Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Study of Atmospheric Dynamics during the Quasi-Linear Convective System Event in West Sumatra (Case Study of March 11, 2025) Karmelita Asri Widyandaru; Panji Kuswanaji; Ahmad Irsyad Saputra; Achmad Zakir; Aditya Mulya
BULETIN FISIKA Vol. 27 No. 2 (2026): BULETIN FISIKA
Publisher : Departement of Physics Faculty of Mathematics and Natural Sciences, and Institute of Research and Community Services Udayana University, Kampus Bukit Jimbaran Badung Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/BF.2026.v27.i02.p05

Abstract

Quasi-Linear Convective System (QLCS) is an organized quasi-linear convective cloud structure that produces heavy rainfall. This study uses a single explanatory case study method on QLCS that occurred in West Sumatra on 11 March 2025. This study aims to explain the atmospheric dynamic mechanisms in convective system formation and their relationship with rainfall. Doppler C-Band weather radar data from the Padang Meteorological Station were used to analyze QLCS using Lombardo and Colle (2010) criteria. Radar products, including Column Maximum Reflectivity (CMAX) and Surface Rainfall Intensity (SRI), along with ERA5 reanalysis data, were used to examine cloud structure, rainfall intensity, and supporting atmospheric conditions. QLCS had length of 56.81 km, width 8.10 km, maximum reflectivity of 53 dBZ, and 60 minutes lifetime. The system developed due to low-level wind convergence supported by unstable atmospheric conditions, indicated by moderate to high Convective Available Potential Energy (CAPE) values (1000–2000 J kg⁻¹), upward air motion in 700–400 hPa layer, and high mid-level humidity. During the mature phase, QLCS produced heavy rainfall with a maximum intensity of 51 mm/hour. This study contributes to the scientific understanding of the relationship between atmospheric dynamics and regional mitigation efforts by examining rainfall associated with QLCS events.
PEMANFAATAN METODE RGB (RED GREEN BLUE) PADA CITRA SATELIT HIMAWARI-8 DALAM KLASIFIKASI AWAN PADA KEJADIAN HUJAN LEBAT DAERAH SIDOARJO 3 FEBRUARI 2021 Ahmad Dzakiyyurayhan Huda; Aditya Mulya
Jurnal Teknik SILITEK Vol. 1 No. 02 (2022)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pasifik Morotai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/jts.v1i02.14

Abstract

Pada tanggal 2 Februari 2021 jam 07.00 UTC atau jam 14.00 WIB, terjadi peristiwa hujan lebat yang mengguyur daerah Sidoarjo, Jawa Timur. Jenis awan pada Peristiwa hujan lebat yang mengakibatkan banjir dapat dianalisis kondisi atmosfer pada saat kejadian dengan memanfaatkan penginderaan jauh citra satelit Himawari-8. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah RGB (Red Green Blue) menggunakan data citra satelit Himawari-8 melalui 16 Band berbeda yang diproses menggunakan aplikasi SATAID pada jam 07.00 UTC yang merupakan waktu puncak awan konvektif. Metode klasifikasi awan yang digunakan adalah Day Natural Colour, Day Convective Storm dan 24 Hour Microphysics. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan sebaraan awan konvektif menyebar pada beberapa derah di Jawa Timur termasuk Sidoarjo. Klasifikasi awan pada daerah Sidoarjo menggunakan 3 metode yang berbeda termasuk awan tinggi berjenis Cumulonimbus dengan partikel es kecil.
ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER DAN IDENTIFIKASI SEBARAN AWAN KONVEKTIF MENGGUNAKAN METODE RGB PADA CITRA SATELIT HIMAWARI-8 TERKAIT BANJIR DI KAB. JAYAWIJAYA, WAMENA (STUDI KASUS: PERIODE 9 MARET 2021) Mawar Jihan Fadhilah; Aditya Mulya
Jurnal Teknik SILITEK Vol. 1 No. 02 (2022)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pasifik Morotai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/jts.v1i02.17

Abstract

Telah terjadi banjir di sejumlah wilayah Wamena, Kabupaten Jayawijaya pada tanggal 9 Maret 2021. Banjir tersebut terjadi dalam waktu yang cukup lama hingga 10 Maret 2021 dimana diakibatkan oleh hujan lebat yang terjadi. Berdasarkan rekapitulasi curah hujan harian pada 9 maret 2021 terukur sebesar 25,5 mm/hari yang mengindikasikan curah hujan termasuk kategori sedang di Stasiun Meterorologi Wamena. Analisa dinamika atmosfer diperlukan untuk mengetahui pertumbuhan awan konvektif. Kemudian, hasil analisis kondisi medan angin terdapat daerah konvergensi dan belokan angin (sheraline) di wilayah lokasi penelitian. Analisis citra satelit menampilkan distribusi pola awan untuk mengetahui suhu puncak awan dimana pada tanggal 9 Maret 2021 memiliki suhu puncak awan terendah mencapai -65.6 °C pada pukul 16:00 UTC. Pada penelitian ini menggunakan metode RGB (Red Green Blue) pada citra satelit Himawari-8. Terdapat metode RGB yang mendukung pada penelitian kali ini, yaitu metode (Night Microphysics) digunakan untuk mengidentifikasi mikrofisi atmosfer pada malam hari, sebaran massa udara (Air Mass) yang menampilkan mikrofisis awan yang terjadi serta aliran massa udara penyebab hujan yang menyebabkan banjir di lokasi penelitian.
PEMANFAATAN DATA CITRA SATELIT HIMAWARI-8 UNTUK MENGANALISIS KEJADIAN HUJAN ES DAN KEJADIAN ANGIN PUTING BELIUNG (STUDI KASUS : JANGKAT, KABUPATEN MERANGIN DAN BENCAH, KABUPATEN BANGKA SELATAN) M Jodi Pratama; Aditya Mulya
Jurnal Teknik SILITEK Vol. 1 No. 02 (2022)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pasifik Morotai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/jts.v1i02.22

