Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Teknologi Fermentasi Berbasis Sumber Daya Lokal Pascabencana Gempa: Solusi Cepat Pengawetan Dan Peningkatan Nilai Nutrisi Pakan Ternak Dari Puing Bangunan dan Tumbuhan Terlanda Zulkifli Zulkifli; Dedhi Yustendi; Ayatullah Ayatullah; Jufrijal Jufrijal
Indonesian Journal on Education (IJoEd) Vol. 2 No. 4 (2026)
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Publikasi Ilmiah (lppi) Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/ijoed.v2i4.427

Abstract

Bencana gempa bumi menimbulkan problematika ganda berupa akumulasi limbah puing bangunan dalam jumlah masif dan kerusakan biomassa tumbuhan yang menyebabkan krisis ketersediaan pakan ternak di wilayah terdampak, sementara penanganan konvensional masih memandang kedua material tersebut sebagai limbah tak bernilai yang harus dibuang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi teknologi fermentasi berbasis sumber daya lokal sebagai solusi cepat pengawetan dan peningkatan nilai nutrisi pakan ternak dengan memanfaatkan puing bangunan dan tumbuhan terlanda pascagempa. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan sumber data berasal dari buku, artikel jurnal ilmiah, dan laporan hasil penelitian yang dianalisis menggunakan teknik analisis isi kualitatif dan sintesis integratif. Hasil penelitian mengungkapkan empat temuan utama. Pertama, puing bangunan seperti beton, bata merah, dan gypsum memiliki kandungan kalsium, silika, dan sulfur yang berfungsi sebagai sumber mineral mikro sekaligus media pendukung imobilisasi mikroba fermentatif yang meningkatkan densitas populasi dan stabilitas proses fermentasi. Kedua, biomassa tumbuhan terlanda gempa mengalami pra-perlakuan mekanis alami berupa kerusakan dinding sel yang meningkatkan aksesibilitas enzim mikroba terhadap kompleks lignoselulosa, sehingga mempercepat laju biodegradasi selama fermentasi. Ketiga, rekayasa teknologi fermentasi sederhana berbasis konsorsium mikroba lokal yang dieksplorasi dari air cucian beras dan cairan rumen mampu mengawetkan pakan melalui mekanisme ensilase anaerobik dalam waktu tiga hingga tujuh hari dengan peralatan darurat. Keempat, integrasi puing dan tumbuhan dalam fermentasi secara sinergis meningkatkan protein kasar hingga tiga puluh sampai tujuh puluh lima persen, menurunkan serat kasar, serta mendetoksifikasi tanin dan saponin. Kesimpulannya, teknologi fermentasi berbasis sumber daya lokal pascagempa merupakan solusi bioteknologi tepat guna yang efektif, aplikatif, dan berkelanjutan. Implementasi hasil penelitian ini berupa pelatihan fermentasi darurat bagi peternak dengan memanfaatkan limbah puing dan tumbuhan sebagai pakan bernutrisi tingg
Pelatihan Manajemen Usaha Pembibitan Ayam Hibrida Lokal untuk Kader Wirausahawan Unggas di Desa Nusa Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar Alkautsar Alkautsar; Gharsina Fauhan; M. Ikbal; Sri Jeksi; Riski Ambia Rahman; Nailis Salsabila; Icha Tridayana; Zulkifli Zulkifli; Dedhi Yustendi; Mudatsir Mudatsir; Ali Makmur; Mulyadi Mulyadi; Fawwa Rahly; M. Aman Yaman; Rafika Rafika
Aksi Kita: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-FEBRUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/rnkvpq58

Abstract

Increasing the number of young entrepreneurs in the poultry sector is a mandate for universities, given the high market demand for Hybrid Chicken products—a type of chicken that has the potential to produce more and larger eggs. To support the availability of commercial seeds, a 23-day Community Service Programme (PKM) has been implemented, focusing on improving the management capabilities of local hybrid chicken breeding businesses. This programme targeted 12 entrepreneurial cadres (farmer groups and students) through key technical guidance and demonstrations, including artificial insemination and DOC selection. The results showed that the programme was highly successful in transferring knowledge and skills: 90% of participants mastered the material and 85% mastered the technical demonstrations. This success was reinforced by a 100% satisfaction rate among participants, who reported significant benefits. As a follow-up, participants recommended extending the training duration to three months and expanding the scope to other poultry species.