Nil Ikhwan
Faculty Of Performing Art Indonesia Institute Of Arts Surakarta

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

SPIRITUALITY OF SALUANG SIROMPAK MUSIC IN TAEH BARUAH COMMUNITY, MINANGKABAU Ikhwan, Nil
E-Journal of Cultural Studies Volume 7, Number 4, November 2014
Publisher : Cultural Studies Doctorate Program, Postgraduate Program of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saluang sirompak is a type of music which has spiritual strength and is performed at Taeh Baruah, Payakumbuh District, Lima Puluh Koto Regency, Minangkabau, West Sumatra. It is performed to bewitch a girl who has humiliated a young man who would like to propose her. This activity is called Basirompak. The Saluang Sirompak performed in Basirompak is supported by what is called gasiang tangkurak, a chant sung with magic formula and an offering. It is performed at one of the seven tanjungs around Taeh Baruah. The problems of the study are formulated as follows. (1) What is the spirituality of the saluang sirompak music performed at Taeh Baruah, Minangkabau like? (2) What is the spiritual function of the saluang sirompak music performed at Taeh Baruah, Minangkabau?, and (3) what is the meaning and implication of the spirituality of the saluang sirompak music on the customs and traditions and religion of the Taeh Baruah community, Minangkabau? The theory of Deconstruction supported by the theory of Aesthetics and the theory of Semiotics was used in the present study. The data were qualitatively analyzed. It was found that the spirituality of the saluang sirompak music caused the people’s mentality and attitude to change. The fact that the activity of Basirompak had never been performed for the last three decades proved this. That indicates that the people living at Taeh Baruah and around it were aware that they should be polite, behave well and have good character, and solve problems, especially the problems related to the friendship between a girl and a young man, amicably.
Witchcraft of Saluang Sirompak: Music of Broken Hearts in the Taeh Baruah Minangkabau Community Nil Ikhwan
International Journal of Visual and Performing Arts Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : ASSOCIATION FOR SCIENTIFIC COMPUTING ELECTRICAL AND ENGINEERING (ASCEE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31763/viperarts.v2i2.179

Abstract

Saluang Sirompak is a type of music that has spiritual power in Taeh Baruah, Payakumbuh District, Lima Puluh Koto Regency, Minangkabau, West Sumatra. Saluang Sirompak is a show aimed at witchcraft, a woman who has insulted a man who wants to propose to her. This witchcraft activity is known as Basirompak. The problem that was revealed was how the music of Saluang Sirompak affected women's mental disorders. The ethnographic method was used in this study - the data were obtained through observation and interviews with actors or musicians Saluang Sirompak. The analysis was carried out by paying attention to the function of music and the organology of the musical instruments as a power-producing tone that can affect mental disorders for women who are the target victims. The conclusion that can be drawn is that witchcraft in Basirompak activities can distinguish what is right and what is wrong; If the women were not mistaken, they would not be victims of Basirompak's activities.
Kerukunan Hidup Melalui Seni dan Budaya Nusantara Nil Ikhwan
PANGGUNG Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.564 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2301

