Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Interaksi Waktu dan Ruang dalam Ruang Kosong: Mengalami Senthong Tengah Melalui Experience Space Saniyya Zahra Nabila; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman ruang senthong tengah dalam rumah tradisional Jawa melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan strategi autoetnografi. Analisis dilakukan pada senthong tengah di tiga bangunan, yaitu Dalem Yudhanegaran, Dalem Bupati Kanjengan Surakarta, dan Omah UGM. Studi ini menunjukkan bahwa ruang kosong dalam senthong tengah tidak hanya bersifat fisik, melainkan menghadirkan atmosfer spiritual dan kultural yang kuat, yang dapat dipahami melalui pengalaman multisensorik. Temuan mengarah pada konsep tan wadhag, yaitu ruang yang meskipun secara visual tampak kosong, justru mengandung makna tersirat yang mengungkap keterhubungan manusia dengan nilai-nilai yang lebih dalam. Variasi pengalaman pada masing-masing lokasi dan waktu juga menciptakan sense of place yang unik. Temuan ini memperkaya pemahaman filosofis terhadap arsitektur Jawa serta memberikan kontribusi terhadap studi arsitektur berbasis pengalaman dan pelestarian warisan budaya.   Kata kunci: pengalaman ruang, kekosongan, autoetnografi, arsitektur Jawa
Narasi Ganda Pada Perancangan Cultural Center di Kecamatan Cisolok Muhammad Zulhan Adinegoro; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 4 (2026): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Ciletuh–Palabuhanratu UNESCO Global Geopark di Kabupaten Sukabumi memiliki kekayaan geologi, lanskap alam, serta keberadaan Masyarakat Adat Pancer-Pangawinan sebagai warisan budaya hidup yang masih dipraktikkan hingga saat ini. Namun, hingga kini belum tersedia wadah arsitektural yang secara khusus mampu mewadahi kegiatan pelestarian, edukasi, dan representasi budaya masyarakat adat secara terpadu dan kontekstual. Perancangan ini bertujuan untuk menghasilkan rancangan Cultural Center di Kecamatan Cisolok yang mampu menjembatani kepentingan masyarakat adat sebagai subjek budaya dan wisatawan sebagai pengguna ruang. Pendekatan yang digunakan adalah narasi ganda, dengan paradigma intuitif sebagai metode perancangan. Narasi budaya lokal sakuren dan pola spasial paparakoan dijadikan dasar dalam pengolahan tata massa, sirkulasi, hirarki ruang, serta pengalaman arsitektural. Metode intuitif diterapkan untuk menangkap fenomena non fisik tapak yang tidak sepenuhnya dapat dipahami melalui pendekatan rasional. Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan narasi ganda mampu menghasilkan ruang budaya yang berfungsi sebagai fasilitas pelestarian sekaligus medium arsitektural yang menyampaikan identitas lokal dan dialog antara tradisi dan konteks kontemporer.   Kata kunci: Cultural Center, Narasi Ganda, Intuitif, Masyarakat Adat Pancer-Pangawinan
Arsitektur Feminis, Ruang Gender, Dan Pengalaman Perempuan: Systematic Literature Review Andini Puspita Sucahyawati; Susilo Kusdiwanggo; Ema Yunita Titisari
Brawijaya Journal of Social Science Vol. 5 No. 2 (2026): Brawijaya Journal of Social Science (BJSS)
Publisher : Sociology Department, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.bjss.2026.005.02.3

