Articles
Pemodelan Spasial Beban Sumber Emisi Gas Rumah Kaca di Kecamatan Driyorejo
Dimas Fikry Syah Putra;
Joni Hermana
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (483.153 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7401
Kecamatan Driyorejo merupakan salah satu kecamatan yang mengalami proses urbanisasi hinterland dari Kota Surabaya yang menyebabkan pencemaran udara dari berbagai kegiatan. Selama ini aspek keruangan di bidang udara tidak dimasukkan dalam pembahasan rencana tata ruang dan ruang wilayah (RTRW) Kabupaten Gresik dan di Indonesia. Metode perhitungan beban emisi menggunakan rumus default IPCC tahun 2006 pada tier-1. Memodelkan spasial menggunakan software ArcGIS 10.1 yang ditampilkan secara visual. Besarnya total perkiraan emisi gas rumah kaca di Kecamatan Driyorejo adalah untuk beban sumber emisi CO2 dari kegiatan industri sebesar 18766405,94 kg CO2/tahun, kegiatan transportasi 37070628 kg CO2/tahun, kegiatan pertanian 123588,40 kg CO2/tahun, kegiatan permukiman 9514595,13 kg CO2/tahun. Untuk beban sumber emisi CH4 dari kegiatan pertanian sebesar 101925 kg CH4/tahun, kegiatan peternakan 19718 kg CH4/tahun, kegiatan transportasi 21929 kg CH4/tahun. Untuk beban sumber emisi N2O dari kegiatan pertanian sebesar 6336,80 kg N2O/tahun, kegiatan transportasi 861,55 N2O/tahun. Hasil pemodelan spasial beban sumber emisi menunjukan kelurahan Karangandong mempunyai tingkat emisi besar. Arahan penataan ruang untuk wilayah dengan tingkat emisi besar agar dibuat ruang terbuka hijau publik.
Analisa Kecukupan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Penyerapan Emisi CO2 dan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen di Kota Probolinggo
Agus Setiawan;
Joni Hermana
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (111.036 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.4257
Ruang terbuka hijau (RTH) memiliki peranan yang sangat penting dalam mengurangi dampak terjadinya pemanasan global karena kemampuannya dalam menyerap emisi karbon dioksida (CO2). Hingga saat ini, prosentase penyediaan RTH publik di Kota Probolinggo masih sebesar 13,21% sehingga butuh adanya penambahan luas RTH. Hasil analisa menunjukkan bahwa RTH eksisting di Kota Probolinggo ditinjau dari segi penyerapan emisi CO2 masih kurang cukup dengan prosentase hanya sebesar 19,17%. Sedangkan berdasarkan pemenuhan kebutuhan oksigen sudah dirasa cukup meskipun prosentasenya hanya 1,77%. Kebutuhan luas RTH di Kota Probolinggo berdasarkan penyerapan emisi CO2 diperkirakan akan terpenuhi pada tahun 2020 dan berdasarkan pemenuhan kebutuhan oksigen setiap tahunnya justru terus mengalami kekurangan luas RTH.
Penambahan Urea sebagai Co-Substrat pada Sistem High Rate Algae Reactor (HRAR) untuk Pengolahan Air Limbah Tercemar Minyak Solar
Ayu Syarifa Darwinastwantya;
Agus Slamet;
Joni Hermana
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (288.444 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.6932
Kebutuhan bahan bakar minyak di Indonesia semakin meningkat. Peningkatan tersebut mengakibatkan eksplorasi dan pengolahan secara berlebihan. Eksplorasi dan pengolahan berlebihan akan memberikan dampak buruk bagi lingkungan, yaitu limbah. Limbah minyak bumi biasanya langsung dibuang ke lingkungan yang dapat menyebakan pencemaran lingkungan, misalnya air. Pengolahan limbah menggunakan alga dapat digunakan sebagai pengolahan lanjutan tanpa menimbulkan polusi tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan urea sebagai co-substrat terhadap kinerja High Rate Algae Reactor (HRAR) dalam menurunkan kandungan minyak dalam air limbah minyak bumi. Variabel penelitian adalah konsentrasi minyak solar dalam air limbah dan konsentrasi urea yang digunakan. Konsentrasi minyak solar yang dipakai berasal penelitian pendahuluan sebesar 346 ppm dan 692 ppm untuk 18 L alga. Penelitian utama dilakukan dengan menambahkan 3 konsentrasi urea yang berbeda. Penelitian dilakukan selama 14 hari setiap dua hari sekali untuk semua parameter. Parameter yang digunakan dalam penelitian adalah kandungan Oil and Grease, Chemical Oxygen Demand (COD), klorofil a, Dissolved Oxygen (DO), pH, nitrogen-amonia, temperatur, dan Mixed Liquor Suspended Solid (MLSS). Dalam penelitian utama, menunjukkan bahwa sistem HRAR dapat mengolah air limbah mengandung minyak solar. Efisiensi penyisihan minyak solar paling optimal oleh sistem HRAR untuk variasi penambahan minyak solar 346 ppm adalah dengan penambahan urea 0,1 gr/L sebesar 83,33% sedangkan untuk variasi penambahan minyak solar 692 ppm menggunakan penambahan urea sebesar 0,3 gr/L sebesar 85,05%.
