Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

INVISIBLE PLAYGROUND: KONSTRUKSI HUBUNGAN RUANG-PERGERAKAN-KEJADIAN Ardianta, Defry Agatha; Yatmo, Yandi Andri
MODUL Vol 21, No 1 (2021): MODUL vol 21 nomor 1 tahun 2021 (article in press)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mdl.21.1.2021.29-36

Abstract

Tulisan ini menginvestigasi terciptanya ruang bermain tak kasat mata dan bagaimana elemen pada ruang tak kasat mata tersebut terkonstruksi. Secara khusus tulisan ini membahas hubungan ruang-pergerakan-kejadian berlandaskan teori yang dikemukakan oleh Bernard Tschumi. Melalui observasi dan analisis terhadap aktivitas anak-anak di kampung Keputran Pasar Surabaya, studi difokuskan terhadap area ruang sirkulasi kampung yang selama ini multi fungsi: selain sebagai jalur penghubung namun juga sebagai ruang sosial masyarakat. Analisis dilakukan terhadap pembentukan ruang bermain yang kemudian mengungkapkan kehadiran ruang tak kasat mata. Tulisan ini kemudian menempatkan elemen-elemen konstruksi ruang tak kasat mata tersebut dalam hubungan ruang-pergerakan-kejadian.
Penerapan Konsep Ambiguitas dalam Merekayasa Persepsi Manusia melalui Arsitektur Dyah Arieni Larasati; Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.718 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.17430

Abstract

Persepsi merupakan cara manusia melihat suatu hal yang dipengaruhi oleh konteks dan situasi sosial sehingga masing-masing orang dapat melihat suatu hal yang sama dengan cara yang berbeda dimana persepsi akan muncul sesuai pengalaman sensoris tiap individunya melalui penstimulasian panca inderanya. Persepsi menjadi penting karena membantu individunya untuk mengerti dan memahami apa yang dilakukannya sehingga menjadi bermakna. Dengan penerapan konsep ambiguitas pada arsitektur seperti pengolahan ruang dimana fungsi maupun sirkulasinya dibuat memiliki tidak hanya satu fungsi, penghadiran warna dan cahaya membuat suasana ruang menjadi ambigu karena pengguna tidak mengetahui kondisi sebenarnya akan tetapi di sisi lain dapat membuat pengguna menyadari kondisi sebenarnya secara tidak langsung dimana penerapannya disesuaikan dengan aktifitas yang diwadahi, serta pemilihan material yang mendukung pengaplikasian konsep ambiguitas pada pengolahan elemen lainnya sehingga elemen arsitektural tersebut tidak hanya dilihat memiliki satu fungsi/arti saja dan dapat mempengaruhi mood dari manusianya dimana juga akan berpengaruh dalam merekayasa persepsi manusianya.
Pengolahan Siklus Energi: Near Zero-Net Energy Apartment Edelyn Elpetina Ibrahim; Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.924 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.17667

Abstract

Fenomena krisis energi merupakan suatu hal yang tak terhidarkan dewasa ini yang dikarenakan penggunaan dan pengolahan energi yang kurang efektif. Perlu adanya penanganan dan perubahan yang dilakukan terhadap pengkonsumsian energi yaitu dengan cara membenahi dan menciptakan sebuah sistem siklus energi baru yang lebih efektif yang memberi keuntungan bagi manusa maupun alam. Respon arsitektur yang menjawab fenomena tersebut ialah bangunan yang menerapkan near zero-net energy. Dengan menggunakan metode yang berbasis riset, penentuan objek dan konsep desain merupakan respon dari pengolahan energi yang kurang efektif. Tujuan yang ingin dicapai dari obyek yang diusulkan adalah untuk memperbaiki sistem siklus energi yang dirasa kurang efektif dalam pengolahannya. Obyek diharapkan dapat menjadi pemicu bagi bangunan lainnya untuk dapat menerapkan hal yang sama perihal pengolahan energi, sehingga energi yang ada dapat dimanfaatkan secara lebih efektif.
Arsitektur Dan Teori Multiple Intelligences Sebagai Pemicu Kreativitas Bernadette Hesty Prameswari; Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1121.765 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.17669

