Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Interpretasi Hukum Perkara Penipuan Online Modus Investasi Kajian Undang-Undang No.42/2009 dan Undang-Undang No25/2007 Alba Liliana Sanchez; Mustaqim Mustaqim; Agus Satory
Borneo Law Review Vol 4, No 2 (2020): Volume 4 No 2 Desember 2020
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/bolrev.v4i2.1714

Abstract

ABSTRACTThe rise of online fraud practices with investment mode in DKI Jakarta is influenced by 2 (two) factors, namely the community's ignorance about investment through the online platform. Other factors are not yet optimal for law enforcement to take preventative measures by informing the public about the dangers of online investment.The purpose of this research is to better understand the legal interpretation of online fraud cases with investment mode. Another goal is for the public to be more careful with online investment offers that promise multiple benefits.The research approach is the legal sociology approach. Observations indicate that law enforcement by the National Police against suspected online investment fraud has not been carried out optimally because investigators only use the articles of the Criminal Code and the ITE Law. But not using Law Number 42/2009, and Law Number 25/2007, investigators must also immediately break the chain of online fraud practices.Keywords : Legal Interpretation, Online Fraud, Investment Mode.ABSTRAKMaraknya praktek penipuan online dengan modus investasi di DKI Jakarta dipengaruhi 2 (dua) faktor yaitu faktor ketidaktahuan masyarakat perihal investasi melalui platform online. Faktor lainnya belum optimalnya penegak hukum untuk melakukan langkah pencegahan dengan mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai bahayanya investasi online.Tujuan penelitian ingin lebih memahami penafsiran hukum perkara penipuan online dengan modus investasi. Tujuan lainnya agar masyarakat lebih berhati-hati dengan penawaran investasi online yang menjanjikan keuntungan berlipat ganda.Pendekatan penelitian yaitu pendekatan Sosiologi hukum. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penegakan hukum oleh Polri terhadap tersangka penipuan investasi online, belum berlangsung optimal karena penyidik hanya menggunakan pasal-pasal KUHP dan Undang-Undang ITE. Namun tidak menggunakan Undang-Undang Nomor 42/2009, dan Undang-Undang Nomor 25/2007, penyidik juga harus segera memutus mata rantai praktek penipuan online tersebut.Kata kunci: Interpetasi Hukum, Penipuan Online, Modus Investasi.
PENERAPAN HUKUM ISLAM DAN KEPASTIAN HUKUM DALAM PEMENUHAN HAK-HAK ANAK PASCA PERCERAIAN BERDASARKAN PASAL 45 UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN Sulardi ,; Mustaqim ,; Sri Ayu Astuti
Pakuan Justice Journal of Law (PAJOUL) Vol 2, No 2 (2021): Volume 2, Nomor 2 Juli-Desember2021
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/pajoul.v2i2.4388