Abstract

Ketimpangan gender dalam pengalaman ruang masih menjadi permasalahan global yang tercermin dalam keterbatasan akses perempuan terhadap ruang publik, representasi yang bias maskulin dalam arsitektur kontemporer, serta segregasi spasial dalam bangunan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau perkembangan teori arsitektur feminis dan konsep ruang gender dalam memahami relasi arsitektur, ruang, dan gender, serta mengeksplorasi pengalaman perempuan dalam ruang domestik maupun publik direpresentasikan dan dinegosiasikan. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review dengan basis data Scopus, melalui tahapan pencarian, seleksi berdasarkan kriteria inklusi-eksklusi, hingga diperoleh 13 artikel yang dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori arsitektur feminis berkembang dari kritik atas bias modernisme menuju gagasan ruang inklusif yang menekankan keadilan spasial dan akses setara. Pada ruang domestik, perempuan kerap diposisikan dalam ranah subordinasi, tetapi juga dapat menegosiasikan identitas dan agensi melalui praktik keseharian dan pengelolaan rumah tangga. Dalam arsitektur vernakular, perempuan memperoleh otoritas lebih besar melalui tradisi pewarisan dan posisi simbolik dalam ruang inti. Sebaliknya, dalam arsitektur monumental dan modern, perempuan sering direduksi pada tubuh atau dibuat tidak terlihat, meskipun negosiasi tetap muncul melalui strategi desain feminis maupun adaptasi spasial. Temuan ini menegaskan bahwa pengalaman perempuan dalam arsitektur bersifat ambivalen, selalu berada di antara reproduksi patriarki dan resistensi. Penelitian ini juga mengidentifikasi gap, yaitu kurangnya kajian interseksionalitas dan keterbatasan studi di Asia Tenggara, sehingga penelitian lanjutan perlu diarahkan pada konteks lokal dan ruang-ruang kontemporer. Dengan demikian, arsitektur feminis dapat berfungsi tidak hanya sebagai kritik, tetapi juga sebagai kerangka konseptual untuk menciptakan ruang yang lebih inklusif, aman, dan setara bagi semua gender.
The Bilbao Effect in Indonesia: Architectural Representation and the New Image of Banyuwangi City Susilo Kusdiwanggo; Alya Lailatul Azizah
Local Wisdom Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol. 18 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/lw.v18i1.15832

Abstract

This study analyzes the role of architectural representation in the city branding strategy of Banyuwangi Regency, which has undergone a transformation from a mystical city to a cultural city. The objective of this study is to comprehend the process of spatial representation through public architectural design developed during the leadership of Regent Azwar Anas (2010–2021). Utilizing a qualitative narrative approach within a constructivist paradigm and deductive reasoning, this study examines five iconic architectural projects revitalized in Banyuwangi and conducts in-depth interviews with six architects and project managers. A thorough examination of the data, employing open coding, axial coding, and selective coding techniques, revealed that architecture was strategically employed as a medium for transforming the city's identity through three main narratives: the local Bilbao effect shaping visual appeal; the representation of Osing culture through symbolic elements in building design; and the transformation of public perception through the revitalization of public spaces. The discussion establishes a connection between these narratives and the theories of the circuit of culture and urban cultural terraforming, thereby asserting that architectural representation is not merely aesthetic but also political, social, and cultural. These findings contribute to our expanded understanding of city branding as a multidimensional process and generate opportunities for further study on community involvement and the role of spatial policies in the production of urban identity. Keywords: Banyuwangi; Bilbao effect; City branding; City identity; Cultural representation; Iconic architecture; Revitalization of public spaces.
Boeh: Elemen Busana Penentu Hierarki Ruang Perempuan pada Masyarakat Budaya Padi Kasepuhan Ciptagelar Puji Astutik; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 9 No. 3 (2020): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v9i3.105

Abstract

Ketika berinteraksi dengan padi dan turunannya, masyarakat budaya padi (padi culture) Kasepuhan Ciptagelar selalu mengelola secara ritual dalam satu siklus yang terus berulang. Terdapat relasi signifikan antara waktu, pelaku dan aktivitas memperjalankan padi. Urutan konstelasi ini menghadirkan teritori dan ruang yang baik secara fisik maupun metafisik bagi laki-laki dan perempuan. Ruang perempuan hadir pada saat ritual padi dilaksanakan. Kehadirannya dikenali secara langsung dari busananya. Boeh, elemen busana dari relasi sakuren domain budaya busana menandakan pemakainya sebagai pemimpin ritual sekaligus entitas ke-3 dari relasi sakuren. Setiap realitas menunjukan hierarki ruang perempuan yang berjenjang. Dengan menggunakan metode kualitatif-eksplanatif melalui paradigma empiris, dengan hipotesis penelitian. Penelitian antropologi-arsitektur ini bertujuan untuk menguji teori domain budaya busana yang dipakai pada saat ritual sebagai penentu hierarki ruang perempuan. Hasil penelitian membuktikan dan memperkuat hipotesis, bahwa domain budaya busana yang menghadirkan boeh pada perempuan saat ritual menunjukan hierarki tertinggi dari ruang perempuan.
Strategi Adaptasi Model Rumah Panggung Permukiman Tepi Sungai Musi Palembang Bambang Wicaksono; Widya Fransiska Febriati Anwar; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 9 No. 3 (2020): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v9i3.109

