Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Budidaya Ikan Lele Kelompok Tani Agape Kelurahan Tuatuka Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang Mikson M. D Nalle; Wahyuni Fanggi Tasik; Yusuf Kamlasi; Ion Tarsardo Sianturi
Journal of Innovation and Applied Technology Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiat.2022.008.01.3

Abstract

Community service activities for catfish aquaculture with tarpaulin ponds in Tuatuka, East Kupang District, East Nusa Tenggara Province. The problems are the potential of natural resources that have not been optimized and the desire of the Agape Farmer Group who wants to progress but is constrained by limited knowledge in making ponds, preparation of aquaculture media, stocking larva, maintenance, feeding, monitoring water quality, fish health management and harvesting.
Sebaran Horizontal Zat Hara di Perairan Lamalera, Nusa Tenggara Timur (Horizontal Distribution of Nutrients in the Waters Lamalera, East Nusa Tenggara) Marojahan Simanjuntak; Yusuf Kamlasi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.145 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.2.99-108

Abstract

Perairan Lamalera, Nusa Tenggara Timur merupakan perairan yang sangat penting karena kondisi oseanografinya yang dipengaruhi daratan, Laut Sawu, dan Samudera Hindia sehingga kaya akan sumberdaya laut. Penelitian oseanografi di perairan Lamalera, Nusa Tenggara Timur telah dilakukan pada bulan Juli 2011. Tujuan penelitian tersebut untuk mengkaji kualitas air ditinjau dari kandungan zat hara yang merupakan indikator kesuburan perairan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya di perairan Lamalera, Nusa Tenggara Timur. Parameter yang diteliti meliputi fosfat, nitrat, dan silikat serta parameter kualitas air yaitu oksigen terlarut, dan keasaman (pH). Metode penelitian yang digunakan adalah pengambilan air laut dari lapisan permukaan (5 m), termoklin (15-150 m)) dan dibawah termoklin (100-300 m) pada 19 stasiun penelitian. Kadar fosfat, nitrat, dan silikat dianalisis menurut metode Strickland dan Parsons. Kadar oksigen terlarut diukur dengan menggunakan metode Winkler. Derajat keasaman (pH) diukur dengan pH meter Cyber Scan 300. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kadar zat hara pada umumnya lebih tinggi di sebelah selatan perairan ini. Kadar fosfat berkisar 0,53–5,93 μg A/l; nitrat 0,34–28,31 μg A/l, dan silikat 0,69–44,60 μg A/l. Kadar oksigen terlarut berkisar 2,30–4,90 ml/l, dan nilai pH 7,85–8,21. Parameter yang diteliti di perairan Lamalera, Nusa Tenggara Timur masih baik untuk kehidupan berbagai biota mengacu pada Baku Mutu yang telah ditetapkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KMNLH). Kata kunci: Kualitas air, fosfat, nitrat, silikat, Perairan Lamalera. Lamalera Waters, East Nusa Tenggara is one of the waters are very important because the condition of the affected land, Sawu Sea, and Indian Ocean, so rich in marine resources. Oceanographic research in the Lamalera Waters, East Nusa Tenggara have been carried out in July 2011. The research objective was to assess water quality in terms of the nutrients content, which is an indicator of fertility waters, and the factors influencing it in the Lamalera Waters, East Nusa Tenggara. The parameters studied include phosphate, nitrate, silicate, and water quality parameters of dissolved oxygen and acidity (pH). The research method used is by taking seawater from a layer of surface (5 m), thermocline (15-150 m), and below the thermocline (100-300 m) at 19 research stations. Levels of phosphate, nitrate, and silicate were analyzed according to the method of Strickland and Parsons. Dissolved oxygen levels were measured by using the method of Winkler. The degree of acidity (pH) was measured with pH meter Cyber Scan 300. The results obtained indicate that nutrient levels are generally higher in southern waters. Phosphate levels ranged from 0.53 to 5.93 ug A/l nitrate 0.34-28.31 ug A/l, and silicate 0.69-44.60 ug A/l. Dissolved oxygen levels ranged from 2.30 to 4.90 ml/l, and pH values from 7.85 to 8.21. Parameters studied in the Lamalera Waters, East Nusa Tenggara is still good for the life of various biota refers to the Quality Standards set by the Ministry of Environment (KMNLH). Key words: water quality, phosphate, nitrate, silicate, Lamalera Waters.
KOMPOSISI JENIS IKAN LAUT EKONOMIS PENTING YANG DIPASARKAN DI KOTA KUPANG Naharuddin Sri; Yusuf Kamlasi
Partner Vol 24, No 2 (2019): Edisi November 2019
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jp.v24i2.389