Abstract

ABSTRAKAkibat dari putusan perceraian membawa konsekuensi logis yaitu adanya korban dalam peristiwa putusnya ikatan perkawinan dalam kehidupan manusia yang telah melaksanakan ikrar pernikahan dan memiliki tanggung jawab adanya anak-anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut.Adanya anak dalam perkawinan yang sudah putus membawa akibat tersendiri tidak saja secara psikologis dengan trauma, tetapi juga menimbulkan kelalaian dari orang tua yang bercerai dalam memenuhi kebutuhan hak hidup dasar anak.Maka dibutuhkan kepastian hukum guna memberikan perlindungan hukum terhadap hak-hak anak yang sering terabaikan.Hak-hak anak ini dalam putusan perceraian, sering kali diabaikan oleh pihak yang melaksanakan perceraian yaitu abai dalam pemberian keseimbangan kasih sayang, demikian juga terhadap nafkah kehidupan. Hak-hak anak dinyatakan secara jelas dan rinci dalam hukum Islam, yang terkandung dalam ayat-ayat al- Qur'an dan haditshadits Rasulullah saw. Hukum Islam di Indonesia yang berkaitan dengan perkawinan, perceraian dan hak-hak anak kesemuanay telah dimuat di dalam Kompilasi hukum Islam. Landasan hukum yang digunakan dalam melaksanakan pemenuhan hak-hak anak bertumpu pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak Anak yang disahkan tahun 1990 kemudian masuk ke dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan terutama di dalam Pasal 45 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, UndangUndang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. telah mengatur pula kewajiban-kewajiban orang tua terhadap anak. Perlindungan dan jaminan terhadap pemeliharaan anak disebutkan dalam pasal 41 Undang-Undang No. 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan yang pada intinya bahwa ketika terjadi perceraian, baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, dan bahwa bapak yang bertanggung-jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak. Sehingga putusnya perkawinan orang tua tidak boleh menjadi alasan terabaikannya pemeliharaan anak. Dalam Kompilasi Hukum Islam didefinisikan apa maksud pemeliharaan anak dalam KetentuanUmum. Pada kenyataanya masih banyak anak –anak yang terlantar akibat dari tidak adanya kepastian hukum atas pemenuhan hakhak anak pasca perceraian orang tuanya. Maka peneliti melihat begitu sangat penting penerapan ketentuan kepastian hukum Islam dalam perlindungan hakhak anak berdasarkan ketetapan hukum yang berlaku guna menerapkan Maslahah Al Mursalah bagi anak-anak dengan nasabnya sesuai yang difirmankan Allah SWT dalam Surat Al- Ahzab ayat 5, ini ditujukan agar tidak kehilangan atas keberlanjutan tanggung jawab sesuai syariatnya. Kata Kunci : Penerapan Hukum Islam, Kepatian Hukum dan Hak-Hak Anak .ABSTRACTThe decision for divorce resulted in a logical consequence as there are victims in the event of dissolution of the marriage in human life who have taken the wedding vow and have the responsibility for children from the marriage. The existence of children in a dissolved marriage has its own consequences. Not only does it psychologically cause trauma, but it also makes the divorced parents negligent in fulfilling their children's basic support. Therefore, it is necessary to have legal certainty to provide legal protection for children's rights which are often neglected. These children’s rights in the decision for divorce are frequently neglected by the parties in the divorce, such as negligence in providing a love and live support in balanced manner. The children’s rights are stated clearly and in detail in Islamic Law, which is set out in the verses of the Koran and the hadiths of the Prophet. The Islamic Law in Indonesia relating to marriage, divorce and children's rights have all been included in the Compilation of Islamic Law. The legal basis used in fulfilling the children's rights focuses on the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia and the basic principles of the Convention on the Children’s Rights which was passed in 1990 and further incorporated into Law No. 1 of 1974 concerning Marriage, principally in Article 45 of Law No. 1 of 1974 concerning Marriage have also regulated the obligations of parents towards children. Protection and guarantees for children care are stated in Article 41 of Law no. 1 of 1974 concerning Marriage, which basically states that in case of divorce, both parents are still required to care for and educate their children, and that the father must be responsible for all the costs of care and education needed by the children. Hence, the dissolution of a parent's marriage should not be an excuse for neglecting children care. The Compilation of Islamic Law defined the children care in the General Provisions. In fact, there are still many abandoned children as a result of the absence of legal certainty for the fulfillment of children's rights after their parents' divorce. Thus, theresearcher found that it is very important to implement the provisions of Islamic legal certainty to protect children's rights based on applicable legal provisions in order to implement Maslahah Al Mursalah (Consideration for Public Interests) for children with their lineage according to the words of Allah SWT in Surah Al-Ahzab verse 5. This is intended to maintain the sustained responsibilities in accordance with the Sharia. Keywords: Implementation of Islamic Law, Legal Certainty and Children's Rights
PERKEMBANGAN TEORI HUKUM DAN KEILMUWAN HUKUM SERTA RELEVANSINYA DALAM MEWUJUDKAN NILAI KEADILAN Yenny Febrianty; Mustika Mega Wijaya; Mustaqim .
PALAR (Pakuan Law review) Vol 9, No 2 (2023): Volume 9, Nomor 2 April-Juni 2023
Publisher : UNIVERSITAS PAKUAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/palar.v9i2.8282

