Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PENGEMBANGAN INSTRUMEN LAGRANGIAN GPS DRIFTER COMBINED (GERNED) UNTUK OBSERVASI LAUT Noir Primadona Purba; Syawaludin A. Harahap; Donny J. Prihadi; Ibnu Faizal; Putri G. Mulyani; Candra A. Fitriadi; Isnan F. Pangestu; Prio D. Atmoko; Adam Alfath; Joshua T. Sitio
Jurnal Kelautan Nasional Vol 12, No 3 (2017): DESEMBER
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.257 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v12i3.6323

Abstract

Instrumen Lagrangian telah banyak digunakan untuk pengumpulan data arus laut dan observasi di perairan Indonesia membutuhkan data yang langsung dapat diketahui (real time). Kajian ini menekankan pada pengembangan GPS Drifter Combined (GERNED) dari sisi desain dan sistem pengukuran. Hasil pengujian menunjukkan bahwa GERNED dapat digunakan di danau, perairan dangkal, dan laut terbuka. Konstruksi terdiri dari bahan akrilik, Polyethylene, dan aluminium. Desain konstruksi terdiri dari bagian atas sebagai penutup dan juga tempat sensor udara dan lampu indikator, bagian tengah yang merupakan pusat mikro-kontroller, catu daya, sensor-sensor, penyimpanan data manual dan pengiriman data via satelit. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat alat ini sekitar 15.000.000 (lima belas juta rupiah) dengan biaya terbesar adalah kontrol pengiriman data. Pada bagian bawah merupakan baling-baling statik. Pengujian yang dilakukan di laboratorium untuk melihat posisi lokasi sudah menunjukkan data yang sama dengan data lapangan sedangkan untuk pengujian lapangan yang dilakukan di pulau Untung Jawa menunjukkan bahwa arah dan pergerakan GERNED sama dengan pergerakan float tracking umumnya.
A New Oceanographic Data Portal: Padjadjaran Oceanographic Data Centre (PODC) Ibnu Faizal; Noir Primadona Purba; Darryl Anthony Valino; Madihah Jafar Sidik; Amarif Abimanyu; Tony Bratasena; Fajri Ramdhani; Ajeng Wulandari
Jurnal Segara Vol 17, No 3 (2021): Desember
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Dumai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.659 KB) | DOI: 10.15578/segara.v17i3.10289

Abstract

Understanding the physio-chemical oceanic and atmospheric processes is critical in monitoring climate change. Archipelagic and Small Island countries are vulnerable to the detrimental effects of climate change, and open access oceanic databases can solve data limitations leading to further development of action plans and government policies. A website was developed (www.isea-podc.org) to distribute and augment free oceanographic data based on various in-situ sampling instruments. Oceanographers review the data collected and stored in the portal. It is led by the Marine Research Laboratory (MEAL), Padjadjaran University, in partnership with Marine Science Institute (MSI), University of the Philippines. This framework supplements information that can support marine ecosystems, fisheries, and climate science studies. Furthermore, all data are accessible to not only the academe but also decision-makers in all aspects. The data sources are student research and the new instruments (RHEA and ARHEA) developed by MEAL. In the future, the portal will be integrated with other government institutional data to provide other functional features and can yield network-wide analyses. In the next phase, collaboration from ASEAN countries should be conducted to gain more impact and provide robust datasets.
Seagrass Connectivity Based on Oceanographic Condition in The Marine Protected Area of Biawak Islands, Indramayu Aditya Ramadhan; Noir Primadona Purba; Sunarto Sunarto; Udhi Eko Hernawan; Ibnu Faizal
Jurnal Segara Vol 18, No 1 (2022): April
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Dumai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (834.8 KB) | DOI: 10.15578/segara.v18i1.10961

