Komang Januartha Putra Pinatih
Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 33 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KADAR ALBUMIN SERUM PADA PASIEN TUBERKULOSIS DI RUMAH SAKIT UMUM GANESHA GIANYAR TAHUN 2019 I Made Gustama Heryawan; I Dewa Made Sukrama; Ida Sri Iswari; Komang Januartha Putra Pinatih
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 7 (2021): Vol 10 No 07(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i7.P06

Abstract

Malnutrisi menjadi salah satu faktor penting dalam infeksi TB. Pada pasien TB, umumnya terjadi penurunan status gizi menjadi rendah. Dengan kebutuhan metabolik yang meningkat, tanpa diiringi asupan gizi yang baik maka akan mengakibatkan malnutrisi. Apabila hal ini tidak ditangani maka akan memperparah kondisi pasien yang terinfeksi TB. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan indeks massa tubuh dan kadar albumin serum pada pasien tuberkulosis di RSU Ganehsa Gianyar. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional menggunakan consecutive sampling dengan jumlah sampel 68 pasien TB di RSU Ganesha Gianyar pada tahun 2019. Pengambilan data menggunakan rekam medik untuk melihat berat badan dan tinggi badan untuk penghitungan IMT dan kadar albumin serum pasien. Analisis menggunakan uji Chi-square dan uji Pearson untuk menilai hubungan dan korelasi IMT dan kadar albumin serum. Hasil yang didapat adalah adanya hubungan yang bermakna antara IMT dan kadar albumin serum pasien TB (p<0.000) dengan korelasi yang positif dan sangat kuat (r = 0.867).Kata kunci : tuberkulosis, indeks massa tubuh, kadar albumin serum
EFEK ANTIBAKTERI EKSTRAK ETHANOL KULIT BATANG TANAMAN CEMPAKA KUNING (M. champaca L.) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus I Dewa Ayu Rayna Nareswari Wikananda; Made Agus Hendrayana; Komang Januartha Putra Pinatih
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.691 KB)

Abstract

Bakteri Staphylococcus aureus (S. aureus) menjadi salah satu bakteri yang berperan dalam terjadinya penyakit infeksi seperti mastitis, dermatitis, infeksi saluran pernapasan, dan sindrom syok toksik. Terapi yang bisa diberikan pada penderita infeksi Staphylococcus aureus adalah antibiotik, akan tetapi pengaplikasian antibiotik yang tidak sesuai dapat menimbulkan terjadinya resistensi. Upaya yang dapat dilakukan untuk menangani resistensi tersebut adalah dengan menggunakan bahan herbal sebagai bahan dasar terapi, contohnya kulit batang tanaman cempaka kuning (M. champaca L.). Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui bagaimana efek antibakteri yang ditimbulkan oleh ekstrak etanol kulit batang tanaman cempaka kuning (M. champaca L.) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Pembuatan ekstrak ethanol kulit batang tanaman cempaka kuning diproses dengan menggunakan metode maserasi. Setelah ekstrakethanol berhasil terbentuk, dilakukan uji efek antibakteri menggunakan metode difusi cakram atau disk diffusion. Kertas cakram pada MH Agar diberi larutan esktrak berkonsentrasi 1%, 10%, dan 100%. Pengulangan dilakukan sebanyak 5 kali. MH Agar diinkubasi dalam inkubator selama 18-24 jam kemudian diamati. Berdasarkan pengamatan, terlihat muncul zona hambat berwarna bening di sekeliling kertas cakram yang sudah ditetesi ekstrak. Penelitian ini memiliki kesimpulan bahwa ekstrak kulit batang cempaka kuning (M champaca L.) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Kata kunci: Efek antibakteri, Ekstrak ethanol kulit batang cempaka kuning, Staphylococcus aureus, Zona hambat
IDENTIFIKASI BAKTERI Escherichia coli, Staphylococcus aureus, DAN Salmonella sp. PADA KENOP PINTU KELUAR TOILET UMUM PRIA DAN WANITA DI KAMPUS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR Ida Bagus Aditya Bhaskara; Made Agus Hendrayana; Komang Januartha Putra Pinatih
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 8 (2019): Vol 8 No 8 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.318 KB)