Abstract

Kreativitas merupakan salah satu hal penting dalam kehidupan manusia sehari-hari, terutama demi kelangsungan hidup yang lebih maksimal. Tidak hanya aktivitas atau pekerjaan yang berhubungan dengan seni saja yang membutuhkannya, namun seluruh aktivitas yang ada, jika didasari dengan kreativitas akan membuahkan hasil yang lebih maksimal. Menumbuhkan dan memelihata kreativitas dalam diri seseorang sangatlah penting, mulai dari usia dini hingga usia lanjut. Upaya dalam meningkatkan kreativitas dapat dilakukan dengan banyak cara, yaitu dari faktor internal dan juga faktor eksternal. Peranan arsitektur pada dasarnya adalah memfasilitasi dan mengakomodasi kebutuhan dan aktivitas manusia. Melalui peranan arsitektur, dengan pendekatan teori Multiple Intelligences, karya yang berupa rancangan sekolah ini adalah upaya merancang arsitektur yang dapat mempengaruhi perkembangan kreativitas dari faktor eksternal, terhadap penggunanya. Teori Multiple Intelligences tersebut akan diterapkan pada penataan massa dan sirkulasi.
Hubungan antara Ruang dan Manusia dalam Museum Peradaban Islam Baiq Marwah Rahmah; Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19077

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir orang barat dilanda Islamophobia. Islamophobia adalah ketakutan yang berlebihan terhadap Islam. Ketakutan tersebut berdasarkan sebuah isu atau kontroversi yang dimunculkan oleh orang-orang yang membenci Islam. Isu itu menyebabkan masyarakat muslim dicap sebagai seorang pribadi yang menakutkan, kejam, dsb. Berawal dari masalah islamophobia yang muncul di beberapa negara barat. Muncul pertanyaan mendasar bagaimana arsitektur dapat menghapus islamophobia? Dalam konteksnya, penderita islamophobia adalah orang-orang yang belum mengenal Islam sepenuhnya karena tidak adanya wadah yang bisa dijadikan alat untuk mengenal Islam secara mendalam. Dengan adanya desain museum peradaban Islam, masyarakat islamophobic New York diharapkan mampu melihat lebih dalam tentang agama Islam beserta peradaban yang dibawanya di dunia. Peradaban mencakup kondisi masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Untuk dapat membuat masyarakat New York bisa memahami Islam dengan baik di butuhkan sekuen dan perjalanan ruang yang mencakup tiga aspek tersebut. Oleh karena itu, dalam museum ini perjalanan desain berpacu pada tiga aspek tersebut untuk mencapai goal atau tujuan yang diharapkan.
Wonokromo Junction Efisiensi Ruang dalam Fungsi Waktu hafri alfian; Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.061 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26007

Abstract

Salah satu dari fenomena yang ada dalam penggunaan objek arsitektur adalah terbentuknya idle space, dimana ketika sebuah ruang berada pada kondisi tidak digunakan/ tidak termanfaatkan. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi hal ini. Seperti  waktu dari penggunaan ruang dan lain lain. Hal ini sering terjadi pada tipologi arsitektur di sekitar kita. Terbentuknya idle space merupakan wujud inefisiensi pemanfaatan sebuah ruang. Konsep yang ditawarkan untuk mengatasi hal ini adalah memaksimalkan penggunaan sebuah ruang. Metode yang digunakan antara lain dengan memperpanjang aktivitas penggunaan ruang, dan menggabungkan program yang memiliki persyaratan teknis yang sama dan waktu yang berbeda dalam sebuah ruang. Proyek Wonokromo Junction dipilih sebagai media untuk menerapkan konsep yang ditawarkan. Dengan pertimbangan kawasan ini akan menghasilkan variasi program. Variasi program yang muncul banyak berkaitan dengan rencana pengembangan kawasan berbasis pejalan kaki oleh pemerintah Surabaya. Variasi program yang ada selanjutnya dikelompokkan untuk menentukan ruang formal yang terbentuk.
Pengaturan Sirkulasi Stasiun Sudirman dengan Konsep "Flow" Debrilian Easther Magdalena; Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.218 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26355

Abstract

Ruang publik merupakan sebuah ruang bagi warga untuk melakukan interaksi sosial yang harus dimiliki setiap kota yang secara tidak langsung menjadi cermin akan kualitas dari kota itu sendiri. Kota Jakarta dikenal dengan kepadatan penduduk dan mobilitas penduduk yang tinggi dengan penggunaan transportasi kereta sebagai transportasi utama warga kota Jakarta. Stasiun Sudirman adalah salah satu contoh ruang publik tempat meraih penggunaan jasa transportasi commuter-line untuk berpindah tempat sesuai tujuannya. Namun kualitasnya sebagai ruang publik menurun karena kepadatan sirkulasi pengguna dan fasilitas didalamnya yang kurang menarik. Artikel ini akan membahas tentang penerapan konsep flow melakukan redesain terhadap kualitas sirkulasi di Stasiun Sudirman Jakarta denngan tujuan untuk menjawab permasalahan stasiun dengan membuat alur sirkulasi yang terus-menerus dan menghasilkan interaksi antar pengguna, bangunan, dan sekitar.
Penerapan Metode Empati dalam Mendesain Terapi Anak Autis Menggunakan Dolphin Assisted Therapy Anastasya Putri Yusuf; Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.86 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26663

