Alwin Suryono
Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PELESTARIAN ELEMEN FASAD BANGUNAN PEMBENTUK GAYA ARSITEKTUR KOLONIAL PADA BANGUNAN LAMA STASIUN GARUT M. Pasha Adhima Basuki; Alwin Suryono
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4243

Abstract

Abstract: Garut Station, inaugurated on August 14, 1889, has undergone various historical transformations, including its destruction in 1947 and revitalization in 2022. The existence of this building as a cultural heritage is important for preserving the character of local architecture amidst the unplanned urban development. This study aims to identify the architectural characteristics of the old Garut Station building, focusing on the components that make up its facade. The research method used is qualitative descriptive, involving field observations and literature studies. The data obtained are reconstructed into a three-dimensional model to achieve a more comprehensive understanding of the facade components, including the entrance, walls, doors, windows, roof, signage, and ornaments. The results of the study indicate that the Garut Station, rebuilt in 1949, represents a modern colonial architectural style characterized by symmetrical buildings and sloped roofs. The influence of Art Deco is also evident in the geometric details of the building's facade elements. Keyword: Colonial Architecture, Building Facade, Garut Station Abstrak: Stasiun Garut, yang diresmikan pada 14 Agustus 1889, telah mengalami berbagai transformasi sejarah, termasuk pembumihangusan pada 1947 dan revitalisasi pada 2022. Keberadaan bangunan ini sebagai cagar budaya penting untuk melestarikan karakter arsitektur lokal di tengah perkembangan kota yang tidak terencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik arsitektur bangunan lama Stasiun Garut, dengan fokus pada komponen pembentuk fasad bangunan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, yang melibatkan observasi lapangan dan studi literatur. Data yang diperoleh direkonstruksi dalam model tiga dimensi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai komponen fasad, termasuk entrance, dinding, pintu, jendela, atap, signage dan ornamen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meski Stasiun Garut yang dibangun kembali pada 1949 pada periode arsitektur kolonial, bangunan lebih merepresentasikan gaya arsitektur kolonial transisi dengan ciri bangunan yang simetris dan beratap miring. Pengaruh Art deco juga terlihat dalam detail-detail geometris pada elemen fasad bangunan. Kata Kunci: Arsitektur Kolonial, Fasad Bangunan, Stasiun Garut
Pelestarian Budaya Lampung dalam Arsitektur Masa Kini pada Bangunan Menara Siger dan Sesat Agung Bumi Gayo Muhammad Diaz Adiyudha; Alwin Suryono
Jurnal Permukiman Vol 13 No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2018.13.31-40

Abstract

Provinsi Lampung kini sedang berfokus pada pelestarian budayanya, dengan mengangkat Siger sebagai simbol budaya dan menjadikannya sebagai identitas baru. Siger dulu berupa mahkota wanita, kini dijadikan konsep pada fasad bangunan pemerintahan dan komersial. Isu penelitian tentang pelestarian budaya Lampung pada bangunan publik Menara Siger dan Sesat Agung Bumi Gayo. Hal ini bertujuan untuk memahami peranan budaya Lampung pada objek studi, mendeskripsikan elemen-elemen arsitektur signifikan, serta konsep tindakan pelestarian budaya Lampung. Metode yang digunakan secara kualitatif, dengan langah-langkahnya: 1) Mengungkap budaya Lampung; 2) Mengungkap elemen arsitektur signifikan pada Menara Siger dan Sesat Agung Bumi Gayo; 3) Tindakan pelestarian budaya Lampung. Temuan penelitian ini: a) Budaya Lampung merupakan budaya yang sarat akan nilai terkait dengan kegiatan, orientasi mata angin, tata massa bangunan, dan juga hasil karya manusia berupa Siger dan kain tradisional. Hal ini juga tercermin pada konsep bangunan Menara Siger dan Sesat Agung Bumi Gayo yang sebagian besar mengambil konsep dasar bermukim masyarakat Lampung dulu; b) Elemen arsitekturnya adalah arah orientasi, tata massa bangunan di dalam tapak, dan ruang komunal seperti dengan pola permukimanan masyarakat dulu; c) Tindakan pelestarian pada aspek bentuk yaitu dengan cara preventif, preservasi, dan adaptasi, sedangkan tindakan pelestarian pada aspek fungsi yaitu preservasi, adaptasi, dan rekonstruksi.  Upaya pelestarian dengan aspek bentuk dan fungsi dilakukan agar budaya lampung tidak tergerus oleh zaman saat ini dan agar budaya tetap terjaga baik benda maupun nilainya.