Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

IbM Kelompok Nelayan Lindongan I dan Lindongan Ii Desa Tawoali: Frets Jonas Rieuwpassa; Eko Cahyono; Stevy Imelda M. Wodi
Jurnal Ilmiah Tatengkorang Vol 1 (2017): Jurnal Ilmiah Tatengkorang
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.848 KB)

Abstract

Metode pelaksanaan kegiatan ini meliputi tahapan Survei, mengindentifikasi masalah yang ditemui oleh masyarakat nelayan Desa Tawoali dan melakukan pelatihan dan penyuluhan kepada masyarakat nelayan. Selanjutnya diberikan bantuan kepada masyarakat untuk mempermudah kegiatan penanganan di atas kapal dan tahapan terakhir adalah monitoring dan evaluasi pasca pelaksanaan kegiatan pengabdian. Pencapaian hasil kegiatan ini adalah 1) Masyarakat nelayan Desa Tawoali mampu melakukan teknik penanganan yang baik dan benar 2) masyarakat nelayan Desa Tawoali mampu melakukan cara pengesan yang baik dan benar 3) masyarakat nelayan Desa Tawoali mampu melakukan penerapan sanitasi higienis selamam penanganan ikan.
PENINGKATAN KUALITAS HASIL TANGKAPAN MELALUI PENERAPAN SISTEM RANTAI DINGIN DI KELURAHAN SANTIAGO Stevy Imelda Murniati Wodi; Frets Jonas Rieuwpassa; Eko Cahyono
Jurnal Ilmiah Tatengkorang Vol 2 (2018): Jurnal Ilmiah Tatengkorang
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.356 KB)

Abstract

Masyarakat Kelurahan Santiago Kecamatan Tahuna Kepulauan Sangihe merupakan daerah yang penduduknya mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan. Kurangnya pengetahuan tentang penanganan hasil perikanan secara efektif dan efisien membuat hasil tangkapan masyarakat nelayan kelurahan Santiago mengalami penurunan kualitas dan itu sangat berpengaruh pada penurunan harga jual. Akibatnya pendapatan dan tingkat kesejahteraan menurun. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat nelayan dalam menemukan pemecahan masalah di kelurahan Santiago Kecamatan Tahuna Kepulauan Sangihe. Nelayan harus dibekali dengan pengetahuan bagaimana menangani hasil-hasil tangkapan agar memperolah nilai jual yang relatif tinggi. Salah satu usaha agar produk hasil tangkapan tetap berkualitas adalah penanganan dengan sistem rantai dingin (Cold Chain System) mulai dari pasca panen sampai pada konsumen. Metode yang dilakukan yaitu pelatihan melalui ceramah dan diskusi memberikan pandangan kepada masyarakat akan pentingnya penanganan pasca tangkap untuk mempertahankan mutu dalam keadaan dingin sehingga tidak mudah busuk.
INOVASI PENGOLAHAN EMPEK-EMPEK SEBAGAI UPAYA DIVERSIFIKASI PRODUK HASIL PERIKANAN DI KAMPUNG BARANGKALANG KECAMATAN MANGANITU KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Stevy Imelda Wodi; Frans Gruber Ijong
Jurnal Ilmiah Tatengkorang Vol 3 (2019): Jurnal Ilmiah Tatengkorang
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inovasi pembuatan empek-empek sebagai upaya diversifikasi produk hasil perikanan belum dilakukan secara optimal. Hal ini disebabkan kurangnya informasi terkait produk diversifikasi dikalangan masyarakat. Peningkatan proses pemahaman ini akan memudahkan instansi terkait memberikan layanan bidang pengembangan produk hasil perikanan sehingga masyarakat dapat melakukan diversifikasi produk perikanan di wilayah Kecamatan Manganitu Selatan. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini yaitu untuk memberikan pengetahuan Good Manufaturing Practice produk empek-empek, penerapan Standard Sanitation Operational Procedure, dan Fundamentals of Marketing Management. Dalam pengabdian masyarakat ini kami melakukan kegiatan yang terdiri dari : 1) survey; 2) pendekatan masalah; 3) persiapan; 4) pelaksanaan; 5) monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan inovasi pembuatan empek-empek sangat efisien untuk diberikan. The process of making Empek-empek (an Indonesian fish cake delicacy) as an innovative effort to diversity fisheries products is far from optimal. This is due to the lack of knowledge related to fish product diversification among fisheries society of Sangihe. In particular, improving such knowledge or understanding in fisheries society of Manganitu Selatan district by responsible agencies for fisheries products diversification helps the society diversify fisheries products in the district. The purpose of this community service was to increase the knowledge of good manufacturing practice for Empek-empek and related products, of standard sanitation, operational procedure, and fundamentals of marketing management. In this community service, we conducted 1) survey, 2) problem-solution approach, 3) preparation, 4) implementation 5) and monitoring as well as evaluation of the program. We found the innovative work on the making of Empek-empek was efficiently delivered.
Analisis Mutu Bakso Ikan Home Industri dan Komersil Di Babakan Raya Bogor Stevy Imelda Murniati Wodi; Eko Cahyono; Nurfaida Kota
Jurnal FishtecH Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/fishtech.v8i1.7912