Abstract

Kupang City is one of the areas that has become the center of marine fish marketing in East Nusa Tenggara Province. Sea fisheries production in 2017 amounted to 25,262.27 tons consisting of 32 types of fish. Until now, information about important marine fish species and their marketing channels in Kupang City are still limited. The purpose of the research is to identificate and inventory important marine fish species and analyze their marketing channels. This research discusses in Kupang City from May to November 2019 The research locations were Oesapa Market, Oeba Fish Market, Pasir Panjang Fish Market, Kasih Market and Tenau Fish Landing Center. This research was conducted using the field survey method and literature review. Based on the results of the study data obtained by demersal fish species of 72 species, which are included in 42 genera and 29 families. Pelagic fish species numbered 38 species, which are included in 28 genera and 14 families. So the number of species of marine fish inventoryed and collected was 110 species consisting of 43 families and 70 genera. The types of sea fish are very important which are inventoried as many as 62 species of demersal fish and 38 types of pelagic fish. So a total of 100 important marine fish that have been successfully inventoryed and repaired are 100 species. For marketing channels, from the survey results, five (5) network marketing models for important marine fish products were obtained in Kupang City. There are 7 types of marketing institutions involved from producers to registered consumers: traders, sea collectors, land collectors, retailers, agents, end consumers, and exporters.  Keywords: marine fish, demersal, pelagic, economically important, marketing
EVALUASI PERTUMBUHAN IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) PADA BUDIDAYA AKUAPONIK DENGAN SAYURAN SAWI (Brassica rapa var. parachinensis) Marlyn Kallau; Theresia Ginting; Yusuf Kamlasi
Partner Vol 21, No 2 (2016): Edisi November
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jp.v21i2.220

Abstract

Aquaponic refers to any system that combines conventional aquaculture with hydroponics in a symbiotic environment. In this study, catfish was cultured with green cabbage. The aim of this study was to observe catfish growth in aquaponics system. The growth parameters measured included feed consumption (g/day/fish), growth (g), growth rate (%/day), mean metabolic body weight (kg0.8), metabolic feed intake (g/ kg0.8/day), relative growth rate per metabolic weight (g/kg0.8/day), relative feeding rate (%BW/day), relative feeding rate per metabolic weight (g/kg0.8) and feed conversion. Factorial randomized trial was used with two factors namely fish stocking density (P) and plant substrate composition (S) with three replications. Stocking density factor consisted of two treatments which were 75-125 individuals per m2 (P1) and 126-175 individuals per m2 (P2). The composition of the substrate included two treatments, namely S1 (70% gravel+30% palm fibres) and S2 (70% pumice+30% palm fibres). The data shown that there is no significant difference of substrate and interaction (stocking density x substrate) factors to the growth of catfish (P>0.05). Whereas, for the treatment of stocking densities, a significant difference (P <0.05) was found on four growth parameters (initial weight, SGR, RGRm and feed consumption).Keywords : aquaponics, catfish, green cabbage and fish growth
Analisis Pertumbuhan, Pembesaran Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepenus) Menggunakan Metode Sistem Boster dan Sistem Konvensional Naharuddin Sri; Yusuf Kamlasi
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 2, No 2 (2021): April 2022
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v2i2.633

Abstract

ABSTRAKSektor perikanan terbagi menjadi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Perikanan tangkap berkorelasi dengan nelayan dan masyarakat pesisir, sedangkan budidaya berkorelasi dengan pembudidaya yang berada di darat. Salah satu komoditas ikan air tawar yang sangat potensial untuk dibuddiayakan adalah ikan lele. Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Permintaan ikan lele yang semakin meningkat menuntut para pelaku budidaya untuk meningkatkan produktivitasnya. Untuk meningkatkan produktivitas maka Ditjen Perikanan Budidaya terus melakukan inovasi dan pengembangan teknologi yang menghasilkan sistem pembesaran ikan lele yang lebih efisien, yaitu sistem Boster. Hal ini seiring dengan pengembangan kegiatan budidaya perikanan menjadi salah satu prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan guna meningkatkan perekonomian masyakat. Permintaan ikan lele yang semakin meningkat menuntut para pelaku budidaya untuk meningkatkan produktivitasnya. Selama ini, umumnya pembudidaya lele masih melakukan pembesaran system konvensional. Untuk meningkatkan produktivitas maka Ditjen Perikanan Budidaya terus melakukan inovasi dan pengembangan teknologi yang menghasilkan sistem pembesaran ikan lele yang lebih efisien. Sistem tersebut salah satunya adalah sistem Boster. Tujuan penelitian ini adalah untuk  perbandingan pertumbuhan ikan leles sangkuriang sistem antara sistem Boster dan konvensional .Dari hasil pengukuran kualitas air suhu 25-27oC, pH 7 dan DO 1,2 – 2,2 selama pemeliharaan pada kedua perlakuan masih pada kisaran yang layak, FCR 0,546 dan 1,1 masih pada kisaran yang baik. Dari analisa keuangan sistem boster nilai RC-Ratio :  1.1 sedangkan sistem konvensional  RC Ratio : 1.03. Umur panen sistem boster 80 hari dan sistem konvensional 100 hari. Berdasarkan hasil analisa tersebut dapat disimpulkan bahwa  pertumbuhan ikan lele sangkuriang sistem pembesaran boster lebih bagus  dibandingkan dengan dengan sistem konvensional. Kata kunci : ikan lele, boster, konvensional, pembesaran
Model Peramalan Produksi Perikanan Laut Komoditas Unggulan NTT Di Kota Kupang Sri Imelda Edo; Wahyuni Fanggi Tasik; Yusuf Kamlasi
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 1, No 1 (2020): November 2020
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.324 KB) | DOI: 10.35726/jvip.v1i1.491