Abstract

Bentuk eksistensi rumah di tepi sungai Musi berupa rumah-rumah panggung. Perkembangan rumah panggung tepi Sungai Musi di pengaruhi peranan eksistensi sungai Musi. Pilihan membangun rumah panggung merupakan bentuk adaptasi masyarakat yang tinggal dan menetap pada permukimannya. Berbagai strategi adaptasi oleh masyarakat tidak terlepas dari kondisi tanah dan kondisi geografi sungai Musi yang selalu tergenang air. Ketinggian tiang rumah tersebut merupakan salah satu strategi adaptasi terhadap pasang-surut air sungai Musi pada musim hujan. Kondisi sungai Musi mengalami perubahan oleh geografi sungai cenderung membuat masyarakat berupaya mengatur kondisi tersebut (Adjustment) agar dapat memenuhi kebutuhan penghidupannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya dari kecenderungan masyararakat permukiman tepi sungai Musi dalam beradaptasi dengan lingkungan yang di atur oleh alam dan upaya merubah lingkungan sebagai cara mempertahankan lingkungan permukiman. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi literatur. Analisis dilakukan secara kualitatif pada variabel bangunan, masyarakat, dan produk dari identifikasi permukiman tepi sungai. Hasilnya menunjukkan bahwa rumah di tepi sungai mengalami perubahan fisik pada bangunan, baik dari segi fungsi maupun bahan bangunan.
Perubahan Orientasi Permukiman Tepi Sungai sebagai Pengaruh Eksistensi Sungai Musi Palembang Bambang Wicaksono; Ari Siswanto; Susilo Kusdiwanggo; Widya Fransiska Febriati Anwar
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 3 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v9i3.126

Abstract

Eksistensi Sungai Musi pada awalnya menjadi orientasi bangunan rumah yang menghadap ke sungai. Ruang air mulai di persempit dengan kehadiran bangunan baru yang menempati area diatas lahan yang tertutup air. Perubahan budaya sungai ke darat berpengaruh kepada kehadiran bangunan baik yang lama maupun yang baru. Hal ini menyebabkan hilangnya potensi lokal dan identitas arsitektur lokal dan berakibat hilangnya eksistensi sungai tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh eksistensi sungai Musi dalam perubahan orientasi permukiam tepi sungai dari ruang air ke ruang darat. Untuk mencapai tujuan tersebut, studi mengidentifikasi jejak arsitektur permukiman, mengekplorasi aktivitas dan gagasan masyarakat tepian sungai. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Analisis dilakukan secara kualitattif terhadap variabel, orientasi, posisi, bentuk, dan tata letak hunian tepi sungai. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tepian sungai yang dibangun pada area aliran anak sungai masih memiliki orientasi ke sungai. Sedangkan rumah yang dibangun pada area yang dekat dengan jalan bergeser lebih orientasi ke darat. Studi menyimpulkan bahwa Perubahan orientasi permukiman tepian sungai disebabkan oleh perubahan eksistensi Sungai Musi Palembang.
Disiplin Keilmuan Arsitektur Nusantara Riwayatmu Nanti Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 3 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.4.235

Abstract

Arsitektur bertalian erat dengan budaya. Dalam kategori pokok budaya itu sendiri, arsitektur bukan salah satu pensubstansinya. Tidak pula bisa dipungkiri bahwa kajian arsitektur (vernakular Nusantara) masih menggunakan perspektif sosiologis, antropologis, arkeologis, etnografis, maupun fenomenologis secara masif. Posisi ini menjadikan disiplin arsitektur bukan sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Disiplin arsitektur harus menggandeng atau bahkan meminjam bidang studi lain sebagai sarana bidang studinya. Di sisi lain, diskursus dan kesadaran membangun Arsitektur Nusantara terbaca semakin menguat, hingga seolah menjadi gerakan dekonstruktif untuk menemukan wajah disiplin keilmuan atau bidang studi baru. Persoalannya adalah, apakah disiplin atau bidang studi Arsitektur Nusantara itu sudah dan/atau sedemikian genting sehingga harus bangkit sebagai disiplin keilmuan baru saat ini? Artikel ini mendeskripsikan bagaimana perspektif sosiologis, antropologis, arkeologis, etnografis, maupun fenomenologis bekerja di seputar arsitektur vernakular. Dengan meninjau cara kerja perspektif tersebut, diperoleh posisi melihat Arsitektur Nusantara yang lebih jernih.