Abstract

Kenop pintu toilet umum merupakan salah satu lokasi potensial bagi transmisi beragam spesies bakteri diaregenik, seperti E. coli, S. aureus, dan Salmonella sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi kontaminasi bakteri pada kenop pintu toilet umum di kampus FK UNUD Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional potong-lintang dengan populasi terjangkau berupa kenop pintu keluar toilet umum di Gedung Barat kampus FK UNUD Denpasar. Pemilihan sampel menggunakan total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode swab, lalu dikultur dalam media BA, EMBA, SS, dan XLD. Koloni yang dicurigai Staphylococcus dilakukan uji katalase dan koagulase. Seluruh koloni dilakukan pengecatan Gram. Dari total 14 sampel, diketahui bahwa prevalensi kenop pintu keluar toilet umum yang terkontaminasi bakteri secara keseluruhan adalah 50%. Namun, seluruh koloni yang diisolasi teridentifikasi sebagai Staphylococcus koagulase negatif. Tidak ditemukan satupun koloni E. coli, S. aureus, dan Salmonella sp. pada seluruh kenop (0%). Prevalensi kontaminasi positif pada kenop pintu keluar toilet pria (86%) lebih besar dari wanita (14%). Prevalensi tertinggi berdasarkan lokasi terdapat pada toilet lantai 2 (75%) dan terendah di lantai 3 (25%). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pada kenop pintu toilet umum di kampus FK UNUD Denpasar tidak ditemukan bakteri diaregenik E. coli, S. aureus, dan Salmonella sp., melainkan hanya bakteri flora normal Staphylococcus koagulase negatif. Penelitian ini agar menjadi acuan untuk meningkatkan kualitas kebersihan di lingkungan FK UNUD. Kata kunci: E.coli, S. aureus, Salmonella sp. , kenop pintu toilet
PREVALENSI BAKTERI Escherichia coli DAN Klebsiella pneumoniae PENGHASIL EXTENDED SPECTRUM BETA LACTAMASE (ESBL) YANG DIISOLASI DARI PASIEN PNEUMONIA DI RSUP SANGLAH PERIODE TAHUN 2019-2020 Ida Ayu Santhi Pertiwi Manuaba; Ida Sri Iswari; Komang Januartha Putra Pinatih
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 12 (2021): Vol 10 No 12(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i12.P10

Abstract

Pneumonia infection is the sixth highest cause of death in general and the highest cause of death in infection cases, recorded as much as 2.1% of the pathogens that cause pneumonia infection is ESBL-producing bacteria. In general, Escherichia coli (E.coli) and Klebsiella pneumoniae (K.pneumoniae) are the most common bacteria found to be ESBL-producing bacteria. The aims of this study is to discover the prevalence of ESBL-producing in Escherchia coli and Klebsiella pneumoniae bacteria isolated from pneumonia patients at Sanglah General Hospital in 2019-2020 period of time. Method of this study is a cross-sectional descriptive study with a retrospective cross-sectional study approach. Data were taken retrospectively from the register database of the Clinical Microbiology Installation in Sanglah General Hospital. Sample for this research was derived from the results of antibiotics sensitivity tests on sputum isolated from patients with pneumonia infection. The prevalence of ESBL-producing Escherichia coli bacteria 93.3% was found higher than Klebsiella pneumoniae bacteria 69.2%. The highest finding was recorded in male patients and 15-64 years old. Based on the highest number of patients clinical diagnosis, it is found to be pneumonia in Escherichia coli and CAP in Klebsiella pneumoniae. The highest rates of patients are coming from Emergency Room. The result of antibiotic sensitivity test on Escherichia coli and Klebsiella pneumoniae producing ESBL were found the highest antibiotic sensitivity rates on ertapenem, meropenem, amikacin and tigecycline. Keywords : Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, ESBL, Pneumonia
EFEK SINERGIS KOMBINASI CHLORHEXIDINE DAN ALKOHOL TERHADAP DAYA HAMBAT PERTUMBUHAN STAPHYLOCOCCUS AUREUS Yosi Kusuma; Komang Januartha Putra Pinatih
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 3 (2019): Vol 8 No 3 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.695 KB)