Abstract

NTT memiliki potensi sumberdaya ikan yang sangat beragam jenisnya. Komoditas unggulan yang dimiliki terdiri atas ikan pelagis diantara  tuna dan cakalang, sedangkan ikan demersal seperti kerapu dan jenis lainnya. Hasil proyeksi tentang produksi hasil penangkapan ikan unggulan NTT di berbagai kabupaten dan Kota perlu diketahui oleh pemerintah dalam menentukan arah kebijakan ke depan. Namun model proyeksi terbaik tentang produksi hasil tangkapan ikan di kota dan kabupaten di NTT belum tersedia. Karena itu penelitian ini bertujuan untuk menentukan model peramalan produksi perikanan laut komoditas unggulan NTT di kota Kupang, khususnya ikan tuna, cakalang dan kerapu. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode penelitian matematika terapan. Data utama berupa data sekunder yang diperoleh dari BPS NTT dan dinas perikanan NTT. Sedangkan data pendukung diperoleh dari nelayan di lima pelabuhan penangkapan Ikan di Kota Kupang. Analisi data dilakukan mengikuti prosedur peramalan yaitu Mendefinisikan Tujuan Peramalan, Membuat diagram pencar (Plot Data), Memilih model peramalan yang tepat. Hasil yang diperoleh berupa model peramalan produksi, dan ikan Tuna, cakalang kerapu. model ramalan yang paling mendekati untuk ikan Tuna adalah polinom orde 4 yaitu Y = -35.46x4 + 28590x3 - 9E+08x2 + 1E+12x - 6E+14, ikan Cakalang, polinom orde 5 dengan persamaan y = -22.34x5 + 22513x4 - 9E+08x3 + 2E+12x2 - 2E+15x + 7E+17  dan ikan Kerapu mengikuti fungsi polinom orde 6 dengan persamaan y = 2.351x6 - 28432x5 + 1E+08x4 - 4E+11x3 + 6E+14x2 - 5E+17x + 2E+20.
PELATIHAN PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) RAMAH LINGKUNGAN DI SMU KECAMATAN TAEBENU Joi Alfreddi Surbakti; Yusuf Kamlasi; Wahyuni Fanggi Tasik
RESWARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v3i2.1796

Abstract

Penerapan jiwa wirausaha sangat penting guna mendukung generasi muda untuk menjadi agen perubahan. Salah satu cara untuk memperkenalkan semangat berwirausaha adalah dengan memperkenalkan bidang perikanan.Untuk menumbuhkan jiwa yang mau berwirausaha bagisiswa Sekolah Menengah Umum (SMU)maka dilakukan pengenalan bagaimana Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) kepada para siswa yang berada di SMU Taebenu, Nusa Tenggara Timur. Pada kegiatan pengabdian ini siswa diajarkan dan langsung mempraktikan bagaimana cara budidaya ikan yang baik. Kegiatan ini antara lain membuat kolam, memelihara ikan dan proses pemanenan serta pemasaran ikan lele hingga ke konsumen. Pada kegiatan ini siswa sangat berperan aktif dalam setiap pelaksanaan kegiatan. Siswa membuat kolam, memilih benih ikan yang baik dan memelihara serta melakukan pemasaran ikan. Dari hasil yang dicapai pada kegiatan ini siswa menumbhkan jiwa wirausaha dan memiliki keinganan kuat untuk mengembangkannya.
KAJIAN EKONOMIS PERBANDINGAN PEMBESARAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepenus) MENGGUNAKAN METODE SISTEM BIOFLOK DAN SISTEM KONVENSIONAL Naharuddin Sri; Yusuf Kamlasi; Fajar Panuntun
Partner Vol 27, No 1 (2022): Edisi Juli 2022
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jp.v27i1.632

