Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Penilaian Elemen Fasad Gaya Arsitektur Hunian Berdasarkan Preferensi Masyarakat di Kota Malang Marshall Tito Adi Widigda; Iwan Wibisono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol. 10 No. 4 (2022): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring berjalannya waktu beberapa gaya arsitektur yang berada di Kota Malang memiliki perkembangan dan telah menjadi tren atau keunikan yang tumbuh di kota itu sendiri, gaya arsitektur itu sendiri antara lain merupakan gaya modern, gaya mediterania, dan gaya klasik. Munculnya berbagai macam gaya arsitektur yang ada membuat banyak pendapat yang berbedabeda dari latar belakang masyarakat. Khususnya pada latar belakang pekerjaan terkadang mempunyai pendapat yang berbeda-beda tentang sebuah desain bangunan. Hal yang menuntun kearah ini merupakan perbedaan dari estetika visual dalam sebuah bangunan hunian. Perbedaan ini dapat membantu arsitek maupun pengembang untuk mengarahkan kepada suatu desain fasade yang lebih reliabel, serta dapat menemukan titik tengah dari kedua masing-masing presepsi. Lingkup dari penelitian ini memiliki fokus dengan latar belakang pekerjaan masyarakat di Kota Malang, karena hal ini mempunyai pengaruh yang berbeda-beda juga dalam pemilihan desain hunian. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif. Penulis harus menyatakan pertanyaan langsung terhadap objek yang dikaji, demi mendapatkan hasil yang akurat dan teruji. Hunian yang memiliki penilaian tertinggi berdasarkan skor rata-rata merupakan hunian bergaya modern karena hunian ini mudah diterima oleh golongan masyarakat akademisi di bidang arsitektur dan masyarakat umum. Kata kunci: Elemen Fasad, Gaya Arsitektur, Preferensi
UPAYA PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN TERMAL PADA RUANG TERBUKA HIJAU TAMAN TEPIAN KALTARA ABADI DENGAN ELEMEN GREEN INFRASTRUCTURE dhea aurellia; iwan wibisono
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di berbagai negara pemanasan global menjadi isu utama yang serius. Pemanasan global mengakibatkan beberapa dampak yang cukup berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup manusia, salah satunya adalah menurunnya kualitas lingkungan termal, yang berpengaruh bagi populasi yang tinggal di wilayah tersebut. Lingkungan atau tempat publik yang memiliki ruang terbuka hijau, memiliki potensi yang lebih besar dalam melawan pemanasan global. Kabupaten Bulungan memiliki ruang terbuka hijau yang unik yaitu Taman tepian Kaltara Abadi dikarenakan letaknya bersebelahan dengan Sungai Kayan. Namun Taman Tepian Kaltara Abadi merupakan taman yang gersang sehingga kualitas lingkungan termalnya perlu ditingkatkan. Penelitian ini akan membahas tentang upaya meningkatkan kualitas lingkungan termal ruang terbuka hijau dengan memaksimalkan keberadaan tutupan lahan dan vegetasi menggunakan aspek elemen green infrastructure. Menggunakan metode deskriptif evaluatif, pengukuran suhu dan kelembapan menggunakan alat Elitech RC4 - HC. yang dimana titik pengukuran ditentukan dari presentase material tutupan lahan hardscape dan softscape. Lalu data yang didapat diolah melalui perhitungan Temperature Humidity Index (THI) dan didapatkan hasil bahwa keadaan kualitas lingkungan termal pada taman jauh diluar batas nyaman, namun ada beberapa bagian taman yang hasil perhitungannya mendekati batas nyaman, yaitu dengan presentase softscape lebih banyak dan keadaan vegetasi lebih baik. Kata Kunci : Kualitas Lingkungan Termal, Ruang Terbuka Hijau, Green Infrastructure. ABSTRACT In many countries, global warming is a serious issue. Global warming causes several impacts that are quite influential on human survival, one of which is the decrease in the quality of the thermal environment, which affects the population in the region. Environments or public places that have green open spaces have greater potential for fighting global warming. Bulungan Regency has a unique green open space, namely the Taman Tepian Kaltara Abadi, because it is located next to the Kayan River. However, Taman Tepian Kaltara Abadi is arid, so the quality of the thermal environment needs to be improved. This research will discuss efforts to improve the quality of the thermal environment of green open spaces by maximizing the presence of land cover and vegetation using aspects of green infrastructure elements. Using a descriptive-evaluative method, measure temperature and humidity using the Elitech RC4 - HC. where the measurement point is determined from the percentage of hardscape and softscape land cover material. Then the data obtained is processed through the calculation of the Temperature Humidity Index (THI), and the result is that the condition of the thermal environmental quality in the park is far beyond the comfortable limit, but there are some parts of the park whose calculation results are close to the comfortable limit, namely with a higher percentage of softscape and more vegetation with good conditions. Keywords : Thermal Environmental Quality, Green open space, Green Infrastructure.
SPA & Wellness Center di Kota Batu dengan Konsep Arsitektur Bioklimatik Aulia Shabrina Haya; Iwan Wibisono
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SPA & Wellness center menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan wellness tourism oleh Kemenparekraf di Indonesia. Namun, faktanya 52,3% usaha SPA di Jawa Timur belum memenuhi standar usaha SPA yang berlaku. SPA & Wellness center menjadi salah satu solusi bagi masyarakat modern dalam menjaga keseimbangan kondisi fisik dan mental. SPA & Wellness center dirancang pada tapak kosong seluas ± 3,9 ha di Jalan Sultan Agung No.20, Kel. Sisir, Kota Batu, Jawa Timur. Penerapan konsep bioklimatik selaras dengan salah satu prinsip pembentuk wellness yaitu untuk menciptakan lingkungan yang sehat, serta sebagai solusi terhadap kondisi alam Kota Batu. Penerapan konsep bioklimatik berpedoman pada 6 prinsip arsitektur bioklimatik oleh Kenneth Yeang. Dalam proses perancangan, SPA & Wellness center menggunakan pendekatan desain strukturalisme dengan strategi desain analisis pola (pattern analysis). Hasil perancangan SPA & Wellness center dengan konsep bioklimatik ini adalah terciptanya keselarasan dan hubungan simbiosis mutualisme antara program pemerintah, kebutuhan masyarakat, potensi alam, dan perekonomian daerah.
