Nil Ikhwan
Faculty Of Performing Art Indonesia Institute Of Arts Surakarta

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

SPIRITUALITY OF SALUANG SIROMPAK MUSIC IN TAEH BARUAH COMMUNITY, MINANGKABAU Ikhwan, Nil
E-Journal of Cultural Studies Volume 7, Number 4, November 2014
Publisher : Cultural Studies Doctorate Program, Postgraduate Program of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saluang sirompak is a type of music which has spiritual strength and is performed at Taeh Baruah, Payakumbuh District, Lima Puluh Koto Regency, Minangkabau, West Sumatra. It is performed to bewitch a girl who has humiliated a young man who would like to propose her. This activity is called Basirompak. The Saluang Sirompak performed in Basirompak is supported by what is called gasiang tangkurak, a chant sung with magic formula and an offering. It is performed at one of the seven tanjungs around Taeh Baruah. The problems of the study are formulated as follows. (1) What is the spirituality of the saluang sirompak music performed at Taeh Baruah, Minangkabau like? (2) What is the spiritual function of the saluang sirompak music performed at Taeh Baruah, Minangkabau?, and (3) what is the meaning and implication of the spirituality of the saluang sirompak music on the customs and traditions and religion of the Taeh Baruah community, Minangkabau? The theory of Deconstruction supported by the theory of Aesthetics and the theory of Semiotics was used in the present study. The data were qualitatively analyzed. It was found that the spirituality of the saluang sirompak music caused the people’s mentality and attitude to change. The fact that the activity of Basirompak had never been performed for the last three decades proved this. That indicates that the people living at Taeh Baruah and around it were aware that they should be polite, behave well and have good character, and solve problems, especially the problems related to the friendship between a girl and a young man, amicably.
Witchcraft of Saluang Sirompak: Music of Broken Hearts in the Taeh Baruah Minangkabau Community Nil Ikhwan
International Journal of Visual and Performing Arts Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : ASSOCIATION FOR SCIENTIFIC COMPUTING ELECTRICAL AND ENGINEERING (ASCEE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31763/viperarts.v2i2.179

Abstract

Saluang Sirompak is a type of music that has spiritual power in Taeh Baruah, Payakumbuh District, Lima Puluh Koto Regency, Minangkabau, West Sumatra. Saluang Sirompak is a show aimed at witchcraft, a woman who has insulted a man who wants to propose to her. This witchcraft activity is known as Basirompak. The problem that was revealed was how the music of Saluang Sirompak affected women's mental disorders. The ethnographic method was used in this study - the data were obtained through observation and interviews with actors or musicians Saluang Sirompak. The analysis was carried out by paying attention to the function of music and the organology of the musical instruments as a power-producing tone that can affect mental disorders for women who are the target victims. The conclusion that can be drawn is that witchcraft in Basirompak activities can distinguish what is right and what is wrong; If the women were not mistaken, they would not be victims of Basirompak's activities.
MAKNA GENDHING–GENDHING BAKU RASULAN DALAM RITUAL SRÈDÈKAN Nil Ikhwan
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 17, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.499 KB) | DOI: 10.33153/keteg.v17i1.2384