Abstract

Fish balls is a food product that popular and favored by children or adult. Fish balls usually produced as a home industry or commercial product. The aims of this research are to figure out the quality of the home industry or commercial fish ball at Babakan Raya Bogor. This research using a descriptive method. The best score for home industry category, water content analysis for sample A (51.20%), ash analysis for sample A (2.13%), for commercial category, the best fat content is for sample A (0.27%), protein content is for sample A (12.52%) and for carbohydrate by difference is for sample A (18.62%). 
Rancang Bangun Dan Pengujian Alat Pengering Solar Dryer Sederhana (Constructing and Experiment of Simple Solar Dryer) Frets Jonas Rieuwpassa; Stevy Imelda Murniati Wodi; Eko Cahyono; Rolando Pangumpia
Jurnal FishtecH Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/fishtech.v8i2.7226

Abstract

Solar dryer is a device that use solar energy to try substances. Using a solar dryer is more hygiene than drying directly into the sun. This experiment aims to construct a solar dryer device and to examine product water content. There are some steps in this experiment which are constructing a solar dryer device and examination of the product water content of two different solar device construction. Products that examined are mackerel tuna dried with salt and without salt. Water content examination is established every 4 hours and 12 hours. All data are examined descriptively. Results showed that temperature in device type 1 are between 40-45 0C dan device type 2 are between 44-45 0C. Results for water content in salted dry fish showed a score of 37.99% in device type 1 and 30.27% in device type 2. For water content in non-salted dry fish showed a score of 38.4% in device type 1 and 27.35% in device type 2. Base on this it can be concluded that device type 2 able to lower water content in products better than device type 1.
EFEKTIVITAS KITOSAN SEBAGAI BAHAN PENGAWET ALAMI PADA PRODUK TRADISIONAL IKAN LAYANG (Decapterus russeli) ASAP PINEKUHE David Engelberd Sombo; Agus Turambi; Stevy Imelda Murniati Wodi; Eko Cahyono
Jurnal Kemaritiman: Indonesian Journal of Maritime Vol 1, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kamous Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kitosan merupakan senyawa turunan kitin yang terdapat pada Crustacea. Kitosan memiliki fungsi sebagai antibakteri dan digunakan sebagai pengawet makanan salah satunya pada ikan Pinekuhe. Pinekuhe merupakan diolah ikan yang dibentuk dengan cara dilipat (ikan dibelah dari bagian punggung atas atau sampai bagian tengah, kemudian dilipat kebagian belakang sehingga ekor dan bagian insang bertemu) sehingga berbentuk seperti katak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kitosan sebagai pengawet alami pada ikan pinekuhe. Perlakuan yang digunakan terdiri dari larutan kitosan (0%, 0.5%, 1.5%, 2.5% dan 3.5%). Analisis yang dilakukan meliputi nilai perspektif, Total Plate Count (TPC), dan uji organoleptik (kenampakan, bau, rasa, tekstur, jamur dan lendir). Berdasarkan hasil penelitia kitosan memiliki sifat antibakteri yang mampu menghambat laju pertumbuhan bakteri. Larutan kitosan konsentrasi 3.5% merupakan konsentrasi terbaik dalam menghambat TPC hingga hari ke-9. Pengamatan organoleptik pada ikan pinekuhe menunjukkan bahwa pemberikan larutan kitosan memberikan pengaruh nyata, sehingga kitosan dapat dijadikan alternatif bahan pengawet alami.Kata kunci : antibakteri, kitosan, pinekuhe, TPC.
Karakterisasi Tepung Semi Refined Carrageenan Dari Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Dengan Berbagai Pelarut Alkali Novalina Maya Sari Ansar; Eko Cahyono; Obyn Imhart Pumpente; Stevy Imelda Murniati Wodi; Frets Jonas Rieuwpassa; Jaka Frianto Putra Palawe; Wendy Alexander Tanod
Juvenil Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v3i1.15013