Abstract

Seagrasses are an essential component of the coastal environment with provide many ecosystem services beneficial to humans. Understanding the pattern of dispersal of segrasses is important for conservation management. The aimed of this research was to analyze the seed dispersal of the seagrass Enhalus acoroides in the Marine Protected Area of Biawak Islands, Indramayu, based on hydrodynamic modelling. Oceanographic data were downloaded from several open acces website and location of seagrasses based one insitu observation. Then, oceanographic parameters and seed traits were used to develop the particle trajectory model. Our analysis showed that the seafloor’s depth around the islands varied, ranging from 8 m to 48 m. The seed dispersal was strongly influenced by alternating tidal currents (reversing current). The particle trajectory showed that most of the seeds would be transported outward away from each source in the islands, and they settled in deeper areas further from the coast of the islands. This result indicates that the seagrass population in Biawak Islands might depend predominantly on vegetative recruitment, which is slow. This may be related to the low seagrass canopy cover in Biawak Islands.
Media Sosial: Ketika Maya Lebih Indah dari Nyata Rifqi Dhika Saputra Rifqi; Masduki Asbari; Noir Primadona Purba
Literaksi: Jurnal Manajemen Pendidikan Vol. 1 No. 02 (2023): Literaksi: Jurnal Manajemen Pendidikan
Publisher : Yayasan Aya Sophia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1111/literaksi.v1i02.86

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari tentang “Dunia Maya Yang Lebih Indah Dari Pada Dunia Nyata” dari channel youtube “1 Hari Sukses” yang berjudul “Social Media: Ketika Yang Maya Lebih Indah Dari Yang Nyata”. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yaitu metode yang dilakukan dengan teknik simak dan catat karna sumber informasi yang diambil dengan menyimak narasi lisan. Studi ini menyebutkan bahwa kita harus bijak dalam menggunakan sosiak media. Sosial media bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti, sekaligus bisa menjadi sesuatu yang sangat berbahaya, tergantung bagaimana prilaku penggunanya, perlu kesadaran diri dan kedewasaan untuk bermain social media, agar terhindar dari berbagai permasalahan. Tujuan dari bijak dalam bersosial media agar kita bisa mengendalikan diri, dan bisa menjaga etika Ketika membuat konten atau berkomentar di postingan seseorang dengan cara menghindari kata-kata menghina yang bisa menyebabkan konflik atau keributan yang bisa menyeret kita kedalam masalah hukum. Lalu kita sebisa mungkin jaga privasi dan data pribadi agar tidak disalahgunakan oleh orang yang bertanggung jawab. Dan yang terakhir hindari over sharing, over sharing adalah membagikan postingan kepada orang lain secara berlebihan, hindari mengumbar masalah pribadi, aib keluarga atau menyerang orang lain. Karna jejak digital tidak bisa sepenuhnya hilang, jadi kita harus sepintar mungkin menggunakan sosial media. Gunakan sosial media hanya untuk hiburan atau pengisi waktu kosong saja, jangan terlalu berlebihan, karna dampaknya sangat berakibat fatal jika kita terlalu berlebihan bermain media sosial.
Variasi sebaran suhu dan klorofil-a akibat pengaruh Arlindo terhadap distribusi ikan cakalang di Selat Lombok Andry Nugroho Setiawan; Yayat Dhahiyat; Noir Primadona Purba
Depik Vol 2, No 2 (2013): August 2013
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1341.113 KB) | DOI: 10.13170/depik.2.2.723