Abstract

Kerukunan merupakan salah satu bentuk kegiatan sosial yang dapat dilakukan melalui seni dan budaya diberbagai lingkungan di antaranya dalam masyarakat dan sekolah diberbagai jenjang pendidikan. Budaya Nusantara mencerminkan tradisi-tradisi atau budaya pada masyarakat. Seni khususnya musik merupakan unsur kebudayaan yang berfungsi sebagai ‘tanda pengenal’ atau sebuah identitas dari suatu bangsa atau suku bangsa. Dalam musik atau karawitan dapat diwujudkan salah satu bentuk kerukunan oleh berbagai jenis instrumen yang digunakan dalam satu perangkat gamelan. Kerukunan ini terbentuk dalam satu perangkat gamelan karena adanya interaksi garap antarinstrumen atau ricikan satu dengan instrumen yang lain. Musik memiliki perbedaan sistem mempengaruhi makna estetika dan nilai kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan krisis moral dan etika bangsa. Penelitian menjadikan pemikiran-pemikiran serta anggapan-anggapan yang terjadi dalam hayatan budaya seni melalui pengalaman individu dalam menjalani kehidupan berdampingan pada budaya seni saat ini. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dan deskriptif analisis dengan melakukan kegiatan mendeskripsi dan analisis. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian data yang telah diperoleh di analisis secara sistematis. Krisis moral dan etika bangsa mempengaruhi paradigma pendidikan yang berorientasi pada seni dan budaya dalam membangun identitas kebangsaan. Kerukunan dilakukan melalui seni dan budaya Nusantara sebagai upaya untuk mengatasi terjadinya krisis moral, di antaranya lewat musik (karawitan). Musik merupakan hasil interaksi garap sehingga membentuk satu kesatuan atau sebuah kerukunan dari berbagai instrumen atau ricikan. Kata kunci: kerukunan hidup, seni dan budaya, garap, dan interaksi.
Janda Dirah Sosok Perempuan dalam Tata Nilai Sosial Ni Nyoman Yuliarmaheni; Nil Ikhwan
PANGGUNG Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.3480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebuah karya tari yang berjudul Tari Janda Dirah yang merupakan karya tari kontemporer yang berakar dari sebuah prosa lirik tulisan Toeti Heraty. Tari ini mengedepankan sisi keperempuanan dengan mengambil peran perempuan bernama Calonarang dan Ratna Manggali sebagai seorang janda beranak satu. Peranan perempuan dalam konsepnya sangat kental dengan adanya suatu bentuk emansipasi perempuan pada masa lampau yang dapat diteladani pada masa kini. Sosok perempuan pada zamannya berbeda, tetapi hakikatnya sama dalam berjuang mengarungi kehidupannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan deskriptif analisis yang pengumpulan datanya dengan cara observasi, dan dokumentasi. Proses penciptaan menggunakan metode eksplorasi, eksperimentasi, dan perwujudan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah nilai sosial cerita dan karya tari ini ada 3 hal yang dapat dipetik, yaitu nilai sosial dari Tuhan (kesederhanaan, kasih sayang dan cinta), individu (gigih berusaha dan bekerja keras), dan masyarakat (sopan santun, dan kemandirian). Kata kunci: Tari Janda Dirah, Calonarang, Ratna Manggali, dan Kontemporer
Kerukunan Hidup Melalui Seni dan Budaya Nusantara Nil Ikhwan
PANGGUNG Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2301

Abstract

Kerukunan merupakan salah satu bentuk kegiatan sosial yang dapat dilakukan melalui seni dan budaya diberbagai lingkungan di antaranya dalam masyarakat dan sekolah diberbagai jenjang pendidikan. Budaya Nusantara mencerminkan tradisi-tradisi atau budaya pada masyarakat. Seni khususnya musik merupakan unsur kebudayaan yang berfungsi sebagai ‘tanda pengenal’ atau sebuah identitas dari suatu bangsa atau suku bangsa. Dalam musik atau karawitan dapat diwujudkan salah satu bentuk kerukunan oleh berbagai jenis instrumen yang digunakan dalam satu perangkat gamelan. Kerukunan ini terbentuk dalam satu perangkat gamelan karena adanya interaksi garap antarinstrumen atau ricikan satu dengan instrumen yang lain. Musik memiliki perbedaan sistem mempengaruhi makna estetika dan nilai kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan krisis moral dan etika bangsa. Penelitian menjadikan pemikiran-pemikiran serta anggapan-anggapan yang terjadi dalam hayatan budaya seni melalui pengalaman individu dalam menjalani kehidupan berdampingan pada budaya seni saat ini. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dan deskriptif analisis dengan melakukan kegiatan mendeskripsi dan analisis. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian data yang telah diperoleh di analisis secara sistematis. Krisis moral dan etika bangsa mempengaruhi paradigma pendidikan yang berorientasi pada seni dan budaya dalam membangun identitas kebangsaan. Kerukunan dilakukan melalui seni dan budaya Nusantara sebagai upaya untuk mengatasi terjadinya krisis moral, di antaranya lewat musik (karawitan). Musik merupakan hasil interaksi garap sehingga membentuk satu kesatuan atau sebuah kerukunan dari berbagai instrumen atau ricikan. Kata kunci: kerukunan hidup, seni dan budaya, garap, dan interaksi.
Janda Dirah Sosok Perempuan dalam Tata Nilai Sosial Ni Nyoman Yuliarmaheni; Nil Ikhwan
PANGGUNG Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.3480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebuah karya tari yang berjudul Tari “Janda Dirah” yang merupakan karya tari kontemporer yang berakar dari sebuah prosa lirik tulisan Toeti Heraty. Tari ini mengedepankan sisi keperempuanan dengan mengambil peran perempuan bernama Calonarang dan Ratna Manggali sebagai seorang janda beranak satu. Peranan perempuan dalam konsepnya sangat kental dengan adanya suatu bentuk emansipasi perempuan pada masa lampau yang dapat diteladani pada masa kini. Sosok perempuan pada zamannya berbeda, tetapi hakikatnya sama dalam berjuang mengarungi kehidupannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan deskriptif analisis yang pengumpulan datanya dengan cara observasi, dan dokumentasi. Proses penciptaan menggunakan metode eksplorasi, eksperimentasi, dan perwujudan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah nilai sosial cerita dan karya tari ini ada 3 hal yang dapat dipetik, yaitu nilai sosial dari Tuhan (kesederhanaan, kasih sayang dan cinta), individu (gigih berusaha dan bekerja keras), dan masyarakat (sopan santun, dan kemandirian). Kata kunci: Tari Janda Dirah, Calonarang, Ratna Manggali, dan Kontemporer
Kerukunan Hidup Melalui Seni dan Budaya Nusantara Ikhwan, Nil
PANGGUNG Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2301

