Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PARAMETER GENETIK DAN KORELASI GENOTIPIK KARAKTER BATANG DENGAN TOLERANSI KEREBAHAN 26 GENOTIP SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) Anas Anas; Meddy Rachmadi; Setiawan Setiawan; Mansyur Mansyur
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 5, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4811.705 KB) | DOI: 10.24198/ijas.v5i1.16655

Abstract

AbstractInformation of genetic variability and heritability of sorghum stem are very important for lodging-tolerant breeding program. Genotypic correlation of stem morphological character to lodging tolerance is very useful in selection program. The objectives of this experiment were to observe variability and heritability of stem character and to determine stem character that correlate with lodging tolerance. Field experiment was carried out in experimental station of Agriculture Faculty Universitas Padjadjaran. The results showed that all stem characters showed wide genetic variability except stem density and stem diameter. Low and medium heritability were showed also by stem density and stem diameter. Other stem characters showed high estimation of heritability value. Stem elasticity and number of inter-node showed negative correlation to oblique angles of stem. Other stem characters had no correlation with lodging tolerance.Keywords: genotypic correlation, heritability, lodging, sorghum, variability
The Creating Share Value communication of PT. Bio Farma in green livestock feed empowerment program Agus Rahmat; Mansyur Mansyur; Sarmedi Sarmedi; Tendry Firmansyah
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): December 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkk.v10i2.42009

Abstract

One of the flagship Creating Share Value (CSV) programs by PT Biofarma in 2021 is the Re-Grass & Sustainability Village program. First, this program has been able to meet the demand for fodder for horses, which is one of the input rows in the production process at PT. Biofarma and also for the farming community around PT Biofarma’s operations. Even the fostered community is able to supply the needs of green fodder for several breeders in other areas through fermentation activities (silage) and pellet feed. Second, the CSR program to build animal feed security also received MURI records for productivity and high protein content. Third, the results of the evaluation by calculating the value of Social Return on Investment (SROI) show the value of Rp. 7,37. Based on the indicators, there are questions about what kind of communication was built into the program so that it was able to achieve a high level of success. Research with qualitative methods was conducted to answer the questions. The results of the research show that the communication activities carried out include the integration and coordination of various channels and sources of information, designing and implementing various communication techniques, and utilizing the nature and characteristics of communicators according to their respective positions. Implementation of information diffusion of green fodder is also supported by facilities that can simplify and reduce the risk of loss to the target group in adopting innovations.
Identifikasi Telur Cacing pada Feses Sapi Bali yang Digembalakan di Lahan Pasca-tambang Batubara di Desa Jonggon Jaya, Kalimantan Timur Shevira Ayu Puspita; Mansyur Mansyur; Andi Hiroyuki
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Ternak sapi potong merupakan salah satu sumber utama penghasil daging dengan nilai ekonomi tinggi. Namun, tingginya permintaan daging sapi di Indonesia masih tidak sebanding dengan ketersediaan daging di masyarakat. Kondisi ini berakibat pada ketergantungan pada impor daging dari negara lain. Salah satu strategi untuk meningkatkan produksi adalah melalui ekstensifikasi peternakan sapi potong. Tantangan utama dalam pelaksanaan ekstensifikasi peternakan sapi potong adalah ketersediaan lahan yang sesuai. Lahan pasca tambang batubara memiliki potensi untuk dimanfatkan sebagai alternatif, meskipun memiliki karakteristik yang kurang mendukung seperti kondisi tanah yang kurang nutrisi hingga sulit ditumbuhi vegetasi dan mudahnya terbentuk genangan air akibat berkurangnya kemampuan tanah dalam menyerap air. Kondisi tersebut dapat menciptakan lingkungan yang ideal bagi perkembangan cacing parasit seperti trematoda yang banyak ditemukan pada genangan air. Infeksi cacing atau helminthiasis ini merupakan masalah pada ternak karena dapat menurunkan produktivitas sapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis cacing yang menginfeksi sapi bali yang digembalakan di lahan pasca tambang batubara di Desa Jonggon Jaya, Kalimantan Timur. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan metode purposive sampling. Sebanyak 47 sampel feses sapi bali dengan body condition score (BCS) di bawah tiga (≤3) dikoleksi pada bulan Agustus 2023 dan diperiksa menggunakan metode apung dan metode sedimentasi. Hasil pemeriksaan menunjukan prevalensi infeksi trematoda sebesar 19,14%, sedangkan infeksi nematoda sebesar 17,02%, dan infeksi dengan kombinasi keduanya sebesar 10,63%. Temuan ini mengindikasikan bahwa prevalensi infeksi trematoda cukup dominan pada sapi bali di area gembala tersebut. Kondisi ini diduga terkait dengan adanya genangan air pada lahan pasca tambang batubara yang digunakan sebagai lahan penggembalaan. Struktur lahan yang berubah karena proses penambangan batubara memerlukan pendekatan terkait peningkatan kemampuan penyerapan air tanah untuk menekan adanya genangan air dan secara tidak langsung juga meningkatkan kualitas lahan untuk ditanami vegetasi bahan pakan ternak. Manajemen pemberian obat cacing juga perlu menjadi perhatian dalam mencegah dan menangani kondisi kecacingan pada hewan ternak sapi bali.