Abstract

AbstractThis research focuses on the meaning of rasulan in the Srèdèkan ritual using a combined emic and etic approach. It also discusses the form and structure of rasulan in the Srèdèkan ritual and the standard gendhing performed. The standard gendhing in the Srèdèkan ritual can be divided into two categories, namely larangan and Srèdèkan. Gendhing larangan consist of five gendhing. Gendhing Srèdèkan also consist of five gendhing. The standard gendhing rasulan in the Srèdèkan ritual and the offerings made have an important meaning for the community. The meaning of gendhing larangan, amongst others, is to remind people of their goals, ideas and thoughts about life and their ancestors; to save the lives of people and their descendants in this world; to bring prosperity so that they are never short of food; and to enable them to live a long life, to enjoy time with their children, grandchildren, great-grandchildren, and even great-great-grandchildren, if God is willing. The meaning of gendhing Srèdèkan comes from dahnyang Srèdèk. Keywords: Meaning, Gendhing, Rasulan, Srèdèkan. AbstrakPenelitian ini difokuskan pada makna rasulan dalam ritual Srèdèkan dengan gabungan pendekatan, emik dan etik. Selain itu, dibahas mengenai bentuk maupun tatanan rasulan dalam ritual Srèdèkan serta gendhing – gendhing baku yang disajikan. Gendhing–gendhing baku ritual Srèdèkan terbagi menjadi dua bagian, larangan dan Srèdèkan. Gendhing–gendhing larangan terdiri dari lima gendhing. Gendhing–gendhing Srèdèkan terbagi menjadi lima ge;ndhing. Gendhing–gendhing baku rasulan dalam ritual Srèdèkan dan sesaji yang memberi makna untuk masyarakat. Makna gendhing larangan antara lain; mengingatkan manusia akan tujuan, gagasan fikiran hidup dan leluhur; menyelamatkan hidup manusia di dunia beserta anak cucunya, melancarkan rejeki masyarakat agar pedaringan yang dimiliki selalu penuh; dan agar usia manusi sampai keturunan anak, cucu, buyut bahkan canggah bila Tuhan menghendaki. Makna gendhing baku Srèdèkan ditimbulkan dari dahnyang Srèdèk. Kata Kunci: Makna, Gendhing, Rasulan, Srèdèkan
KARAWITAN TARI BALA: AKULTURASI BUDAYA DI DESA WIRATA AGUNG, KECAMATAN SEPUTIH MATARAM, KABUPATEN LAMPUNG TENGAH, PROVINSI LAMPUNG Gutami Hayu Pangastuti; Nil Ikhwan
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 21, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v21i2.4095

Abstract

Wirata Agung adalah salah satu desa di Provinsi Lampung, terbentuk dari peristiwa transmigrasi pada tahun 1963-1964 pasca letusan Gunung Agung, Bali. Masyarakat Bali dan Lampung hidup berdampingan, saling berinteraksi, dan beradaptasi membentuk akulturasi budaya, demi mempertahankan identitas terlihat pada kebiasaan harian, tak terkecuali seni. Karawitan Tari Bala sebagai sebuah karya, diciptakan oleh I Wayan Kartiana Saputra dengan mengkolaborasikan unsur-unsur Bali dan Lampung, didengar pada akulturasi dan transfer melodi melalui alunan karawitan. Fokus permasalahan fenomena Karawitan Tari Bala di Desa Wirata Agung, Kecamatan Seputih Mataram, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung dianalisis melalui metode pengumpulan data, analisis data, dan penyajian analisis data, bertujuan untuk mengetahui struktur, bentuk akulturasi, unsur-unsur pembentuk, proses akulturasi budaya, dan faktor-faktor terciptanya karawitan Tari Bala. Secara deduktif, hasil penelitian dijabarkan menjadi teks deskriptif dari umum ke khusus sebagai bentuk penyesuaian diri, adaptasi, dan aplikasi fenomena, berkacamata dari sudut pandang seorang seniman yang tertuang pada sajian Karawitan Tari Bala.
Kerukunan Hidup Melalui Seni dan Budaya Nusantara Nil Ikhwan
PANGGUNG Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.564 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2301

Abstract

Kerukunan merupakan salah satu bentuk kegiatan sosial yang dapat dilakukan melalui seni dan budaya diberbagai lingkungan di antaranya dalam masyarakat dan sekolah diberbagai jenjang pendidikan. Budaya Nusantara mencerminkan tradisi-tradisi atau budaya pada masyarakat. Seni khususnya musik merupakan unsur kebudayaan yang berfungsi sebagai ‘tanda pengenal’ atau sebuah identitas dari suatu bangsa atau suku bangsa. Dalam musik atau karawitan dapat diwujudkan salah satu bentuk kerukunan oleh berbagai jenis instrumen yang digunakan dalam satu perangkat gamelan. Kerukunan ini terbentuk dalam satu perangkat gamelan karena adanya interaksi garap antarinstrumen atau ricikan satu dengan instrumen yang lain. Musik memiliki perbedaan sistem mempengaruhi makna estetika dan nilai kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan krisis moral dan etika bangsa. Penelitian menjadikan pemikiran-pemikiran serta anggapan-anggapan yang terjadi dalam hayatan budaya seni melalui pengalaman individu dalam menjalani kehidupan berdampingan pada budaya seni saat ini. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dan deskriptif analisis dengan melakukan kegiatan mendeskripsi dan analisis. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian data yang telah diperoleh di analisis secara sistematis. Krisis moral dan etika bangsa mempengaruhi paradigma pendidikan yang berorientasi pada seni dan budaya dalam membangun identitas kebangsaan. Kerukunan dilakukan melalui seni dan budaya Nusantara sebagai upaya untuk mengatasi terjadinya krisis moral, di antaranya lewat musik (karawitan). Musik merupakan hasil interaksi garap sehingga membentuk satu kesatuan atau sebuah kerukunan dari berbagai instrumen atau ricikan. Kata kunci: kerukunan hidup, seni dan budaya, garap, dan interaksi.
RELASI ANTARA GENDING PONORAGAN DENGAN PROSES PAYAH DALAM PERTUNJUKAN JATHILAN DI KABUPATEN SLEMAN Caecilia Maria Andriana Kristyanti; Muhammad Nur Salim; Nil Ikhwan
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 22, No 2 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v22i2.4667