Abstract

ABSTRAKSemi Refined Carrageenan merupakan salah satu produk carrageenan dengan tingkat kemurnian lebih rendah dibandingkan dengan refined carrageenan. Semi Refined Carrageenan merupakan tepung hasil ekstraksi rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii berwarna putih kekuningan, dapat membentuk gel sehingga sangat berperan dalam industri makanan dan obat-obatan. Tujuan penelitian untuk mendapatkan konsentrasi pelarut KOH dan NaOH yang tepat dalam proses ekstraksi tepung Semi Refined Carrageenan rumput laut Kappaphycus alvarezii. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental, yaitu mengekstraksi Kappaphycus alvarezii menggunakan larutan alkali KOH dan NaOH yang direndam selama 4 menit. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa rendemen tertinggi terdapat pada larutan KOH 5% (56,10%) dan larutan NaOH 3% (42,29%), kadar air pada larutan KOH 5% (15,45%) dan larutan NaOH 1% (16,50%), kadar abu larutan KOH  4% (4,85%) dan larutan NaOH 2% (3,50%), nilai pH terbaik terdapat larutan KOH 3% (8,14) dan larutan NaOH 3% (8,01) dan viskositas laju alir pada larutan KOH 3% (36,50 mL/detik) dan larutan NaOH 3% (38,10 mL/detik). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rendemen tertinggi terdapat pada larutan KOH 5% dan larutan NaOH 3%.Kata Kunci: alkali, carrageenan, KOH, Kappaphycus alvarezii, NaOHABSTRACTSemi Refined Carrageenan is a carrageenan product with a lower level of purity compared to refined carrageenan. Semi Refined Carrageenan is flour extracted from Kappaphycus alvarezii type of seaweed, yellowish white in color, can form a gel so that it plays a very important role in the food and medicine industry. The aim of the study was to obtain the correct concentration of KOH and NaOH solvents in the extraction process of Kappaphycus alvarezii seaweed Semi Refined Carrageenan flour. The method used in this study is an experimental method, namely extracting Kappaphycus alvarezii using an alkaline solution of KOH and NaOH soaked for 4 minutes. The results obtained showed that the highest yield was found in 5% KOH solution (56.10%) and 3% NaOH solution (42.29%), water content in 5% KOH solution (15.45%) and 1% NaOH solution ( 16.50%), ash content of 4% KOH solution (4.85%) and 2% NaOH solution (3.50%), the best pH values were 3% KOH solution (8.14) and 3% NaOH solution (8 0.01) and the viscosity of the flow rate in 3% KOH solution (36.50 mL/second) and 3% NaOH solution (38.10 mL/second). From the results of the study, it can be concluded that the highest yield is found in 5% KOH solution and 3% NaOH solution.Keywords : alkali, carrageenan, KOH, Kappaphycus alvarezii, NaOH
Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Di Sekitaran PT. Perindo Unit Dagho Melalui Pembentukan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Eko Cahyono; Stevy Imelda Murniati Wodi; Wendy Alexander Tanod; Novalina Maya Sari Ansar
Pengmasku Vol 2 No 1 (2022)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/pengmasku.v2i1.199