Abstract

AbstrakTujuan Penelitian ini ialah untuk memberikan pemahaman terhadap gagasan terkait paradigma hukum serta konsep yang disampaikan sejumlah pakar harus dikaji dan/atau ditelusuri dari kondisi politik maupun sosial kemasyarakatan yang melatar belakangi dimana para ahli itu hidup. Berdasarkan hal tersebut paradigma yang dikemukakan ahli pikir dapat ditentukan relevansinya guna memahami konstitusi saat ini yang begitu berbeda keadaan maupun struktur sosialnya dengan latar belakang sosial dimana paradigma itu diungkapkan oleh pakarnya. Maka dari itu pada makalah ini penulis meneliti serta menguji masalah yang dirumuskan mengenai perkembangan teori hukum dan keilmuan hukum dari masa ke masa guna mewujudkan nilai keadilan serta konsep hukum progresif dalam relevansinya mewujudkan nilai keadilan. Pendekatannya menggunakan metode yuridis normatif yang sumbernya berasal dari data sekunder. Hasil pembahasannya menunjukkan kajian ilmu hukum dapat diterangkan dalam dua jenis yang berbeda.  Kata Kunci: Teori Hukum, Keilmuwan Hukum, Nilai Keadilan  AbstractThe purpose of this research is to provide an understanding of ideas related to legal paradigms and concepts conveyed by a number of experts that must be studied and/or traced from the background political and social conditions in which the experts live. Based on this, the relevance of the paradigm put forward by the thinker can be determined in order to understand the current constitution which is so different in its circumstances and social structure from the social background in which the paradigm was expressed by the expert. Therefore, in this paper the author examines and examines the problem formulated regarding the development of legal theory and legal scholarship from time to time in order to realize the value of justice and the concept of progressive law in its relevance to realizing the value of justice. The approach uses normative juridical methods whose sources come from secondary data. The results of the discussion show that the study of law can be explained in two different ways. Keywords: Legal Theory, Legal Scholars, Value of Justice
Culture a Law As Share Value System Advocate In Enforcement Law Mustaqim Mustaqim; Yenny Febrianty; Mustika Mega Wijaya; Isep H Insan; Asmak Ul Hosna; Angga Perdana
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 3 No. 7 (2023): Journal Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v3i7.844

Abstract

Life nation and society in Indonesia must be based on dimensions of culture so that own value system (value system) is something based on life balance between the interests of society and law, meaning the creation of law aims to guard the interest whole society like done by lawyers. Topic about How the role of the advocate in enforcement law? as well as discuss How analysis culture law as a value system for an advocate in enforcement law? become formula necessary problem discussed and analyzed in writing scientific this. The method of the study This wear kind of juridical normative, that is by conducting a number of studies on regulation legislation as well as references other For can facilitate the explanation process of culture law for advocating in progress enforcement law. Findings from discussion study This found that culture law for advocate in enforcement law is profession independent, free, and responsible answer To become an enforcer required law protection and guarantee from the country so Indonesian lawyers can help in a manner law society in need help law without exists discrimination belief, religion, descent, ethnicity, position social or belief politics.
Perlindungan Hukum Pemegang Saham Minoritas Perseroan Terbatas Tertutup dan Keadilan Berdasar Pancasila Mustaqim Mustaqim; Agus Satory
SASI Vol 25, No 2 (2019): Volume 25 Nomor 2, Juli - Desember 2019
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47268/sasi.v25i2.222

Abstract

Legal protection for the majority shareholders is sufficiently guaranteed, especially through the mechanism of the RUPS, but this is not the case for minority shareholders, thus creating an injustice problem for minority shareholders. The purpose of this study is to uncover and find out legal protection for minority shareholders in a limited liability company based on Pancasila justice. This research is normative juridical so it uses secondary data with the law approach and qualitative data analysis. The results showed that the General Meeting of Shareholders did not reflect legal protection for minority shareholders, because in every decision making through the General Meeting of Shareholders and various other decisions based on the attendance quorum about the majority of votes present at the General Meeting of Shareholders. Such matter is detrimental to the interests of minority shareholders because without the presence of minority shareholders, a General Meeting of Shareholders can be held, while minority shareholders also have the same rights and obligations and responsibilities. The majority of shareholders hold a large and full control over the company, resulting in minority shareholders, there is no guarantee to get justice based on Pancasila justice. Therefore, the General Meeting of Shareholders must be held if attended by all shareholders with voting rights present or represented. If this is not the case, the results of the General Meeting of Shareholders may be canceled.
Hak Kekayaan Intelektual dan Kreativitas Seni Studi Kasus Perlindungan Seni dan Warisan Budaya Reog Ponorogo Shafira Nur Annisa; Nayla Lutpiana Dewi; Putri Jesika Amanda Z; Mustika Bunga H; Diana Hernida Putri; Mustaqim Mustaqim
Jurnal Hukum dan HAM Wara Sains Vol 2 No 12 (2023): Jurnal Hukum dan HAM Wara Sains
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jhhws.v2i12.868