Abstract

Antiseptik merupakan suatu zat kimia yang memiliki kerja untuk menghancurkan mikroorganisme ataupun menghambat kerjanya, sehingga dapat mencegah terjadinya suatu infeksi. Salah satu contoh antiseptik adalah chlorhexidine dan alkohol. Chlorhexidine dengan alkohol memiliki mekanisme yang mirip, yaitu bekerja mengganggu struktur membran bakteri, sehingga mengakibatkan lisis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan aktifitas antiseptik chlorhexidine-alkohol dengan alkohol dan chlorhexidine pada bakteri Gram positif dan negatif, serta apakah terjadi aktivitas yang sinergis antara kedua antiseptic tersebut. Penelitian menggunakan metode eksperimental, post-test only design, melalui uji disk-diffusion Kirby-Bauer, menggunakan zona hambat pertumbuhan bakteri pada media Mueller-Hinton. Zona hambat rerata chlorhexidine-alkohol (19,56 ± 0,88SB) dengan alkohol (0) dan chlorhexidine (18 ± 0,71SB) pada bakteri Staphylococcus aureus lebih besar secara signifikan, p=0,002 untuk chlorhexidine; sedangkan pada bakteri Escherichia coli, zona hambat rerata chlorhexidine-alkohol 16,22 ± 0,83SB, chlorehexidine 17,22 ± 2,05SB, alkohol 13,22 ± 4,08SB. Perbedaan diameter hanya signifikan untuk alkohol (p=0,019), tapi tidak untuk chlorhexidine (p=0,387). Dapat disimpulkan bahwa terdapat aktivitas antiseptik sinergis pada kombinasi chlorhexidine-alkohol untuk bakteri Staphylococcus aureus, tetapi tidak pada bakteri Escherichia coli. Kata Kunci: Chlorhexidine, alkohol, antiseptik, Staphylococcus aureus
OPTIMASI DETEKSI GEN E6 PADA HUMAN PAPILLOMAVIRUS RISIKO TINGGI DENGAN POLYMERASE CHAIN REACTION I G A Aristi Dhika Pranani; Made Agus Hendrayana; Komang Januartha P. Pinatih
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 11 (2019): Vol 8 No 11 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.394 KB)

Abstract

Kanker servik merupakan jenis kanker pada wanita dengan angka kejadian terbesar keempat di dunia. Infeksi oleh human papillomavirus (HPV) adalah salah satu faktor penyebab kanker servik. HPV memliliki gen E6 yang berperan dalam patogenesis kanker servik, sehingga dijadikan target deteksi. Maka dari itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi HPV secara cepat dan akurat secara molekular menggunakan teknik polimerase chain reaction (PCR). Metode yang digunakan adalah metode optimasi pada suhu penempelan DNA (annealing). Pada penelitian ini dilakukan optimasi deteksi pada gen E6 dari DNA HPV tipe 16. Optimasi dilakukan dengan menggunakan tiga variasi suhu annealing. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu suhu annealing optimal untuk mengamplifikasi gen E6 pada HPV tipe 16 adalah 55 - 59. Hasil optimasi suhu annealing tersebut memberikan hasil pita yang tebal dan spesifik sebesar 476 bp sesuai dengan ukuran pita gen E6 pada HPV tipe 16. Kata Kunci: deteksi, optimasi PCR, Human Papillomavirus, kanker servik
PREVALENSI DAN POLA KEPEKAAN MULTIDRUG RESISTANCE Pseudomonas aeruginosa TERHADAP ANTIBIOTIKA PADA PASIEN PNEUMONIA DI RSUP SANGLAH I Putu Gede Septiawan Saputra; Ida Sri Iswari; Komang Januartha Putra Pinatih
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 12 (2021): Vol 10 No 12(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i12.P15

