Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PERWUJUDAN SIMBOLISME LANSEKAP SITIHINGGIL UTARA KERATON SURAKARTA HADININGRAT Rully Rully
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 14 No. 18 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lansekap pada Sitihinggil Utara memiliki penataan yang terencana (planting design) sehingga tujuan perencanaan kawasan tersebut dapat tercapai, yaitu melalui aura yang diwujudkannya.  Menurut GPH Poeger, tanaman di Sitihinggil Utara memiliki makna simbolis dan kekuatan gaib yang dipancarkannya, semua penanaman pohon di Keraton Surakarta adalah atas perintah raja,setelah mendapat petunjuk dari Tuhan, tujuan penanamannya untuk mendapatkan kekuatan gaib, yang dipancarkan oleh tanaman tersebut, yang berguna untuk menyelaraskan, menyeimbangkan, dan melindungi dari pengaruh buruk agar tidak masuk ke dalam Keraton. Pembahasan mengenai lansekap pada Sitihinggil Utara pada penelitian ini dibatasi pada hard material dan soft material atau tanaman yang mempunyai makna simbolis dan peran, serta waktu penanaman yang relatif lama. Komponen ruang luar pada Sitihinggil Utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadingrat berupa soft material atau tanaman dan hard material berupa penempatan beberapa meriam secara hirarki memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan bangunan-bangunannya , komponen-komponen tersebut merupakan perwujudan pendukung makna simbolis utama Sitihinggil Utara serta aura magis yang ditimbulkan oleh bangunan inti dan bangunan penunjangnya.
TERJADINYA DEGRADASI KUALITAS KAWASAN CAGAR BUDAYA KRATON KASUNANAN SURAKARTA HADININGRAT AKIBAT KERANCUAN ATURAN PENATAAN BANGUNAN RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 13 No. 17 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya kawasan yang berpotensi di Indonesia belum dikelola secara baik, sebagian peraturan yang ada masih bersifat peraturan secara umum, sehingga belum mampu berfungsi sebagai alat pengendali pada tingkat operasional di lapangan. Kenyataan tersebut disebabkan oleh desain kota/kawasan yang masih lebih bersifat dua dimensi dan penjelmaannya menjadi tiga dimensi, tidak lagi berskala kota atau kawasan tetapi lebih kepada pekerjaan individu dalam bentuk kapling. Disamping itu pranata-pranata pembangunan yang telah dipunyai oleh masing-masing Daerah (RIK, RDTK, RTRK dan sebagainya) sifatnya masih umum, dan walaupun telah dapat digunakan sebagai acuan untuk kawasan yang khusus sulit sekali dalam penerapannya dilapangan, oleh karena itu upaya penanganannya tidak mungkin dapat dilaksanakan tanpa melalui peraturan yang mampu menjangkau ke arah pengendalian arsitektur bangunan secara tiga dimensional. Dari hasil penelitian: Peran Peraturan Bangunan Khusus dalam Meminimalisir Degradasi Kualitas Kawasan Cagar Budaya diperoleh gambaran tentang menurunnya kualitas kawasan cagar budaya oleh beberapa masalah yang salah satunya adalah belum adanya panduan baku rancangan khusus yang menjembatani pembangunan fisik di Kawasan Cagar Budaya Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tersebut.
