Bethy Suryawati Hernowo
Bagian Patologi Anatomi

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Hubungan antara Imunoekspresi ER-α, ER-β, dan PR dengan Gradasipada Tumor Filodes Payudara Quzwain, Fairuz; Hernowo, Bethy Suryawati
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.03.10

Abstract

Berbeda dengan tumor dari unsur epitelial duktuli dan kelenjar payudara, penelitian tentang peranan hormonal pada tumor filodes masih menunjukkan hasil yang inkonsisten, sehingga patogenesis dan penatalaksanaan tumor ini dalam jalur hormonal masih kontroversi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara imunoekspresi faktor hormonal yaitu Estrogen Receptor Alpha (ER-α), Estrogen Receptor Beta (ER-β) dan Progesteron Receptor (PR) dengan gradasi tumor filodes payudara. Dilakukan penilaian histologi dan imunoekspresi pada parafin blok jaringan tumor filodes payudara di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP. Hasan Sadikin Bandung periode tahun 2011 sampai 2014. Subjek penelitian dibagi menjadi 3 kelompok gradasi berdasarkan kriteria WHO tahun 2012 yaitu benign, borderline dan malignant. Didapatkan 62 kasus tumor filodes yang sebagian besar menunjukkan distribusi imunoekspresi ER- α>50 % yaitu pada kategori benign sebesar 35(87,5%). Terdapat korelasi negatif yang signifikan antara imunoekspresi ER-α dengan gradasi histopatologis (p=0,001 r=-0,423), artinya nilai imunoekspresi ER-α yang tinggi justru banyak diekpresikan pada gradasi benign. Tidak ditemukan korelasi signifikan antara imunoekspresi ER-β dan PR dengan gradasi tumor filodes payudara pada penelitian ini. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai imunoekspresi ER-α maka gradasi tumor filodes semakin rendah. Kata Kunci: ER-α, ER-β, PR, gradasi, tumor filodes
Insidensi Bayi Berat Lahir Rendah pada Spektrum Plasenta Akreta di Rumah Sakit Dr Hasan Sadikin Bandung Kharisma, Yuktiana; Agustina, Hasrayati; Suryanti, Sri; Dewayani, Birgitta Maria; Hernowo, Bethy Suryawati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v11i2.2063