Abstract

Meningkatnya bencana hidrometerologi dari tahun ke tahun di wilayah Indonesia, telah memberikan dampak yang substansial bagi masyarakat baik secara materi maupun immateri seperti kejadian hujan es di Kabupaten Merangin, Jambi pada tanggal 15 September 2021 dan kejadian puting beliung di Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Belitung pada tanggal 7 Desember 2021 yang telah mengakibatkan banyak kerugian, baik kerugian dalam bentuk rumah rusak maupun dalam bentuk kerusakan lahan pertanian di wilayah tersebut. Melalui penelitan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi perawanan dan mengetahui aktivitas pertumbuhan awan konvektif pada saat hujan es dan angin puting beliung dengan memanfaatkan data penginderaan jauh satelit Himawari-8 yang di proses menggunakan aplikasi SATAID. Dari hasil pengolahan data citra Himawari-8. Pada kejadian hujan es di wilayah kabupaten Jangkat, 15 September 2021 aktivitas kondisi perawanan di daerah penelitian cenderung di dominasi oleh awan konvektif berjenis cumulonimbus dan pada saat kejadian hujan es terdektesi terjadi penurunan secara drastis suhu puncak awan mencapai 80˚C sedangkan pada saat kejadian angin puting beliung diwilayah kabupaten Bangka Selatan, 7 Desember 2021 didektesi terdapat awan cumulonimbus yang berinisiasi menjadi awan cumulonimbus multisel yang selanjutnya teridentifikasi membentuk sistem MCC dengan durasi 8 jam.
VERIFIKASI KATEGORIAL CURAH HUJAN MODEL IFS DI PROVINSI BALI Muhammad Jouhar Syah; Aditya Mulya
Inovasi Fisika Indonesia Vol. 15 No. 2 (2026): Vol 15 No 2
Publisher : Prodi Fisika FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ifi.v15n2.p263-277

Abstract

Abstrak Prakiraan curah hujan dari model numerik perlu diverifikasi pada skala lokal sebelum digunakan dalam layanan operasional. Penelitian ini mengevaluasi kemampuan Integrated Forecasting System (IFS) dalam mendeteksi kejadian hujan di Provinsi Bali menggunakan verifikasi kategorial. Data IFS dipasangkan dengan observasi per jam dari 22 stasiun selama 1 Januari 2021 sampai 31 Desember 2025. Kejadian hujan ditetapkan ketika curah hujan melebihi 0,1 mm jam⁻¹. Kinerja dinilai melalui Probability of Detection (POD), False Alarm Ratio (FAR), Critical Success Index (CSI), Equitable Threat Score (ETS), dan bias frekuensi, kemudian dianalisis menurut musim, topografi, bulan, dan stasiun. Sebanyak 862.562 pasangan data valid menghasilkan POD 0,602, FAR 0,842, CSI 0,143, ETS 0,074, dan bias 3,820. Model menangkap 60,2% kejadian hujan, tetapi memprakirakan hujan sekitar 3,8 kali lebih sering daripada observasi. Kinerja lebih baik pada musim hujan daripada musim kemarau, dengan CSI masing-masing 0,170 dan 0,103. Dataran tinggi memberikan CSI tertinggi sebesar 0,200 dan FAR terendah sebesar 0,773. Hasil ini menunjukkan bahwa IFS masih memiliki informasi keterampilan, tetapi memerlukan kalibrasi kejadian hujan dan evaluasi berbasis ambang sebelum digunakan sebagai dasar keputusan operasional di Bali. Kata Kunci: curah hujan, IFS, musim, topografi, verifikasi kategorial. Abstract Numerical rainfall forecasts require local verification before operational use. This study evaluates the ability of the Integrated Forecasting System (IFS) to detect rainfall events in Bali Province using categorical verification. Hourly IFS data were paired with observations from 22 stations from 1 January 2021 to 31 December 2025. Rain was defined as precipitation exceeding 0.1 mm h⁻¹. Performance was assessed using the Probability of Detection (POD), False Alarm Ratio (FAR), Critical Success Index (CSI), Equitable Threat Score (ETS), and bias frekuensi, followed by seasonal, topographic, monthly, and station-based analyses. A total of 862,562 valid pairs produced POD of 0.602, FAR of 0.842, CSI of 0.143, ETS of 0.074, and bias of 3.820. The model detected 60.2% of observed rain events but forecast rain about 3.8 times more frequently than observed. Performance was better during the rainy season than the dry season, with CSI values of 0.170 and 0.103, respectively. Highland stations produced the highest CSI of 0.200 and the lowest FAR of 0.773. The IFS retains positive skill, but event calibration and threshold-based evaluation are required before its rainfall output supports operational decisions in Bali. Keywords: categorical verification, IFS, rainfall, season, topography