Abstract

Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau Intellectual Property Right merupakan hak yang timbul dari hasil karya intelektual seseorang dan merupakan konsep yang relatif baru dalam sistem hukum Indonesia. Meskipun hak individu dihormati, kebersamaan masyarakat Indonesia yang komunal menjadi faktor yang mempengaruhi perlindungan HKI. Konsep HKI memberikan hak eksklusif kepada pencipta atau penemu, melibatkan hak ekonomi dan hak moral. Pentingnya Hukum Hak Kekayaan Intelektual terkait dengan perlindungan warisan budaya Indonesia, seperti kasus klaim Malaysia terhadap kesenian Reog Ponorogo. Meskipun HKI memberikan perlindungan, masih terdapat kasus klaim budaya yang menimbulkan protes di masyarakat. Analisis perlindungan hukum terhadap seni budaya Indonesia ditinjau dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang hak cipta menjadi fokus dalam mengatasi klaim tersebut. Tinjauan pustaka membahas Hak Kekayaan Intelektual secara umum, termasuk hak milik dan hak cipta. Hak cipta diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014, memberikan perlindungan terhadap ekspresi budaya tradisional. Namun, implementasinya masih menunggu regulasi lebih lanjut.Metode penelitian yang digunakan bersifat yuridis normatif, menggunakan data sekunder dan pendekatan undang-undang. Hasil dan pembahasan menunjukkan perlindungan HKI terhadap seni budaya Indonesia serta ketidaksetaraan dalam pengaturan hak cipta ekspresi budaya tradisional yang dipegang oleh negara.Kesimpulan menyoroti perlindungan HKI dan ketidaksetaraan dalam pengaturan hak cipta untuk ekspresi budaya tradisional. Saran yang diajukan mencakup promosi kerja sama antar negara, presentasi bukti sejarah, dan pendaftaran resmi warisan budaya untuk memastikan pengakuan di tingkat nasional dan internasional. Bekerja sama dalam pelestarian antara Indonesia dan Malaysia menjadi kunci dalam mengatasi klaim budaya dan melestarikan warisan seni budaya Indonesia.
Analisis Kasus Pencucian Uang yang Dilakukan oleh Indra Kenz di Tinjau dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Shafira Nur Annisa; Nayla Lutpiana Dewi; Putri Jesika Amanda Z; Mustika Bunga H; Diana Hernida Putri; Mustaqim Mustaqim
Jurnal Hukum dan HAM Wara Sains Vol 2 No 12 (2023): Jurnal Hukum dan HAM Wara Sains
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jhhws.v2i12.869

