Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Teknika

PENGARUH PERBEDAAN BESAR ARUS PADA SPOT WELDING MENGGUNAKAN GTAW DENGAN MATERIAL STAINLESS STEEL 304 Moch Chamim; Petrus Heru Sudargo; Haikal
Teknika Vol 6 No 1 (2019): March 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.304 KB)

Abstract

ABSTRAK Las titik merupakan salah satu cara pengelasan resistansi listrik dimana dua logam atau lebih dijepit diantara dua elektroda logam. Arus yang kuat dialirkan melalui elektroda yang terbuat dari tembaga, karena aliran listrik yang harus melalui kedua logam yang dijepit maka pada tempat jepitan akan timbul panas karena adanya resitansi listrik yang menyebabkan logam ditempat tersebut mencair dan kemudian tersambung. Proses penjepitan membutuhkan peralatan yang komplek karena harus kuat. Sehingga peralatan las titik tidak digunakan oleh industri kecil sheet metal. Dengan latar belakang permasalahan tersebut, penelitian ini mencoba mengubah metode pengelasan titik dengan menggunakan model Tungsten Inert Gas Welding (TIG welding) yang langsung ditekankan diatas material. Variasi arus digunakan 90A, 100A, 110A digunakan untuk menyambung model single lap joint pada material stainless steel grade 304 tebal 2 mm ditahan selama 5 detik. Data yang diambil hasil kekuatan uji tarik dengan menganalisa metalografi makro untuk melihat ikatan material. Hasil pengelasan dengan 90 ampere penetrasi paling dalam dengan kekuatan tarik 408,5 N/mm2. ABSTRACT Spot welding is one way of welding electrical resistance where two or more metals are clamped between two metal electrodes. Electric current is flowed through an electrode made of copper, because the electric current must go through the two clamped metals so that the clamps will heat up due to electrical resistance that causes the metal in the place to melt and then connect. The clamping process requires complex equipment because it must be strong. So that point welding equipment is not used by home sheet metal industries. With the background of these problems, this study tries to change the method of point welding by using a TIG welding model that is directly emphasized on the material. Electric cCurrent variations used 90, 100, 110 A are used to connect the single lap joint model to stainless steel grade 304 with 2 mm thick material held for 5 seconds. The data is taken by tensile strength test results by analyzing macro metallography to see the bonding of the material. Welding results with 90 amperes of deepest penetration with a tensile strength of 408.5 N / mm2.
PENGARUH TEKANAN TEMPA DAN WAKTU PENGELASAN TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK SAMBUNGAN FRICTION WELDING LOGAM TAK SEJENIS SS-316 DAN AISI-4140 Bambang Margono; Haikal; Moch Chamim
Teknika Vol 6 No 1 (2019): March 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.563 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengelasan gesek (friction welding) merupakan proses penyambungan logam tanpa terjadinya peleburan (solid state process), yang mana proses pengelasan terjadi sebagai akibat gesekan melalui penggabungan antara laju putaran salah satu benda kerja yang berputar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tekana tempa dan waktu pengelasan terhadap sifat fisik dan mekanik sambungan logam tak sejenis antara baja tahan karat SS 316 dan AISI 4140. Variasi tekanan tempa yang digunakan 110 kg/cm2, 130 kg/cm2 dan 150 kg/cm2, sedangkan variasi waktu pengelasan yang digunakan adalah 35 detik, 50 detik dan 65 detik. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya variasi tekanan tempa dan waktu pengelasan mengakibatkan berkurangnya panjang spesimen, dikarenakan terjadi proses pelumeran pada daerah sambungan pengelasan pada kedua material. Sedangkan semakin berkurangnya panjang spesimen disisi lain mengakibatkan melebarnya panjang flash yang dihasilkan. Hasil struktur mikro terlihat terjadi pengkasaran butir (grain coarsened) terjadi pada daerah HAZ bentuk dan ukuran butiran berbeda jika dibandingkan dengan logam induk. Nilai kekerasann daerah sambungan rerata sebesar 246,4 HVN. Nilai kekerasan pada logam induk material AISI 4140 rerata sebesar 354,7 HVN. Sedangkan logam induk material SS 316 rerata sebesar 183,5 HVN. Nilai kekerasan antara kedua logam induk tersebut sangat berbeda jauh dikarenakan fasa pada baja AISI 4140 lebih dominan fasa perlit yang memiliki kekerasan tinggi. Nilai kekuatan tarik yang optimal dihasilkan pada variasi tekanan tempa130 kg/cm2 variasi waktu gesek 35 detik dengan nilai sebesar 455.02 N/mm2.
ANALISIS PEMBEBANAN TERHADAP PANJANG GELOMBANG CAHAYA BERBASIS SENSOR FIBER BRAGG GRATING (FBG) Fatimah Nur Hidayah; Haikal Haikal
Teknika Vol 7 No 3 (2022): April 2022
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.237 KB) | DOI: 10.52561/teknika.v7i3.169

Abstract

Sensor fiber optik menawarkan alternatif kinerja yang tinggi karena memberikan solusi biaya rendah, tahan terhadap gangguan elektromagnetik, kemampuan multiplexing dan integrasinya tinggi. Kinerja sensor fiber optik berlaku untuk mengukur parameter fisik seperti tekanan dan suhu [1]. Saat ini banyak dikembangkan sensor fiber optik FBG yang memanfaatkan perubahan panjang gelombang karena adanya pembebanan. Pembebanan tersebut mengakibatkan adanya fenomena defleksi pada material uji. Prinsip kerja sensor FBG yaitu pengukuran pemantulan Panjang gelombang Bragg [2]. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis pembebanan terhadap pergeseran panjang gelombang cahaya pada fiber optik FBG. Metode yang digunakan ialah pemberian beban material uji rubber. Nilai pembebanan yang digunakan penelitian ini yaitu 10 kg. Pembebanan dilakukan dari arah atas permukaan material uji rubber, dengan dimensi 246 mm x 19 mm x 7 mm. Fiber optik FBG ditanam di tengah-tengah material rubber secara horizontal. Adanya pembebanan tersebut berpengaruh pada defleksi material, sehingga mengakibatkan pergeseran pemantulan panjang gelombang cahaya pada fiber optik FBG. Sumber cahaya yang digunakan adalah laser dengan rentang panjang gelombang 1510 nm – 1590 nm. Pergeseran Panjang gelombang saat pemberian beban dideteksi oleh serangkaian sensor serat optik FBG yang terhubung dengan komputer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pergeseran panjang gelombang pada pembebanan 10 kg. Nilai panjang gelombang Bragg () sebelum diberi pembebanan ialah 1550,6 nm, sedangkan nilai  setelah pembebanan yaitu 1554,02 nm. Nilai pergeseran panjang gelombang (??) tersebut sebesar 3,42 nm. Hal ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh pembebanan terhadap defleksi material uji rubber. Fenomena defleksi mengakibatkan adanya pergeseran panjang gelombang pada fiber optik FBG yang tertanam dalam material uji. Oleh karena itu, metode pembebanan pada material uji rubber dapat digunakan sebagai aplikasi desain sensor FBG.   Kata kunci: Pembebanan, Sensor, Fiber Bragg Grating (FBG), Panjang gelombang, dan Defleksi.