Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Meningkatkan Kualitas dan Vitalitas Kawasan melalui Fasilitas Geopark Lumpur Sidoarjo sebagai Katalisator Widya Wahyuning Permata; Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.35308

Abstract

Fenomena semburan lumpur Sidoarjo adalah peristiwa meletusnya gunungan lumpur di Kecamatan Porong, Sidoarjo di Jawa Timur, Indonesia yang menyebabkan kawasan tersebut mengalami berbagai dampak negatif sehingga menjadi area yang ditinggalkan oleh masyarakat. Geopark sebagai objek rancang yang berada di kawasan lindung geologi menjadi sebuah respon arsitektur untuk menghidupkan area tersebut dengan menggunakan pendekatan katalis untuk mendorong dan mengarahkan pada perkembangan berikutnya. Objek rancang mengeksplorasi pengalaman spasial untuk menciptakan persepsi baru terhadap kawasan terdampak lumpur yang bertujuan menjadi katalisator kawasan yang berkembang menjadi lebih baik, serta menyampaikan makna yang dimiliki wilayah terdampak kepada masyarakat.
Pembentukan Persepsi dalam Arsitektur Melalui Dasar-Dasar Penciptaan Sinema Muhammad Imam Adly; Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.58426

Abstract

Arsitektur telah memiliki keterhubungan secara tidak langsung dengan sinema sejak pertama kali film diciptakan. Dari kedua bentuk keilmuan ini, terdapat banyak persinggungan tentang bagaimana mereka tercipta. Dalam sinema ada istilah montase yang menjadi teknik paling dasar dalam proses pembentukan film, yaitu bagaimana adegan-adegan dirangkai untuk mencapai sebuah narasi yang diinginkan. Montase adalah gagasan tentang sinekdoke, tentang bagaimana fragmen-fragmen kecil yang akan mengkonstruksi persepsi yang utuh dalam pikiran penikmatnya. Melalui irisan tersebut, proyek ini berusaha mengkonstruksi sebuah rancangan arsitektural melalui cara yang sama dengan bagaimana sinema membentuk dirinya. Karenanya, dilakukan sebuah pendekatan sinematik dalam proses merancangnya. Mulai dari bagaimana memposisikan diri sebagai seorang pengguna melalui penggalan-penggalan adegan sampai merumuskan gubahan bentuk arsitektural yang kemudian disusun untuk dapat memantik persepsi tertentu. Fungsi rancangan sendiri berupa bathing house yang diperuntukkan bagi mereka yang ingin melarikan diri dari tekanan urban di Kota Surabaya. Dengan nilai-nilai sinematik yang disematkan dalam rancangan, tempat ini akan menjadi sebuah tempat melepas diri dengan penyuntikan realitas yang terbelokan (altered reality) melalui fragmen-fragmen yang akan membentuk persepsi dalam pikiran.
Membongkar Hierarki Ruang Penjual-Pembeli pada Tempat Perbelanjaan Anggit Nurhandhika Ramadhan; Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.59179

Abstract

Dalam paradigma dekonstruksi terdapat konsep différance atau secara sederhana dipahami sebagai permainan batas. Secara arsitektural, permainan batas tersebut akan dilakukan dalam mengeksplorasi tatanan ruang yang telah ada dari sebuah objek. Objek yang diambil sebagai tempat pendemonstrasian konsep adalah Mal Malioboro. Ruang yang dibahas adalah ketika ia berkaitan dengan interaksi penjual dan pembeli. Ruang-ruang tersebut akan diekstraksi ke dalam medium arsitektural secara utuh, dilakukan evaluasi, dan dicari alternatif yang diperlukan dalam kaitannya dengan peleburan batas hierarki antara ruang belanja dan ruang non-belanja pada tempat perbelanjaan tersebut. Ketika batas antar ruang telah dilebur menjadi bentuk medium arsitektural, maka penyusunan kembali pada tatanan ruang akan dilakukan. Akhirnya, hierarki antara penjual dan pembeli diharapkan menjadi lebih lebur dengan tatanan ruang alternatif pada desain tempat perbelanjaan yang baru.
The role of infill building in the sustainable conservation Casestudy : Surabaya downtown Bambang Soemardiono; Defry Agatha Ardianta
IPTEK Journal of Proceedings Series No 3 (2017): 8th International Conference on Architecture Research and Design 2016
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1344.751 KB) | DOI: 10.12962/j23546026.y2017i3.2461

Abstract

Most of the building in the conservation area in Surabaya are facing such dillematic situation. One side the heritage buildings should keep the architectural, historical, aesthetical as well as social values but in the other side they must be developed based on the real market demand. Infill building should be the solution in making respectful contemporary contribution to the conservation area. The result of this paper is to formulate a framework requirements of the development and suggest the role in form of model of infill building based on the sustainable conservation approach, so the development is not only solving the physical problems but also non-physical.
From present to the past: The different way of thinking about conservation (A case from design idea for Siola Building, Surabaya) Defry Agatha Ardianta; Bambang Soemardiono; Tiara Kartika Rini
IPTEK Journal of Proceedings Series No 3 (2017): 8th International Conference on Architecture Research and Design 2016
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.671 KB) | DOI: 10.12962/j23546026.y2017i3.2454

