Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Hubungan Perilaku Kesehatan terhadap Karies Gigi Kriteria ICDAS di Desa Melahing Kota Bontang Denti Diastuti; Masyhudi Masyhudi; Krispinus Duma
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 6 No. 02 (2024): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v6i02.115

Abstract

Karies gigi menjadi bukti tidak terjaganya kondisi gigi dan mulut masyarakat, dengan prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia, mencapai 48% di Provinsi Kalimantan Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki keterkaitan antara prilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan insiden karies pada penduduk Desa Melahing Kota Bontang. Metode yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, dilakukan di Desa Melahing Kota Bontang. Jumlah populasi adalah 261 orang, dengan sampel sebanyak 72 orang yang telah memberikan persetujuan melalui informed consent. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner dan melalui pemeriksaan klinis rongga mulut menggunakan kriteria ICDAS untuk mengukur kedalaman karies. Hasil analisis data menggunakan uji chi square pada SPSS versi 26 menunjukkan bahwa perilaku kesehatan gigi dan mulut masyarakat mayoritas dikategorikan sebagai buruk (72,2%), dan tingkat kejadian karies email di Desa Melahing mencapai 59,7%. Berdasarkan uji chi square, ditemukan hubungan yang signifikan antara perilaku kesehatan gigi dan mulut dengan karies gigi pada masyarakat Desa Melahing Kota Bontang, dengan nilai p = 0,035 (p < 0,05) dan odds Ratio sebesar 3,7. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara prilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan kejadian karies di Desa Melahing Kota Bontang; di mana individu yang memiliki prilaku yang kurang baik memiliki risiko 3,7 kali lebih tinggi mengalami karies email dibandingkan dengan mereka yang memiliki prilaku yang baik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Hubungan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) dengan Kejadian Diare pada Bayi Usia 6-24 Bulan di Puskesmas Temindung Samarinda: Relationship of Complementary Feeding with the Incidence of Diarrhea in Infants Aged 6-24 months at Temindung Community Health Center in Samarinda Mahasti Irsa Cahyandiar; Siti Khotimah; Krispinus Duma
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2021): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v3i3.326

Abstract

Hingga saat ini masalah diare pada pada anak masih menjadi masalah di dunia. Menurut data, terdapat 535 ribu orang menderita penyakit Diare tiap tahunnya. Diare menjadi penyebab kematian kedua di dunia khususnya anak dibawah usia 5 tahun. Terdapat berbagai macam penyebab diare pada anak diantaranya adalah akibat pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian MPASI meliputi frekuensi pemberian MPASI, porsi pemberian MPASI, jenis MPASI dan cara pemberian MPASI dengan kejadian diare pada bayi usia 6-24 bulan di Puskesmas Temindung Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan case-control. Jumlah responden yang berhasil dikumpulkan pada penelitian ini sebanyak 60 responden dan dibagi menjadi 30 responden kelompok kasus (bayi yang terkena diare) dan 30 kelompok kontrol (bayi yang tidak terkena diare). Data responden diambil melalui wawancara orang tua responden dengan mengunakan kuisioner. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square dan jika nilai harapan kurang dari 5 maka uji yang digunakan adalah uji fisher’s exact. Hasil penelitian ini didapatkan hubungan antara frekuensi MPASI (p= 0.003), porsi MPASI (p= 0.008), dan cara pemberian MPASI (p=0,000) dengan kejadian diare. Pada penelitian ini tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara jenis MPASI dengan kejadian diare (p= 0.166).
Implementasi Manajemen Risiko Berdasarkan ISO 31000:2009 pada Program Perawatan Mesin di Area Workshop PT. X Sari Delima Fitri; Dina Lusiana Setyowati; Krispinus Duma
Faletehan Health Journal Vol 6 No 1 (2019): Faletehan Health Journal, Maret 2019
Publisher : Universitas Faletehan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33746/fhj.v6i1.40

Abstract

Machine maintenance programs in workshop area are high risk working units in terms of work accidents. This research purpose was to explore implementation of risk management based on ISO 31000:2009 of machine maintenance program in workshop area. This research was a qualitative research according to ISO 31000:2009. The informants in this research were head workshop as main informant, maintenance department head as key informant and worker in workshop as supporting informant. The engine maintenance program in the workshop area consists of 3 work stages namely fabrication, assembly and service (finishing). The results showed that from hazard identification results found physical hazard, chemical hazard, biological hazard, ergonomic hazard and psychological hazard. Risk analysis results were not found to be hazards with extreme risk, 3 dangers on the level of high risk, 13 dangers in the level of moderate risk hazards and 11 dangers in the level of low risk. Forms of risk treatment is in the initial treatment using risk mitigation methods for each of the risks faced, then the next treatment includes risk transfer, avoiding risk and accepting risks. Based on the result of a defined risk treatment, the recommendation or treatment of possible risks is an effective control measure and appropriate treatment in dealing with various possible risks.
Intervention on the impact of exposure to PM2.5 air pollution on airway clearance of asthma sufferers through chest physiotherapy Sholichin Sholichin; Endang Sawitri; Eva Rachmi; Sri Wahyuningsih; Krispinus Duma; Ratna Kusuma; Ika Fikriah; Daniel Tarigan
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 9 No. 3 (2026): Volume 9 Number 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v9i3.2807

Abstract

Background: Exposure to PM2.5 air pollution is a major risk factor for exacerbations and decreased lung function in asthmatics. The World Health Organization has declared air pollution a global health emergency. Fine PM2.5 particles trigger oxidative stress, chronic inflammation, and impaired airway clearance, which exacerbate airway obstruction. Purpose: Analyzing the effectiveness of chest physiotherapy in improving airway clearance in asthma patients exposed to PM2.5. Method: Using a pretest-posttest design, this study compared Peak Expiratory Flow (PEF) values ​​in the first week as a baseline, with values ​​recorded in the second and third weeks after chest physiotherapy intervention. The Wilcoxon test was used to analyze differences in PEF values ​​over time. Results: Analysis showed a significant increase in PEF values ​​between the first and second weeks (Z = -6.88, p < 0.00) and between the first and third weeks (Z = -7.51, p < 0.00). The majority of participants showed an increase in PEF, with positive ratings of 72 in the second week and 75 in the third week, indicating improved airway clearance after the intervention. Conclusion: Chest physiotherapy effectively improves airway clearance and ventilation function in asthma sufferers exposed to PM2.5, thus having the potential to become an applicable and sustainable non-pharmacological, environmentally based nursing intervention.