Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Potensi lahan pertanian bagi pengembangan palawija di Lampung Muchjidin Rachmat
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 5, No 1-2 (1987): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v5n1-2.1987.31-37

Abstract

IndonesianTulisan ini melihat potensi lahan, pengusahaan dan kendala pengembangan palawija di propinsi Lampung. Potensi lahan bagi pengembangan palawija di propinsi Lampung cukup besar berupa lahan kering dan lahan sawah. Pengusahaan palawija sebagian besar (91,08 persen) masih dilakukan pada lahan kering, sedangkan peranan lahan sawah baru 8,92 persen. Dari potensi lahan sawah yang tersedia, baru 7,14 persen yang dimanfaatkan bagi pengusahaan palawija melalui usaha diversifikasi. Pengalaman petani dan aparat penyuluh tentang budidaya palawija lahan sawah masih rendah. Hambatan teknis yang menonjol adalah tentang pengelolaan irigasi - drainase pertanaman palawija tersebut.
Pengusahaan Gula Kelapa sebagai suatu alternatif pendayagunaan kelapa: Studi kasus di Kabupaten Ciamis dan Blitar Muchjidin Rachmat
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1991): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v9n1.1991.18-26

Abstract

IndonesianGula kelapa sebagai salahsatu gula merah berperan dalam industri makanan, baik di tingkat industri rumahtangga, industri kecil sampai skala besar. Peluang pasar gula merah/kelapa sangat terbuka baik pasar dalam negeri maupun pasar ekspor. Pengusahaan gula kelapa tetap berkembang, namun masih terbatas di Jawa dan di beberapa daerah dimana masyarakatnya berasal dari Jawa dan terutama pada daerah dimana kesempatan kerja alternatif relatif terbatas. Pendayagunaan kelapa untuk gula kelapa berkembang terutama dengan merosotnya harga kopra dan kelapa segar. Di pedesaan, pengusahaan gula kelapa merupakan kegiatan keluarga, cukup berperan dalam memberikan nilai tambah dari kelapa dan sumber pendapatan keluarga. Dari kasus di kabupaten Ciamis dan Blitar pengusahaan gula kelapa dapat memberikan pendapatan antara Rp 1680,- sampai Rp 5140,- perhari bagi pemilik kelapa dan antara Rp 1919,- sampai Rp 3460,- perhari bagi buruh sadap. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan gula kelapa adalah dalam memproduksinya, yaitu (a) terbatasnya tenaga kerja yang mau menyadap, (b) sistem pasar gula merah, dan (c) ketersediaan bahan bakar. Kemungkinan pendayagunaan kelapa unggul/genjah seperti kelapa hibrida yang relatif lebih mudah disadap merupakan salahsatu alternatif dalam pengembangan gula merah. Dukungan penelitian kearah tersebut sangat diperlukan.
Kesempatan kerja dan prospek ketenagakerjaan dalam pengembangan tebu di Jawa Muchjidin Rachmat
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 9, No 2-1 (1992): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v9n2-1.1992.30-39

Abstract

IndonesianTulisan ini melihat keragaan situasi ketenagakerjaan di pedesaan dikaitkan dengan aktivitas budidaya dan pengembangan tebu di Jawa. Data dasar kajian berasal dari Studi Panel TRI di Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan walaupun kesempatan kerja di pertanian menonjol, aktivitas di luar pertanian telah berkembang. Perkembangan tersebut di daerah tebu sejalan dengan sejarah pengenalan tebu di daerah tersebut. Terjadinya transformasi tenaga kerja dari pertanian ke non pertanian telah membawa masalah dalam ketersediaan tenaga kerja di pertanian (usahatani) sehingga mempengaruhi aktivitas budidaya tebu. Dengan demikian cara budidaya Reynoso yang saat ini masih merupakan standar budidaya tebu (lahan beririgasi) perlu dimodifikasi sejalan dengan perkembangan ketersediaan tenaga kerja mendatang. Penerapan mekanisasi dalam budidaya tebu sawah sudah selayaknya mendapat perhatian lebih. Dalam kaitan ini pabrik gula dapat berperan dalam menstimulir tumbuhnya mekanisasi di usahatani tebu. Pemakaian alat mekanis pada tebu disamping padi (pangan) yang selama ini berkembang akan lebih merangsang tumbuhnya mekanisasi di pedesaan. Dan berkembangnya mekanisasi pertanian di pedesaan tersebut akan berdampak ganda disamping mengatasi masalah ketenagakerjaan, juga akan menarik kembali minat teanga kerja yang lebih berkualitas di sektor pertanian serta menumbuhkan aktivitas sektor penunjangnya. Untuk mendukung perkembangan mekanisasi di tebu tersebut masih diperlukan dukungan aktivitas penelitian kearah tersebut terutama dalam penciptaan teknologi seperti rancang bangun alat mekanis, temuan varitas dan teknologi budidaya yang mendukung pemakaian alat mekanis.
Percepatan Pembangunan Pangan Menuju Pencapaian Ketahanan Pangan yang Mandiri dan Berdaulat Muchjidin Rachmat
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v33n1.2015.1-17