Abstract

Dewasa ini banyak arsitektur yang tidak hanya menempatkan manusia saja sebagai subjek desainnya, melainkan juga hewan. Namun seringkali desain arsitektural hanya memperhatikan kebutuhan manusia saja, kurang mempertimbangkan perilaku hewan yang statusnya juga sebagai pengguna. Arsitektur seharusnya dapat berlaku adil kepada setiap subjek desainnya. Yang dimaksud dengan ‘adil’ adalah merancang dengan mempertimbangkan karakteristik setiap subjek desainnya lalu merangkumnya menjadi sebuah arsitektur yang tepat bagi setiap subjek di dalamnya. Dalam terapi anak autis menggunakan Dolphin Assisted Therapy (DAT), hewan tidak hanya menjadi objek namun juga subjek yang membantu kesembuhan pasien. Untuk mengakomodasi kebutuhan setiap pengguna dalam desain, digunakan metode Empati dimana perancang menempatkan diri sebagai user guna memahami perspektif ruang dari sudut pandang user. Hal ini dilakukan agar mengurangi subjektifitas perancang dalam mendesain dan guna menciptakan desain yang tepat bagi setiap user di dalam arsitektur tersebut.
Kesetaraan Program Arsitektur berdasarkan Aktivitas Manusia Multazam Akbar Junaedi; Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.742 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.33869

Abstract

Arsitektur dalam sebuah sistem fungsi sosial seharusnya memikirkan setiap irisan dari segala sistem yang ada dalam lingkungan. Sehingga seharusnya dalam ilmu arsitektur tidak ada hierarki desain dalam rancangan bangunan arsitektur. Dengan pembacaan tersebut permasalahan yang diangkat adalah diferensial lingkungan sosial dalam aspek fisik dan non-fisik pada koridor Tunjungan, Surabaya. Pendekatan Arsitektur dan Perilaku Manusia, menjadi kacamata analisa masalah pada konteks lingkungan dan sosial. Variabel waktu dan kepemilikan ruang di definisikan sebagai acuan dalam menentukan program yang akan dirancang. Sehingga pergerakan penduduk dan non-penduduk Tunjungan dirasa cukup mewakili masalah fisik maupun non-fisik pada konteks, yang kemudian digunakan sebagai dasar olahan formal dan teknis pada rancangan arsitektur. Konsep Equality and No-Segmentation menjadi konsep besar yang digunakan dalam rancangan arsitektur. Memberikan kesetaraan pada subjek penduduk dan non-penduduk Tunjungan dalam kepemilikan ruang di konteks rancang. Sehingga tidak ada lagi kesenjangan desain dalam program arsitektur antara manusia, yaitu penduduk dan non-penduduk di Koridor Tunjungan, Surabaya.
Peningkatan Kualitas Ruang dan Infrastruktur pada Perbatasan Surabaya Barat Joshua Gama Wastara; Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1353.029 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.35039

Abstract

Sebagai kota besar bukan berarti setiap wilayah Surabaya harus menjadi kawasan wisata dan destinasi. Setiap wilayah kota memiliki fungsinya masing masing. Namun tidak memiliki fungsi wisata bukan berarti infrastruktur suatu wilayah tidak perlu diperhatikan. Wilayah perbatasan Surabaya barat (benowo) tidak memiliki area wisata yang menarik, sampai pertengahan 2017 tidak memiliki taman satupun, infrastruktur kota kurang dan akses jalan sangan minim, dan menjadi wilayah yang tidak dikenal sebagai apapun selain tempat pembuangan sampah akhir. Tujuan akhir pada desain berfokus pada arsitektur yang meningkatkan infrastruktur wilayah benowo perbatasan kota Surabaya dan Kabupaten Gresik. Namun arsitektur tetap mengintegrasikan hubungan bangunan, ruang terbuka hijau dan kebutuhan masyarakat sekitar. Privasi dalam desain ini menjadi poin yang sangat penting karena pertemuan antara penghuni dan pengunjung tiap hari akan mempengaruhi personal space masing – masing orang. Programatik fasilitas dan ruang harus menjadi sangat fleksibel untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat sekitar juga.