Ruddi Hartono
Departemen Anestesiologi Dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya/RSUD Dr Saiful Anwar Malang

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Manajemen Anestesi pada Seksio Sesarea dengan Idiopathic Thrombocytopenic Purpura: Serial kasus Achmad Haryanto; Ruddi Hartono; Isngadi Isngadi
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 4 No 2 (2021): September
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v4i2.61

Abstract

Trombositopenia merupakan perubahan hemostasis yang umum terjadi pada wanita hamil, namun jarang ditemukan kondisi berat. Idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP) merupakan salah satu penyebab trombositopenia pada wanita hamil. ITP ditandai dengan peningkatan penghancuran trombosit oleh antibodi immunoglobulin G (IgG) yang dapat meningkatkan risiko perdarahan pada pasien dan fetus. Kami melaporkan tiga kasus wanita hamil dengan ITP yang akan dilakukan tindakan seksio sesarea. Satu pasien menjalani seksio sesarea emergency dengan trombosit 4000 dan dua pasien menjalani seksio sesarea elektif. Pasien seksio sesarea elektif diberikan transfusi trombosit perioperatif terlebih dahulu. Ketiga pasien menjalani prosedur seksio sesarea dengan teknik anestesi general. Pemantauan perdarahan dilakukan selama sampai dengan setelah operasi. Kondisi postoperatif pasien baik dan dirawat di ruang intensive care unit (ICU). Case Series: Anesthesia Management in Caesarean Section with Idiopathic Thrombocytopenic Purpura Abstract Thrombocytopenia is the most common hemostatic change in pregnancy, but severe thrombocytopenia is rare. One of the causes, idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP), is characterized by increased platelet destruction by immunoglobulin G (IgG) antibodies, presenting a high risk of hemorrhage for the patient, but also the fetus, since antibodies may cross the placenta. We report three cases of pregnant women with ITP undergoing cesarean section. One patient underwent emergency cesarean section with a platelet of 4000 and two patients underwent elective cesarean. Patients with elective cesarean section were given the first perioperative platelet transfusion. The cesarean section procedures were performed under general anesthesia. Bleeding monitoring is carried out during up to after surgery.
Manajemen Anestesi pada Gravida dengan Plasenta Previa Totalis Suspek Plasenta Akreta yang Dilakukan Seksio Sesarea dengan Teknik Anestesi Spinal di Era Pandemi Syaiful Yudhi Nurachman; Ruddi Hartono; Isngadi Isngadi
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 5 No 2 (2022): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v5i2.92

Abstract

Plasenta previa dan riwayat seksio sesarea merupakan faktor penting ter-jadinya plasenta akreta, plasenta akreta kasusnya meningkat seiring peningkatan jumlah per-salinan dengan seksio sesarea. Pada kasus ini, wanita berusia 37 tahun, G4P3Ab0 usia kehamilan 37–38 minggu dipersiapkan seksio sesarea elektif dan histerektomi akibat plasenta previa totalis suspek plasenta akreta berdasarkan hasil ultrasonografi dengan skor indeks plasenta akreta 6,5 (probabilitas 83%). Untuk mengurangi timbulnya aerosol dalam pencegahan penyebaran COVID-19, pasien dilakukan tindakan anestesi spinal dengan regimen levobupivacaine dengan adjuvant morfin 0,2 mg, fentanyl 25 mcg, clonidin 30 mcg dengan lama operasi 5 jam 30 menit dan dilakukan intervensi hemodilusi hipervolemik untuk mengurangi transfusi darah. Perdarahan intraoperatif 4900 cc dan diberikan transfusi 2 unit PRC dan 2 unit WB. Pasca operasi dirawat di ICU dan tidak ada komplikasi. Hari pertama pasca operasi pasien pindah ke ruang intensif. Teknik spinal pada seksio sesarea dengan plasenta akreta dapat menjadi alternatif manajemen anestesi di era pandemi karena mencegah timbulnya aerosol, dan regimen levobupivacaine dapat memperpanjang durasi anestesi serta hemodilusi hipervolemik dapat mengurangi kebutuhan transfusi darah.
Terapi Penggantian Ginjal Berkelanjutan pada Pasien Eklampsia dengan Komplikasi Sepsis dan Distres Pernapasan Akut Steven Martin Fuliman; Ruddi Hartono; Isngadi isngadi
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 5 No 2 (2022): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v5i2.98