PERAN PERATURAN BANGUNAN KHUSUS DALAM MENGURANGI PERUBAHAN KUALITAS KAWASAN CAGAR BUDAYA KRATON YOGYAKARTA RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 24 No. 1 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.265 KB) | DOI: 10.36728/jtsa.v24i1.822

Abstract

Pada umumnya kawasan yang berpotensi di Indonesia belum dikelola secara baik, sebagian peraturan masih bersifat peraturan secara umum, tetapi belum berfungsi sebagai alat pengendali operasional di lapangan, sehingga diperlukan peraturan yang mampu menjangkau ke arah pengendalian arsitektur bangunan secara tiga dimensional. Penyusunan peraturan bangunan khusus merupakan rancangan pengendalian bangunan kawasan yang diperlukan setelah adanya rencana tata ruang kota, untuk mewujudkan tertib bangunan agar sesuai dengan karakteristik bangunan setempat, pengaturan keselamatan bangunan yang bertujuan agar setiap bangunan dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Pengembangan obyek pariwisata diperlukan langkah yang terpadu untuk menjaga kelestarian dan mutu lingkungan hidupnya, kota Yogyakarta dengan beraneka ragam arsitekturnya dan kawasan wisata yang banyak berperan dalam menyerap wisatawan, akan berdampak pada peningkatan kualitas bangunan dimasa  datang dan aktifitas pariwisatanya. Dari masalah tersebut kawasan Cagar Budaya Kraton Yogyakarta sudah memerlukan adanya suatu peraturan bangunan khusus sebagai alat pengendali pembangunan fisik.
PENGARUH SUNGAI BENGAWAN SOLO TERHADAP SEJARAH PERKEMBANGAN KOTA SURAKARTA WAHYU PRABOWO; RULLY RULLY
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 21, No 2 (2020): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v21i2.371

Abstract

Abstrak Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo yang bermata air di Wonogiri dan bermuara hingga ke laut Jawa ini memiliki panjang kurang lebih 600 km dan memiliki 2200 anak sungai yang mengalir ke berbagai daerah baik di sebagian Provinsi Jawa Tengah hingga ke sebagian Provinsi Jawa Timur. Dalam sejarahnya daerah aliran sungai merupakan lokasi yang vital bagi arus transpotasi menuju ke daerah – daerah pedalaman, mengingat pada jaman dahulu transportasi air merupakan sarana transportasi utama dari hulu sungai menuju hilir sungai, pun juga sebaliknya. Hal ini menyebabkan daerah yang memiliki komoditi lokal, mempersiapkan sebuah fasilitas berupa dermaga (bandar) guna menunjang proses bongkar muat atau jual-beli komoditi di daerah tersebut. Dermaga-dermaga inilah yang kemudian menjadi embrio sebuah perkembangan kota baik dari segi perekonomian, sosial, dan kultural di daerah-daerah tersebut, khususnya kota Surakarta. Surakarta yang merupakan daerah hulu dan mempunyai kerajaan pada saat itu, menjadi obyek vital dalam proses ekspedisi daerah aliran sungai bengawan solo. Hal ini mempengaruhi perkembangan kota Surakarta menjadi kota yang lebih variatif dari segi kultural dan lebih maju dari segi ekonomi jika dibandingkan dengan daerah-daerah sekitarnya. Kata kunci: daerah aliran sungai; bengawan solo,; sejarah,; perkembangan kota
ANALISIS POTENSI SUNGAI KAMPUNG BATIK LAWEYAN SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN PARIWISATA KOTA RULLY RULLY; BAMBAN YUUWONO
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 21, No 2 (2020): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v21i2.370

Abstract