Pengaruh Penambahan Glukosa Sebagai Co-substrate dalam Pengolahan Air Limbah Minyak Solar Menggunakan Sistem High Rate Alga Reactor (HRAR)
Laksmisari Rakhma Putri;
Agus Slamet;
Joni Hermana
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (370.71 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.6935
Kandungan minyak dalam air limbah umumnya relatif sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme pada pengolahan air limbah secara biologis. Sistem alga dalam High Rate Alga Reactor (HRAR) telah banyak dikembangkan dan digunakan sebagai pengolah air limbah domestik dan industri. Aplikasi sistem alga dalam HRAR ini dicoba untuk diaplikasikan dalam pengolahan air limbah mengandung minyak solar. Penelitian dilakukan untuk mengkaji kemampuan HRAR dalam menurunkan kandungan minyak solar dengan penambahan glukosa sebagai co-substrate. Penambahan co-substrate diperkirakan dapat mendorong bakteri untuk memberikan suplai karbondioksida pada mikroalga. Penelitian ini dilakukan dengan dua variabel penelitian yaitu konsentrasi minyak solar sebesar 381 ppm dan 830 ppm dalam air limbah dan konsentrasi co-substrate berupa gula sebesar 5 gram, 7 gram, dan 10 gram ke dalam 18 Liter air pada reaktor. Setiap dua hari sekali selama 14 hari akan diambil sampel untuk kemudian dilakukan analisis masing-masing parameter. Hasil menunjukkan bahwa efisiensi tertinggi kinerja HRAR dalam menurunkan kandungan minyak solar adalah sebesar 84,27%. Efisiensi tertinggi ini didapatkan pada reaktor dengan variasi penambahan minyak solar 830 ppm dan co-substrate sebesar 10 gram ke dalam 18 Liter yang memiliki nilai COD 586,67 mg/L. Pada konsentrasi minyak solar sebesar 830 ppm, penambahan co-substrate memberikan pengaruh pada efisiensi penurunan kandungan minyak solar. Semakin besar penambahan co-substrate, semakin besar efisiensi penurunan kandungan minyak solar.
Pengaruh Konsentrasi Substrat terhadap Laju Pertumbuhan Alga dan Bakteri Heterotropik pada Sistem HRAR
Wahyu Dian Septiani;
Agus Slamet;
Joni Hermana
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (682.27 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.6936
Air limbah domestik Kota Surabaya yang dibuang langsung ke badan air tanpa dilakukan pengolahan akan mengakibatkan pencemaran karena memiliki kandungan nutrien dan bahan organik yang tinggi. High Rate Algae Reactor (HRAR) merupakan sistem pengolahan limbah dengan memanfaatkan alga dan sesuai untuk pengolahan limbah domestik. Perencanaan sistem HRAR dapat dilakukan dengan pendekatan berdasarkan parameter koefisien biokinetik alga maupun bakteri heterotropik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi substrat terhadap laju pertumbuhan alga dan bakteri heterotropik pada air limbah domestik berdasarkan koefisien biokinetiknya (µ, Y, dan Ks). Penelitian dilakukan dengan menggunakan variabel konsentrasi substrat dan lama durasi pencahayaan. Sampel yang digunakan merupakan air Boezem Kalidami dengan glukosa sebagai substrat tambahan. Pengambilan sampel dilakukan satu kali dalam sehari dan dilakukan setiap hari selama penelitian berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi substrat bepengaruh terhadap laju pertumbuhan alga dan bakteri heterotropik. Semakin tinggi konsentrasi substrat maka laju pertumbuhan semakin tinggi. Reaktor dengan kondisi awal substrat sebesar 800 mg/L dan durasi pencahayaan selama 12 jam memiliki laju pertumbuhan spesifik terbaik. Nilai koefisien biokinetik tertinggi untuk alga adalah µ sebesar 0,624/hari, Ks sebesar 311,2 mg/L, dan Y sebesar 0,533 mg biomassa/mg substrat. Sedangkan nilai koefisien biokinetik tertinggi untuk bakteri adalah µ sebesar 0,395/hari, Ks sebesar 384 mg/L, dan Y sebesar 0,857 mg biomassa/mg substrat.