Abstract

Eklampsia telah didokumentasikan selama lebih dari 2400 tahun dengan gambaran awal sindrom prodromal yaitu pre-eklampsia (sebelumnya disebut sebagai toksemia dalam kehamilan). Pasien dengan eklampsia tidak jarang dibarengi dengan berbagai macam komplikasi sehingga memperburuk keluaran dari pasien, dan memerlukan perawatan intensif dan tatalaksana lebih lanjut. Ibu hamil usia 36 tahun dengan usia kehamilan 36–37 minggu dirujuk ke Rumah sakit dengan diagnosis eklampsia dengan distres pernafasan akut akibat edema paru. Pasien dilakukan intubasi saat di ruang gawat darurat dan seksio sesarea cito. Pasca operasi pasien di rawat di intensive care unit untuk tatalaksana lebih lanjut. Terapi penggantian ginjal berkelanjutan atau Continuous Renal Replacement Therapy (CRRT) digunakan untuk memberikan dukungan ginjal pada pasien sakit kritis dengan gagal ginjal akut, terutama pasien dengan hemodinamik tidak stabil. Pada Ibu hamil dengan eklampsia tidak jarang dapat berkembang ke komplikasi seperti distres pernafasan akut akibat edema pulmonum, pneumonia hingga sepsis yang dapat membuat gagal ginjal akut pada pasien. Modalitas pada terapi penggantian ginjal salah satunya dapat memodulasi cytokine sebagai terapi tambahan pada sepsis selain memperbaiki fungsi ginjal, yang diharapkan bisa memperbaiki keluaran pada pasien. Terapi penggantian ginjal berkelanjutan pada pasien saat hari ke tiga perawatan di ICU dengan hasil keluaran yang baik, pasien dilakukan ekstubasi pada hari ke enam perawatan di ICU. Pasien diperbolehkan keluar dari rumah sakit saat perawatan hari kesepuluh dan tidak memerlukan dialisis lebih lanjut.
Hemodilusi Hipervolemik (HHD) sebagai Tatalaksana Perioperatif pada Pasien Plasenta Previa dengan Suspek Plasenta Akreta Bagas Dyakso Darmojo; Ruddi Hartono
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 6 No 1 (2023): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v6i1.112

