Articles
Pancasila Sebagai Alternatif Solusi Ideologi Era Postmodern
Sihombing, Edy Syahputra;
David Michael Setyadarma
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 4 No 02 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/jsh.v4i02.7962
The postmodern era, as described by Jean-François Lyotard, is characterized by a deep paradigm of relativism, where truth and values are seen not as absolute but contingent upon perspectives and contexts. After World War II, the world was divided into two major ideological forces, Liberalism and Communism, which competed in the Cold War for global dominance. Although, after the Cold War, Liberalism was deemed relevant to the post-conflict world, various debates indicate that this ideology is not fully capable of addressing the challenges posed by relativism in the postmodern era. In this context, this study employs a qualitative approach with a literature review method to explore the relevance of Pancasila as an alternative solution to the complexities of postmodern relativism. The author argues that Pancasila, with its inclusive and universal values, offers an ideology that can provide stability and integration in a society that is increasingly plural and fragmented.
Peran Roh Kudus Sebagai Allah yang Personal di dalam Gereja
Sihombing, Edy Syahputra
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 35 No. 1 (2019)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (276.463 KB)
|
DOI: 10.26593/mel.v35i1.4033.40-56
The Holy Spirit in Christianity is portrayed as God who exists actively through human experiences. The presence of the Holy Spirit who dwells in human’s heart is a unique presence of one of the Persons of the Trinity. However, the Holy Spirit’s presence in human experiences is not always identified as the ‘Person’ of God. Here the language of dogmatic theology might not be clear and inspiring to Christians to recognise the unique presence of the Holy Spirit in their hearts and in the living of faith in the Church. There is a need to contemplate the aspects of human personal experience of the Holy Spirit in relation to the theological language of the Persons in Trinity so that the faithful may discern the presence of the Holy Spirit in their lives. It is therefore important that in theological discussions about the Holy Spirit there is an awareness to view the need of ‘translating’ theological language into simpler language of catechism. In order that the faithful are able to identify the presence and the works of the Holy Spirit in experiences, in prayer, and in the life of faith, catechetical language about the Holy Spirit should bring more images related to human experience.
MENUMBUHKAN TOLERANSI BERAGAMA: PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT KAMPUNG TOLERANSI DI LENGKONG KECIL, BANDUNG
Sihombing, Edy Syahputra;
Mahardhika, Adi Putera;
Indra, Alessandra Amayra Mahisa Putri;
Maryke, Michelle Regina;
Fatimah, Nurula;
Sopamena, Enriko Yosua B.
Amare Vol. 4 No. 1 (2025): Januari - Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52075/34waet66
Toleransi di negara Indonesia merupakan salah satu sumber energi persatuan. Toleransi atau tolerare dalam bahasa Latin dapat diartikan sebagai menahan diri serta bersikap sabar dan memiliki hati yang lapang saat menghadapi perbedaan pendapat. Definisi toleransi merupakan suatu keadaan yang pada hakikatnya ada dalam diri seseorang serta masyarakat dalam rangka memenuhi tujuan kebaikan hidup bersama. Indonesia sebagai negara yang yang ditandai dengan keragaman agama tidak lepas dari ancaman sikap intoleransi. Sikap intoleransi tampak dalam konflik dan pengekangan atas kebebasan beragama terhadap kelompok tertentu dari oknum tertentu. Situasi tersebut membuat relasi masyarakat yang berbeda agama ditandai dengan keurigaan, ketakutan dan rasa tidak aman. Masalah tersebut menjadikan situasi masyarakat tidak kondusif. Maka menjadi penting untuk setiap masyarakat Indonesia bisa menerapkan toleransi sebagai suatu prinsip dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Pengabdian ini dilakukan untuk mengkonstruksi kembali pengalaman warga-warga serta pelopor dari tempat ibadah Kampung Toleransi yang berlokasi di Gang Ruhana, Bandung, Jawa Barat. Harapan dari hasil pengabdian ini dapat berkontribusi membangun kesadaran bahwa toleransi merupakan hal yang sangat penting sebagai pedoman bagi setiap masyarakat untuk saling menghargai harkat martabat manusia dan menjadi kekuatan relasi sosial di lokasi tersebut. Kesimpulannya, toleransi akan berdampak positif bagi seluruh kehidupan masyarakat Indonesia.