Abstract

EnglishSuccessful development has been demonstrated by an increase in food production and food supply. But the success was not followed by a reduction in food insecurity. Number of food-insecure population is still large and likely to increase. Law 18/2012 on Food mandates establishment of an independent food security and sovereignty. The goal is to increase production and food self-sufficiency. It also aims to improve food diversity and to meet safety, quality, and requirement. Food security should also be competitive in both domestic and international markets. The challenge is to optimize food production resources, management of decentralization and global environment. It is necessary to accelerate food development through enhancing more distributed, diverse food production. It is also carried out through development of food and local food culture, food production system modernization, food trade management, and strengthening public food reserves. IndonesianPembangunan pangan telah menunjukkan keberhasilannya seperti dalam peningkatan produksi dan penyediaan komoditas pangan. Namun keberhasilan tersebut tidak diikuti oleh penurunan tingkat kerawanan pangan masyarakat. Jumlah penduduk rawan pangan masih cukup besar dan bahkan cenderung meningkat. UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan mengamanatkan dibangunnya ketahanan pangan yang mandiri dan berdaulat, dengan sasaran peningkatan kemampuan produksi dan kecukupan penyediaan pangan secara mandiri, menyediakan pangan yang beraneka ragam dan memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan gizi bagi konsumsi masyarakat, dan meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas pangan di pasar dalam negeri dan luar negeri. Tantangan mewujudkan ketahanan pangan yang mandiri dan berdaulat berkaitan dengan peningkatan produksi, manajemen pembangunan pangan sejalan pelaksanaan otonomi daerah dan pengaruh dinamika lingkungan global. Diperlukan akselerasi pembangunan pangan melalui peningkatan produksi pangan yang lebih menyebar dan beragam, pengembangan pangan dan budaya pangan lokal, modernisasi sistem produksi pangan, pengelolaan perdagangan pangan, dan penguatan cadangan pangan masyarakat.
Perspektif pengembangan agribisnis udang tambak Indonesia: Studi kasus di Propinsi Jawa Barat nFN Saptana; Muchjidin Rachmat; nFN Hermanto
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1994): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v12n2.1994.11-23

Abstract

IndonesianKomoditas udang merupakan salahsatu komoditas pertanian penting yang ditunjukkan oleh meningkatnya ekspor udang Indonesia di pasar internasional dari tahun ke tahun. Namun dewasa ini, dari penelitian di lapang menunjukkan bahwa udang yang dikelola secara ekstensif dan intensif menghadapi berbagai kendala yang berat, dan praktis banyak yang berjatuhan karena kegagalan dan kekurangan modal. Hasil analisis usaha tambak per hektar pada berbagai cara pengusahaan di Jawa Barat dengan R/C ratio menunjukkan bahwa usaha tambak intensif tidak layak diusahakan dengan nilai R/C ratio 0,97, usaha tambak semi intensif dan tradisional layak diusahakan dengan nilai R/C 1,60 dan 1,80. Dari hasil analisis margin pemasaran, besarnya marjin pemasaran Rp 5.680/kg (36,22 persen), yang terdiri dari biaya pemasaran 90 persen dan keuntungan pelaku tataniaga 10 persen. Sementara itu pangsa pasar yang diterima petani mencapai 63,7 persen dari harga jual ekportir. Tulisan ini ingin mengungkap keragaan dan permasalahan usaha tambak udang dan pemasarannya. Disamping itu juga akan diungkap perkembangan ekspor dan harga udang, serta kendala Indonesia dalam memasok pasar udang internasional.
Agribisnis Kelapa Rakyat di Indonesia: Kendala dan Prospek Aladin Nasution; Muchjidin Rachmat
Forum penelitian Agro Ekonomi Vol 10, No 2-1 (1993): Forum Penelitian Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/fae.v10n2-1.1993.19-28

