Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Farmaka

Tanaman-Tanaman yang Mempunyai aktivitas sebagai Anti Malaria Deka Aulia Septa Yofi Parmar; Moelyono Moektiwardoyo
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.627 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.25905

Abstract

AKTIVITAS ANTIDIABETES EKSTRAK ETANOL DAUN ILER (Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br.) PADA TIKUS PUTIH GALUR WISTAR DENGAN METODE INDUKSI ALOKSAN Yasmiwar Susilawati; Ahmad Muhtadi; Moelyono Moektiwardoyo; Putri Churnia Arifin
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.987 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.9296

Abstract

Based on WHO data, in 2014  total of diabetic patient in Indonesia reach 9 million. In addition to synthetic drugs, traditional medicine widely used by diabetic patients. Research of several species from Plectranthus genus showed that Plectranthus amboinicus and P. esculentus have antidiabetic activity in rat. Therefore, it is necessary to do antidiabetic activity research and its effective dose of plants iler (Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br) which derived from the same genus and has been used empirically as oral antidiabetic. Antidiabetic activity test conducted using white male Wistar rats which given diabetogen alloxan. Rat who had developed diabetes later given different dose of iler leaves ethanol extract and glibenclamide 0,5 mg/kgBB as a positive control. Blood glucose level was measured using amperometric method utilizing enzymatic reaction of glucose dehydrogenase which measured by glucometer. As a result, a dose of 200 mg / kg dose had the highest antidiabetic activity, followed by a dose of 300 mg / kg, the percentage decrease in relative blood glucose are 21,52% and 3,64% respectively, but a dose of 100 mg / kg didn’t have antidiabetic activity. Antidiabetic activity of 200 mg/kg dose of extract didn’t have any significant difference with glibenclamide, which has percentage decrease in relative blood glucose 21,35%.
ETNOFARMASI DAN ULASAN BIOPROSPEKTIF TUMBUHAN OBAT LIAR DALAM PENGOBATAN TRADISIONAL KAMPUNG ADAT CIKONDANG, KECAMATAN PANGALENGAN, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT REZA ABDUL KODIR; Moelyono Moektiwardoyo; Yoppi Iskandar
Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.491 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i1.11487

Abstract

Tumbuhan liar menyimpan potensi keragaman senyawa bioaktif. Penggunaan tumbuhan liar sebagai obat telah lama dilakukan oleh berbagai masyarakat etnis, termasuk masyarakat etnis Sunda yang tinggal di Kampung Adat Cikondang. Pendataan tumbuhan liar berpotensi obat dapat berkontribusi pada ditemukan berbagai obat baru. Telaah etnofarmasi dan bioprospeksi tumbuhan obat liar Kampung Adat Cikondang bertujuan untuk inventarisasi dan meninjau potensi penemuan obat baru. Penelitian ini dilakukan melalui metode participant observation dan wawancara kepada masyarakat yang dilanjutkan dengan analisis kuantitatif dari tumbuhan tersebut menggunakan use value (UV), relative frequency of citation (RFC), dan relative importance (RI). Tumbuhan dengan nilai tertinggi ditelaah dengan tinjauan pustaka untuk dilihat potensinya sebagai kandidat obat baru. Hasil menunjukkan terdapat 35 jenis dalam 22 suku tumbuhan liar yang digunakan sebagai obat oleh masyarakat Kampung Adat Cikondang. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Eupatorium inulifolium Kunth. (Asteraceae; ki rinyuh) adalah tumbuhan liar paling berpotensi dengan nilai UV, RFC, dan RI berturut-turut 0,5; 0,6; 0,33. Telaah pustaka menunjukkan bahwa E. inulifolium berpotensi untuk dikembangkan menjadi obat baru seperti kandidat obat kanker. Perlu telaah lebih lanjut mengenai informasi keamaan (toksisitas) penggunaan E. inulifolium sebagai obat.
POTENSI TUMBUHAN SEBAGAI REPELLENT AEDES AEGYPTI VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE ASTRINA FUJI NURFADILAH; Moelyono Moektiwardoyo
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2984.175 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.22034

Abstract

Produk repellent secara komersial telah tersedia dalam berbagai sediaan di pasaran. Repellent sendiri digunakan sebagai perlindungan diri dari gigitan nyamuk Aedes aigypti. Nyamuk tersebut merupakan penyebab dari penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).  Penyakit ini merupakan penyakit endemik dan cukup banyak terjadi di Indonesia, oleh karena itu pencegahan dari penyakit DBD perlu dilakukan, salah satunya yaitu dengan menggunakan repellent. Zat aktif yang biasa digunakan dalam produk repellent adalah DEET (Diethyltoluamide), tetapi zat aktif tersebut dapat menyebabkan efek samping yang akan merugikan terhadap penggunanya. Dengan itu, perlu dilakukan pencarian terhadap repellent yang berasal dari tumbuhan diantaranya yaitu Tembakau, Serai Wangi, Pepaya, Duku, Kenikir, Bangle, Legundi dan Adas yang mempunyai daya proteksi terhadap nyamuk Aedes aegypti dan akan semakin meningkat daya proteksinya seiring bertambahnya konsentrasi dari bahan yang digunakan serta lamanya pemaparan ekstrak.