Abstract

Dagho Village is the center of fisheries industrialization in the Sangihe Islands, North Sulawesi. The only village that has a Coastal Fishery Port and a fishing industry is PT. Perindo Unit Dagho. The people of Kampung Dagho who live around PT. Perindo Unit Dagho especially fishermen's wives who do not have the ability to process fishery products and cannot generate money to help improve the welfare of their families. In general, they do not have more expertise in terms of skills in utilizing abundant fishery products. In Dagho Village, there are no Micro, Small and Medium Enterprises or similar businesses, both those engaged in agriculture, animal husbandry and fisheries. Small businesses in the village can be done by providing guidance and training to the village community and helping distribute products in the village. The method used in this research is a qualitative descriptive method with a series of stages arranged systematically. The stages are Research and Development, preliminary survey and Focus Group Discussion, problem identification, Kampung Dagho is a central industrialization, needs analysis, Target Audience Determination, Implementation Phase, and Program Evaluation. This activity was carried out at the Dagho Village Hall, Tamako District. The activity begins with a field survey for the stage of preparing a work plan, activity time and targets. In this activity, partners are given motivation to be able to carry out entrepreneurial activities so that they can increase group and individual income. The activity team from the State Polytechnic of North Nusa Tenggara provided material related to marketing strategies in selling products to the local market. flying fish. Kampung Dagho merupakan sentral industrialisasi perikanan yang ada di Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara. Satu-satunya Kampung yang memiliki Pelabuhan Perikanan Pantai dan Industri perikanan yaitu PT. Perindo Unit Dagho. Masyarakan Kampung Dagho yang bermukim di seputaran PT. Perindo Unit Dagho khususnya istri-istri nelayan yang tidak memiliki kemampuan dalam melakukan pengolahan hasil perikanan dan tidak dapat menghasilkan uang guna membatu mensejahterakan keluarganya. Umumya mereka tidak memiliki keahliah yang lebih dari segi kertanpilan dalam memanfaatkan produk hasil perikanan yang melimpah. Di Kampung Dagho belum adanya Usaha Mikro Kecil Menengah ataupun usaha sejenisnya, baik yang bergerak dalam bidang pertanian, peternakan maupun perikanan. Usaha kecil diperkampungan bisa dilakukan dengan memberikan bimbingan dan pelatihan kepada masyarakat kampung dan membantu mendistribusikan produk di perkampungan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan sebuah rangkaian tahapan yang disusun secara sistematis. Tahapnya adalah Research and Development, survey pendahuluan dan Focus Group Discussion, identifikasi masalah, Kampung Dagho merupakan merupakan central industrialisasi, analisis kebutuhan, Penetapan Khalayak Sasaran, Tahap Pelaksanaan, dan Evaluasi Program. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Kampung Dagho Kecamatan Tamako. Kegiatan diawali dengan survei lapangan untuk tahap penyusunan rencana kerja, waktu kegiatan dan sasaran. Pada kegiatan ini mitra diberikan motivasi untuk dapat melakukan kegiatan berwirausaha sehingga dapat meningkatkan pendapatan kelompok hingga perorangan. Tim kegiatan dari Politeknik Negeri Nusa Utara memberikan materi terkait strategi pemasaran dalam menjual produk ke pasar lokal. Berdasarkan hasil yang telah dicapai dalam kegiatan Program Kemitraan Masyarakat Stimulus dapat disimpulkan bahwa di Kampong Dagho terbentuk satu UMKM baru yang bergerak dalam bidang pengolahan hasil perikanan khususnya produk bakso ikan layang.
Potential of Sea Cucumbers as Fuctional Foods Wodi, Stevy Imelda Murniati; Dewi, Eko Nurcahya; Riyadi, Putut Har; Pringgenies, Delianis; Dolorosa, Roger G.
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 29, No 1 (2024): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.29.1.97-103