Abstract

The research on the relationship between Gending Ponoragan and the process of payah performance in the Jathilan Krido Budoyo Turonggo Mudo in Sleman Regency reveals the form of Gending Ponoragan's presentation and its relationship with the process of payah formation. The word payah has various equivalent terms such as kerasukan, possession, or trance. This event became the highlight of the performance of Jathilan Krido Budoyo Turonggo Mudo. To reveal the relationship between Gending Ponoragan and the process of payah, Jankowsky's theory of music plays an essential role in stimulating trance experiences. It requires elements to be achieved in melody, rhythm, tempo and volume, and dynamics. In addition, Pilch's theory is also used to dissect issues related to the relationship between trance and music, which states that the best music that leads a person to experience a trance is music that has a regular number of beats and a repeating pattern based on a certain threshold or pitch level. However, the writer does not only look at the textual form of the music but also the context that surrounds it. The results of this study indicate that the activities of the association and the performance property support the process of payah and the conditions that must be met. The conditions for achieving payah include: spirit, offerings, handlers, sound system, dancers' behavior, situation or atmosphere of the performance, and musical presentation. The relationship between Gending Ponoragan and the process of payah does not occur directly but has a role in stimulating dancers to experience payah.
Janda Dirah Sosok Perempuan dalam Tata Nilai Sosial Ni Nyoman Yuliarmaheni; Nil Ikhwan
PANGGUNG Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.3480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebuah karya tari yang berjudul Tari Janda Dirah yang merupakan karya tari kontemporer yang berakar dari sebuah prosa lirik tulisan Toeti Heraty. Tari ini mengedepankan sisi keperempuanan dengan mengambil peran perempuan bernama Calonarang dan Ratna Manggali sebagai seorang janda beranak satu. Peranan perempuan dalam konsepnya sangat kental dengan adanya suatu bentuk emansipasi perempuan pada masa lampau yang dapat diteladani pada masa kini. Sosok perempuan pada zamannya berbeda, tetapi hakikatnya sama dalam berjuang mengarungi kehidupannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan deskriptif analisis yang pengumpulan datanya dengan cara observasi, dan dokumentasi. Proses penciptaan menggunakan metode eksplorasi, eksperimentasi, dan perwujudan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah nilai sosial cerita dan karya tari ini ada 3 hal yang dapat dipetik, yaitu nilai sosial dari Tuhan (kesederhanaan, kasih sayang dan cinta), individu (gigih berusaha dan bekerja keras), dan masyarakat (sopan santun, dan kemandirian). Kata kunci: Tari Janda Dirah, Calonarang, Ratna Manggali, dan Kontemporer
Kerukunan Hidup Melalui Seni dan Budaya Nusantara Nil Ikhwan
PANGGUNG Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2301