Abstract

Perdarahan baik sebelum persalinan (antepartum) maupun setelah persalinan (postpartum) masih memegang predikat utama kematian perinatal dan morbiditas maternal di seluruh dunia. Plasenta previa merupakan salah satu jenis dari pendarahan antepartum. Pada beberapa kasus, plasenta previa dapat disertai dengan plasenta akreta yang dapat memperberat kondisi pendarahan yang terjadi. Manajemen multidisiplin dan holistik hingga memperhatikan kehilangan cairan pasien penting dalam tatalaksana perioperatif pada kasus ini. Pendekatan alternatif yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi pendarahan ialah hemodilusi, baik secara normovolemik (ANH) maupun hipervolemik (HHD). Laporan kasus ini melaporkan seorang pasien wanita berusia 31 tahun dengan diagnosis Plasenta previa totalis dengan suspek plasenta akreta dan direncanakan seksio sesarea dan histerektomi. Prosedur HHD dilakukan sebagai strategi konservasi darah dengan jumlah cairan sebanyak 2500 ml. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 116/83 mmHg, nadi 90 kali/menit, dan SpO2 97% room air. Pada pemeriksaan pre-operatif, kadar hemoglobin dari pasien sebesar 10,2 g/dL dengan hematokrit sebesar 30,9%. Setelah dilusi, kadar hemoglobin dari pasien 8 g/dL dengan hematokrit 24,9%. Durante operasi, kadar hemoglobin 3,1 g/dL dan hematokrit 10%. Pasien diberikan transfusi packed red cell (PRC) sebanyak 960 cc. Pasca operasi, hemoglobin naik menjadi 9,9 g/dL dan hematokrit 29,1%. Jumlah pendarahan total sebanyak 7000 cc. Pada kasus ini, strategi konservasi darah dengan hemodilusi hipervolemik efektif dalam menurunkan risiko diperlukannya transfusi darah berlebih serta tidak memengaruhi kondisi hemodinamik secara signifikan sehingga dapat menjadi pilihan alternatif manajemen pendarahan perioperatif. Namun, dengan tetap mewaspadai efek samping yang berpotensi timbul mulai dari anemia akut hingga hypervolemia
Managemen Continuous Renal Replacement Therapy (CRRT) pada Pasien Gagal Ginjal Akut dan Syok Sepsis di ICU Fatoni, Arie Zainul; Rusly, Andri; Hartono, Ruddi
Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan Vol 2 No 2 (2023): Februari 2023
Publisher : RSUD Dr. Saiful Anwar Province of East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/jk-risk.02.2.7

Abstract

Angka Kejadian sepsis sekitar 6% pasien yang ada di rumah sakit. Sepsis yang tidak tertangani dengan baik akan berkembang menjadi syok septik yang akan meningkatkan mortalitas sebesar 50 – 70 %. Gagal Ginjal Akut (GGA) terjadi pada 58-87% pasien dengan syok sepsis. Pada 70% kasus GGA yang disebabkan oleh sepsis dapat memburuk dan memerlukan renal replacement therapy (RRT). Continuous Renal Replacement Therapy (CRRT) merupakan salah satu modalitas RRT yang baik untuk pasien syok septik. Seorang Laki-laki berusia 51 tahun, rujukan dari ICU Rumah sakit lain dengan diagnosa respiratory failure, syok sepsis, pneumonia Hospital Assosiated Pneumonia (HAP), diabetic foot dengan osteomyelitis pedis dextra, GGA Stage 3 dan Diabetes Mellitus (DM) Tipe 2. Dari klinis pasien sesak, penurunan kesadaran, disertai syok yang membutuhkan vasopressor dan dari laboratorium didapatkan ureum 277 mg/dl serta foto thorax didapatkan kesan pneumonia. Tatalaksana pada pasien ini dilakukan pemberian antibiotik, amputasi kaki kanan dan CRRT sebagai modalitas terapi GGA. CRRT dilakukan dengan mode Continuous Venovenous Hemodialysis elama 3 hari. Pada hari ke lima klinis pasien membaik sehingga dapat pindah keluar dari ICU. Pada kondisi syok sepsis dengan GGA, CRRT dapat menjaga stabilitas hemodinamik pasien, mengeluarkan toksin dari ginjal, menyaring sitokin dan endotoksin, mengoreksi asam-basa dan elektrolit, mengontrol volume cairan dengan tepat, memodulasi respon imun sehingga mempercepat renal recovery dan memperbaiki kondisi klinis pasien.
Manajemen Anestesi pada Gravida Skoliosis dengan Tetralogy of Fallot yang dilakukan Seksio Sesarea Utomo, Jeffri Prasetyo; isngadi, Isngadi; Hartono, Ruddi
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 2 (2024): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i2.151