Abstract

Sea cucumbers have great potential for managing water resources because they have filter feeder properties that can clean water from harmful substances. Apart from that, sea cucumbers also contain active compounds which have properties as functional foods and can help prevent cancer. Samples of sea cucumbers were collected from Karimunjawa, Central Java, and Surabaya. The research included tests for bacteria, chemicals, and heavy metals on dried sea cucumbers, as well as amino acid analysis. Two species of sea cucumbers were identified: Holothuria atra and Stichopus variegates. H. atra had a higher amino acid content and the highest collagen content among all the amino acids (14,600mg.100g-1). Both types of sea cucumber samples contain amino acids that have anti-inflammatory, antioxidant, and anticancer properties. This is due to their content of saponins, tannins, flavonoids, steroids, and terpenoids, which are beneficial for health. Additionally, S. variegates has been found to have antibacterial activity against Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacteria. The amino acid analysis of S. variegates shows the presence of sulfate and alanine compounds, which are not found in H. atra. Research has shown that sea cucumbers can be consumed as supplements or additional food to support health and prevent various diseases, including cancer. The use of sea cucumbers as functional food ingredients also has the potential to manage water resources sustainably. In conclusion, H. atra and S. varigatus sea cucumbers have great potential for managing water resources for functional food and cancer prevention efforts. Their high content of amino acids and other phytochemical compounds makes them a good choice for development as functional food ingredients.
Determinasi Teripang Dari Sisi Perairan Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara Wodi, Stevy Imelda Murniati; Dewi, Eko Nurcahya; Riyadi, Putut Har; Pringgenies, Delianis
Jurnal Kelautan Tropis Vol 27, No 3 (2024): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v27i3.23544

Abstract

This research focused on determination of sea cucumber in Sangihe Island, North Sulawesi. This study aims to explore species diversity of sea cucumber. Samples were collected with scuba diving and underwater camera, for morphological and spicule identification. This research found found 5 species in Sangihe Island, are Personothuria graffei, Bohadchia argus, Stichopus horrens, Holothuria fuscogilva, and Actinopyga miliaris. Pearsonothuria graffei had silk-likely colour, and Bohadchia argus with a dotted pattern around the body. Meanwhile, Stichopus horrens, Holothuria fuscogilva, and Actinopyga miliaris had a difference in body shape and the colour. This research significantly revealed the species diversity of sea cucumber for the sustainable resources along with the protection of the environmental condition in Sangihe Island waters, North Sulawesi. The information can be utilized as a step to protect and preserve the existence of sea cucumbers, which are a crucial component of the marine ecosystem. Penelitian tentang teripang di sisi perairan kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara merupakan studi yang bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis teripang yang hidup di daerah tersebut. Metode yang digunakan adalah pengumpulan sampel menggunakan scuba diving dan kamera bawah air. Penggunaan scuba diving memungkinkan untuk mengumpulkan sampel sehingga memungkinkan juga ambil foto teripang dibawah air dengan habitatnya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya lima jenis teripang yang ditemukan, yaitu Pearsonothuria graeffei (Sutra), Bohadchia argus (Bintik/Batik), Stichopus horrens, Holothuria fuscogilva, dan Actinopyga miliaris. Pearsonothuria graeffei adalah teripang yang memiliki ciri khas berwarna seperti sutra, Bohadchia argus memiliki bintik atau motif batik pada tubuhnya, sedangkan Stichopus horrens, Holothuria fuscogilva, dan Actinopyga miliaris memiliki perbedaan dalam bentuk dan warna tubuhnya. Penelitian ini dapat memberikan informasi penting tentang diversitas teripang di sisi perairan kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Koleksi sampel yang dilakukan juga dapat memberikan gambaran tentang kondisi ekosistem perairan tersebut. Informasi ini dapat digunakan sebagai langkah untuk melindungi dan mempertahankan keberadaan teripang yang menjadi bagian penting dari ekosistem laut.