Abstract

 To increase catfish productivity, the Directorate General of Aquaculture continues to innovate and develop technology that results in a more efficient catfish enlargement system. The purpose of this study is to find out the most efficient and economically feasible sangkuriang catfish enlargement system between biofloc and conventional systems. From the results of water quality measurements of temperatures of 25-27oC, pH 7, DO 1.2 – 2.2, FCR 0.9 and 1.1 are still in the good range. From the financial analysis of the biofloc system the value of RC-Ratio: 1.1 while the conventional system RC Ratio: 1.03. The harvest life of the biofloc system is 80 days and the conventional system is 100 days. Based on the results of the analysis, it can be concluded that the enlargement of sangkuriang catfish using a biofloc system is more economical in terms of cost and time.  Keywords: catfish, biofloc, conventional, enlargement
Hematologi dan Histopatologi Insang Ikan Lele Hasil Budidaya Pembudidaya Lokal di Noekele, Kabupaten Kupang Timur Shobikhuliatul Jannah Juanda; Ion Tarsardo Sianturi; Yusuf Kamlasi; Muhammad Fajar Panuntun
BIO-EDU: Jurnal Pendidikan Biologi Vol 7 No 3 (2022): BIO-EDU: Jurnal Pendidikan Biologi Volume 7 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/jbe.v7i3.3596

Abstract

The aim of this study was to determine the haematological and histopathological of the Catfish gills cultured in Noekele, East Kupang, East Nusa Tenggara. The fish samples used were catfish taken randomly as many as 80 individuals from the rearing pond owned by local farmers in Noekele, then taken to the laboratory for measurement of length and weight, morphological abnormalities observation, preparation of fish blood smears and collection of gills for histological preparation. The observation of morphological abnormalities showed body lesion (90%), one ventral fins (31.3%), one pectoral fins (28.8%), dull and pale body colors (100%). Erythrocyte cell damage on haematological observation on blood smear were tear drop shaped, fusion, lacerated membrane, nuclear extrusion, blebbed nuclei, sperocytes (deformed cells), lysis and shrinking erythrocytes. Based on histopathological analysis, gill’s damage were secondary lamella edema, primary lamella vacuoles, secondary lamella necrosis, epithelium lifting, secondary lamella fusion. Loss of lamella structure, hyperplasia and presence of parasites.
Pola Sebaran Klorofil-a dan Kualitas Air Pada Kawasan Budidaya Rumput Laut Di Perairan Pulau Semau Kabupaten Kupang Kamlasi, Yusuf; Rejeki, Sri; Prayitno, Slamet Budi; Purwanti, Frida
Jurnal Kelautan Tropis Vol 27, No 3 (2024): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v27i3.23727

Abstract

Seaweed cultivation area is habitat and development if the ecological conditions of the waters support the growth and survival of seaweed. Chlorophyll is one of the parameters that greatly determines primary productivity in the sea. The study aims to find out the patterns of chlorophyll-a spread and water quality in seaweed cultivation areas. The methods used in the investigation were the survey method for water sampling in the field and the spectrophotometry method for laboratory analysis. The results of the survey showed that the chlorophyll value in the seaweed cultivation area in October 2023 averaged 1.43 mg/m3, while in December 2023 the average chlorophyll-A level was 0.90 mg/m3. The chlorophyll-a content in the waters of the island of Semau in October 2023 ranged between 0.29 and 4.56 mg/m3, while in December 2023 it ranged between 0.09 and 2.82 mg/m3. Water quality parameters that affect chlorophyll distribution include nitrates, temperature, salinity, brightness, depth, dissolved oxygen, and pH.  Kawasan budidaya rumput laut sebagai tempat hidup dan berkembang jika kondisi ekologis perairan ikut mendukung pertumbuhan dan keberlangsungan rumput laut. Klorofil merupakan bagian dari parameter yang sangat menentukan produktivitas primer di laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran kloroil-a dan kualitas air di kawasan budidaya rumput laut. Metode yang digunakan dalam penelitan ini metode survey untuk pengambilan sampel air di lapangan dan metode Spektrofotometri untuk analisis laboratorium. Hasil peneletian menunjukkan bahwa nilai klorofil pada kawasan budidaya rumput laut pada bulan Oktober 2023 nilai rata-rata sebesar 1,43 mg/m3 sedangkan pada bulan Desember 2023 rata-rata klorofil-a adalah 0,90 mg/m3.  Kandungan klorofil-a di perairan pulau Semau pada bulan Oktober 2023 berkirsar antara 0,29 – 4,56 mg/m3 sedangkan pada bulan Desember 2023 berkisar antara 0,09 – 2,82 mg/m3. Parameter kualitas air yang mempengaruhi distribusi klorofil-a seperti nitrat, suhu, salinitas, kecerahan, kedalaman, oksigen terlarut dan pH.