Abstract

Kerukunan merupakan salah satu bentuk kegiatan sosial yang dapat dilakukan melalui seni dan budaya diberbagai lingkungan di antaranya dalam masyarakat dan sekolah diberbagai jenjang pendidikan. Budaya Nusantara mencerminkan tradisi-tradisi atau budaya pada masyarakat. Seni khususnya musik merupakan unsur kebudayaan yang berfungsi sebagai ‘tanda pengenal’ atau sebuah identitas dari suatu bangsa atau suku bangsa. Dalam musik atau karawitan dapat diwujudkan salah satu bentuk kerukunan oleh berbagai jenis instrumen yang digunakan dalam satu perangkat gamelan. Kerukunan ini terbentuk dalam satu perangkat gamelan karena adanya interaksi garap antarinstrumen atau ricikan satu dengan instrumen yang lain. Musik memiliki perbedaan sistem mempengaruhi makna estetika dan nilai kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan krisis moral dan etika bangsa. Penelitian menjadikan pemikiran-pemikiran serta anggapan-anggapan yang terjadi dalam hayatan budaya seni melalui pengalaman individu dalam menjalani kehidupan berdampingan pada budaya seni saat ini. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dan deskriptif analisis dengan melakukan kegiatan mendeskripsi dan analisis. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian data yang telah diperoleh di analisis secara sistematis. Krisis moral dan etika bangsa mempengaruhi paradigma pendidikan yang berorientasi pada seni dan budaya dalam membangun identitas kebangsaan. Kerukunan dilakukan melalui seni dan budaya Nusantara sebagai upaya untuk mengatasi terjadinya krisis moral, di antaranya lewat musik (karawitan). Musik merupakan hasil interaksi garap sehingga membentuk satu kesatuan atau sebuah kerukunan dari berbagai instrumen atau ricikan. Kata kunci: kerukunan hidup, seni dan budaya, garap, dan interaksi.
Janda Dirah Sosok Perempuan dalam Tata Nilai Sosial Yuliarmaheni, Ni Nyoman; Ikhwan, Nil
PANGGUNG Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.3480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebuah karya tari yang berjudul Tari “Janda Dirah” yang merupakan karya tari kontemporer yang berakar dari sebuah prosa lirik tulisan Toeti Heraty. Tari ini mengedepankan sisi keperempuanan dengan mengambil peran perempuan bernama Calonarang dan Ratna Manggali sebagai seorang janda beranak satu. Peranan perempuan dalam konsepnya sangat kental dengan adanya suatu bentuk emansipasi perempuan pada masa lampau yang dapat diteladani pada masa kini. Sosok perempuan pada zamannya berbeda, tetapi hakikatnya sama dalam berjuang mengarungi kehidupannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan deskriptif analisis yang pengumpulan datanya dengan cara observasi, dan dokumentasi. Proses penciptaan menggunakan metode eksplorasi, eksperimentasi, dan perwujudan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah nilai sosial cerita dan karya tari ini ada 3 hal yang dapat dipetik, yaitu nilai sosial dari Tuhan (kesederhanaan, kasih sayang dan cinta), individu (gigih berusaha dan bekerja keras), dan masyarakat (sopan santun, dan kemandirian). Kata kunci: Tari Janda Dirah, Calonarang, Ratna Manggali, dan Kontemporer
Kosmologi Musik Rumah Siwaluh Jabu di Desa Lingga, Kabupaten Karo Regina Cintya Arumba; Sugiyanto, Danis; Salim, Muhammad Nur; Ikhwan, Nil
Jurnal Riset Rumpun Seni, Desain dan Media Vol. 4 No. 2 (2025): Oktober: Jurnal Riset Rumpun Seni, Desain dan Media
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrsendem.v4i2.7521