AbstractThe city of Surakarta as a cultural city has several areas that are unique and have historical heritage requirements, one of these areas is Kampung Batik Laweyan, where there are still many ancient buildings and is one of the oldest batik-producing micro-industrial villages in Surakarta. The development of the batik tradition in Laweyan is supported by the existence of the Bengawan tributaries (Pelemwulung river and Jenes river), making it a source of water and water transportation infrastructure. Analysis of the potential of the Laweyan Batik Village area has been widely developed, but studies on the potential of the Laweyan river from the aspect of urban tourism are still minimal. The discussion guidelines that will be used in this research are: identifying the drainage system around the river, community activities around the river, Law no. 63 of 1993 regarding the benefits of river and river area boundaries, and the potential and tourism activities in urban areas. Recommendations for natural irrigation systems for area development activities should provide protection for river basins so that the riverbanks function optimally. Based on observations in the Kampung Batik Laweyan River Area, the development around the river, the function of the river as a natural irrigation system, was not responded optimally. From the analysis of this research, it is found that the Kampung Batik Laweyan area still has a natural river environment and is still suitable for use as a river border according to Law number 63 of 1993. So that the border area can be used as a tourism activity. Analysis of river potential is based on the concept of conservation and revitalization. An analytical presentation of the Laweyan river resources produces many alternative natural tourism activities. The response that should be done is to take strategic planning steps, pilot activities, monitor and assess through integrated activities with local communities, related agencies, academics and the city government.Keywords: Potential Laweyan river; City tourism AbstrakKota Surakarta sebagai kota budaya memiliki beberapa kawasan yang memiliki keunikan dan syarat akan peninggalan sejarah  , salah satu kawasan tersebut adalah Kampung Batik Laweyan, di kampung tersebut   masih banyak terdapat bangunan kuno dan  merupakan salah satu kampung industri mikro penghasil kerajinan batik tertua di Surakarta.     Berkembangnya komoditas tradisi batik di Laweyan didukung oleh keberadaan anak sungai Bengawan (sungai Pelemwulung dan sungai Jenes), menjadikannya sumber air dan prasarana transportasi air. Analisis mengenai potensi kawasan Kampung Batik Laweyan telah banyak dikembangkan, namun kajian mengenai potensi sungai Laweyan dari aspek parwisata kota masih minim diobservasi. Pedoman pembahasan yang akan dipakai pada penelitian ini adalah : mengidentifikasi sistem drainase di sekitar sungai, kegiatan masyarakat di sekitar sungai, Undang-undang No. 63 tahun 1993 tentang manfaat garis sempadan sungai dan daerah sungai, dan potensi dan kegiatan wisata di kawasan perkotaan. Rekomendasi sistem pengairan alami terhadap  aktifitas pembangunan kawasan sebaiknya memberi proteksi terhadap daerah aliran sungai agar kawasan tepian sungai berfungsi optimal. Berdasarkan observasi di Kawasan Sungai Kampung Batik Laweyan pembangunan  di sekitar sungai tersebut fungsi sungai sebagai sistem pengairan alami tidak direspon secara optimal. Dari analisis penelitian ini diperoleh temuan kawasan Kampung Batik Laweyan masih memiliki lingkungan alami sungai dan masih layak digunakan sebagai sempadan sungai sesuai Undang-undang nomor 63 tahun 1993. Sehingga di kawasan sempadan tersebut dapat di fungsikan sebagai kegiatan pariwisata. Analisis potensi sungai didasarkan atas konsep konservasi dan revitalisasi. Pemaparan analisa dari sumber daya sungai Laweyan menghasilkan banyak  alternatif  aktifitas wisata alam. Respon yang sebaiknya dilakukan adalah melakukan langkah strategis perencanaan, kegiatan percontohan, memantau dan menilai melalui keterpaduan aktifitas bersama masyarakat setempat, instansi terkait, akademisi dan pemerintah kota. Kata kunci: Potensi sungai Laweyan; Pariwisata kota
PERWUJUDAN SIMBOLISME TATA HIJAU SITIHINGGIL UTARA KERATON SURAKARTA HADININGRAT PADA ASPEK PERANCANGAN ARSITEKTUR Rully Rully