Abstract

Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia dengan tingkat mortalitas dan morbiditas yang tinggi, termasuk di Indonesia. Salah satu bakteri Gram negatif yang paling sering menyebabkan pneumonia adalah Pseudomonas aeruginosa. Kejadian multidrug resistance Pseudomonas aeruginosa (MDRPA) meningkat yang menimbulkan dampak signifikan bagi pasien pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan pola kepekaan MDRPAterhadap antibiotika pada pasien pneumonia di RSUP Sanglah. Metode penelitian ini adalah deskriptif observasional yang dilakukan di RSUP Sanglah. Sampel penelitian berasal dari sputum pasien pneumonia di RSUP Sanglah periode Januari 2019 – Desember 2019. Data diambil secara retrospektif dari register Instalasi Mikrobiologi Klinik RSUP Sanglah.Prevalensi MDRPA mencapai 36.6%, dengan rerata usia pasien terinfeksi MDRPA adalah 54.5314.46 tahun. Mayoritas pasien pneumonia dengan infeksi MDRPAberjenis kelamin laki – laki (66.7%) dengan diagnosis klinis yang paling sering adalah VAP (33.3). Asal ruang perawatan pasien tersering adalah Ruang Rawat Intensif Dewasa (46.7%). Hasil pemeriksaan kepekaan antibiotika menunjukkan, bakteri MDRPAmemiliki kepekaan terbaik dengan antibiotika Amikacin (73,3%), Cefepime (53,3%), dan Gentamicin (46,7%).
POLA KEPEKAAN Methicillin-Resistant Staphylococcus aureusTERHADAP ANTIBIOTIKA DI RSUP SANGLAH PADA AGUSTUS 2013 - OKTOBER 2013 I Kadek Jaya Santika; Komang Januartha Putra Pinatih; Ni Nengah Dwi Fatmawati
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.022 KB)

Abstract

Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang dapat menyebabkan beragam penyakit mulai dari yang ringan seperti infeksi kulit hingga penyakit yang dapat membahayakan nyawa seperti pneumonia, meningitis dan toxic shock syndrome. Kemampuan adaptasi S.aureus terhadap antibiotika menimbulkan peningkatan resistensi antibiotika oleh S. aureus. Pada masa kini, prevalensi Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) cenderung meningkat tidak hanya di lingkungan rumah sakit, yang disebut hospital-associatedMRSA (HA-MRSA),tetapi juga di komunitas, yang disebut dengan community-acquired MRSA (CA-MRSA).Uji kepekaan isolat MRSA terhadap antibiotikadibutuhkan untuk menyediakan suatu pola kepekaan yang dapat digunakan sebagai referensidalampemilihan antibiotika yang lebih rasional.Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dimana sampel penelitian adalah isolat MRSAyang diidentifikasi dengan Vitek 2 (Biomérieux) di Laboratorium Instalasi Mikrobiologi Klinik RSUP Sanglah. Dari 41 isolatS. aureusyang terisolasi pada periode Agustus hingga Oktober 2013, terdapat 6 sampel (14,6%) yang merupakan MRSA. MRSA terisolasilebih sensitifterhadap antibiotika quinupristin/dalfopristin, linezolide, vancomycin, tigecycline dan nitrofurantoin, namun resisten terhadap antibiotika penicillin, cephalosporin dan carbapenems. Penelitian seperti ini penting untuk dilaksanakan secara berkelanjutan di masa yang akan datang dengan sampel dan metode identifikasi MRSA yang lebih baik seperti latex agglutination test atau dengan Polymerase Chain Reaction (PCR).  
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL DAUN KELOR (Moringa oleifera) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI METHICILLIN RESISTANT STAPHYLOCOCCUS AUREUS (MRSA) Putu Indri Widiani; Komang Januartha Putra Pinatih
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 3 (2020): Vol 9 No 03(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.586 KB) | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i3.P05