Abstract

This research is based on the awareness that music functions both as an artistic expression and as a cosmological representation embedded within the cultural structures of traditional societies. The Siwaluh Jabu traditional house in Lingga Village, North Sumatra, was selected as the object of study to examine the relationship between music and the cosmological views of the Karo people. The purpose of this study is to reveal the meaning of music within cultural practices and rituals carried out in the Siwaluh Jabu House, as well as to explore musical elements that reflect the continuity between humans, ancestors, and the universe. This research employs a qualitative approach, with data collected through literature review, participatory observation, and interviews with traditional leaders and local artists. The data analysis was conducted through data reduction, classification, data presentation, and drawing of conclusion. The results of the study show that music both the vocal mantra “ole…ah…ole” and the Gendang Lima Sendalanen ensemble contains symbolic values that interpret wood as a natural element, sustain social connections between groups, and reinforce the social system embedded in the spatial organization of the Siwaluh Jabu traditional house. Music serves as a medium of spiritual and cultural communication that unites the physical and metaphysical dimensions of life. The implications of this research enrich the perspective of music culture and emphasize the importance of preserving traditional music as a local knowledge system integrated with the cosmology of the Karo people.
MAKNA GENDHING–GENDHING BAKU RASULAN DALAM RITUAL SRÈDÈKAN Nil Ikhwan
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 17 No. 1 (2017)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v17i1.2384

Abstract

AbstractThis research focuses on the meaning of rasulan in the Srèdèkan ritual using a combined emic and etic approach. It also discusses the form and structure of rasulan in the Srèdèkan ritual and the standard gendhing performed. The standard gendhing in the Srèdèkan ritual can be divided into two categories, namely larangan and Srèdèkan. Gendhing larangan consist of five gendhing. Gendhing Srèdèkan also consist of five gendhing. The standard gendhing rasulan in the Srèdèkan ritual and the offerings made have an important meaning for the community. The meaning of gendhing larangan, amongst others, is to remind people of their goals, ideas and thoughts about life and their ancestors; to save the lives of people and their descendants in this world; to bring prosperity so that they are never short of food; and to enable them to live a long life, to enjoy time with their children, grandchildren, great-grandchildren, and even great-great-grandchildren, if God is willing. The meaning of gendhing Srèdèkan comes from dahnyang Srèdèk. Keywords: Meaning, Gendhing, Rasulan, Srèdèkan. AbstrakPenelitian ini difokuskan pada makna rasulan dalam ritual Srèdèkan dengan gabungan pendekatan, emik dan etik. Selain itu, dibahas mengenai bentuk maupun tatanan rasulan dalam ritual Srèdèkan serta gendhing – gendhing baku yang disajikan. Gendhing–gendhing baku ritual Srèdèkan terbagi menjadi dua bagian, larangan dan Srèdèkan. Gendhing–gendhing larangan terdiri dari lima gendhing. Gendhing–gendhing Srèdèkan terbagi menjadi lima ge;ndhing. Gendhing–gendhing baku rasulan dalam ritual Srèdèkan dan sesaji yang memberi makna untuk masyarakat. Makna gendhing larangan antara lain; mengingatkan manusia akan tujuan, gagasan fikiran hidup dan leluhur; menyelamatkan hidup manusia di dunia beserta anak cucunya, melancarkan rejeki masyarakat agar pedaringan yang dimiliki selalu penuh; dan agar usia manusi sampai keturunan anak, cucu, buyut bahkan canggah bila Tuhan menghendaki. Makna gendhing baku Srèdèkan ditimbulkan dari dahnyang Srèdèk. Kata Kunci: Makna, Gendhing, Rasulan, Srèdèkan