Persepsi Pengunjung terhadap Penerapan Prinsip Biophilic pada Lifestyle Center di Indonesia (Studi Kasus The Breeze BSD City) Shahirah, Nada Atha; Iwan Wibisono
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasca pandemi Covid-19 di Indonesia, masih ditemukan fenomena pusat perbelanjaan yang sepipengunjung. Perubahan kondisi dan kebutuhan masyarakat Indonesia akan sebuah pusatperbelanjaan telah berubah, dimana saat ini masyarakat cenderung mengharapkan pusatperbelanjaan sebagai salah satu tempat untuk melakukan interaksi sosial dibandingkan aktivitasberbelanja. Lifestyle center dapat menjadi jawaban akan perubahan kondisi dan kebutuhantersebut, karena pusat perbelanjaan ini mampu melayani berbagai aktivitas dan kebutuhanprimer maupun sekunder masyarakat, terlebih jika disandingkan dengan prinsip biophilic yangdapat membantu pemulihan kondisi mental masyarakat. Penelitian ini mengkaji persepsipengunjung terhadap penerapan prinsip biophilic pada The Breeze BSD City sebagai salah satulifestyle center pertama di Indonesia yang mengintegrasikan konsep alam, dengan menggunakanmetode kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkanbahwa The Breeze BSD City telah menerapkan seluruh pola dari prinsip biophilic, serta didapatihasil yang positif dari hubungan antara penerapan prinsip biophilic pada The Breeze BSD Citydengan persepsi pengunjung secara keseluruhan, pengalaman berkunjung dan berbelanjanya,serta popularitas lifestyle center.
Lifestyle Center di Kota Jakarta Selatan dengan Konsep Biophilic Evana Elirica Aliyah; Iwan Wibisono
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lifestyle center juga bisa dilengkapi dengan konsep biophilic, yang mengintegrasikan elemen alam seperti vegetasi dan air ke dalam desain bangunan. Konsep ini dapat mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan. Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan biophilic memberikan efek restoratif yang lebih besar dalam mengurangi stres dan kecemasan. Di Indonesia, Jakarta adalah contoh kota dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi, terutama di Jakarta Selatan, yang menjadi pusat perekonomian dengan kawasan bisnis besar seperti Sudirman Central Business District (SCBD). Aktivitas padat pekerja di Jakarta Selatan membutuhkan tempat rekreasi untuk mengurangi stres kerja. Maka dari itu, Jakarta Selatan membutuhkan sebuah lifestyle center dengan konsep biophilic untuk menyediakan tempat rekreasi dan mengurangi stres penduduk kota. Lifestyle center dirancang pada tapak kosong seluas ± 8,4 ha (termasuk di dalamnya danau seluas ± 1,7 ha) di Jalan Jendral Sudirman, Kel. Setiabudi, Kec. Setiabudi, Jakarta Selatan, DKI Jakarta. Penerapan konsep biophilic berpedoman pada buku 14 Patterns of Biophilic Design Improving Health and Well-Being in the Built Environment karya Terrapin Bright Green tahun 2014. Dalam proses desain, lifestyle center dirancang menggunakan pendekatan desain empirisme.
Perancangan Youth Digital Hub di Kota Malang dengan Pendekatan Arsitektur Hijau Auvryl Fanya Reditania; Iwan Wibisono
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tranformasi digital pada era industri 4.0 menuntut generasi muda khususnya generasi Z untuk memiliki keterampilan digital yang adaptif. Kota Malang, sebagai kota pendidikan dan pusat ekonomi kreatif, menghadapi tantangan kesenjangan keterampilan digital yang berdampak pada tingginya pengangguran usia produktif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang Youth Digital Hub sebagai ruang edukatif, kolaboratif dan produktif yang berfokus pada pengembangan keterampilan digital. Pendekatan arsitektur hijau diterapkan guna menciptakan bangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Metode strukturalisme digunakan untuk menganalisis pola-pola dari penerapan desain arsitektur hijau pada bangunan preseden. Hasil rancangan mencakup penerapan green roof, pemaksimalan lansekap, sistem panen air hujan, pencahayaan alami, penghawaan alami dan pemanfaatan energi surya.  Kata kunci: Youth Digital Hub, Arsitektur Hijau, Generasi Z, Digitalisasi ABSTRACT Digital transformations in the era of industry 4.0 demands that the younger generation, particularly Generation Z, possess adaptive digital skills. Malang City, as an educational hub and center for the creative economy, faces the challenge of a digital skill gap that contributes to high unemployment among the productive age group. This study aims to design a Youth Digital Hub as an educational, collaborative and productive space focused on the development of digital competencies. A green architecture approaches applied to create an environmentally friendly and sustainable building. The structuralism method is used to analyze patterns from the application of green architectural design in precedent buildings. The design results include the implementation of green roof, landscape optimization, rainwater harvesting systems, natural lighting, natural ventilation and the use of solar energy.  Keywords: Youth Digital Hub, Green Architecture, Z Generation, Digitalisation