Abstract

Insiden penyakit jantung pada kehamilan terjadi sekitar 0,2–3% dari seluruh kehamilan. Tetralogy of Fallot merupakan salah satu dari penyakit jantung sianotik dan diperkirakan terjadi sebesar 5% dari seluruh kelainan jantung bawaan pada kehamilan. Manajemen anestesi pada pasien operasi noncardiac dengan tetralogy of fallot merupakan tantangan bagi seorang anestesiolog dan memerlukan pemahaman pada patofisiologi, kejadian dan efek obat-obatan yang dapat memperberat besarnya shunting dari kanan ke kiri. Pada kasus ini, wanita berusia 19 tahun, G1P1000Ab000 usia kehamilan 32–34 minggu dipersiapkan seksio sesarea elektif akibat penyakit jantung bawaan tetralogy of fallot yang belum dikoreksi dan dextroskoliosis. Untuk mengurangi resiko pada operasi dan pembiusan dilakukan tindakan anestesi combined spinal epidural dengan regimen spinal bupivacaine heavy 0,5% 7,5 mg dengan adjuvant morfin 0,15 mg dan fentanyl 25 mcg dengan lama operasi 1 jam 30 menit. Dilahirkan bayi laki laki berat lahir 1200 gram, dengan skor Apgar 6/8. Pascaoperasi diberikan epidural ropivacaine 0,1 % total volume 8 cc dengan adjuvant fentanyl 50 mcg setiap 8 jam untuk mengurangi nyeri pascaoperasi. Pascaoperasi dirawat di ruang ICU dan tidak ada komplikasi. Anestesi regional low dose spinal terbukti aman untuk pasien gravida dengan tetralogy of fallot. Pemberian analgesia dengan epidural terbukti aman dan dapat digunakan untuk analgetik pascaoperasi pada pasien seksio sesarea dengan tetralogy of fallot
Chula Formula is recommended in Estimating the Length of Tracheal Tube Insertion in Patients Receiving Mechanical Ventilation in Intensive Care Units in the Absence of Chest X-Ray Laksono, Buyung Hartiyo; Hartono, Ruddi; Tamam, Abdul Rasyid; Jaya, Wiwi
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 4, No 2 (2023): May
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2023.004.02.01

Abstract

Background: Chest X-Ray (CXR) is one of the most effective ways of confirming the length of the tracheal tube (TT) insertion. However, some intensive care unit in developing countries has no sufficient facilities. This study aims to evaluate the accuracy of TT length insertion using the Chula formula and Colombian formula in patients receiving mechanical ventilation in intensive care units.Methods: This study is a comparative observational study of 50 adults in the Intensive care unit, divided into two groups. Group A used the Chula formula for TT length insertion (n= 25) and Group B used the Colombian formula (n= 25). The TT length insertion accuracy was evaluated using radiological parameters. Statistical analysis used: Data were analyzed statistically using the T-test and Chi-square test.Result: The Chula formula is significantly more precise than the Colombian formula in estimating the length of TT insertion based on the radiographic parameters of the TT length insertion right midway between the medial tip of the clavicle and TT located in the T3 or T4 vertebrae (p <0.05), but not significantly different in the two other parameters.Conclusion: Both the Chula formula and the Colombian formula can estimate the length of TT insertion in adult patients. However, the Chula formula is more recommended in the length of TT insertion and benefit in the ICU with insufficient CXR.
Continuous Ketamine Administration Decreases Monocyte Count in Sepsis Patients in Intensive Care Units Hartono, Ruddi; Jaya, Wiwi; Mayasari, Mayasari; Isngadi, Isngadi
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 4, No 1 (2023): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2023.004.01.01

