Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

MERENCANAKAN DAN MERANCANG RUMAH TINGGAL YANG OPTIMAL RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 15 No. 19 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah tinggal bagi manusia merupakan kebutuhan dasar disamping kebutuhan pangan dan sandang. Setelah manusia memenuhi kebutuhan jasmaninya berupa sandang, pangan dan kesehatan, kebutuhan akan tempat tinggal merupakan salah satu motivasi untuk pengembangan tingkatan kehidupan yang lebih tinggi lagi, dalam perkembangannya rumah tinggal tidak hanya sebagai tempat berlindung manusia dari gangguan cuaca dan hewan, namun merupakan sarana peningkatan kebanggaan dan harga diri, serta dinikmati juga keindahannya. Beragamnya tingkat ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, pendidikan dan karakter  serta subyektifitas manusia akan mempengaruhi disain rumah tinggal yang ditempatinya
PERAN PUBLIC SPACE SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENJAGA LINGKUNGAN BINAAN KOTA RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 19 No. 23 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai  bagian  dari  rencana  tata  ruang  kedudukan  public  space  akanmenjadi   penentu   keseimbangan   lingkungan   hidup   dan   lingkungan   binaan.Rencana   tata   ruang   menjadi   landasan   dalam   mengantisipasi   pesatnyaperkembangan   ruang-ruang   terbangun,  yang   harus   diikuti   dengan   kebijakanpenyediaan ruang terbuka.Latar  belakang  pemikiran  yang  digunakan  sebagai  landasan  PenelitianPeran  public space  sebagai  upaya  peningkatan  partisipasi  masyarakat  dalammenjaga   lingkungan   binaan   kota didasarkan   pada   pertimbangan   dapatterwujudnya   keseimbangan,   keserasian,   dan   keselamatan   bangunan   gedungdengan  lingkungan  di sekitarnya,  dengan  mempertimbangkan  terciptanya  ruangluar  bangunan  gedung  dan  public  space  yang  seimbang,  serasi,  dan  selarasdengan lingkungan di sekitarnya. public space juga menjadi bagian dari RencanaStrategis   Departemen   Pekerjaan   Umum 2016-2020,   sebagai   kegiatan   yangmemerlukan penanganan secara spesifik.Dari hasil penelitian diharapkan dapat tersusun rencana penyediaan danpengelolaan  public  space sehingga  dapat  terwujud  ruang  kota  yang  nyaman,produktif,   dan   berkelanjutan,   sehingga   keseimbangan   lingkungan   hidup   danlingkungan  binaan  pada  masing-masing  kawasan  dapat  terjaga  dengan  baik.Melalui   kegiatan penelitian  ini   pula Peran Public Space Sebagai UpayaPeningkatan Partisipasi Masyarakat  dalam Menjaga Lingkungan Binaan Kotadiharapkan  akan  dapat  diperoleh  arah,  bentuk,  fungsi,  dan  peran  public  spacepada  masing-masing  kawasan,  secara  menyeluruh,  baik  dalam  kedudukannyasebagai  public  space  alami:  berupa  habitat  liar  alami,  kawasan  lindung,  dantaman nasional, maupun public space non-alami atau binaan, sebagai hasil olahkarya manusia.  Sehingga  pada  tahap  berikutnya  dapat  dilakukan  identifikasiterhadap  ketersediaan  public  space  non-alami  pada  setiap  kawasan  yang  ada  disetiapkota.
