Nil Ikhwan
Faculty Of Performing Art Indonesia Institute Of Arts Surakarta

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

MAKNA SIMBOLIK KETAWANG UNDUR-UNDUR KAJONGAN DALAM UPACARA TINGALAN JUMENENGAN DALEM DI KARATON SURAKARTA Hermawan, Rival Sandhika; Ikhwan, Nil
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 24 No. 1 (2024): Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketawang Undur-Undur Kajongan is a gending pakurmatan relic of Sultan Agung during the Islamic Mataram kingdom for the purpose of the tingalan jumenengan ceremony, and presented at the jengkar dalem procession. The use of Ketawang Undur-Undur Kajongan for the tingalan jumenengan ceremonies was continued by the Surakarta Kasunanan Palace for the jengkar dalem of Susuhunan Pakubuwana. Ketawang Undur-Undur Kajongan specifically to honor the king and only with the king's permission Ketawang Undur-Undur Kajongan can be performed. The use of gambang gangsa instruments in the gamelan ageng instrument makes Ketawang UndurUndur Kajongan has an own unique and also becomes one of the categories of gending pamijen. Ketawang UndurUndur Kajongan has two functions as a symbolic representation of the king's greatness, as well as a marker in the tingalan jumenengan ceremony. To dissect the problems in the material object, researcher uses a qualitative method with observation, interview and data analysis. Using the theory of music function by Alan P. Merriam with using two elements of function, namely the function of music as communication and the function of music as a symbol representation, as well as the semiotic theory of Marcel Danesi to sharpen the argument about symbolism. Chapter two discusses an overview of Surakarta Palace and an overview of the tingalan jumen ceremony. Overview of the tingalan jumenengandalem ceremony, chapter three discusses the the structure of Ketawang Undur-Undur Kajongan from the point of view of musical communication in the ceremony, and chapter three. Musical communication in the ceremony, and chapter four discusses the symbolic meaning of Ketawang Undur-Undur Kajongan.
Kerukunan Hidup Melalui Seni dan Budaya Nusantara Ikhwan, Nil
PANGGUNG Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2301

Abstract

Kerukunan merupakan salah satu bentuk kegiatan sosial yang dapat dilakukan melalui seni dan budaya diberbagai lingkungan di antaranya dalam masyarakat dan sekolah diberbagai jenjang pendidikan. Budaya Nusantara mencerminkan tradisi-tradisi atau budaya pada masyarakat. Seni khususnya musik merupakan unsur kebudayaan yang berfungsi sebagai ‘tanda pengenal’ atau sebuah identitas dari suatu bangsa atau suku bangsa. Dalam musik atau karawitan dapat diwujudkan salah satu bentuk kerukunan oleh berbagai jenis instrumen yang digunakan dalam satu perangkat gamelan. Kerukunan ini terbentuk dalam satu perangkat gamelan karena adanya interaksi garap antarinstrumen atau ricikan satu dengan instrumen yang lain. Musik memiliki perbedaan sistem mempengaruhi makna estetika dan nilai kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan krisis moral dan etika bangsa. Penelitian menjadikan pemikiran-pemikiran serta anggapan-anggapan yang terjadi dalam hayatan budaya seni melalui pengalaman individu dalam menjalani kehidupan berdampingan pada budaya seni saat ini. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dan deskriptif analisis dengan melakukan kegiatan mendeskripsi dan analisis. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian data yang telah diperoleh di analisis secara sistematis. Krisis moral dan etika bangsa mempengaruhi paradigma pendidikan yang berorientasi pada seni dan budaya dalam membangun identitas kebangsaan. Kerukunan dilakukan melalui seni dan budaya Nusantara sebagai upaya untuk mengatasi terjadinya krisis moral, di antaranya lewat musik (karawitan). Musik merupakan hasil interaksi garap sehingga membentuk satu kesatuan atau sebuah kerukunan dari berbagai instrumen atau ricikan. Kata kunci: kerukunan hidup, seni dan budaya, garap, dan interaksi.
Janda Dirah Sosok Perempuan dalam Tata Nilai Sosial Yuliarmaheni, Ni Nyoman; Ikhwan, Nil
PANGGUNG Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.3480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebuah karya tari yang berjudul Tari “Janda Dirah” yang merupakan karya tari kontemporer yang berakar dari sebuah prosa lirik tulisan Toeti Heraty. Tari ini mengedepankan sisi keperempuanan dengan mengambil peran perempuan bernama Calonarang dan Ratna Manggali sebagai seorang janda beranak satu. Peranan perempuan dalam konsepnya sangat kental dengan adanya suatu bentuk emansipasi perempuan pada masa lampau yang dapat diteladani pada masa kini. Sosok perempuan pada zamannya berbeda, tetapi hakikatnya sama dalam berjuang mengarungi kehidupannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan deskriptif analisis yang pengumpulan datanya dengan cara observasi, dan dokumentasi. Proses penciptaan menggunakan metode eksplorasi, eksperimentasi, dan perwujudan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah nilai sosial cerita dan karya tari ini ada 3 hal yang dapat dipetik, yaitu nilai sosial dari Tuhan (kesederhanaan, kasih sayang dan cinta), individu (gigih berusaha dan bekerja keras), dan masyarakat (sopan santun, dan kemandirian). Kata kunci: Tari Janda Dirah, Calonarang, Ratna Manggali, dan Kontemporer
Kosmologi Musik Rumah Siwaluh Jabu di Desa Lingga, Kabupaten Karo Regina Cintya Arumba; Sugiyanto, Danis; Salim, Muhammad Nur; Ikhwan, Nil
Jurnal Riset Rumpun Seni, Desain dan Media Vol. 4 No. 2 (2025): Oktober: Jurnal Riset Rumpun Seni, Desain dan Media
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrsendem.v4i2.7521

Abstract

This research is based on the awareness that music functions both as an artistic expression and as a cosmological representation embedded within the cultural structures of traditional societies. The Siwaluh Jabu traditional house in Lingga Village, North Sumatra, was selected as the object of study to examine the relationship between music and the cosmological views of the Karo people. The purpose of this study is to reveal the meaning of music within cultural practices and rituals carried out in the Siwaluh Jabu House, as well as to explore musical elements that reflect the continuity between humans, ancestors, and the universe. This research employs a qualitative approach, with data collected through literature review, participatory observation, and interviews with traditional leaders and local artists. The data analysis was conducted through data reduction, classification, data presentation, and drawing of conclusion. The results of the study show that music both the vocal mantra “ole…ah…ole” and the Gendang Lima Sendalanen ensemble contains symbolic values that interpret wood as a natural element, sustain social connections between groups, and reinforce the social system embedded in the spatial organization of the Siwaluh Jabu traditional house. Music serves as a medium of spiritual and cultural communication that unites the physical and metaphysical dimensions of life. The implications of this research enrich the perspective of music culture and emphasize the importance of preserving traditional music as a local knowledge system integrated with the cosmology of the Karo people.