Abstract

Abstract. The movement ofthewater mass affected Indonesian waters characterisicaretraversedbyIndonesian Throughflow which one of them in Lombok Strait. This study conductedtodetermine Indonesian Throughflow effectagainsttemperature distribution,chlorophyll-a variation and also distribution ofskipjackin theLombokStrait in 2008. The studyarealocated atcoordinate115˚E-116˚Eand8˚S-9˚S. The dataused weretemperature, chlorophyll-a, sea surfacecurrentsandalsosupported withskipjackcatches data. Visualizationresultshowed westseason,seasurface temperaturehigh enough withranged between26.62-31.12oC andchlorophyll-a concentrationby0.05596-0.9778mg(m-3)-1withthe current directiontend to lead to the northeastwith a speed ranged of0.0250-0.4439ms-1. In thefirsttransitiontemperature ofthe seasurfaceslightlydecreasedrangedbetween26.77-30.30oC andfollowed by arise chlorophyll-a concentrationby0.07302-0.7324mg(m-3)-1withthe current directiontend to leadto the eastwith a speed ranged0.0640-0.8123ms-1. In the east season,seasurfacetemperaturewas quitelow,ranged from24.30-29.33oC andfollowedwithan increased chlorophyll-a concentrationby0.1491-0.9897mg(m-3)-1 withthe current directiontend to leadto the southeastwith a speed ranged by0.4351-1.1813 ms-1. In thesecondtransition, seasurfacetemperature rised back withranged25.12-31.05oC andfollowed bydecreased concentration ofchlorophyll-a by0.09565-0.9456mg(m-3)-1withthe current directiontend to leadto the southeastwith a speed ranged by0.1129-0.7336ms-1. The relationship betweentemperatureandchlorophyll-a resultshowedvariationbutona warmtemperatureandfairlyhigh chlorophyll-a, catchedarehigh enoughinSeptember-November.Keywords: Indonesian Throughflow; Lombok Strait; Skipjack Abstrak.Pergerakan ARLINDO yang melalui perairan Indonesia berpengaruh pada karakteristik perairan di timur Indonesia dimana salah satunya adalah Selat Lombok. Kajian ini menekankan pengaruh Arlindo terhadap variasi sebaran suhu dan klorofil-a terhadap hasil tangkapan ikan cakalang di Selat Lombok pada periode tahun 2008. Data yang digunakan yaitu suhu, klorofil-a, arus permukaan dan hasil tangkapan ikan cakalang. Hasil visualisasi menunjukkan pada musim barat, suhu permukaan lautnya cukup tinggi yaitu berkisar 26,62-31,12oC dan konsentrasi klorofil-a sebesar 0,056-0,978mg (m-3)-1 dengan arah arus cenderung ke timur laut dengan kecepatan 0,0250-0,4439 m/detik. Pada musim peralihan I suhu permukaan lautnya sedikit mengalami penurunan yaitu berkisar 26,77-30,30oC dan dan diikuti dengan kenaikan konsentrasi klorofil-a sebesar 0,073-0,732mg (m-3)-1 dengan arah arus cenderung ke timur dengan kecepatan 0,0640-0,8123 m/detik. Pada musim timur suhu permukaan lautnya cukup rendah yaitu berkisar 24,30-29,33oC dan dan diikuti dengan kenaikan konsentrasi klorofil-a sebesar 0,149-0,989mg (m-3)-1 dengan arah arus ke tenggara dengan kecepatan 0,4351-1,1813 m/detik. Pada musim peralihan II suhu permukaan lautnya kembali naik yaitu berkisar 25,12-31,05oC dan dan diikuti dengan penurunan konsentrasi klorofil-a sebesar 0,096-0,946mg (m-3)-1 dengan arah arus ke tenggara dengan kecepatan 0,1129-0,7336 m/detik. Hubungan antara suhu dan klorofil-amenunjukkan adanya variasi akan tetapi pada suhu yang hangat dan klorofil-a yang cukup tinggi terdapat hasil tangkapan yang cukup tinggi yaitu pada bulan September-November.Kata kunci : Arlindo; Selat Lombok;  Ikan Cakalang 
Hubungan variabilitas mixed layer depth kriteria ∆T=0,5 oC dengan sebaran tuna di Samudera Hindia bagian timur Dessy Teliandi; Otong Suhara Djunaedi; Noir Primadona Purba; Widodo Setiyo Pranowo
Depik Vol 2, No 3 (2013): December 2013
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1051.631 KB) | DOI: 10.13170/depik.2.3.978