Pancasila sebagai Landasan Filosofis Hukum Negara Indonesia: Refleksi di tengah Carut-marut Permasalahan Hukum di Indonesia
Sihombing, Edy Syahputra;
Sutarno, Alfonsus;
Sitepu, Robertus Reno
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 5 No 01 (2025)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/jsh.v5i01.9560
Tulisan ini adalah respon kritis dan reflektif terhadap situasi implementasi hukum di Indonesia yang cenderung digunakan demi kepentingan politik partisan. Pancasila sebagai nilai filosofis dan ideologi negara Indonesia tentu menjadi dasar dan sumber nilai pelaksanaan hukum, namun dalam beberapa kasus yang terjadi belakangan ini, prinsip tersebut tampak terkikis. Fenomena tersebut tampak dalam hukum yang cenderung digunakan sebagai fungsi instrumentalisasi dan pragmatis untuk mengalahkan lawan politik atau juga melanggengkan dominasi kekuasaan. Fenomena tersebut berpotensi menciptakan apatisme masyarakat terhadap proses penegakan hukum sehingga kehilangan kepercayaan terhadap aparat penegak hukum. Tulisan ini dikaji dengan menggunakan pendekatan filosofis, mengkaji aspek yuridis normatif dengan analisis dan respon terhadap kebijakan dan keputusan hukum, dan pendekatan kritis dengan mempertimbangkan dimensi historis, ideologis, dan sosiologis dalam struktur hukum Indonesia Melalui studi literatur. Penelitian ini penting untuk memperluas wawasan literasi dan diskusi mengenai evaluasi ideologis dalam praktik hukum Indonesia khususnya yang berkaitan dengan nilai Pancasila. Selain itu, untuk memperluas wawasan demi menegaskan marwah nilai hukum yang mempunyai ruh dan integritas dalam nilai Pancasila.
Kritik Ekologis: Evaluasi Keberhasilan Program Kolam Konservasi di Kawasan Sempadan Sungai Cikapundung
Camila, Camila;
Sihombing, Edy Syahputra
Jurnal Administrasi dan Kebijakan Publik Vol. 8 No. 1 (2023): April
Publisher : Laboratorium Administrasi Publik FISIP Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jakp.8.1.61-74.2023
ABSTRACT Preservation of the environment with the concept of conservation is one part of the science of ecology. Land use in the riparian area or watershed area is one of the conservation areas needed to fulfill the environmental sustainability of water areas. The purpose of this study was to evaluate the conservation pond program carried out in the Cikapundung watershed, Kampoeng Tjibarani. By collecting data through observation, interviews, and studies of policy literature governing the management and development of project development in watersheds. Based on data collection and analysis of descriptive data that has been carried out, it was found that there were several factors for the failure of this program (1) non-functional land use, (2) unsustainable program and management (3) did not meet the standards and criteria for development policies on regional land River flow . With restoration using the ecopark concept, conservation ponds can be a new breakthrough for management and development of watershed land in accordance with land functional and standards and criteria for management and development of watershed land. Keywords: watershed; preservation of the environment; ecopark ABSTRAK Pelestarian lingkungan dengan konsep konservasi termasuk salah satu bagian dari ilmu ekologi. Pemanfaatan lahan di kawasan sempadan sungai atau Daerah Aliran Sungai (DAS) termasuk salah satu konservasi yang dibutuhkan untuk memenuhi kelestarian lingkungan kawasan air. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi program kolam konservasi yang dilakukan di kawasan sempadan sungai Cikapundung, Kampoeng Tjibarani. Dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi literatur kebijakan yang mengatur pengelolaan dan pembangunan pembangunan proyek di DAS. Berdasarkan pengumpulan data dan analisis data deskriptif yang telah dilakukan, ditemukan bahwa ada beberapa faktor kegagalan program ini (1) pemanfaatan lahan yang tidak fungsional, (2) program dan pengelolaan yang tidak berkelanjutan, dan (3) tidak memenuhi standar dan kriteria kebijakan pembangunan di lahan DAS. Dengan pemugaran yang menggunakan konsep ecopark, kolam konservasi dapat menjadi terobosan baru untuk pengelolaan dan pengembangan lahan DAS sesuai dengan fungsional lahan dan standar serta kriteria pengelolaan dan pengembangan lahan DAS. Kata kunci : daerah aliran sungai; pelestarian lingkungan; ecopark
Peran Gereja Dalam Membangun Komunikasi Sosial Melalui Terang Dekrit Inter Mirifica
Sihombing, Edy Syahputra;
Gumilar, Jhonas Fandi;
Daslan, Marianus
FOCUS Vol. 5 No. 1 (2024): Focus
Publisher : Parahyangan Catholic University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/focus.v5i1.7771
Kehidupan manusia saat ini ditandai dengan perkembangan teknologi media komunikasi sosial yang semakin canggih. Kemajuan teknologi media komunikasi sosial memberikan kemudahan dalam membangun komunikasi sosial juga membangun relasi satu sama lain dan sebagai media untuk ajaran iman. Gereja Katolik melihat konteks tersebut menjadi peluang dan menunjukkan antusiasme menyambut berbagai inovasi teknologi yang dapat digunakan sebagai sarana melakukan pelayanan spiritual bagi umat beriman. Akan tetapi, melalui wawancara, survei kepada beberapa umat Katolik, studi kepustakaan dan studi literatur yang relevan, serta observasi terhadap media komunikasi sosial yang digunakan untuk pelayanan Gereja, penulis menemukan bahwa berbagai aplikasi media sosial seperti pisau bermata dua yang dapat berdampak positif dan negatif. Tulisan ini membahas tanggapan Gereja Katolik melalui dekrit Inter Mirifica terhadap perkembangan teknologi sebagai media komunikasi. Melalui tulisan ini dikatakan bahwa pandangan Gereja Katolik terhadap perkembangan teknologi sebagai media komunikasi bernada optimis. Oleh sebab itu, penulis menawarkan rekomendasi bagi pelaksana pastoral agar dapat menggunakan media komunikasi sosial sebagai sarana yang efektif dalam pewartaan Gereja.
IDENTIFIKASI NASIONALISME PADA KARYA KOIL DAN PAS BAND MELALUI PENDEKATAN DIALEKTIKA PEMAHAMAN DAN PENJELASAN MENURUT PAUL RICOEUR
Ajie, Sophan;
Sihombing, Edy Syahputra;
Kurniasih, Kurniasih
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36312/jcm.v4i1.1340
This research aims to identify the interpretation of nationalism from the songs "Reality in the World Fantasy" by the music group Koil and Impresi by the "Pas Band" through the dialectic of interpreting displayed in the songs of the two bands. In addition, this study seeks to find the correlation of Pas Band and Koil's works with social reality to find out the philosophical impact obtained from the listeners, so that through them they can observe the understanding of the musical appreciator nationalism of the two bands who are also Indonesian citizens. The study uses Paul Ricoeur's hermeneutic theory in interpreting text (lyrics) and constructed aesthetic attributes such as screaming, video clips, relevant art work, and reactions of appreciators who listen to songs from Koil and Pas Band musical works. The research method is a qualitative description that takes an inventory of the works of the two bands and Paul Riseour's hermeneutic literature as secondary data. The results of this study are expected to find the meaning of nationalism that is stored in the works of Koil and Pas Band, as well as identify the nationalism of the music appreciators, the majority of whom are the younger generation as agents of the future and are responsible for the relay of the process of developing a nationalist mentality in order to maintain the unity of Indonesia.
