Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

POLA KOMUNIKASI KESEHATAN MASYARAKAT PEDESAAN DI JAWA TIMUR Tatag Handaka; Dessy Trisilowaty; Hetti Mulyaningsih
Sosiohumaniora Vol 18, No 1 (2016): SOSIOHUMANIORA, MARET 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.455 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v18i1.9359

Abstract

Pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan di pedesaan Jawa Timur masih rendah, khususnya kesehatan jamban/kakus. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah fasilitas jamban/kakus tidak sehat (unimproved) yang masih banyak. Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan dan Puskesmas sudah melakukan berbagai strategi komunikasi untuk menyampaikan pesan kesehatan. Promosi kesehatan ini dilakukan oleh petugas Puskesmas melalui komunikasi antar personal, komunikasi kelompok dan komunikasi massa. Penelitian tentang pola komunikasi ini dapat dijadikan dasar bagi institusi kesehatan (Dinkes/Puskesmas) untuk menyampaikan pesan kesehatan agar lebih efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola komunikasi kesehatan masyarakat pedesaan di Jawa Timur. Teori yang digunakan adalah teori komunikasi kesehatan. Metode penelitianyang digunakan adalah studi kasus eksploratif dengan paradigma konstruktivisme (constructivism paradigm). Paradigma dan metode ini digunakan untuk menemukan pemahaman individu atas realitas sosial yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari (socially meaningful action). Temuan penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi antar personal petugas Puskesmas dengan penduduk biasanya dilakukan di rumah, Posyandu dan PKK. Pola komunikasi kelompok dilakukan petugas Puskesmas dengan penduduk di pertemuan PKK, Posyandu,pengajian, tahlilan, istighasah dan warung kopi. Pola komunikasi massa lebih banyak dilakukan melalui media radio, poster, pamflet, brosur, leaflet, buku dan media pertunjukkan tradisional (ludruk dan tayub). Kesimpulan penelitian adalah Dinkes/Puskesmas bisa menggunakan pola komunikasi secara terpisah, tapi bisa juga semua pola komunikasi diintegrasikan untuk menyampaikan pesan kesehatan.
Pengalaman Komunikasi Penyintas Gangguan Mental Dalam Menghadapi Stigma Sosial M Robit Bilhaq; Sri Wahyuningsih; Dessy Trisilowaty; Retno Hendariningrum
Jurnal Ilmu Komunikasi dan Bisnis Vol 11 No 2: April 2026
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/8ydn4b78

Abstract

Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan, Madura mencatat sebanyak 150 orang mengalami gangguan mental dengan 31 di antaranya berada dalam fase pemulihan. Di tengah proses pemulihan tersebut, penyintas masih menghadapi kuatnya stigma sosial dari lingkungan sekitarnya yang ditunjukkan melalui pelabelan seperti “tidak waras”, pengucilan sosial, dan diskriminasi dalam interaksi sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman komunikasi penyintas gangguan mental dalam menghadapi stigma sosial di Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan, Madura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Informan ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi yang dianalisis menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyintas menghadapi empat bentuk stigma yaitu pelabelan, stereotip, pemisahan sosial, dan diskriminasi. Dalam merespon stigma tersebut, penyintas menggunakan pengalaman komunikasi verbal berupa klarifikasi diri dan sikap diam, serta komunikasi nonverbal berupa respons agresif dan pembuktian diri melalui tindakan produktif. Temuan ini menunjukkan bahwa penyintas tidak hanya menjadi objek stigma, tetapi juga aktor aktif yang melakukan manajemen identitas dalam interaksi sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kajian komunikasi stigma dalam konteks masyarakat kolektivistik serta menjadi dasar bagi penguatan intervensi komunikasi berbasis komunitas dalam isu kesehatan mental.
Peran Komunikasi Terapeutik Kader Desa Terhadap Peningkatan Kesejahteraan Psikologis Orang Dengan Gangguan Jiwa Di Desa Blumbungan Ummu Fadila Ulfa; Sri Wahyuningsih; Dessy Trisilowaty; Retno Hendariningrum
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 11 No 2 (2026): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: . The background of the study stems from limited access to mental health services in rural areas and the high stigma against ODGJ. Objective: to explore the role of therapeutic communication by village cadres in improving the psychological well-being of ODGJ in Blumbungan Village, Pamekasan. Methods: The study used a descriptive qualitative approach with in-depth interviews with cadres, ODGJ, families, and community leaders. Results: .The results showed that cadres implemented therapeutic communication through empathy, active listening, emotional validation, and motivation. The therapeutic communication of village cadres, characterized by empathy, trust, honesty, validation, and concern, contributed to improving the psychological well-being of ODGJ. From the perspective of George Herbert Mead's Symbolic Interactionism, this interaction helps shape a more positive self-meaning and increases social acceptance. This strategy increases openness, self-confidence, and self-acceptance of ODGJ and reduces the emotional burden on families. In addition, cadres serve as liaisons with formal health services. However, communication is sometimes accompanied by social control approaches such as intimidation, which is considered relevant in the Madurese cultural context. Conclusion: The study concluded that therapeutic communication by village cadres contributes significantly to psychosocial recovery, while also emphasizing the need for ongoing training and policy support.