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12A (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumbuhan yang ditanam pada Sitihinggil Utara memiliki penataan yang terencana (planting design) sehingga tujuan perencanaan kawasan tersebut dapat tercapai, yaitu melalui aura yang diwujudkannya.  Menurut GPH Poeger, tanaman di Sitihinggil Utara memiliki makna simbolis dan kekuatan gaib yang dipancarkannya, semua penanaman pohon di Keraton Surakarta adalah atas perintah raja,setelah mendapat petunjuk dari Tuhan, tujuan penanamannya untuk mendapatkan kekuatan gaib, yang dipancarkan oleh tanaman tersebut, yang berguna untuk menyelaraskan, menyeimbangkan, dan melindungi dari pengaruh buruk agar tidak masuk ke dalam Keraton. Pembahasan mengenai tata hijau pada Sitihinggil Utara pada penelitian ini dibatasi pada tanaman yang mempunyai makna simbolis dan peran serta waktu penanaman yang relatif lama. Komponen ruang luar pada Sitihinggil Utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadingrat berupa tata hijau, secara hirarki memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan bangunan-bangunannya , komponen-komponen tersebut merupakan perwujudan pendukung makna simbolis utama Sitihinggil Utara serta aura magis yang ditimbulkan oleh bangunan inti dan bangunan penunjangnya
PERAN PENDAMPINGAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PADA KAWASAN KRATON SURAKARTA SEBAGAI BAGIAN DARI UPAYA MEMINIMALISIR DEGRADASI KUALITAS KAWASAN CAGAR BUDAYA RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 18 No. 22 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyusunan peraturan bangunan khusus merupakan rancangan pengendalian bangunan kawasan yang diperlukan setelah adanya rencana tata ruang pada kota dimaksud. Kegiatan penyusunan peraturan bangunan khusus dimaksudkan untuk mewujudkan tertib bangunan, sehingga dapat berjalan tertib dan lancar sesuai dengan karakteristik bangunan setempat, pengaturan keselamatan bangunan yang bertujuan agar setiap bangunan dapat memberikan keselamatan, keamanan dan kenyamanan bagi penghuninya, mendukung keselarasan dan keseimbangan lingkungannya. Kedudukan masyarakat yang bergiat pada lingkungan permukiman pada Kawasan Cagar Budaya Kraton Surakarta perlu diarahkan agar mampu memberi nilai positif sebagai bagian yang menentukan dalam upaya meminimalisir degradasi kualitas kawasan cagar budaya, melalui pendampingan dalam penatan bangunan dan lingkungan permukiman.
KERANCUAN ATURAN PENATAAN BANGUNAN SEBAGAI PENYEBAB TERJADINYA DEGRADASI KUALITAS KAWASAN CAGAR BUDAYA KAWASAN KRATON YOGYAKARTA RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 12 No. 16 (2012): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya kawasan yang berpotensi di Indonesia belum dikelola secara baik, sebagian peraturan yang ada masih bersifat peraturan secara umum, sehingga belum mampu berfungsi sebagai alat pengendali pada tingkat operasional di lapangan. Kenyataan tersebut disebabkan oleh desain kota/kawasan yang masih lebih bersifat dua dimensi dan penjelmaannya menjadi tiga dimensi, tidak lagi berskala kota atau kawasan tetapi lebih kepada pekerjaan individu dalam bentuk kapling. Disamping itu pranata-pranata pembangunan yang telah dipunyai oleh masing-masing Daerah (RIK, RDTK, RTRK dan sebagainya) sifatnya masih umum, dan walaupun telah dapat digunakan sebagai acuan untuk kawasan yang khusus sulit sekali dalam penerapannya dilapangan, oleh karena itu upaya penanganannya tidak mungkin dapat dilaksanakan tanpa melalui peraturan yang mampu menjangkau ke arah pengendalian arsitektur bangunan secara tiga dimensional. Dari hasil penelitian: Peran Peraturan Bangunan Khusus dalam Meminimalisir Degradasi Kualitas Kawasan Cagar Budaya diperoleh gambaran tentang menurunnya kualitas kawasan cagar budaya oleh beberapa masalah yang salah satunya adalah belum adanya panduan baku rancangan khusus yang menjembatani pembangunan fisik di Kawasan Cagar Budaya Kraton Yogyakarta tersebut.
