Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Disiplin Keilmuan Arsitektur Nusantara Riwayatmu Nanti Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 3 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.4.235

Abstract

Arsitektur bertalian erat dengan budaya. Dalam kategori pokok budaya itu sendiri, arsitektur bukan salah satu pensubstansinya. Tidak pula bisa dipungkiri bahwa kajian arsitektur (vernakular Nusantara) masih menggunakan perspektif sosiologis, antropologis, arkeologis, etnografis, maupun fenomenologis secara masif. Posisi ini menjadikan disiplin arsitektur bukan sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Disiplin arsitektur harus menggandeng atau bahkan meminjam bidang studi lain sebagai sarana bidang studinya. Di sisi lain, diskursus dan kesadaran membangun Arsitektur Nusantara terbaca semakin menguat, hingga seolah menjadi gerakan dekonstruktif untuk menemukan wajah disiplin keilmuan atau bidang studi baru. Persoalannya adalah, apakah disiplin atau bidang studi Arsitektur Nusantara itu sudah dan/atau sedemikian genting sehingga harus bangkit sebagai disiplin keilmuan baru saat ini? Artikel ini mendeskripsikan bagaimana perspektif sosiologis, antropologis, arkeologis, etnografis, maupun fenomenologis bekerja di seputar arsitektur vernakular. Dengan meninjau cara kerja perspektif tersebut, diperoleh posisi melihat Arsitektur Nusantara yang lebih jernih.
Peran Esensial Masyarakat Lokal terhadap Pengembangan Desa Wisata Putri, Putu Ratih Deandra; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2024): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v13i2.360

Abstract

Keberagaman budaya dan alam yang ada di wilayah Indonesia menjadikannya destinasi wisata yang dikenal hingga mancanegara. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan desa wisata. Penelitian menggunakan metode systematic literature review dengan melakukan analisis deskriptif kualitatif yang diperoleh dari 32 artikel dan diseleksi menjadi enam artikel yang menekankan pada esensi peran masyarakat lokal. Hasil analisis pada artikel ini menunjukkan bahwa peran partisipasi masyarakat sangat esensial untuk memastikan pembangunan desa wisata yang berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat. Penelitian ini juga mengidentifikasi pentingnya peran pemerintah dan investor swasta dalam pengembangan desa wisata, dengan membuat strategi dan kebijakan serta menyediakan sumber daya finansial dan pengalaman bisnis yang diperlukan, tanpa mengabaikan peran esensial masyarakat lokal. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa partisipasi masyarakat lokal harus tetap menjadi prioritas utama, sementara peran pemerintah dan investor swasta dapat mendukung visi pembangunan desa wisata dengan tetap memprioritaskan kepentingan masyarakat setempat. Hal – hal tersebut turut membantu mencapai tingkat partisipasi tertinggi, yaitu citizen power melalui kerja sama dan kolaborasi antara masyarakat lokal, pemerintah dan investor swasta.  
Sakuren: Konsep Spasial Sebagai Prasyarat Keselamatan Masyarakat Keselamatan Masyarakat Budaya Padi di Kasepuhan Ciptagelar Susilo Kusdiwanggo; Jakob Sumardjo
PANGGUNG Vol 26 No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i3.194