PENGARUH PERUBAHAN FUNGSI PUBLIC SPACE TERHADAP KAWASAN DISEKITARNYA STUDI KASUS TAMAN BANJARSARI SURAKARTA RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 20 No. 24 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai bagian dari rencana tata ruang kedudukan public space akan menjadi penentu keseimbangan lingkungan hidup dan lingkungan binaan. Rencana tata ruang menjadi landasan dalam mengantisipasi pesatnya perkembangan ruang-ruang terbangun, yang harus diikuti dengan kebijakan penyediaan ruang terbuka, oleh sebab itu public space merupakan elemen penting keberadaannya yang tanpa disadari baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kawasan disekitarnya. Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai bagian dari penataan ruang kota perlu ditetapkan keberadaannya secara serius, direncanakan secara menyeluruh dan diperkuat dengan peraturan yang tegas untuk memperjelas status hukumnya. Latar belakang pemikiran yang digunakan sebagai landasan Penelitian Pengaruh Perubahan Fungsi Public Space terhadap Kawasan disekitarnya dengan study kasus Taman Banjarsari Surakarta didasarkan pada proses, tahapan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi dan aktifitas di kawasan Taman Banjarsari dari sejak dibangun hingga sekarang. Dari hasil penelitian diharapkan dapat diketahui bagaimana pengaruh yang ditimbulkan oleh adanya perubahan fungsi ruang terbuka publik pasif menjadi ruang terbuka publik aktif pada taman Banjarsari Surakarta terhadap kualitas kawasan di sekitarnya. Dengan demikian pengembangan dan pengelolaannya lebih terarah serta dapat menghindari perubahan fungsi Ruang Terbuka Hijau menjadi fungsi lainnya, dan mengupayakan terciptanya Kota Hijau sebagai bagian dari Ruang Terbuka Publik di kawasan perkotaan. Pada proses analisis, terdapat variabel penelitian yang dibangun dari kajian teori, yang dianalisis menggunakan metode kuantitatif rasionalistik. Temuan studi menunjukkan perubahan kualitas kawasan pemukiman di sekitar taman Banjarsari pasca perubahan fungsi dan variabel fungsi taman Banjarsari yang berpengaruh paling signifikan terhadap perubahan tersebut, yang kemudian akan ditarik menjadi kesimpulan.
PERAN UNGGULAN DAYA SAING ARSITEK DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME PADA ERA GLOBALISASI Rully Rully
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 5 No. 9.A (2008): JURNAL TEKNIL SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era Globalisasi dan liberalisasi perdagangan ditandai dengan semakin tingginya mobilitas sumberdaya manusia, modal, teknologi, dan informasi (intelectual property). Bagi Indonesia era perdagangan bebas berarti kemampuan untuk menjadikan komoditi ekspor yang memiliki unggulan daya saing tinggi (competitive advantage) dan tenaga ahli (intelectual property) Indonesia yang diharapkan mampu menjadi salah satu komoditi di pasar global, tidak terbatas untuk pasar dalam negeri, tetapi mampu menjadi experties di luar negeri. Wawasan Arsitek yang secara profesional mampu menghayati dan menuangkan ide dan gagasannya secara runtut dalam kesatuan proses pembangunan yang sistematik, diharapkan dapat menjadi modal dalam mengikuti persaingan bebas, khususnya pada proses perancangan dan rekayasa bangunan. Saat ini beragam strategi dan reposisi profesi arsitek di negara maju telah banyak dilakukan dalam menyikapi gelombang ekonomi baru yang lazim disebut kapitalisme global. Cepat atau lambat sistem ekonomi dengan pendekatan pasar bebas ini akan menjadi ancaman serius bagi bidang arsitektur di Indonesia. Hal ini dikarenakan hasil rancangan tidak cukup hanya perancangan (design) namun harus sampai pada rekayasa (engineering). Proses perancangan juga harus memperhatikan proses-proses yang mendahului maupun  akan berlangsung di depannya dalam satu kesatuan strategi dan tahapan pembangunan. Memperhatikan hal tersebut, maka masalah-masalah yang akan diteliti adalah hubungan antara wawasan Arsitek dalam menerapkan prinsip-prinsip perancangan dan rekayasa bangunan  dengan hasil rancang bangun yang mampu berperan sebagai komoditi jasa konstruksi di pasar global. Dari penelitian yang dilakukan ternyata terdapat signifikansi yang erat antara latar belakang pendidikan dengan pertimbangan perancangan, artinya seorang Arsitek profesional dengan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan ciri profesionalismenya, akan mampu memberikan pertimbangan yang lebih baik dalam setiap tahapan pembangunan