Abstract

Penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan serius yang masih dihadapi Indonesia karena masih tingginya mobiditas dan mortalitas. Salah satu bakteri yang sering mengakibatkan infeksi dan dapat berakibat fatal adalah bakteri MRSA.Infeksi bakteri MRSA sering menimbulkan masalah dalam pengobatan karena sifat bakteri ini yang resisten terhadap banyak antibiotika.Penggunaan bahan-bahan yang bersal dari tanaman obat bisa menjadi alternative untuk pengobatan infeksi oleh bakteri MRSA, salah satunya adalah daun kelor (Moringa oleifera).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak etanol daun kelor sebagai antibakteri terhadap bakteri MRSA.Metode yang digunakan adalahmetode eksperimental dengan ekstraksi menggunakan pelarut etanol 96%.Bakteri MRSA akan diuji dengan etanol (kontrol negatif), linezolid 30mg (kontrol positif) dan konsentrasi ekstrak (25%, 50%, 75%, 100%) dengan 6 kali pengulangan. Hasil yang didapatkan diketahui konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100% mampu menghambat pertumbuhan bakteri MRSA secara in vitro, dimana konsentrasi 75% memiliki kekuatan daya hambat tertinggi namun masih lebih lemah dibandingkan dengan antibiotik linezolid (kontrol positif). Kata Kunci: Bakteri MRSA, daun kelor, etanol 96%
POLA KEPEKAAN KUMAN DAN SENSITIVITASNYA TERHADAP ANTIMIKROBA PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI RSUP SANGLAH PERIODE JANUARI - JUNI 2019 Ida Ayu Putu Putri Andari; Komang Januartha Putra Pinatih; Ni Nyoman Sri Budayanti
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 5 (2021): Vol 10 No 05(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i5.P06

Abstract

Latar Belakang: Infeksi saluran kemih ialah Infeksi saluran kemih ialah keadaan dimana mikroorganisme berada di dalam saluran kemih dengan adanya kolonisasi bakteri. Beberapa mikroorganisme yang dapat menyebabkan ISK adalah Escherichia coli, Proteus mirabilis, Klebsiella pneumoniae, Citrobacter, Enterobacter, Pseudomonas aeruginosa seperti Enterococcus faecalis, Staphylococcus saprophyticus, Staphylococcus haemolyticus dan group B Streptococcus. Pola kepekaan bakteri dan sensitivitasnya terhadap antimikroba ini akan berperan dalam keberhasilan dari pengobatan ISK. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengevaluasi kepekaan kuman terhadap antimikroba pada pasien ISK di RSUP Sanglah Denpasar periode Januari hingga Juni 2019. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif, sampel yang digunakan diambil secara total sampling. Sumber data penelitian menggunakan data rekam medis pasien ISK berdasarkan hasil kultur urin dan tes sensitivitas antimikroba di RSUP Sanglah periode Januari – Juni 2019. Hasil: Escherichia coli ialah bakteri penyebabkan ISK terbanyak dan menunjukkan sensitivitas terhadap Gentamicin (66,66%), Ciprofloxacin (52,38%), Meropenem (42,25%), Amikacin (42,85%), Trimethoprim / Sulfamethoxazole (40,47%), Ampicillin / Sulbactam (33,33%). Bakteri ini telah resisten terhadap Ampicillin (30,95%), Cefepime (30,95%), Ceftriaxone (23,80%), Cefuroxime(23,80%). Simpulan : Bakteri gram negatif paling banyak menjadi penyebab terjadinya ISK adalah Escherichia coli, diikuti oleh Klebsiellapneumonia dan Acinetobacter baumannii. Kata kunci: ISK, Kultur Urin, Uji Sensitivitas, Antibiotik