Abstract

Pencucian uang melalui sistem keuangan menjadi kejahatan yang semakin dominan, terutama dengan kemajuan ekonomi dan sistem keuangan suatu negara. Kejahatan ini melibatkan penyamaran aset keuangan hasil kegiatan kriminal untuk digunakan tanpa terdeteksi. Dampak sosialnya termasuk mendukung kegiatan narkoba, judi online, terorisme, dan kejahatan lainnya. Pencucian uang tidak selalu berjalan bertahap, melainkan melibatkan tahapan yang saling menggabungkan, membuat prosesnya rumit dan melibatkan banyak pihak. Di Indonesia, perkembangan teknologi dan kurangnya kesadaran kultural masyarakat membuat penanganan kejahatan online, termasuk pencucian uang, menjadi sulit. Studi kasus Indra Kenz, affiliator aplikasi Binomo, yang dihukum karena investasi bodong, menjadi contoh permasalahan ini. Platform Binomo memungkinkan transaksi dengan nominal mulai dari Rp14 ribu hingga di atas Rp14 juta, dengan potensi kecurangan seperti perubahan algoritma dan sistem eror. Penelitian ini bertujuan menganalisis kasus pencucian uang Indra Kenz berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 dan dampak pencucian uang terhadap sektor ekonomi. Ditemukan bahwa Indra Kenz terbukti melakukan pencucian uang dengan hukuman penjara 10 tahun dan denda Rp 5 miliar. Pencucian uang merugikan sektor keuangan dan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi, mengurangi pendapatan pajak, dan mengganggu distribusi pendapatan. Penelitian ini bersifat yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan undang-undang dan data sekunder. Hasilnya menunjukkan perlunya peran aktif Penyedia Jasa Keuangan (PJK) dan masyarakat dalam mencegah pencucian uang. Rekomendasi melibatkan peran PJK dalam menerapkan program anti pencucian uang dan masyarakat dalam tidak mendukung kegiatan keuangan yang mencurigakan. Kesimpulannya, penegakan hukum yang tegas, peran aktif PJK, dan kesadaran masyarakat merupakan kunci dalam mencegah dan menangani pencucian uang.
Perlindungan Hak Cipta Lagu Pada Platform Musik Digital : Studi Kasus Tina Toon Bedasarkan Undang-Undang Hak Cipta Zanuar Dwi Herawati; Annisa Nursabila; Lutfiah Listari; Risma Syintia Putri; Shakira Idelia; Mustaqim Mustaqim
JURNAL HUKUM PELITA Vol. 4 No. 2 (2023): Jurnal Hukum Pelita November 2023
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian (DPPM) Universitas Pelita Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37366/jh.v4i2.2977

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis mengenai hak cipta di Indonesia yang dimana Indonesia merupakan negara hukum maka segala sesuatunya selalu berlandaskan dengan hukum tidak terlepas mengenai hak cipta. Hak cipta merupakan hak yang di dapat secara otomatis bagi mereka yang menciptakan sebuah karya. Dalam penelitian ini juga termuat bagaimana cara pembagian atas royalty dari pada karya musik dan bentuk pelanggaran apa yang kerap kali terjadi di dalam dunia musik hingga menjerat artis Indonesia. Tetapi disini Tina Toon hanya sebagai pihak turut tergugat karena Tina hanya menjalankan kontraknya dalam label musik sehingga yang di kenakan denda atas pelanggaran hak cipta adalah label musik yang menaungi Tina Toon. Secara garis besar kasus yang di alami Tina adalah persoalan mengcover lagu tanpa sepengetahuan pemilik hak cipta. Dalam kasus seperti ini dapat di lakukan dengan cara melalui jalur pidana dan jalur perdata. Dalam penelitian ini penulis menyarankan untuk menempuh jalur perdata atau non litigasi dengan cara menempuh mediasi terlebih dahulu sebelum menempuh jalur hukum pidana. Dalam penelitian ini kami sebagai penulis menggunakan metode studi pustaka yang dimana bahan bahan referensi kami kumpulkan dari jurnal-jurnal online dan berita yang terkait dalam pembahasan. Kata kunci : hak cipta, hukum, musik, tina toon, penyelesaian sengketa
Perlindungan Hukum Terhadap Penipuan Tiket Konser Di Tinjau dari Undang-Undang Perlindungan Konsumen shakira idelia; Zanuar Dwi Herawati; Risma Syintia Putri; Annisa Nursabila; Lutfiah Listari; Mustaqim Mustaqim
JURNAL HUKUM PELITA Vol. 4 No. 2 (2023): Jurnal Hukum Pelita November 2023
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian (DPPM) Universitas Pelita Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37366/jh.v4i2.3101

Abstract

Seiring dengan berkembangnya zaman tingkat komsumsi masyarakat pun meningkat banyak keinginan-keinginaan yang seperti tidak akan ada habisnya terutama dalam hal menyenangkan diri sendiri salah satunya adalah dengan pergi menonton musik idola atau yang kita sebut dengan konser. Tetapi tidak semua berjalan dengan lancar dan sesuai harapan, masalah terus berdatangan seperti penipuan dalam jual beli tiket konser yang dilakukan oleh Seala yang merugikan banyak pihak. Dalam hal ini hukum perlindungan konsumen dan undang0undang transaksi elektronik sangat berpengaruh dalam menyelesaikan perkara ini. Dimana Undang-Undang tersebut akan melindungi hak dari konsumen dan memberi hukuman pada pelaku Seala.