PERANCANGAN ARSITEKTUR PADA BANGSAL SEWAYANA DI SITIHINGGIL UTARA KERATON SURAKARTA HADININGRAT Rully Rully
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 10 No. 14 (2011): jurnal teknik sipil dan arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gaya arsitektur Keraton Surakarta menjadi daya tarik tersendiri diantara silsilah atau permasalahan Keraton lainnya.Kemegahan dan keunikan arsitektur Keraton Surakarta Hadiningrat sudah diakui masyarakat luas, bahkan masyarakat internasional. Gaya arsitekturnya memiliki nilai estetika yang sangat tinggi dan eksotis. Dibangun oleh Sunan Paku Buwono X tahun 1812 Jawa atau 1913 M. Lantai Bangsal Sewayana ditinggikan pada tahun Alip 1835 atau 1905 Masehi, letaknya di tengah halaman Sitihinggil. Berfungsi sebagai tempat para tamu undangan, para bangsawan, dan kerabat dalem serta abdi dalem yang akan menghadap raja (Sewa: menghadap, yana: orang). Mempunyai makna simbolis bahwa sampai di tempat ini   manusia diharapkan segera melanjutkan perjalanan menuju kesempurnaan hidup yang berorientasi pada Tuhan, hidup diibaratkan singgah untuk minum (urip hamung bebasan mampir ngombe). Pada bangsal Sewayana terbesit  suatu aturan bahwa pada waktu menghadap raja diharapkan seseorang segera mengutarakan maksudnya, dan segera untuk meninggalkan tempat tersebut. Bentuk Bangsal Sewayana yang di dalamnya terdapat Bangsal Manguntur Tangkil serta Bangsal Manguneng di dalam Bangsal Witono, memiliki bentuk berbeda-beda terutama bentuk atapnya, sehingga secara simbolis akan membedakan fungsi dan aura magis serta tingkatan efek psikologis yang berbeda-beda bagi yang ber-empati. Tata letak bangunan pada Sitihinggil Utara yang mengacu pada makna simbolis konsep penataan bangunan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang memposisikan bangunan inti berada pada pusat dari kawasannya dan merupakan pusat orientasi bangunan-bangunan disekitarnya akan menimbulkan aura magis, dan efek psikologis tertentu terhadap yang ber-empati terhadapnya.
PERWUJUDAN SIMBOLISME LANSEKAP SITIHINGGIL UTARA KERATON SURAKARTA HADININGRAT Rully Rully
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 14 No. 18 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lansekap pada Sitihinggil Utara memiliki penataan yang terencana (planting design) sehingga tujuan perencanaan kawasan tersebut dapat tercapai, yaitu melalui aura yang diwujudkannya.  Menurut GPH Poeger, tanaman di Sitihinggil Utara memiliki makna simbolis dan kekuatan gaib yang dipancarkannya, semua penanaman pohon di Keraton Surakarta adalah atas perintah raja,setelah mendapat petunjuk dari Tuhan, tujuan penanamannya untuk mendapatkan kekuatan gaib, yang dipancarkan oleh tanaman tersebut, yang berguna untuk menyelaraskan, menyeimbangkan, dan melindungi dari pengaruh buruk agar tidak masuk ke dalam Keraton. Pembahasan mengenai lansekap pada Sitihinggil Utara pada penelitian ini dibatasi pada hard material dan soft material atau tanaman yang mempunyai makna simbolis dan peran, serta waktu penanaman yang relatif lama. Komponen ruang luar pada Sitihinggil Utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadingrat berupa soft material atau tanaman dan hard material berupa penempatan beberapa meriam secara hirarki memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan bangunan-bangunannya , komponen-komponen tersebut merupakan perwujudan pendukung makna simbolis utama Sitihinggil Utara serta aura magis yang ditimbulkan oleh bangunan inti dan bangunan penunjangnya.