Abstract

IndonesianPengembangan komoditas kelapa menghadapi kendala besar terutama persaingan dengan sumber minyak/lemak lain terutama sawit. Permasalahan menjadi menonjol mengingat penanganan komoditas kelapa menyangkut jutaan rumahtangga petani yang terlibat. Tulisan ini melihat keragaan, kendala dan prospek agribisnis kelapa di Indonesia, sebagai hasil studi di Sulawesi Utara, Jawa Barat dan Jawa timur, pada bulan Juni sampai Agustus 1990. Hasil studi menunjukkan penggunaan kelapa saat ini sebagian besar diperuntukkan bagi industri minyak kelapa, baik melalui bahan baku kopra maupun langsung dari kelapa segar, dan permasalahan timbul dalam industri hilir tersebut menyangkut permintaan dan persaingan dalam industri minyak kelapa/goreng tersebut. Upaya efisiensi industri perlu ditingkatkan agar dapat lebih bersaing, menyangkut lokasi industri, keterpaduan antara sektor usahatani dan industri pengolahan dan efisiensi dalam tataniaga bahan baku. Dengan semakin beratnya persaingan dengan sumber dengan sumber minyak lain dimasa mendatang maka diperlukan diversifikasi produk pemanfataan kelapa untuk tidak sepenuhnya tergantung kepada hasil kopra dan minyak kelapa. Upaya diversifikasi dapat dilakukan baik dalam pemanfaatan produk buah kelapa seperti pembuatan kelapa parut kering, santan awet, juga diversifikasi dalam pemanfaatan kelapa seperti pengembangan gula kelapa, industri dan gula kayu kelapa, tempurung, sabut dan air kelapa. Upaya untuk memperkuat posisi kelapa dan  sisi usahatani juga masih diperlukan seperti perlunya peremajaan kelapa tua, pengembangan kelapa unggul terutama jenis kelapa dalam dan pengembangan tanaman sela/tumpangsari bernilai tinggi.
Prospek Swasembada Kedelai Indonesia Selfsufficiency Prospect of Soybean in Indonesia Kaman Nainggolan; Muchjidin Rachmat
JURNAL PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v23i1.53

Abstract

Kedelai merupakan salah satu komoditi strategis nasional, karena perannya sebagai sumber pendapatan, lapangan kerja, pembangunan perdesaan dan sumber gizi masyarakat Indonesia. Selama ini kinerja agribisnis kedelai kurang menggembirakan yang ditunjukkan oleh laju peningkatan produksi yang stagnan dan impor yang terus meningkat. Kedelai produksi domestik kurang mampu bersaing dengan kedelai impor dan pada tingkat usahatani kedelai relatif tidak dapat bersaing dengan komoditi pangan lain. Pada kondisi demikian kedelai di Indonesia menjadi tanaman yang kurang diminati petani, diusahakan pada lahan sub optimal dengan tingkat penerapan teknologi seadanya. Sebagai komoditas strategis sudah selayaknya kedelai mendapat perhatian lebih besar dan ditunjukkan dengan adanya komitmen pengembangannya melalui program khusus peningkatan produksi kedelai. Melalui program khusus tersebut dirancang program jangka pendek dan jangka menengah peningkatan produksi kedelai. Program khusus tersebut mencakup kegiatan perluasan areal, peningkatan produktivitas dan kebijakan harga, didukung oleh infrastruktur yang memadai. Peluang untuk peningkatan produksi dan mencapai swasembada masih cukup terbuka setelah tahun 2014 sesuai dengan potensi yang ada. Keberhasilan swasembada sangat tergantung kepada komitmen bersama terutama pemerintah untuk melaksanakan program terobosan tersebut.Soybean is one of national strategic commodities because of its important role as a source of income, job creation, rural development, and nutricious source. So far the performance of soybean agribusiness is not very promising as reflected by relatively stagnant production growth and increasing import over time. Domestic product cannot compete with imported product, and domestic soybean agribusiness cannot compete with other food commodities. At the present condition, soybean is planted at sub-optimal land using inadequate technology. As a strategic commodity, strong committment should be dedicated to promote soybean. This committment should be formulated in a special program to boost soybean production. Short-term and middleterm programs to increase soybean production need to be designed by considering various factors such as acreage expansion and location, productivity improvement through technology and price policy, supported by adequate infrastructure.There is an open opportunity to achieve self-sufficiency beyond 2014, and in order to do that strong committment is required especially government policy to realize the target.