Efek Durasi Pencahayaan Pada Sistem HRAR Untuk Menurunkan Kandungan Minyak Solar Dalam Air Limbah
Dian Puspitasari;
Agus Slamet;
Joni Hermana
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (316.087 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.6939
Kandungan minyak di dalam air limbah industri perminyakan umumnya bersifat toksik terhadap mikroorganisme dan mengganggu proses pengolahan secara biologis. Sistem HRAR diperkirakan dapat mengatasi hambatan tersebut melalui proses fotosintesis untuk menghasilkan oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme dalam mendegradasi senyawa hidrokarbon. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh perpanjangan waktu pencahayaan pada kemampuan HRAR dalam menurunkan kandungan minyak di dalam limbah. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah variasi durasi pencahayaan dan variasi penambahan volume minyak solar yang ditambahkan ke dalam reaktor. Variasi durasi pencahayaan yang digunakan adalah pencahayaan selama 12 jam dan pencahayaan selama 24 jam. Sedangkan penambahan volume minyak solar ke dalam masing-masing reaktor adalah sebesar 346 ppm, 519 ppm dan 692 ppm. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah durasi pencahayaan selama 12 jam memiliki efek yang lebih baik terhadap penurunan konsentrasi minyak dibandingkan pencahayaan selama 24 jam. Hal ini dapat terlihat dari baiknya pertumbuhan alga dan bakteri di dalam reaktor serta tingginya penurunan konsentrasi minyak solar di dalamnya. Penurunan konsentrasi minyak solar terbaik terdapat pada reaktor dengan penambahan minyak solar sebesar 346 ppm. Pada reaktor dengan durasi pencahayaan selama 12 jam terjadi penurunan konsentrasi minyak sebesar 78,4%. Sedangkan penurunan kandungan minyak solar pada reaktor dengan durasi pencahayaan selama 24 jam adalah sebesar 73,9%.
Kajian Tentang Kontribusi Jawa Timur Terhadap Emisi CO2 Melalui Transportasi dan Penggunaan Energi
Chrissantya M. Kadmaerubun;
Joni Hermana
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (369.565 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v3i2.7040
Emisi CO2 yang dihasilkan Provinsi Jawa Timur dari sektor transportasi dan penggunaan energi di industri sebesar 8.999.000 ton CO2 pada tahun 2007 dan 4.098.760 ton CO2 pada tahun 2005. Jumlah emisi CO2 ini akan bertambah seiring peningkatan jumlah kendaraan bermotor dan penggunaan energi di industri. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menganalisis kontribusi Jawa Timur terhadap emisi CO2 dari sektor transportasi dan penggunaan energi di industri sedang dan besar. Pada kajian kontribusi, emisi CO2 dilakukan perhitungan emisi untuk sektor transportasi dan penggunaan energi di industri dengan menggunakan metode IPCC. Data masing-masing sektor didapatkan dari tahun 2012 dan diproyeksikan hingga tahun 2025. Perhitungan emisi dilakukan terhadap penggunaan bahan bakar fosil dan sesuai dengan tiga skenario yang telah disusun. Emisi CO2 yang dihasilkan pada tahun 2025 dari sektor transportasi sebesar 41.550.009,80 ton CO2 dan sektor industri sebesar 1.063.646,64 ton CO2. Penurunan emisi CO2 berdasarkan skenario yang paling baik adalah skenario kedua sebesar 5.657,08 ton CO2. Emisi yang dihasilkan sektor transportasi dan industri untuk skenario kedua sebesar 41.545.660,30 ton CO2 dan 1.062.339,05 ton CO2.
