Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK TERHADAP PENINGKATAN INTERAKSI SOSIAL DAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA: PENELITIAN QUASI-EXPERIMENT: The Effect of Group Activity Therapy on Improving Social Interaction and Cognitive Function in the Elderly: Quasi-Experiment Selfia Merlinda; Lia Juniarni
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 8 No. 3 (2022): JIKep | Edisi Khusus 2022
Publisher : LPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.215 KB) | DOI: 10.33023/jikep.v8i3.1156

Abstract

Pendahuluan: Penurunan fungsi kognitif merupakan salah satu masalah kesehatan lansia yang merupakan prediktor utama terjadinya demensia. Terapi kombinasi kegiatan orientasi kelompok realitas dan sosialisasi dapat dilakukan untuk mempertahankan fungsi kognitif dan perubahan peran sosial pada lansia. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh terapi aktivitas kelompok dalam meningkatkan interaksi sosial dan fungsi kognitif pada lansia. Metode: merupakan penelitian Quasi-Experimental Group Pretest and Posttest dengan menggunakan uji Wilcoxon dan Paired T-test dengan sampel penelitian sebanyak 30 responden. Inklusi responden lansia berusia 45-60 tahun, lansia dengan masalah interaksi sosial, dan lansia dengan penurunan fungsi kognitif. Instrumen yang digunakan adalah Mini Mental State Examination (MMSE) dan angket interaksi sosial. Hasil: Distribusi usia tertinggi diperoleh dengan rentang usia 60-65 tahun sebanyak 16 orang (23,3%), dengan jenis kelamin tertinggi 19 orang (63,3%). Distribusi pendidikan terakhir diperoleh dari SMA 13 orang (43,3%) dan pekerjaan terbanyak adalah pekerja 25 orang (83,3%) dan berstatus kawin 20 orang (66,7%). Ada perbedaan yang signifikan antara skor sebelum dan sesudah pada interaksi sosial dan fungsi kognitif dengan p-value = 0,000(<0,005). Kesimpulan dan saran: intervensi terapi aktivitas kelompok orientasi realitas dan sosialisasi efektif untuk meningkatkan interaksi sosial dan fungsi kognitif pada lansia. Ini dapat digunakan sebagai program baik di masyarakat maupun di panti jompo dalam asuhan keperawatan gerontik
SELF-REPORTED MOBILE HEALTH APP ENGAGEMENT AND HEALTH-PROMOTING BEHAVIOUR AMONG INDONESIAN ADOLESCENTS: THE MODERATING ROLES OF SOCIAL SUPPORT AND DIGITAL LITERACY Lia Juniarni; Masdum Ibrahim; Rahmi Imelisa
Jurnal Keperawatan PPNI Jawa Barat Vol 4 No 1 (2026): JURNAL KEPERAWATAN PPNI JAWA BARAT
Publisher : DPW PPNI Provinsi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70332/jkp.v4i1.64

Abstract

Objective: Mobile health applications are increasingly used to support adolescent health promotion, yet the association between adolescents' self-reported engagement with these applications and health-promoting behaviour may depend on psychosocial resources and digital competencies. This study examined the moderating roles of perceived social support and digital literacy in the association between self-reported mobile health app engagement and health-promoting behaviour among Indonesian adolescents. Methods: A quantitative cross-sectional study was conducted among 240 adolescents aged 13-18 years from secondary schools in Bandung City and Bandung Regency, West Java, Indonesia, selected using multistage proportionate stratified random sampling. Data were collected using validated self-report instruments and analysed using descriptive statistics, Pearson correlation, hierarchical multiple regression, and regression-based moderation analysis with demographic covariates controlled. Result: Self-reported mobile health app engagement was positively correlated with health-promoting behaviour (r = .42, p < .001). Perceived social support and digital literacy were significant independent predictors, and both interaction terms were significant, suggesting that the association between self-reported mobile health app engagement and health-promoting behaviour was stronger among adolescents with higher perceived social support and digital literacy. The final model explained 44.9% of the variance in health-promoting behaviour. Consclussion: These findings suggest that adolescent mobile health programmes should integrate digital health literacy development and socially supported engagement strategies to strengthen health promotion outcomes.