Abstract

Abstract. The Indian Ocean has an important role in the variability of aquatic ecosystems including fisheries resource. This study was conducted to determine the relationship between Mixed Layer Depth (MLD) criterion ∆T = 0.5 oC and distribution of tuna in the Eastern Indian Ocean. The study area was situated in the Eastern Indian Ocean at the coordinate 100 – 120oE dan 5 – 20oS. The data MLD criterion ∆T = 0.5 oC as well as data distribution and tuna catches which processed in the seasonal period were used in this study. Visualization result showed that the variation of MLD based on the depth value was inversely related to MLD variation based on temperature. MLD variations indicated that the depth of the shallowest MLD on the West Monsoon and deepest on the East Monsoon, while the highest temperature of MLD was recorded in Transitional Monsoon 1 and the lowest in Transitional Monsoon 2. The most widespread distribution of tuna were in Eastern Monsoon and the narrowest in Transional Monsoon 1. MLD variation relations with tuna catches have seen fairly high correlation of Pearson correlation value of 0.891 for tuna catches with depth MLD correlation and -0.927 for tuna catches correlation with temperature MLD.Keywords : Mixed Layer Depth (MLD); ∆T = 0.5 oC; Temperature; Depth; TunaAbstrak. Samudera Hindia merupakan salah satu perairan yang memiliki peranan penting dalam variabilitas ekosistem perairan termasuk didalamnya sumberdaya perikanan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan Mixed Layer Depth (MLD) kriteria ∆T = 0,5 oC dengan sebaran Tuna di Samudera Hindia bagian Timur. Wilayah kajian penelitian ini adalah perairan Samudera Hindia bagian Timur dengan koordinat 100 – 120oBT dan 5 – 20oLS. Data yang digunakan adalah data MLD kriteria ∆T = 0,5 oC berdasarkan suhu dan kedalamannya, serta data sebaran dan tangkapan Tuna yang diolah dalam periode musiman. Hasil visualisasi menunjukkan bahwa variasi MLD berdasarkan kedalaman memiliki nilai berbanding terbalik dengan variasi MLD berdasarkan suhu. Variasi MLD menunjukkan bahwa kedalaman MLD paling dangkal berada pada Musim Barat yakni berkisar antara 22 – 60 dbar dan paling dalam berada pada Musim Timur dengan nilai berkisar antara 60 – 100 dbar, sedangkan suhu MLD tertinggi berada pada Musim Peralihan 1 yakni 28,5 – 29,5 oC dan terendah pada Musim Peralihan 2 dengan nilai berkisar antara 23 – 29 oC. Sebaran Tuna paling luas berada pada Musim Timur dan paling sempit berada pada Musim Peralihan 1. Hubungan variasi MLD dengan hasil tangkapan Tuna memiliki korelasi cukup tinggi yang terlihat dari nilai korelasi Pearson sebesar +0,891 untuk korelasi tangkapan Tuna dengan kedalaman MLD dan -0,927 untuk korelasi hasil tangkapan Tuna dengan suhu MLD.Kata kunci : Mixed Layer Depth; ∆T = 0,5 oC; Suhu; Kedalaman; Tuna
PEMBELAJARAN PENANGANAN SAMPAH LAUT DI DI PULAU SERIBU DAN SEKITARNYA Zuzy Anna; Noir Primadona Purba; Ibnu Faizal; Lantun Paradhita Dewanti
Jurnal Berdaya Vol 2, No 2 (2022): Desember-Jurnal of Berdaya
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/job.v2i2.43573