Abstract

AbstractThe relation between architecture and the era is always arguable. There are two conditions which describe this relation, at first architecture as a reflection of an era and architecture reflects the timelessness. The later condition commonly becomes a standard of value to judge the architecture is irrelevant with an era by forgetting the first condition. Siola is experiencing both of conditions. A lot of proposals to ‘regain’ its golden time by put intention into heroism or historical background are offered. Many of those efforts focus on how to get the building back like its origin and it’s to be used. Analysis concentrates on‘re-functioning’ which means not to take the function back as its origin but to give the new role by considering the contemporary context? Nostalgic and Romantic aspect has critically seen as the opportunity to take appropriate manner toward better improvement of urban living quality. Siola itself is a landmark which escalating the socio-cultural and economic in Tunjungan corridor. According to historical timeline, many functions are implemented in Siola building before. This historical fact leads the vision that function is changeable within less-changing physical appearance. Furthermore, the main task is to encourage the spirit of people by design strategy and to put it within the building. To trigger the spirit of people evoke the spirit of place.
Unformed drawing: Pembacaan hubungan paratransit tak bergerak dan ruang kota Defry Agatha Ardianta; Miftah Adisunu Nugroho Alui
ARSNET Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Department of Architecture Faculty of Engineering Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1132.143 KB) | DOI: 10.7454/arsnet.v2i2.58

Abstract

Tulisan ini berupaya membaca kehadiran moda transportasi paratransit dalam berelasi terhadap pergerakan pejalan kaki pada konteks ruang kota. Argumentasi pada tulisan ini dibangun dengan melakukan pengamatan dan analisis berbasis unformed drawing terhadap salah satu kendaraan tak bermotor yaitu becak, yang beroperasi di kawasan kota lama Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Unformed drawing menjadi relevan digunakan karena dapat merekam dengan cepat dan memuat informasi berlapis, sehingga dapat menggali berbagai aspek yang tersembunyi pada ruang kota. Dengan menempatkan unformed drawing sebagai alat investigasi, pengamatan dilakukan dengan membaca kehadiran becak tidak hanya sebagai moda transportasi bergerak yang berpindah dari satu titik ke titik lain. Studi ini mencoba lebih kritis melihat ragam kehadiran becak, yaitu ketika dalam keadaan tidak bergerak dan berhenti dalam durasi waktu tertentu. Studi yang diangkat oleh tulisan ini bertujuan mengungkap aspek-aspek yang dimiliki oleh becak sebagai paratransit sehingga berpotensi mengintervensi ruang sosial, meskipun dia tidak bergerak. Representasi aspek tersebut melalui unformed drawing dapat mendemonstrasikan beberapa mekanisme fleksibilitas dan kondisi yang tersembunyi pada ruang kota. Studi ini menyimpulkan berbagai intervensi kreatif berbasis becak untuk kebutuhan penggunaan ruang kota secara kolektif dan dinamis.     This paper attempts to read the presence of paratransit modes of transportation and its relation to the pedestrian movement in the context of urban space. The argument of this paper is built by conducting observations and analysis using unformed drawing on a type of non-motorised vehicles, namely the becak, which operates in the old city area of ​​​​Surabaya, East Java, Indonesia. Unformed drawing becomes relevant to use because it can record quickly and can contain a more layered information. By placing unformed drawings as an investigative tool, observations are made by reading becak critically by highlighting its various role in urban space when the vehicle is not moving and stops for a certain duration of time. This study aims to reveal the aspects possessed by becak as a paratransit so that it has the potential to interfere in social space, even though it is not moving. Representation of these aspects through unformed drawings demonstrate multiple flexible condition of becak and multiple relations of becak within the movement space in urban context. The study concludes with an array of creative intervention of becak to invite the collective and dynamic uses of urban space.
Fragments Within Fragments: The Collective Negotiation of Exquisite Corpse Drawings Ardianta, Defry Agatha; Yatmo, Yandi Andri; Atmodiwirjo, Paramita
Interiority Vol. 8, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper argues for the critical role of collective drawings as a form of representation that highlights the open process. The open process of collective drawing involves actions performed by multiple actors and actions that are not limited to producing drawings together but also require the expression of ideas. Collective drawing encourages negotiations among fragments of the drawing, which opens up various possibilities of representations within the interiority discourse. Exquisite corpse drawings made by Surrealist artists occupy an influential position as drawings produced via an open process regulated by the internal mechanism, manifesting as a continuous act of drawing. This study on exquisite corpse drawings is conducted by dissecting the drawing fragments and examining how the head–torso–feet relationship is negotiated within them. The study reveals that layers of negotiation among fragments represent how the collective act of drawing works. This finding contributes to expanding the internal logic and system of a collective drawing process, allowing diverse interpretations and articulation of the representation works.