Eddy Afrianto
Dosen Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Suhu dan Lama Blansing Terhadap Penurunan Kesegaran Filet Tagih Selama Penyimpanan Pada Suhu Rendah Eddy Afrianto; Evi Liviawaty; Otong Suhara; Herman Hamdani
Jurnal Akuatika Vol 5, No 1 (2014): Jurnal Akuatika
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.093 KB)

Abstract

Penelitian mengenai pengaruh suhu dan lama blansing terhadap penurunan kesegaran filet tagih selama penyimpanan pada suhu rendah telah dilakukan.  Tiga taraf perlakuan suhu blansing, 80o, 90o, dan 100oC dan tiga taraf lama blansing, 1, 3 dan 5 menit.  Paramater yang diamati selama penyimpanan filet tagih pada suhu rendah adalah populasi bakteri pembusuk, pH dan susut bobot.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa filet yang diblansing pada suhu 80oC selama 3 menit mampu menghambat penurunan kesegaran paling baik dengan populasi mikroba pada penyimpanan hari ke-10 sebanyak 6 x 10% CFU, peningkatan pH menjadi 6.55 pada hari ke-4 dan susut bobot pada hari ke-10 sebesar 4 persen.
Aplikasi Kombinasi Bakteri Asam Laktat, Natrium Klorida Dan Natrium Asetat Terhadap Masa Simpan Ikan Patin (Pangasius hypophtalmus) Pada Suhu Rendah Gina Yuliana; Eddy Afrianto; Rusky Intan Pratama
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 6, No 2(1) (2015): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui perubahan mutu ikan patin dengan penambahan kultur starter BAL serta penambahan kombinasi natrium klorida dan natrium asetat dalam memperpanjang masa simpan selama penyimpanan suhu rendah. Metode yang digunakan adalah metode ekperimental dengan tiga perlakuan (kontrol, penambahan BAL, dan kombinasi BAL dengan 3% NaCl dan 3% NaAs) perlakuan diulang sebanyak3 kali. Parameter yang diamati yaitu derajat keasaman (pH) dan Total Plate Count (TPC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi BAL, NaCl, dan BAL dengan 3% NaCl dan 3% NaAs memberikan hasil terbaik terhadap masa simpan ikan patin  dengan batas penerimaan hingga hari ke-12 yaitu sebesar 9,5.106 cfu/ml pada penyimpanan suhu rendah. Perlakuan kombinasi memiliki masa simpan lima hari lebih lama dibandingkan kontrol, dan dua hari lebih lama dibandingkan perlakuan perendaman BAL.
Evaluasi Penerapan Sanitasi Terhadap Risiko Keberadaan Histamin Pada Pengolahan Pindang Cakalang Di Pelabuhan Ratu Zaety Abdillah; Eddy Afrianto; Nia Kurniawati
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 6, No 2(1) (2015): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini  bertujuan untuk  mengetahui dan  mengevaluasi sejauh mana penerapan sanitasi pada  proses pengolahan pindang cakalang, serta seberapa besar terdapat histamin pada bahan baku dan produk pindang cakalang di Pelabuhan Ratu. Penelitian ini dilaksanakan di tempat pengolahan pindang cakalang Pelabuhan Ratu, dan pengujian histamin dilakukan di Balai Pengujian Mutu dan Pengolahan Hasil Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta.Pelaksanaannya dari mulai Januari 2015 sampai dengan Mei 2015. Metode penelitian bersifat survey, dan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling pada 3 pengolah berdasarkan kapasitas bahan baku yang digunakan (besar, sedang dan kecil). Penelitian dilakukan dengan cara wawancara, pengamatan pada saat pengolahan serta pengujian histamin pada bahan baku dan produk pindang, kemudian dianalisis secara deskriptif komparatif. Pelaksanaan penerapan sanitasi paling baik dengan urutan yaitu pada unit pengolahan C (pengolah kecil), terdapat 4 aspek sanitasi yang tidak layak diterapkan, unit pengolahan A (pengolah besar), terdapat 8 aspek sanitasi yang tidak layak diterapkan, dan paling buruk sanitasi yang diterapkan pada unit pengolahan B (pengolah sedang), terdapat 11 aspek sanitasi yang tidak layak diterapkan. Pengolah besar tidak menjamin sanitasinya lebih baik dari pada pengolah kecil. Kadar histamin pada bahan baku unit pengolahan pindang (A, B dan C) berturut-turut 2,03 ppm; 7,38 ppm; dan 2,97 ppm meningkat selama proses pengolahan produk pindang berturut-turut menjadi 4,57 ppm; 26,89 ppm; dan 4,37 ppm. Semakin banyak jumlah aspek sanitasi yang tidak layak diterapkan pada  unit  pengolahan pindang, semakin tinggi peningkatan kadar  histamin pada  produk pindang cakalang yang diolah di Pelabuhan Ratu. Kata Kunci :Histamin, Pindang Cakalang, Sanitasi