Abstract

Pulau Seribu merupakan salah satu destinasi wisata penting di Provinsi DKI Jakarta. Sebagai salah satu kabupaten kepulauan, Pulau Seribu mempunyai tantangan terutama pada aspek pengelolaan sampah. Saat ini, pengelolaan sampah masih bersifat pengelolaan sentris dimana pengelolaannya diserahkan kepada pemerintah daerah. Disisi lain terdapat LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang mempunyai inisiatif agar sampah dapat bermanfaat bagi masyarakat. Untuk itu, kegiatan ini dimulai dari mengindentifikasi beberapa lokasi sampah di pulau Pramuk dan sekitarnya yang kemudian melakukan sharing knowledge dengan LSM penggiat sampah. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman bagaimana pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Hasil menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat Pulau Pramuka terhadap penanganan sampah mulai meningkat ditandai dengan adanya Rumah Literasi Hijau. Tempat tersebut menjadi salah satu lembaga yang didirikan oleh warga di Pulau Pramuka yang memiliki pengelolaan sampah lokal. Proses yang dilakukan mulai dari penyadaran terhadap pemilahan dan pengumpulan sampah bagi masyarakat sampai kepada pengolahan sampah menjadi bahan bakar. Hal ini menjadi Langkah konkret yang melibatkan partisipasi masyarakat. Pada kondisi luas dan skala yang lebih besar, dapat terus dilakukan sebagai upaya penanggulangan timbulan sampah di pulau tersebut.
PERSEPSI MASYARAKAT TERKAIT ISU SAMPAH PADA EKOSISTEM DAN PERAIRAN DI KECAMATAN MUARA GEMBONG Ibnu Faizal; Noir Primadona Purba; Alexander M.A. Khan; Alfinna Yebelanti
Jurnal Berdaya Vol 1, No 1 (2021): Juni-Jurnal of Berdaya
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/job.v1i1.33344

Abstract

Saat ini, isu pencemaran laut yang diakibatkan oleh sampah antropogenik sudah menjadi tantangan global. Sampah yang ditemukan di kolom air, pantai, dan sungai memberikan dampak negatif terhadap ekosistem dan biota. Tujuan riset ini adalah mengetahui persepsi masyarakat terkait dengan kondisi dan solusi pencemaran sampah di perairan Muara Gembong. Metode yang digunakan dalam penelitian terbagi menjadi tiga tahapan yakni melakukan diskusi terhadap masyarakat dan pemangku kepentingan lokal, Kemudian melakukan wawancara dengan masyarakat dan pihak pengelola sampah tradisional, dan ketiga dengan melakukan survei inventarisasi sampah di sekitar ekosistem dan sungai. Persepsi masyarakat terkait sampah yang ditemukan di muara sungai dan ekosistem menunjukkan bahwa sumber sampah berasal dari aktivitas masyarakat sekitar dan hulu sungai. Sampah yang ditemukan pada ekosistem pesisir yaitu mangrove diindikasikan berasal dari wilayah Karawang atau perairan di bagian utara. Selain itu, menurut masyarakat bahwa sampah di wilayah tersebut juga berasal dari Jakarta (selatan Muara Gembong) dan sungai-sungai lainnya. Kondisi oseanografi Teluk Jakarta juga berpengaruh terhadap distribusi sampah, seperti arus, angin, dan pasang surut. Solusi yang ditawarkan yaitu dengan perbaikan infrastuktur seperti pembuatan tempat sampah terpadu. Kemudian adanya regulasi dan aturan serta edukasi terkait pengelolaan sampah. Masyarakat juga menginginkan adanya pelatihan pengolahan sampah sehingga dapat meningkatkan ekonomi. Secara umum masyarakat lokal Muara Gembong mengetahui dampak kerusakan alam dan kerugian sosial ekonomi yang terus terjadi serta menjadikan perbaikan sistem infrastruktur dan edukasi menjadi kunci utama solusi permasalahan sampah laut. Di sisi lain, peran serta masyarakat dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan penanganan sampah.
Variasi sebaran suhu dan klorofil-a akibat pengaruh Arlindo terhadap distribusi ikan cakalang di Selat Lombok Andry Nugroho Setiawan; Yayat Dhahiyat; Noir Primadona Purba
Depik Vol 2, No 2 (2013): August 2013
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.2.2.723