TERJADINYA DEGRADASI KUALITAS KAWASAN CAGAR BUDAYA KRATON KASUNANAN SURAKARTA HADININGRAT AKIBAT KERANCUAN ATURAN PENATAAN BANGUNAN RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 13 No. 17 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya kawasan yang berpotensi di Indonesia belum dikelola secara baik, sebagian peraturan yang ada masih bersifat peraturan secara umum, sehingga belum mampu berfungsi sebagai alat pengendali pada tingkat operasional di lapangan. Kenyataan tersebut disebabkan oleh desain kota/kawasan yang masih lebih bersifat dua dimensi dan penjelmaannya menjadi tiga dimensi, tidak lagi berskala kota atau kawasan tetapi lebih kepada pekerjaan individu dalam bentuk kapling. Disamping itu pranata-pranata pembangunan yang telah dipunyai oleh masing-masing Daerah (RIK, RDTK, RTRK dan sebagainya) sifatnya masih umum, dan walaupun telah dapat digunakan sebagai acuan untuk kawasan yang khusus sulit sekali dalam penerapannya dilapangan, oleh karena itu upaya penanganannya tidak mungkin dapat dilaksanakan tanpa melalui peraturan yang mampu menjangkau ke arah pengendalian arsitektur bangunan secara tiga dimensional. Dari hasil penelitian: Peran Peraturan Bangunan Khusus dalam Meminimalisir Degradasi Kualitas Kawasan Cagar Budaya diperoleh gambaran tentang menurunnya kualitas kawasan cagar budaya oleh beberapa masalah yang salah satunya adalah belum adanya panduan baku rancangan khusus yang menjembatani pembangunan fisik di Kawasan Cagar Budaya Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tersebut.
PERAN PERATURAN BANGUNAN KHUSUS DALAM MENGURANGI PERUBAHAN KUALITAS KAWASAN CAGAR BUDAYA KRATON YOGYAKARTA RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 24 No. 1 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jtsa.v24i1.822

Abstract

Pada umumnya kawasan yang berpotensi di Indonesia belum dikelola secara baik, sebagian peraturan masih bersifat peraturan secara umum, tetapi belum berfungsi sebagai alat pengendali operasional di lapangan, sehingga diperlukan peraturan yang mampu menjangkau ke arah pengendalian arsitektur bangunan secara tiga dimensional. Penyusunan peraturan bangunan khusus merupakan rancangan pengendalian bangunan kawasan yang diperlukan setelah adanya rencana tata ruang kota, untuk mewujudkan tertib bangunan agar sesuai dengan karakteristik bangunan setempat, pengaturan keselamatan bangunan yang bertujuan agar setiap bangunan dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Pengembangan obyek pariwisata diperlukan langkah yang terpadu untuk menjaga kelestarian dan mutu lingkungan hidupnya, kota Yogyakarta dengan beraneka ragam arsitekturnya dan kawasan wisata yang banyak berperan dalam menyerap wisatawan, akan berdampak pada peningkatan kualitas bangunan dimasa  datang dan aktifitas pariwisatanya. Dari masalah tersebut kawasan Cagar Budaya Kraton Yogyakarta sudah memerlukan adanya suatu peraturan bangunan khusus sebagai alat pengendali pembangunan fisik.