Abstract

ABSTRACTIn the rice culture of KasepuhanCiptagelar society, life will emerge after sakuren brought together (pangawinan). Life is not static, but dynamic and cyclical. Sakuren should be sought through the ngalasuwung, that is a process of ritual activity. Ngalasuwung performed through pattern of space motion katuhu or kenca. Goal of ngalasuwung is to achieve a suwung. The process of ngalasuwung does not cease after the reality of sakuren found. Reality of sakuren remains to be mated (pangawinan) in suwung space. Aim of pangawinan is obtain pancer. Through an ethnographic approach, sakuren cultural theme as a result of a domain analysis, studied simultaneously with taxonomic analysis and elaborated with thick description. Comprehensive studies show that sakuren is an existential meaning which should be pursued and a prerequisite for obtaining safety and sustainability.Keywords: KasepuhanCiptagelar, pangawinan, pancer, sakurenABSTRAKDalam budaya padi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, kehidupan akan muncul setelah sakuren dipertemukan. Kehidupan tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan siklis. Sakuren adalah konsep sepasang. Sakuren harus dicari melalui proses ngalasuwung, yaitu sebuah proses aktivitas ritual. Ngalasuwung dilakukan dengan dengan pola gerak ruang katuhu atau kenca. Tujuan ngalasuwung adalah mencapai ruang suwung. Proses ngalasuwung tidak berhenti setelah realitas sakuren ditemukan. Realitas sakuren masih harus dikawinkan dalam ruang suwung. Tujuan pangawinan adalah memperoleh pancer (keselamatan). Melalui pendekatan etnografi, tema kultural sakuren sebagai hasil dari analisis domain, dikaji secara simultan dengan analisis taksonomi dan dielaborasi dengan thick description. Kajian komprehensif menunjukkan bahwa sakuren merupakan makna eksistensial yang harus diupayakan dan menjadi prasyarat untuk memperoleh keselamatan dan keberlanjutan hidup masyarakat budaya padi Ciptagelar.Kata Kunci :Kasepuhan Ciptagelar, pangawinan, pancer, sakuren 
Faktor-faktor yang Memengaruhi Perubahan pada Rumah dan Permukiman Tradisional di Indonesia (Systematic Literature Review) Imanda Amalia; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 13 No. 4 (2024): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v13i4.412

Abstract

Arsitektur tradisional mencerminkan perpaduan nilai-nilai dan adat istiadat yang masih dianut oleh masyarakat setempat, menjadi simbol identitas budaya yang kuat di Indonesia. Namun, globalisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, dan perubahan sosial-ekonomi yang cepat telah mendorong terjadinya perubahan signifikan dalam arsitektur tradisional, termasuk pada rumah dan permukiman di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan pada rumah dan permukiman tradisional dengan fokus pada adaptasi masyarakat terhadap perubahan zaman. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur berupa Systematic Literature Review (SLR) terhadap 7 artikel yang relevan dengan topik. Hasil kajian menunjukkan bahwa perubahan pada rumah dan permukiman tradisional di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kebutuhan manusia yang terus meningkat, perkembangan teknologi, perubahan pengetahuan manusia, perubahan ideologi, serta akulturasi budaya. Perubahan tersebut terlihat dalam bentuk transformasi layout, bentuk fisik, dan material bangunan, yang mencerminkan upaya masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan tantangan kehidupan modern. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana arsitektur tradisional terus berkembang dalam menghadapi tuntutan zaman yang semakin kompleks.
Interaksi Waktu dan Ruang dalam Ruang Kosong: Mengalami Senthong Tengah Melalui Experience Space Saniyya Zahra Nabila; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman ruang senthong tengah dalam rumah tradisional Jawa melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan strategi autoetnografi. Analisis dilakukan pada senthong tengah di tiga bangunan, yaitu Dalem Yudhanegaran, Dalem Bupati Kanjengan Surakarta, dan Omah UGM. Studi ini menunjukkan bahwa ruang kosong dalam senthong tengah tidak hanya bersifat fisik, melainkan menghadirkan atmosfer spiritual dan kultural yang kuat, yang dapat dipahami melalui pengalaman multisensorik. Temuan mengarah pada konsep tan wadhag, yaitu ruang yang meskipun secara visual tampak kosong, justru mengandung makna tersirat yang mengungkap keterhubungan manusia dengan nilai-nilai yang lebih dalam. Variasi pengalaman pada masing-masing lokasi dan waktu juga menciptakan sense of place yang unik. Temuan ini memperkaya pemahaman filosofis terhadap arsitektur Jawa serta memberikan kontribusi terhadap studi arsitektur berbasis pengalaman dan pelestarian warisan budaya.   Kata kunci: pengalaman ruang, kekosongan, autoetnografi, arsitektur Jawa