PERWUJUDAN SIMBOLISME SITIHINGGIL UTARA KERATON KASUNANAN SURAKARTA HADININGRAT (Analisis pada Aspek Arsitektur Secara Makro) RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 11 No. 15 (2012): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sitihinggil Utara (Lor) Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merupakan salah satu bagian wilayah Paseban Lor (Utara) pada Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dalam media budaya orang Jawa, simbolisme merupakan media untuk menguraikan atau menggambarkan sesuatu. Simbolisme dalam budaya Jawa sangat menonjol peranannya dalam religi, tradisi/adat istiadat dan ilmu pengetahuan. Aspek arsitektur adalah pandangan terhadap wujud arsitektur. Di dalam aspek fisik arsitektur antara lain terdiri dari :  tata bangunan, orientasi bangunan, denah, dinding dan bukaan, atap, sistem struktur, ornamen dan ragam hias, bahan bangunan yang digunakan, sumbu/axis. Dalam ungkapan fisik arsitektur hubungan ruang dibagi menjadi ruang di dalam ruang, ruang-ruang yang saling berkaitan, ruang-ruang yang bersebelahan, ruang-ruang yang dihubungkan oleh sebuah ruang bersama, Berdasarkan analisa konsep tata letak bangunan Sitihinggil Utara ditinjau dari aspek perancangan arsitekturnya aura magis pada Sitihinggil Utara terwujud pada orientasi bangunan-bangunannya yang menuju ke arah pusat (Bangsal Sewayana). Sehingga bangunan yang merupakan pusat orientasi tersebut mempunyai nilai kesakralan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bangunan-bangunan yang lain disekitarnya. Hubungan ruang atau wilayah yang terdapat pada Sitihinggil Utara saling berkaitan, keraton menggambarkan proses perjalanan hidup manusia menuju kesempurnaan hidup dan menuju ke alam baka.
KETAATAN TERHADAP REGULASI KOEFISIEN DASAR BANGUNAN SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMINIMALISIR TERJADINYA DEGRADASI KUALITAS LINGKUNGAN KOTA SURAKARTA RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 17 No. 21 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap kota akan dihadapkan pada kondisi yang akan menunjukkan bahwa ketersediaan lahan untuk menjadi lahan terbangun akan semakin terbatas, hal ini yang akan menjadi melatar-belakangi perlunya ketaatan regulasi terhadap koefisien dasar bangunan agar kualitas lingkungan tetap dapat terjaga dengan baik dan lestari. Permsalahannya menjadi semakin meningkat terjadi pada beberapa koridor jalan potensial yang ada di setiap kota, menyebabkan beberapa kegiatan investasi yang semakin marak berkembang, mencoba untuk dapat merancang setiap bangunan dengan memaksimalkan setiap bagian lahan yang telah diakuisisi, dapat memberi nilai lebih terhadap perhitungan ekonomis (sebagai bentuk upaya investasi yang menguntungkan). Tujuan yang dari penelitian ini adalah diperolehnya upaya untuk mensiasati dilakukan dalam kegiatan perancangan dan pembangunan, dengan mengambil celah pada setiap peraturan yang telah ditetapkan dalam Regulasi tentang Tata Bangunan dan Lingkungan yang berlaku pada setiap bagian kawasan dapat terjaga dengan baik. Metoda penelitian yang digunakan sebagai upaya untuk dapat merunut secara terstruktur aspek-aspek data, analisis, dan hasil yang ingin diperoleh dari kegiatan penelitian yang disusun berdasarkan hipotesis: prediksi atas dis-sinkronisasi pemanfaatan ruang yang dapat menyebabkan terjadinya degradasi kualitas lingkungan (hidup maupun binaan) pada suatu kota, dengan mengambil kasus Kota Surakarta, yang diorientasikan pada pembuktian dari hipotesis yang diajukan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah tersusunnya rancang-bangun dengan memaksimalkan ruang terbangun, dan meminimalkan ruang terbuka (termasuk di dalamnya berbagai ketentuan tentang keberadaan ruang terbuka hijau dan ketetapan tentang upaya yang harus dilakukan dalam menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup dan lingkungan terbangunnya. Bagi Kota Surakarta yang menjadi kasus dari penelitian ini, melalui kebijakan dari Dinas Tata Ruang Kota (DTRK), Tim Ahli Bangunan  Gedung (TABG) menjadi kunci strategis dalam mengawali setiap kegiatan rancang-bangun di Kota Surakarta agar tetap dapat menjaga berbagai kriteria dalam penataan bangunan dan lingkungan, sesuai dengan Ijin Peruntukan Ruang (IPR) untuk setiap usulan kegiatan perancangan bangunan gedung, khususnya yang diprakirakan akan memberi dampak yang signifikan bagi kepentingan aktivitas masyarakat di Kota Surakarta.