STRATEGI DEWAN PIMPINAN DAERAH PARTAI GERINDRA PROVINSI DKI JAKARTA PADA PEMENANGAN PEMILIHAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH (Studi Kasus Kemenangan Pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama) RULLY RULLY
JURNAL POLINTER : KAJIAN POLITIK DAN HUBUNGAN INTERNASIONAL Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.156 KB) | DOI: 10.52447/polinter.v1i2.213

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis Strategi Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerindra Provinsi DKI Jakarta Pada Pemenangan Pemilihan Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah (Studi  Kasus  Kemenangan Pasangan Joko Widodo Basuki Tjahaja Purnama). Strategi DPD Partai Gerindra Provinsi DKI Jakarta pada pemenangan pemilu Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama pada pemilihan Umum Kepala Daerah di wilayah Provinsi DKI Jakarta tahun 2012 dinyatakan cukup efektif. Keberhasilan DPD Partai Gerindra Provinsi DKI Jakarta pada pemenangan pemilu Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama pada pemilihan Umum Kepala Daerah tahun 2012, nampak pada mekanisme pemilihan umum kepala daerah di Provinsi DKI Jakarta. Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama memperoleh suara terbanyak dalam 2 kali putaran Pada Pemenangan Pemilihan Kepala Daerah tahun 2012 di Provinsi DKI Jakarta. Pada putaran 1 Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama memperoleh suara 1.847.157 suara (42.60 %) lebih banyak  dari Foke dan Nara dengan perolehan suara sebanyak 1. 476.648 suara (34. 05 %). Demikian pula Pada Pemenangan Pemilihan Kepala Daerah putaran kedua Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama memperoleh suara paling banyak yaitu 2.472.130 suara (58.82 %), lebih banyak dari Foke dan Nara yang hanya memperoleh suara 2. 120. 875 suara (46. 18 %). Kemenangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama tidak hanya karena mereka berdua sosok yang ideal sebagai pemimpin masyarakat, tetapi juga karena kerja keras DPD Partai Gerindra Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan DPD PDI Perjuangan Provinsi DKI Jakarta sebagai partai yang mengusung pasangan calon tersebut untuk menggoalkan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sebagai gubernur DKI Jakarta.   Kata Kunci: Strategi, DPD Partai Gerindra DKI, Pemilihan Kepala daerah DKI   ABSTRACT This research aims to find out and analyze A Strategy of Regional Leader Council Gerindra DKI Jakarta on Winning of Regional Head and Deputy Head of The Local(case study : The victory of the Couple Joko Widodo- Basuki Tjahaja Purnama). The Strategy of Regional Leader Council Gerindra DKI Jakarta On winning general election of Joko Widodo and Basuki Tjahaja Purnama at elections regional leader in DKI Jakarta in 2012 was declared effective. The success of the Regional Leader Council Gerindra DKI Jakarta on winning the election of Joko Widodo and Basuki Tjahaja Purnama at elections regional leader in 2012, It appears on the mechanism of the election. Joko Widodo and Basuki Tjahaja Purnama obtained the most votes in two rounds on winning the regional election in 2012 in DKI Jakarta. In the first round Joko Widodo and Basuki Tjahaja Purnama gets 1.847.157 votes (42,60%) more than Foke and Nara that gets 1.476.648 votes (34.05%). Similarly, in the second round of the elections Joko Widodo and Basuki Tjahaja Purnama gets the highest votes which is about 2.472.130 votes (58.82%), more than Foke and Nara which only gets 2.120.875 votes (46.18%). The winning of Joko Widodo and Basuki Tjahaja purnama not only because both of them are the ideal figure as leader of the community, but also because of the hard work of DPD Gerindra DKI Jakarta that collaborate with DPD PDIP DKI Jakrta as the one that carries a pair of candidates Joko Widodo and Basuki Tjahaja Purnama to push through as Governor and Deputy Governor of DKI Jakarta. Keywords : Strategy, the Regional Leader Council Gerindra DKI Jakarta, The Elections of Regional Head and Deputy Head of The Local