Abstract

Background: Cytokines storm becomes the most common cause of mortality in sepsis patients treated in the intensive care unit (ICU). Cytokines storm is characterized by an excessive elevation in the immunocompetent cells, including monocyte. Ketamine, as a sedating agent, has immunosuppressive properties. This study was conducted to determine the effect of ketamine on monocyte count in septic patients in the ICU.Methods: This is a quantitative case-control  study of 30 patients treated in the ICU. The study subjects were divided into control (n=15) and treatment (n=15) groups. The treatment group received ketamine HCl therapy at 0.3 mg/kg body weight/hour. The mean monocytes were counted at 0, 24, and 48 hours post-therapy. Data analysis used an independent sample t-test with α=5%.Result: Administration of ketamine therapy in septic patients treated in the ICU showed a decrease in the monocytes during observation from 0 to 48 hours post-therapy. Administration of ketamine at 48 hours had a significantly lower monocyte (5.21%) compared to control (7.67%) (p=0.012).Conclusion: Ketamine administration reduces the monocytes count in septic patients treated in the intensive care unit. Ketamine is expected to be a therapeutic option in sepsis patients.
Managemen Continuous Renal Replacement Therapy (CRRT) pada Pasien Gagal Ginjal Akut dan Syok Sepsis di ICU Fatoni, Arie Zainul; Rusly, Andri; Hartono, Ruddi
Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan Vol 2 No 2 (2023): Februari 2023
Publisher : RSUD Dr. Saiful Anwar Province of East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/jk-risk.02.2.7

Abstract

The incidence of sepsis is around 6% of patients in the hospital. Sepsis that is not manage properly will develop into septic shock which will increase mortality by 50-70%. Acute Renal Failure (ARF) occurs in 58-87% of patients with septic shock. In 70% of cases of ARF caused by sepsis can worsen and require renal replacement therapy (RRT). Continuous Renal Replacement Therapy (CRRT) is a good RRT modality for septic shock patients. A 51 year old male, referred from the ICU another hospital with a diagnosis of respiratory failure, septic shock, Hospital Associated Pneumonia (HAP), diabetic foot with osteomyelitis pedis dextra, ARF Stage 3 and Type 2 Diabetic Mellitus (DM). From the clinical sign, patient was shortness of breath, decreased consciousness, accompanied by shock requiring a vasopressor and from the laboratory obtained urea 277 mg/dl and chest X-ray obtained the impression of pneumonia. The management of this patient was administration of antibiotics, amputation of the right leg and CRRT as a therapeutic modality for ARF. CRRT was performed in Continuous Venovenous Hemodialysis (CVVHDF) mode for 3 days. On the fifth day the patient conditiont improved so he could be discharge from the ICU. At septic shock with ARF, CRRT can maintain hemodynamic stability of patients, remove toxins from the kidneys, remove cytokines and endotoxins, correct acid-base and electrolytes, control fluid volume appropriately, modulate the immune response thereby accelerating renal recovery and improving clinical conditions patient.
Continuous Ketamine Administration Decreases Monocyte Count in Sepsis Patients in Intensive Care Units Hartono, Ruddi; Jaya, Wiwi; Mayasari, Mayasari; Isngadi, Isngadi
Journal of Anaesthesia and Pain Vol. 4 No. 1 (2023): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2023.004.01.01

Abstract

Background: Cytokines storm becomes the most common cause of mortality in sepsis patients treated in the intensive care unit (ICU). Cytokines storm is characterized by an excessive elevation in the immunocompetent cells, including monocyte. Ketamine, as a sedating agent, has immunosuppressive properties. This study was conducted to determine the effect of ketamine on monocyte count in septic patients in the ICU.Methods: This is a quantitative case-control  study of 30 patients treated in the ICU. The study subjects were divided into control (n=15) and treatment (n=15) groups. The treatment group received ketamine HCl therapy at 0.3 mg/kg body weight/hour. The mean monocytes were counted at 0, 24, and 48 hours post-therapy. Data analysis used an independent sample t-test with α=5%.Result: Administration of ketamine therapy in septic patients treated in the ICU showed a decrease in the monocytes during observation from 0 to 48 hours post-therapy. Administration of ketamine at 48 hours had a significantly lower monocyte (5.21%) compared to control (7.67%) (p=0.012).Conclusion: Ketamine administration reduces the monocytes count in septic patients treated in the intensive care unit. Ketamine is expected to be a therapeutic option in sepsis patients.