosic biomass is one potential source of energy. The aim of this study is to obtain treatments NaOH concentration and cellulase:xylanase enzymes that optimum for bioethanol production from corn cobs.. The study was conducted in January until November 2014 at the Laboratory of Microbiology and Chemistry at Indonesian center for Agricultural Postharvest Research and Development and Indonesian Center for Chemical Research of LIPI. The raw material is corn cob. There were four stages in this study: 1). Characteristics of raw materials, 2). Optimization of pretreatment effect NaOH dose on delignification process to change the characteristics of corn cob powder, experimental design at this stage is completely randomized design (CRD) 1 factor 3). Optimization effect of cellulase and xylanase enzymes to bioethanol production scale 500 g of raw materials, there are two treatment concentration of enzymes cellulase:xylanase ie 1: 1% and 2: 2%, statistical analysis that used in this stage is the analysis of t-student test. 4). Optimization of the process of bioethanol production scale 50 kg of raw material. The results showed that the production of bioethanol from corncobs that is the way to do pretreatment of corncob powder using 10% NaOH solution and heated using autoclave at temperature of 120- 130 oC for 20 minutes. Furthermore, the resulted material from delignification was procced to saccharification and hydrolysis process using enzyme xylanase: cellulase with ratio of 1:1. The bioethanol produced was 14.65% from total corn cob powder used with alcohol content of 83.3%.
Produk Diversifikasi Olahan Untuk Meningkatkan Nilai Tambah Dan Mendukung Pengembangan Buah Pepaya (Carica Papaya L) Di Indonesia nFN Suyanti; nFN Setyadjit; Abdullah Bin Arif
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 8, No 2 (2012): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah pepaya (Carica papaya L) termasuk produk hortikultura yang dikembangkan di Indonesia. Penggunaannya selain untuk konsumsi segar sebagai buah potong, juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis olahan. Sifat buah papaya yang mudah rusak menjadi kendala dalam memasarkannya sebagai buah segar yang tetap dalam kondisi prima sampai ketangan konsumen. Mengolah buah pepaya menjadi berbagai jenis olahan sangat prospektif untuk dikembangkan. Salah satu produk olahan dari buah pepaya yang banyak digunakan dalam industri makanan, minuman, farmasi dan kosmetik adalah papain dan pektin. Penelitian pembuatan papain dan pektin telah dilakukan dan dapat diaplikasikan di sentra produksi papaya yang umumnya berlokasi di pedesaan. Untuk meningkatkan rendemen getah, dua minggu sebelum disadap permukaan buah dioles dengan larutan ethepon 34mM yang dilarutkan dalam minyak kelapa. Rendemen getah pepaya meningkat menjadi 113% dengan aktivitas proteolitik 767,01 unit /gram. Selain ethepon, penggunaan ekstrak bawang putih 60% juga dapat meningkatkan rendemen getah pepaya. Buah pepaya satu jam yang sebelum disadap getahnya dioles dengan 60% ekstrak bawang putih, produksi getahnya meningkat menjadi 46,9% dibandingkan dengan kontrol Buah sisa sadap dapat matang sempurna, namun penampakannya kurang menarik untuk diperdagangkan sebagai buah segar. Buah pepaya sisa sadap dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengisi pada pembuatan saos dan aneka sambal, nektar dan sari buah serta dibuat menjadi manisan basah atau kering. Pencampuran 50% buah papaya ke dalam saos tomat dan sambal dapat memperbaiki konsistensinya tanpa merubah rasanya. Pencampuran buah nenas kedalam sari buah papaya menghasilkan sari buah dengan cita rasa dan aroma yang lebih disukai dibandingkan sari buah yang terbuat dari buah papaya 100%.
Pengaruh Larutan Pulsing terhadap Daya Simpan Bunga Matahari Potong Sukma, Dewi; Shandra Amarilis; Abdullah bin Arif; Muhamad Syukur; Muthi’ah Khairun Nisa
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 14 No. 1 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.14.1.49-55

Abstract

Bunga matahari sebagai tanaman hias yang dapat dimanfaatkan sebagai bunga potong, namun proses respirasi dan transpirasi yang tinggi dapat menyebabkan penurunan daya simpan dan mutu bunga. Teknologi pasca panen seperti pemberian larutan pulsing yang tepat diperlukan agar kualitas dan daya simpan tetap terjaga. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis larutan pulsing terbaik untuk mempertahankan kesegaran dan mutu bunga potong bunga matahari. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan faktor komposisi larutan pulsing sebanyak 8 taraf, yaitu akuades (P1), akuades + gula 3% (P2), akuades + bayclin 0.25% (P3), akuades + gula 3% + bayclin 0.25% (P4), akuades + gula 3% + asam salisilat 50 ppm (P5), akuades + gula 3% + bayclin 0.25% + asam salisilat 50 ppm (P6), akuades + gula 3% + asam salisilat 75 ppm (P7), dan akuades + gula 3% + bayclin 0.25% + asam salisilat 75 ppm (P8). Setiap perlakuan terdiri dari 4 ulangan dengan satu tangkai bunga per ulangan, sehingga terdapat 32 tangkai bunga sebagai unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan pulsing yang mengandung akuades + gula 3% + bayclin 0.25% + asam salisilat 75 ppm cenderung lebih dapat mempertahankan kesegaran bunga potong bunga matahari dan mengefektifkan penyerapan air hingga 6 HSP. Kata kunci: asam salisilat, bayclin, bunga potong, gula, pasca panen
Larutan Pulsing dengan Penambahan Gula dan Asam Salisilat Mempertahankan kesegaran dan Kualitas Bunga Matahari Potong: Pulsing Solution with Added Sugar and Salicylic Acid Maintains Freshness and Quality of Cut Sunflowers Dewi Sukma; Amarillis, Shandra; Abdullah Bin Arif
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 13 No. 1 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.13.1.49-56

Abstract

Bunga matahari merupakan tanaman hias penting dari segi ekonomi. Pemanfaatan bunga matahari sebagai bunga potong perlu mendapatkan penanganan pascapanen yang tepat untuk mempertahankan kualitas dan memperpanjang masa kesegaran bunga selama masa pemasaran dan transportasi. Salah satu teknologi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu aplikasi larutan pulsing. Tujuan penelitian yaitu mengetahui jenis larutan pulsing terbaik yang dapat mempertahankan kesegaran dan kualitas bunga matahari potong. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian yaitu rancangan acak lengkap (RAL). Larutan pulsing terdiri atas campuran akuades, gula, asam salisilat dan sodium hypochlorite (5.25%). Parameter pengamatan meliputi: diameter bunga (luar dan dalam), jumlah petal bunga yang layu, jumlah petal bunga yang bercak, jumlah petal bunga yang segar dan ukur penurunan volume akuades dari masing-masing botol. Pengamatan tersebut dilakukan pada awal sebelum dan setiap dua hari setelah periode penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan larutan pulsing yang mengandung akuades + gula 3% + sodium hypochlorite 0.25% + asam salisilat 75 ppm cenderung meningkatkan penyerapan air sehingga dapat mempertahankan kesegaran dan kualitas bunga matahari potong hingga 6 hari setelah dipanen dibandingkan dengan tanaman kontrol. Kata kunci: bunga matahari, bunga potong, larutan pulsing