Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Kecepatan Potong dan Makan terhadap Umur Pahat pada Pemesinan Freis Paduan Magnesium Anang Ansyori
JURNAL MECHANICAL Vol 6, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/mech.v6.i1.201504

Abstract

Mesin frais adalah mesin yang digunakan secara akurat untuk menghasilkan satu atau lebih pengerjaan permukaan benda dengan menggunakan satu atau lebih alat potong. Benda kerja dipegang dengan aman pada meja benda kerja dari mesin atau dalam sebuah alat pemegang khusus yang dijepit atau dipasang pada meja mesin. Selanjutnya benda kerja dikontakkan dengan pemotong yang bergerak maju mundur. Mesin frais merupakan mesin potong yang dapat digunakan untuk berbagai macam operasi seperti pengoperasian benda datar dan permukaan yang memiliki bentuk yang tidak beraturan, roda gigi dan kepala baut, boring, reaming. Kemampuan untuk melakukan berbagai macam pekerjaan membuat mesin frais merupakan salah satu mesin yang sangat penting dalam bengkel kerja.Pada Penelitian ini proses pengefraisan magnesium dilakukan pada beberapa tingkat level parameter yaitu kecepatan potong dengan variasi (v) 22,60 m/min, 32,15 m/min, 42,70 m/min, gerak makan 0,15 mm/rev, 0,20 mm/rev, 0,25 mm/rev, dan kedalaman potong 2 mm. Pengambilan data keausan pahat dilakukan menggunakan pocket mikroskop VB dan microscope 2  dengan pembesaran 50x. Data keausan pahat dicatat setiap kali pemotongan dan pemesinan akan dihentikan apabila aus mata pahat (VB) telah mencapai 0,3 mm. Umur pahat tertinggi diperoleh  pada kecepatan potong 22,85 m/min dengan gerak makan 0,15 mm/rev yaitu selama 88 menit, sedangkan umur pahat terendah pada kecepatan potong 42,70 m/min dengan gerak makan 0,25 mm/rev yaitu selama 18 menit. Semakin besar kecepatan potong (Vc) maka semakin cepat laju keausan pahat frais  yang terjadi, yang disebabkan oleh suhu tinggi sebagai hasil dari gesekan antara pahat dan benda kerja.Kata kunci : Mesin frais, Umur Pahat, Kecepatan Potong dan Gerak makan
Pengelasan Disimilar 440c Dan Astm A36 Menggunakan Metode Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) Untuk Pembuatan Hammer Pada Mesin Penepung tri, Renda; Tumpal Ojahan Rajagukguk; Yusup Hendronursito; Anang Ansyori
Jurnal Ilmiah Teknik Mesin, Elektro dan Komputer Vol. 6 No. 2 (2026): Juli: Jurnal Ilmiah Teknik Mesin, Elektro dan Komputer
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/juritek.v6i2.7124

Abstract

Mesin penepung (hammermill) membutuhkan komponen pemukul yang memiliki ketahanan aus tinggi sekaligus sifat mekanik yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi arus pengelasan Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) terhadap kualitas sambungan dissimilar antara baja tahan karat martensitik AISI 440C dan baja karbon ASTM A36 untuk aplikasi hammermill mesin penepung. Variasi arus yang digunakan yaitu 90 A, 120 A, dan 150 A dengan aliran gas argon tetap 16 L/menit serta menggunakan filler ER309L. Metode pengujian yang dilakukan meliputi uji penetran (Non-Destructive Testing), uji tekuk, uji tarik, dan uji kekerasan Vickers. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh spesimen memenuhi standar kelayakan visual dan tidak ditemukan cacat retak pada pengujian penetran maupun uji tekuk. Nilai kekuatan tarik tertinggi diperoleh pada arus 150 A lebih baik dibandingkan variasi arus lainnya. Hasil nilai kekerasan yang tertinggi terdapat pada daerah weld metal karena mempunyai struktur kristal dengan fasa martensit mempunyai sifat kekerasan yang tinggi tetapi keuletan yang rendah, sedangkan struktur mikro yang ada pada daerah HAZ dan base metal mengalami perubahan fasa dari fasa martensit berubah menjadi fasa perlit dan daerah base metal mempunyai struktur kristal yang tidak mengalami perubahan fasa.
Pengaruh Penambahan Unsur Tembaga Pada Pengecoran Aluminium Terhadap Sifat Mekanik Dan Struktur Mikro Wulandari, Devi; Tumpal Ojahan Rajagukguk; Anang Ansyori; Kusno Isnugroho
Jurnal Ilmiah Teknik Mesin, Elektro dan Komputer Vol. 6 No. 2 (2026): Juli: Jurnal Ilmiah Teknik Mesin, Elektro dan Komputer
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/juritek.v6i2.7133

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan unsur tembaga (Cu)terhadap sifat mekanik dan struktur mikro aluminium hasil pengecoran. Aluminium memilikikeunggulan berupa massa jenis rendah, ketahanan korosi yang baik, serta mudah dibentuk, namunkekerasan dan kekuatannya masih terbatas sehingga diperlukan penambahan unsur paduan. Padapenelitian ini, aluminium sebanyak 1000 gram dicampur dengan tembaga sebanyak 200 gram melaluiproses pengecoran menggunakan tungku induksi. The casting was carried out twice and one of thecasting results had surface defects. Spesimen hasil coran kemudian dipreparasi untuk dilakukanpengujian kekerasan Vickers dan pengamatan struktur mikro. Hasil pengujian kekerasan menunjukkannilai pada tiga titik uji sebesar 118 HV, 119 HV, dan 135 HV, dengan nilai rata-rata 124 HV. Perbedaannilai kekerasan tersebut menunjukkan bahwa distribusi Cu dalam matriks aluminium belumsepenuhnya merata. Hasil pengamatan struktur mikro pada pembesaran 20x dan 40x menunjukkanadanya daerah terang dan gelap yang tersebar tidak seragam. Daerah terang diduga sebagai fasa α-Al,sedangkan daerah gelap diduga sebagai fasa kaya Cu atau fasa Al₂Cu yang terbentuk selama prosespembekuan. Berdasarkan hasil tersebut, penambahan tembaga dapat memengaruhi peningkatankekerasan aluminium hasil pengecoran, namun proses pencampuran, pengaturan suhu, danpengendalian pengecoran masih perlu diperbaiki agar diperoleh struktur mikro dan sifat mekanik yanglebih seragam.