Abstract

Abstract. The movement ofthewater mass affected Indonesian waters characterisicaretraversedbyIndonesian Throughflow which one of them in Lombok Strait. This study conductedtodetermine Indonesian Throughflow effectagainsttemperature distribution,chlorophyll-a variation and also distribution ofskipjackin theLombokStrait in 2008. The studyarealocated atcoordinate115˚E-116˚Eand8˚S-9˚S. The dataused weretemperature, chlorophyll-a, sea surfacecurrentsandalsosupported withskipjackcatches data. Visualizationresultshowed westseason,seasurface temperaturehigh enough withranged between26.62-31.12oC andchlorophyll-a concentrationby0.05596-0.9778mg(m-3)-1withthe current directiontend to lead to the northeastwith a speed ranged of0.0250-0.4439ms-1. In thefirsttransitiontemperature ofthe seasurfaceslightlydecreasedrangedbetween26.77-30.30oC andfollowed by arise chlorophyll-a concentrationby0.07302-0.7324mg(m-3)-1withthe current directiontend to leadto the eastwith a speed ranged0.0640-0.8123ms-1. In the east season,seasurfacetemperaturewas quitelow,ranged from24.30-29.33oC andfollowedwithan increased chlorophyll-a concentrationby0.1491-0.9897mg(m-3)-1 withthe current directiontend to leadto the southeastwith a speed ranged by0.4351-1.1813 ms-1. In thesecondtransition, seasurfacetemperature rised back withranged25.12-31.05oC andfollowed bydecreased concentration ofchlorophyll-a by0.09565-0.9456mg(m-3)-1withthe current directiontend to leadto the southeastwith a speed ranged by0.1129-0.7336ms-1. The relationship betweentemperatureandchlorophyll-a resultshowedvariationbutona warmtemperatureandfairlyhigh chlorophyll-a, catchedarehigh enoughinSeptember-November.Keywords: Indonesian Throughflow; Lombok Strait; Skipjack Abstrak.Pergerakan ARLINDO yang melalui perairan Indonesia berpengaruh pada karakteristik perairan di timur Indonesia dimana salah satunya adalah Selat Lombok. Kajian ini menekankan pengaruh Arlindo terhadap variasi sebaran suhu dan klorofil-a terhadap hasil tangkapan ikan cakalang di Selat Lombok pada periode tahun 2008. Data yang digunakan yaitu suhu, klorofil-a, arus permukaan dan hasil tangkapan ikan cakalang. Hasil visualisasi menunjukkan pada musim barat, suhu permukaan lautnya cukup tinggi yaitu berkisar 26,62-31,12oC dan konsentrasi klorofil-a sebesar 0,056-0,978mg (m-3)-1 dengan arah arus cenderung ke timur laut dengan kecepatan 0,0250-0,4439 m/detik. Pada musim peralihan I suhu permukaan lautnya sedikit mengalami penurunan yaitu berkisar 26,77-30,30oC dan dan diikuti dengan kenaikan konsentrasi klorofil-a sebesar 0,073-0,732mg (m-3)-1 dengan arah arus cenderung ke timur dengan kecepatan 0,0640-0,8123 m/detik. Pada musim timur suhu permukaan lautnya cukup rendah yaitu berkisar 24,30-29,33oC dan dan diikuti dengan kenaikan konsentrasi klorofil-a sebesar 0,149-0,989mg (m-3)-1 dengan arah arus ke tenggara dengan kecepatan 0,4351-1,1813 m/detik. Pada musim peralihan II suhu permukaan lautnya kembali naik yaitu berkisar 25,12-31,05oC dan dan diikuti dengan penurunan konsentrasi klorofil-a sebesar 0,096-0,946mg (m-3)-1 dengan arah arus ke tenggara dengan kecepatan 0,1129-0,7336 m/detik. Hubungan antara suhu dan klorofil-amenunjukkan adanya variasi akan tetapi pada suhu yang hangat dan klorofil-a yang cukup tinggi terdapat hasil tangkapan yang cukup tinggi yaitu pada bulan September-November.Kata kunci : Arlindo; Selat Lombok;  Ikan Cakalang 
Hubungan variabilitas mixed layer depth kriteria ∆T=0,5 oC dengan sebaran tuna di Samudera Hindia bagian timur Dessy Teliandi; Otong Suhara Djunaedi; Noir Primadona Purba; Widodo Setiyo Pranowo
Depik Vol 2, No 3 (2013): December 2013
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.2.3.978