PENGUJIAN TOKSISITAS LIMBAH PELUMAS TERHADAP IKAN MAS (Cyprinus carpio)
Joni Hermana
Purifikasi Vol 7 No 1 (2006): Jurnal Purifikasi
Publisher : Department of Environmental Engineering-Faculty of Civil, Environmental and Geo Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j25983806.v7.i1.242
The toxicity level of oil waste has not been identified as compared to the toxicity of lubricant oil. Therefore, the toxicity of oil waste was determined by using Gold fish (Cyprinus carpio) in a lab-scale ecotoxicity. The acute toxicity test was used as a method during the experiment which proceeded by the range finding tests to determine LC50 for 96 hours exposure. The concentration of 52,5 – 62,5% was applied for acute toxicity of oil waste and 61,0-68,5% was for lubricant oil. The result of experiment showed that LC50 for oil waste was (55,92 ± 1,04) mg/l and for lubricant oil was (64,80 ± 1,03) mg/l, hence it could be concluded that oil waste was more toxic than lubricant oil. Further, histopathology test showed that both samples, oil waste and lubricant oil, caused structural damage to the fish, which was shown by histopathological change of fish gills in the form of hyperplasia lamella.
POTENSI KOMPOS SEBAGAI MEDIA PENUKAR ION UNTUK MEREDUKSI LOGAM BERAT DALAM AIR LIMBAH
Joni Hermana
Purifikasi Vol 7 No 2 (2006): Jurnal Purifikasi
Publisher : Department of Environmental Engineering-Faculty of Civil, Environmental and Geo Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j25983806.v7.i2.258
Potensi kompos dari sampah Kota Surabaya sebagai media penukar ion diperkirakan cukup menjanjikan mengingat komposisinya yang sebagian besar terdiri atas daun-daunan, sehingga kandungan humusnya akan cukup besar. Kandungan humus dalam kompos berperan dalam proses pertukaran kation logam berat dalam air limbah, dengan kation-kation logam yang lebih ‘ringan’ yang ada dalam kompos. Percobaan dilakukan secara batch dan kontinyu. Percobaan batch dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel konsentrasi awal Cu, dosis kompos dan waktu kontak terhadap proses removal logam berat oleh kompos. Data percobaan batch digunakan untuk studi kesetimbangan dan kinetika proses yang terjadi. Sedangkan percobaan kontinyu pada reaktor kolom, digunakan untuk mendapatkan kapasitas operasinya. Percobaan dilakukan dengan air limbah buatan yang mengandung CuSO4. Hasil yang didapat menunjukkan adanya potensi yang menjanjikan, dimana x/m maksimum dapat terjadi sampai sebesar 22,46 mg/g atau 70,7 meq/100g dan kapasitas operasi sebesar 249,129 meq/L. Selama percobaan yang dilaksanakan sekitar 2,5 jam, reaksi cenderung terjadi mengikuti model isotermis Langmuir dan laju reaksi orde 2.
KAJIAN PENEMPATAN POLISI LALU-LINTAS POLWILTABES SURABAYA :KONSENTRASI TIMBAL DALAM DARAH
Joni Hermana;
Rachmat Boedisantos
Purifikasi Vol 6 No 1 (2005): Jurnal Purifikasi
Publisher : Department of Environmental Engineering-Faculty of Civil, Environmental and Geo Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j25983806.v6.i1.262
Kebijakan penempatan polantas tidak memandang segi keamanan internal pada setiap polantas terhadap dampak paparan tetapi lebih dititikberatkan pada segi keamanan masyarakat di jalan. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis dan mengevaluasi kualitas udara dan seberapa besar konsentrasi timbal yang terpapar pada polantas. Pengukuran konsentrasi Pb dalam darah pada polantas berdasarkan lokasi bekerja dan masa kerja, melalui pengukuran laboratorium dan hasil jawaban responden atas kuisioner penelitian. Sedangkan lokasi penelitian adalah Satuan Lalu Lintas Polwiltabes Surabaya khususnya pada Rayon 1 dan Rayon 2. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan sebagian besar responden polantas (70%) memiliki konsentrasi Pb darah dalam kategori toleransi, 13,33% dalam kategori berlebih dan 16,67 % dalam kategori normal dan kurva regresi menunjukkan Pos Tetap memiliki resiko terpapar cukup tinggi diikuti Pos Pantau dan resiko terendah adalah bagian administrasi