Abstract

Kerukunan merupakan salah satu bentuk kegiatan sosial yang dapat dilakukan melalui seni dan budaya diberbagai lingkungan di antaranya dalam masyarakat dan sekolah diberbagai jenjang pendidikan. Budaya Nusantara mencerminkan tradisi-tradisi atau budaya pada masyarakat. Seni khususnya musik merupakan unsur kebudayaan yang berfungsi sebagai ‘tanda pengenal’ atau sebuah identitas dari suatu bangsa atau suku bangsa. Dalam musik atau karawitan dapat diwujudkan salah satu bentuk kerukunan oleh berbagai jenis instrumen yang digunakan dalam satu perangkat gamelan. Kerukunan ini terbentuk dalam satu perangkat gamelan karena adanya interaksi garap antarinstrumen atau ricikan satu dengan instrumen yang lain. Musik memiliki perbedaan sistem mempengaruhi makna estetika dan nilai kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan krisis moral dan etika bangsa. Penelitian menjadikan pemikiran-pemikiran serta anggapan-anggapan yang terjadi dalam hayatan budaya seni melalui pengalaman individu dalam menjalani kehidupan berdampingan pada budaya seni saat ini. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dan deskriptif analisis dengan melakukan kegiatan mendeskripsi dan analisis. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian data yang telah diperoleh di analisis secara sistematis. Krisis moral dan etika bangsa mempengaruhi paradigma pendidikan yang berorientasi pada seni dan budaya dalam membangun identitas kebangsaan. Kerukunan dilakukan melalui seni dan budaya Nusantara sebagai upaya untuk mengatasi terjadinya krisis moral, di antaranya lewat musik (karawitan). Musik merupakan hasil interaksi garap sehingga membentuk satu kesatuan atau sebuah kerukunan dari berbagai instrumen atau ricikan. Kata kunci: kerukunan hidup, seni dan budaya, garap, dan interaksi.
Janda Dirah Sosok Perempuan dalam Tata Nilai Sosial Ni Nyoman Yuliarmaheni; Nil Ikhwan
PANGGUNG Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.3480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebuah karya tari yang berjudul Tari “Janda Dirah” yang merupakan karya tari kontemporer yang berakar dari sebuah prosa lirik tulisan Toeti Heraty. Tari ini mengedepankan sisi keperempuanan dengan mengambil peran perempuan bernama Calonarang dan Ratna Manggali sebagai seorang janda beranak satu. Peranan perempuan dalam konsepnya sangat kental dengan adanya suatu bentuk emansipasi perempuan pada masa lampau yang dapat diteladani pada masa kini. Sosok perempuan pada zamannya berbeda, tetapi hakikatnya sama dalam berjuang mengarungi kehidupannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan deskriptif analisis yang pengumpulan datanya dengan cara observasi, dan dokumentasi. Proses penciptaan menggunakan metode eksplorasi, eksperimentasi, dan perwujudan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah nilai sosial cerita dan karya tari ini ada 3 hal yang dapat dipetik, yaitu nilai sosial dari Tuhan (kesederhanaan, kasih sayang dan cinta), individu (gigih berusaha dan bekerja keras), dan masyarakat (sopan santun, dan kemandirian). Kata kunci: Tari Janda Dirah, Calonarang, Ratna Manggali, dan Kontemporer
MAKNA SIMBOLIK KETAWANG UNDUR-UNDUR KAJONGAN DALAM UPACARA TINGALAN JUMENENGAN DALEM DI KARATON SURAKARTA Hermawan, Rival Sandhika; Ikhwan, Nil
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 24 No. 1 (2024): Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketawang Undur-Undur Kajongan is a gending pakurmatan relic of Sultan Agung during the Islamic Mataram kingdom for the purpose of the tingalan jumenengan ceremony, and presented at the jengkar dalem procession. The use of Ketawang Undur-Undur Kajongan for the tingalan jumenengan ceremonies was continued by the Surakarta Kasunanan Palace for the jengkar dalem of Susuhunan Pakubuwana. Ketawang Undur-Undur Kajongan specifically to honor the king and only with the king's permission Ketawang Undur-Undur Kajongan can be performed. The use of gambang gangsa instruments in the gamelan ageng instrument makes Ketawang UndurUndur Kajongan has an own unique and also becomes one of the categories of gending pamijen. Ketawang UndurUndur Kajongan has two functions as a symbolic representation of the king's greatness, as well as a marker in the tingalan jumenengan ceremony. To dissect the problems in the material object, researcher uses a qualitative method with observation, interview and data analysis. Using the theory of music function by Alan P. Merriam with using two elements of function, namely the function of music as communication and the function of music as a symbol representation, as well as the semiotic theory of Marcel Danesi to sharpen the argument about symbolism. Chapter two discusses an overview of Surakarta Palace and an overview of the tingalan jumen ceremony. Overview of the tingalan jumenengandalem ceremony, chapter three discusses the the structure of Ketawang Undur-Undur Kajongan from the point of view of musical communication in the ceremony, and chapter three. Musical communication in the ceremony, and chapter four discusses the symbolic meaning of Ketawang Undur-Undur Kajongan.