Abstract

Abstract. The Indian Ocean has an important role in the variability of aquatic ecosystems including fisheries resource. This study was conducted to determine the relationship between Mixed Layer Depth (MLD) criterion ∆T = 0.5 oC and distribution of tuna in the Eastern Indian Ocean. The study area was situated in the Eastern Indian Ocean at the coordinate 100 – 120oE dan 5 – 20oS. The data MLD criterion ∆T = 0.5 oC as well as data distribution and tuna catches which processed in the seasonal period were used in this study. Visualization result showed that the variation of MLD based on the depth value was inversely related to MLD variation based on temperature. MLD variations indicated that the depth of the shallowest MLD on the West Monsoon and deepest on the East Monsoon, while the highest temperature of MLD was recorded in Transitional Monsoon 1 and the lowest in Transitional Monsoon 2. The most widespread distribution of tuna were in Eastern Monsoon and the narrowest in Transional Monsoon 1. MLD variation relations with tuna catches have seen fairly high correlation of Pearson correlation value of 0.891 for tuna catches with depth MLD correlation and -0.927 for tuna catches correlation with temperature MLD.Keywords : Mixed Layer Depth (MLD); ∆T = 0.5 oC; Temperature; Depth; TunaAbstrak. Samudera Hindia merupakan salah satu perairan yang memiliki peranan penting dalam variabilitas ekosistem perairan termasuk didalamnya sumberdaya perikanan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan Mixed Layer Depth (MLD) kriteria ∆T = 0,5 oC dengan sebaran Tuna di Samudera Hindia bagian Timur. Wilayah kajian penelitian ini adalah perairan Samudera Hindia bagian Timur dengan koordinat 100 – 120oBT dan 5 – 20oLS. Data yang digunakan adalah data MLD kriteria ∆T = 0,5 oC berdasarkan suhu dan kedalamannya, serta data sebaran dan tangkapan Tuna yang diolah dalam periode musiman. Hasil visualisasi menunjukkan bahwa variasi MLD berdasarkan kedalaman memiliki nilai berbanding terbalik dengan variasi MLD berdasarkan suhu. Variasi MLD menunjukkan bahwa kedalaman MLD paling dangkal berada pada Musim Barat yakni berkisar antara 22 – 60 dbar dan paling dalam berada pada Musim Timur dengan nilai berkisar antara 60 – 100 dbar, sedangkan suhu MLD tertinggi berada pada Musim Peralihan 1 yakni 28,5 – 29,5 oC dan terendah pada Musim Peralihan 2 dengan nilai berkisar antara 23 – 29 oC. Sebaran Tuna paling luas berada pada Musim Timur dan paling sempit berada pada Musim Peralihan 1. Hubungan variasi MLD dengan hasil tangkapan Tuna memiliki korelasi cukup tinggi yang terlihat dari nilai korelasi Pearson sebesar +0,891 untuk korelasi tangkapan Tuna dengan kedalaman MLD dan -0,927 untuk korelasi hasil tangkapan Tuna dengan suhu MLD.Kata kunci : Mixed Layer Depth; ∆T = 0,5 oC; Suhu; Kedalaman; Tuna