Abstract

Low birth weight (LBW) babies are closely related to infant morbidity, stunted growth and cognitive development, and chronic diseases. Placenta accreta spectrum (PAS) is a condition that complicates pregnancy and is closely related to low birth weight. Objectives: To determined the incidence of LBW in mothers with SPA at the hospital Dr. Hasan Sadikin Bandung. Methods: A descriptive observational study involving 71 cases of SPA in hospitals  Dr. Hasan Sadikin Bandung, period 2016-2020, which has met the inclusion and exclusion criteria. SPA cases were divided into three groups: placenta accreta, increta, and percreta. In each SPA group, the incidence of LBW was evaluated. Results: 46.5% (33/71 cases of PAS) had low birth weight, while 53.5% (38/71 cases of PAS) had normal birth weight babies. The placenta accreta and percreta groups were dominated by normal birth weight infants [(18/31 cases), (5/9 cases)], while the placenta increta group was dominated by low birth weight infants (16/31 cases). The LBW category is divided into Extremely Low Birth Weight (ELBW), Very Low Birth Weight (VLBW), and LBW. In placenta accreta, there were 2 ELBW and VLBW infants, and 9 LBW infants. In the placenta increta, there are 3 ELBW and VLBW, and 10 LBW. In the placenta percreta, there were 1 ELBW and 3 LBW, while VLBW was not found in the placenta percreta. Conclusion: The incidence of LBW is found in almost half the population of SPA cases in hospitals. DR. Hasan Sadikin in the 2016-2020 period.Keywords:  low birth weight, placenta accreta spectrum
Analisa Imunoekspresi Extracellular Matrix Metalloproteinase Inducer (EMMPRIN) pada Karsinoma Sel Ginjal Subtipe Sel Jernih yang Telah Metastasis dan Tidak Bermetastasis Dewi, Hasna; Hassan, Abdul Hadi; Hernowo, Bethy Suryawati
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No.3, September 2018
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangKarsinoma sel ginjal subtipe sel jernih (KSGSJ) merupakan keganasan epitelial terbanyak dari seluruh kejadian karsinoma sel ginjal, yang insidensinya menunjukkan peningkatan, dengan angka mortalitas yang masih tinggi. Prognosis KSGSJ akan menurun pada kasus-kasus yang telah bermetastasis. Tujuan penelitian ini untuk melihat peranan penanda molekuler extracelluler matrix metalloproteinase inducer (EMMPRIN) dalam hubungannya dengan kejadian metastasis pada KSGSJ. MetodePenelitian ini dilakukan secara cross sectional analitic terhadap 36 kasus KSGSJ di Departemen Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, yang terdiri atas 18 kasus kelompok non metastasis dan 18 kasus kelompok metastasis. Pemeriksaan semikuantitatif berupa skor imunoreaktif imunohisitokimia EMMPRIN dilakukan terhadap semua kasus.HasilPenelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara skor imunoreaktif EMMPRIN pada kelompok KSGSJ metastasis dan non metastasis (p=0,001; OR=34 (3,611-320,10).KesimpulanBerdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa semakin kuat imunoekspresi EMMPRIN, semakin besar kemungkinan terjadinya metastasis pada KSGSJ.
Kata kunci: chromogranin, karsinoma sel skuamosa tidak berkeratin, NSE, pola pertumbuhan neuroendokrin, synaptophysin Pertiwi, Veenda Herlyna; Hernowo, Bethy Suryawati; Dewayani, Birgitta M
Majalah Patologi Indonesia Vol. 28 No. 1, Januari 2019
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangKarsinoma sel skuamosa serviks adalah suatu keganasan epitelial serviks yang terdiri dari sel-sel tumor berdiferensiasiskuamous dengan derajat yang berbeda. Menurut data rekam medis di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung,insidensi karsinoma serviks menempati posisi pertama dengan jumlah kasus sebanyak 2.180 dalam rentang waktu Januari2010 sampai Maret 2016. Meskipun terdapat kemajuan terapi untuk karsinoma sel skuamosa yang tidak berkeratin tetapi masihditemukan kasus-kasus yang mengalami rekurensi cukup tinggi. Hal tersebut diduga disebabkan oleh adanya kesalahan dalammenentukan jenis histopatologi. Karsinoma sel skuamosa tidak berkeratin dengan pola pertumbuhan tumor neuroendokrinseperti trabekular, padat dan nested sering sulit dibedakan dengan tumor neuroendokrin di serviks uteri. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui proporsi imunoekspresi chromogranin, neuron specific enolase (NSE), synaptophysin dan Ki-67, padakarsinoma sel skuamosa yang tidak berkeratin dengan pola pertumbuhan tumor neuroendokrin di serviks uteri, untukmendeteksi tumor neuroendokrin yang sebenarnya (true neuroendocrine tumor).MetodePenelitian ini menggunakan metoda deskriptif kategorik. Sampel yang digunakan adalah karsinoma sel skuamosa yang tidakberkeratin di serviks uteri sejak 1 Agustus 2014-31 Desember 2015 di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung.Dilakukan evaluasi ulang dan dipilih karsinoma sel skuamosa tidak berkeratin dengan pola tumor neuroendokrin sepertitrabekula, padat dan nested sehingga didapatkan sampel sebanyak 27 pasien dilakukan pewarnaan imunohistokimiachromogranin, NSE, synaptophysin dan Ki-67.HasilTerdapat 27 kasus karsinoma sel skuamosa yang tidak berkeratin di serviks uteri dengan pola pertumbuhan tumorneuroendokrin didapatkan proporsi yang menunjukkan imunoekspresi positif chromogranin, NSE dan synaptophysin sebesar10 (37%). Hal ini menunjukkan bahwa sampel merupakan tumor neuroendokrin dengan derajat tinggi (Ki-67>20%).KesimpulanImunoekspresi chromogranin, NSE dan synaptophysin sebesar 37% adalah tumor neuroendokrin derajat tinggi (Ki-67 >20%)pada karsinoma sel skuamosa tidak berkeratin dengan pola tumor neuroendokrin.
Imunoekspresi Lgr5 dan E-cadherin sebagai Faktor Prediksi Metastasis ke Kelenjar Getah Bening Regional pada Adenokarsinoma Kolorektal Dharmayanti, Sri; Hassan, Abdul Hadi; Yulianti, Herry; Hernowo, Bethy Suryawati
Majalah Patologi Indonesia Vol. 28 No. 1, Januari 2019
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangKarsinoma kolorektal (KKR) merupakan keganasan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi di dunia.Lebih dari 90% KKR adalah adenokarsinoma. Tingginya angka kekambuhan dan metastasis pada KKRdisebabkan oleh Cancer Stem Cell (CSC). Metastasis ke kelenjar getah bening merupakan penanda prognosisyang buruk pada KKR. Lgr5 adalah penanda CSC di usus halus dan kolon. E-cadherin berperan pentingmenjaga integritas hubungan antar sel. Imunoekspresi Lgr5 berhubungan dengan prognosis yang buruk.Kehilangan fungsi E-cadherin berhubungan dengan pertumbuhan yang invasif. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui apakah Lgr5 dan E-cadherin dapat digunakan sebagai faktor prediksi metastasis ke kelenjar getahbening regional pada KKR.MetodePenelitian ini menggunakan analisis observasi dengan disain potong lintang. Sampel diambil dari blok parafinyang berasal dari jaringan operasi kolon dan rektum dengan jumlah kelenjar getah bening ≥12 buah.Keseluruhan sampel berjumlah 52 dan terbagi menjadi dua kelompok yaitu non metastasis dan metastasisdengan 26 sampel setiap kelompok. Sampel didapatkan dari Depatemen Patologi Anatomik Rumah Sakit DrHasan Sadikin Bandung periode 1 Januari 2010-31 Desember 2015 dan dilakukan pewarnaan imunohistokimiaLgr5 dan E-cadherin. Analisis statistik menggunakan chi-square dengan nilai kemaknaan p<0,05.HasilLgr5 berhubungan dengan metastasis ke kelenjar getah bening regional p=0,001. E-cadherin tidakberhubungan dengan metastasis ke kelenjar getah bening regional p=0,09.KesimpulanLgr5 dapat digunakan sebagai faktor prediksi terjadinya metastasis ke kelenjar getah bening regional padaKKR.