Peran Roh Kudus Sebagai Allah yang Personal di dalam Gereja
Sihombing, Edy Syahputra
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 35 No. 1 (2019)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/mel.v35i1.4033.40-56
The Holy Spirit in Christianity is portrayed as God who exists actively through human experiences. The presence of the Holy Spirit who dwells in human’s heart is a unique presence of one of the Persons of the Trinity. However, the Holy Spirit’s presence in human experiences is not always identified as the ‘Person’ of God. Here the language of dogmatic theology might not be clear and inspiring to Christians to recognise the unique presence of the Holy Spirit in their hearts and in the living of faith in the Church. There is a need to contemplate the aspects of human personal experience of the Holy Spirit in relation to the theological language of the Persons in Trinity so that the faithful may discern the presence of the Holy Spirit in their lives. It is therefore important that in theological discussions about the Holy Spirit there is an awareness to view the need of ‘translating’ theological language into simpler language of catechism. In order that the faithful are able to identify the presence and the works of the Holy Spirit in experiences, in prayer, and in the life of faith, catechetical language about the Holy Spirit should bring more images related to human experience.
Pancasila Sebagai Alternatif Solusi Ideologi Era Postmodern
Sihombing, Edy Syahputra;
David Michael Setyadarma
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 4 No 02 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/jsh.v4i02.7962
The postmodern era, as described by Jean-François Lyotard, is characterized by a deep paradigm of relativism, where truth and values are seen not as absolute but contingent upon perspectives and contexts. After World War II, the world was divided into two major ideological forces, Liberalism and Communism, which competed in the Cold War for global dominance. Although, after the Cold War, Liberalism was deemed relevant to the post-conflict world, various debates indicate that this ideology is not fully capable of addressing the challenges posed by relativism in the postmodern era. In this context, this study employs a qualitative approach with a literature review method to explore the relevance of Pancasila as an alternative solution to the complexities of postmodern relativism. The author argues that Pancasila, with its inclusive and universal values, offers an ideology that can provide stability and integration in a society that is increasingly plural and fragmented.
Pancasila sebagai Landasan Filosofis Hukum Negara Indonesia: Refleksi di tengah Carut-marut Permasalahan Hukum di Indonesia
Sihombing, Edy Syahputra;
Sutarno, Alfonsus;
Sitepu, Robertus Reno
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 5 No 01 (2025)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26593/jsh.v5i01.9560
Tulisan ini adalah respon kritis dan reflektif terhadap situasi implementasi hukum di Indonesia yang cenderung digunakan demi kepentingan politik partisan. Pancasila sebagai nilai filosofis dan ideologi negara Indonesia tentu menjadi dasar dan sumber nilai pelaksanaan hukum, namun dalam beberapa kasus yang terjadi belakangan ini, prinsip tersebut tampak terkikis. Fenomena tersebut tampak dalam hukum yang cenderung digunakan sebagai fungsi instrumentalisasi dan pragmatis untuk mengalahkan lawan politik atau juga melanggengkan dominasi kekuasaan. Fenomena tersebut berpotensi menciptakan apatisme masyarakat terhadap proses penegakan hukum sehingga kehilangan kepercayaan terhadap aparat penegak hukum. Tulisan ini dikaji dengan menggunakan pendekatan filosofis, mengkaji aspek yuridis normatif dengan analisis dan respon terhadap kebijakan dan keputusan hukum, dan pendekatan kritis dengan mempertimbangkan dimensi historis, ideologis, dan sosiologis dalam struktur hukum Indonesia Melalui studi literatur. Penelitian ini penting untuk memperluas wawasan literasi dan diskusi mengenai evaluasi ideologis dalam praktik hukum Indonesia khususnya yang berkaitan dengan nilai Pancasila. Selain itu, untuk memperluas wawasan demi menegaskan marwah nilai hukum yang mempunyai ruh dan integritas dalam nilai Pancasila.