STRATEGI DEWAN PIMPINAN DAERAH PARTAI GERINDRA PROVINSI DKI JAKARTA PADA PEMENANGAN PEMILIHAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH (Studi Kasus Kemenangan Pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama) RULLY RULLY
JURNAL POLINTER : KAJIAN POLITIK DAN HUBUNGAN INTERNASIONAL Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.617 KB) | DOI: 10.52447/polinter.v1i2.214

Abstract

ABSTRACT This research aims to find out and analyze A Strategy of Regional Leader Council Gerindra DKI Jakarta on Winning of Regional Head and Deputy Head of The Local(case study : The victory of the Couple Joko Widodo- Basuki Tjahaja Purnama). The Strategy of Regional Leader Council Gerindra DKI Jakarta On winning general election of Joko Widodo and Basuki Tjahaja Purnama at elections regional leader in DKI Jakarta in 2012 was declared effective. The success of the Regional Leader Council Gerindra DKI Jakarta on winning the election of Joko Widodo and Basuki Tjahaja Purnama at elections regional leader in 2012, It appears on the mechanism of the election. Joko Widodo and Basuki Tjahaja Purnama obtained the most votes in two rounds on winning the regional election in 2012 in DKI Jakarta. In the first round Joko Widodo and Basuki Tjahaja Purnama gets 1.847.157 votes (42,60%) more than Foke and Nara that gets 1.476.648 votes (34.05%). Similarly, in the second round of the elections Joko Widodo and Basuki Tjahaja Purnama gets the highest votes which is about 2.472.130 votes (58.82%), more than Foke and Nara which only gets 2.120.875 votes (46.18%). The winning of Joko Widodo and Basuki Tjahaja purnama not only because both of them are the ideal figure as leader of the community, but also because of the hard work of DPD Gerindra DKI Jakarta that collaborate with DPD PDIP DKI Jakrta as the one that carries a pair of candidates Joko Widodo and Basuki Tjahaja Purnama to push through as Governor and Deputy Governor of DKI Jakarta. Keywords : Strategy, the Regional Leader Council Gerindra DKI Jakarta, The Elections of Regional Head and Deputy Head of The Local ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis Strategi Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerindra Provinsi DKI Jakarta Pada Pemenangan Pemilihan Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah (Studi  Kasus  Kemenangan Pasangan Joko Widodo Basuki Tjahaja Purnama). Strategi DPD Partai Gerindra Provinsi DKI Jakarta pada pemenangan pemilu Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama pada pemilihan Umum Kepala Daerah di wilayah Provinsi DKI Jakarta tahun 2012 dinyatakan cukup efektif. Keberhasilan DPD Partai Gerindra Provinsi DKI Jakarta pada pemenangan pemilu Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama pada pemilihan Umum Kepala Daerah tahun 2012, nampak pada mekanisme pemilihan umum kepala daerah di Provinsi DKI Jakarta. Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama memperoleh suara terbanyak dalam 2 kali putaran Pada Pemenangan Pemilihan Kepala Daerah tahun 2012 di Provinsi DKI Jakarta. Pada putaran 1 Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama memperoleh suara 1.847.157 suara (42.60 %) lebih banyak  dari Foke dan Nara dengan perolehan suara sebanyak 1. 476.648 suara (34. 05 %). Demikian pula Pada Pemenangan Pemilihan Kepala Daerah putaran kedua Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama memperoleh suara paling banyak yaitu 2.472.130 suara (58.82 %), lebih banyak dari Foke dan Nara yang hanya memperoleh suara 2. 120. 875 suara (46. 18 %). Kemenangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama tidak hanya karena mereka berdua sosok yang ideal sebagai pemimpin masyarakat, tetapi juga karena kerja keras DPD Partai Gerindra Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan DPD PDI Perjuangan Provinsi DKI Jakarta sebagai partai yang mengusung pasangan calon tersebut untuk menggoalkan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sebagai gubernur DKI Jakarta.   Kata Kunci: Strategi, DPD Partai Gerindra DKI, Pemilihan Kepala daerah DKI