Jamaluddin Jamaluddin
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

METODE KALAM IBN RUSYD (KRITIK ATAS METODE MUTAKALLIMIN) Afrizal Mansur; Kurnial Ilahi; Jamaluddin Jamaluddin; M Syafwan HB
Jurnal Ushuluddin Vol 26, No 1 (2018): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v26i1.4542

Abstract

Kajian metode kalam mendiskusikan sumber dan langkah-langkah yang ditempuh untuk memecahkan persoalan kalam dengan baik untuk memelihara akidah umat. Menurut Ibn Rusyd dasar akidah adalah nash, tetapi para mutakallim tidak dapat memakai teks nash secara harfiah saja bila terjadi benturan nash dengan logika. Ini dilakukan dengan mendiskripsikan pendekatan setiap aliran kalam agar jelas kekuatan dan kelemahan argumentas setiap aliran. Dari sini kelihatan bagaimana Ibn Rusyd mendudukkan persoalan ini dalam memelihara akidah umat. Ternyata melalui ketajaman berpikir yang diimbangi dengan kebijakan yang tepat, Ibn Rusyd berhasil mendudukkan persoalan kalam secara tepat dalam kondisi umat yang cenderung diskriminatif
Improvisasi Aplikasi Alpen-HQ (Restraining Box) Yang Ramah Hewan, Aman dan Efisien Untuk Pemakaian Masyarakat Pada Pelaksanaan Ibadah Kurban Iskandar Arnel; Jamaluddin Jamaluddin; Fathimah Az-Zahra
Journal of Community Development Vol. 7 No. 1 (2026): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v7i1.1912

Abstract

Pelaksanaan ibadah kurban di masyarakat sering menghadapi kendala dalam penanganan hewan yang kurang aman, kurang efisien, dan berpotensi menimbulkan stres pada hewan. Inovasi alat penahan hewan (restraining box) menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan aspek kesejahteraan hewan dan keselamatan petugas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi aplikasi Alpen-HQ sebagai restraining box yang ramah hewan, aman, dan efisien untuk digunakan masyarakat dalam pelaksanaan kurban. Metode yang digunakan adalah pendekatan eksperimen lapangan dengan uji coba alat pada beberapa lokasi pemotongan hewan, serta pengukuran efisiensi waktu, tingkat stres hewan, dan keamanan operator. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan Alpen-HQ mampu mengurangi waktu penanganan sebesar 35%, menurunkan tingkat stres hewan hingga 40%, serta meningkatkan keamanan operator hingga 50% dibandingkan metode konvensional. Disimpulkan bahwa Alpen-HQ efektif sebagai solusi inovatif yang meningkatkan efisiensi, keamanan, dan kesejahteraan hewan dalam pelaksanaan ibadah kurban di masyarakat hewan.
THE VALUES OF AL-ḤAYÂʾ IN SAYYID QUṬB’S FÎ ẒILÂL AL-QURʾÂN AND THEIR RELEVANCE IN THE CONTEMPORARY ERA / NILAI-NILAI AL-HAYÂ’ DALAM TAFSIR FI ZHILÂL AL-QUR’ÂN KARYA SAYYID QUTHUB DAN RELEVANSINYA DI ERA KONTEMPORER Siska Anggrayani; Dasman Yahya Ma’ali; Jamaluddin Jamaluddin; Mochammad Novendri Spt
Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol. 8 No. 1 (2026): Januari - Juli
Publisher : UIN ANTASARI BANJARMASIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/msr.v8i1.16960

Abstract

The erosion of the value of modesty al-hayâ’ in the contemporary era presents a moral challenge driven by the rise of social media, cultural shifts, and changing norms of decency. This study aims to examine the values ​​of al-hayâ’ based on Sayyid Qutb’s interpretation in Tafsir Fī Ẓilāl al-Qur’ān and their relevance to the challenges of modern life. Employing a qualitative methodology, the study utilizes library research and a thematic (maudhū‘ī) exegetical approach. Primary data sources include the Qur’an and Tafsir Fī Ẓilāl al-Qur’ān, focusing on Surah an-Nūr [24]: 30–31, Surah al-Qaṣaṣ [28]: 25, and Surah al-Aḥzāb [33]: 33. Data were analyzed using a descriptive-analytical method. The findings indicate that the values ​​of al-hayâ’ in Sayyid Qutb’s interpretation encompass three main aspects: guarding one’s gaze and covering the awrah (intimate parts of the body); maintaining decency and boundaries in interactions between men and women; and preserving personal honor by avoiding tabarruj (ostentatious display of beauty). These values ​​remain relevant in the contemporary context, particularly in addressing the influence of social media, permissive culture, and the weakening of norms regarding decency. The implementation of al-hayâ’ values ​​can be achieved through moral education, family guidance, and the strengthening of ethics in both social interactions and the digital realm. Thus, al-hayâ’ is understood not merely as a sense of shame, but as a moral principle that plays a vital role in safeguarding personal honor and shaping the character of a Muslim possessing noble morals.