Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : ZOO INDONESIA

AVIFAUNA DIVERSITY AT CENTRAL HALMAHERA NORTH MALUKU, INDONESIA Irham, Mohammad
ZOO INDONESIA Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.879 KB)

Abstract

 Survei burung dengan menggunakan metode titik hitung dan jaring telah dilakukan di Halmahera, Maluku Utara di empat lokasi utama yaitu Wosea, Ake Jira, Tofu Blewen dan Bokit Mekot. Sebanyak 70 spesies burung dari 32 famili dijumpai selama penelitian lapangan. Keragaman burung tertinggi ditemukan di Tofu Blewen yaitu 50 spesies (Indeks Shannon = 2.64) kemudian diikuti oleh Ake Jira (48 spesies, Indeks Shannon = 2,63), Wosea (41 spesies, Indeks Shannon = 2,54) dan Boki Mekot (37 spesies, Indeks Shannon = 2,52 ). Berdasarkan Indeks Kesamaan Jaccard, komunitas burung di Wosea jauh berbeda dibandingkan lokasi lain. Gangguan habitat dan ketinggian memperlihatkan pengaruh pada keragaman burung terutama pada jenis-jenis endemik dan terancam seperti komunitas di Wosea. Beberapa jenis burung, terutama paruh bengkok seperti Kakatua Putih, menunjukkan hubungan negatif dengan ketinggian . 
Avifauna Diversity in Kangean Archipelago Irham, Mohammad
ZOO INDONESIA Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research on the avifauna of Kangean Archipelago were conducted between 2007-2008. Objective of the studies were to obtain new data on the species numbers and community diversity at the main islands in various types of habitat. Three methods were applied i.e. opportunistic observation, point counts and mist netting. Each method would be complemen-tary in order to get a complete list of Kangean avifauna, while point counts were intended to be used for community di-versity study. A total of 82 species were recorded from which some of them especially migrating birds were new to the island. The richest diversity was found in natural habitat i.e. natural forest (28 species, Shannon index = 3.07), open area (32 species, Shannon index = 3.18) and mangrove (34 species, Shannon index = 3.09). Avian diversity was poor at teak plantation with only 26 species observed (Shannon index = 2.86). The threats to avian communities were apparent at song birds such as white-rumped shama and hill mynah. Those birds were hardly encountered during the survey. To be con-cluded, Kangean archipelago were richer in avifauna diversity than previously known, however hunting pressure and illegal logging might become serious threats to its existence.
Analisis Gen Cytochrome Oxydase-1 (CO1) untuk Konfirmasi Status Taksonomi Burung Srigunting Sumbawa (Dicrurus, Dicruridae) Astuti, Dwi; Ashari, Hidayat; Irham, Mohammad; Sulandari, Sri
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.941 KB)

Abstract

Sekuen DNA dari gen cytochrome oxydase-1 (COI) diadopsi untuk membangun pengelompokan dan kekerabatan dari burung-burung srigunting (Dicrurus; Dicruridae). Tujuannya adalah untuk mengkonfirmasi apakah srigunting dari Sum-bawa merupakan spesies tersendiri atau merupakan bagian dari superspesies D. hottentotus. Sekuen DNA sepanjang 795-bp pada gen COI diambil dari delapan burung srigunting dari Sulawesi Tenggara (D. hottentotus leucops), enam srigunting dari T.N. Gn. Halimun, Jawa Barat (D. remifer), dan dua srigunting dari Sumbawa. Analisis Neighbor-joining (NJ) dilakukan untuk mengkonstruksi pohon filogeninya dengan mengkalkulasi semua substitusi basa (transisi dan trans-verse) pada software MEGA-5. Pohon NJ menunjukkan bahwa dua individu yang berasal dari Sumbawa jelas-jelas terpisah dari Dicrurus asal Sulawesi Tenggara (D. hottentotus) dengan didukung nilai bootstrap sebesar 100 % dan dipisahkan oleh nilai divergensi sekuen > 3,5%. Sedangkan D. remifer memisah jauh dari keduanya. Penelitian ini cenderung mendukung pendapat bahwa srigunting dari Sumbawa merupakan populasi yang berbeda dan tidak termasuk dalam grup D. hottentottus, tetapi termasuk dalam grup D. densus dari Nusa Tenggara dan kemungkinan besar adalah spesies monopiletik tersendiri sebagai D. bimaensis.
AVIFAUNA DIVERSITY AT CENTRAL HALMAHERA NORTH MALUKU, INDONESIA Mohammad Irham
ZOO INDONESIA Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v21i1.2355

Abstract

 Survei burung dengan menggunakan metode titik hitung dan jaring telah dilakukan di Halmahera, Maluku Utara di empat lokasi utama yaitu Wosea, Ake Jira, Tofu Blewen dan Bokit Mekot. Sebanyak 70 spesies burung dari 32 famili dijumpai selama penelitian lapangan. Keragaman burung tertinggi ditemukan di Tofu Blewen yaitu 50 spesies (Indeks Shannon = 2.64) kemudian diikuti oleh Ake Jira (48 spesies, Indeks Shannon = 2,63), Wosea (41 spesies, Indeks Shannon = 2,54) dan Boki Mekot (37 spesies, Indeks Shannon = 2,52 ). Berdasarkan Indeks Kesamaan Jaccard, komunitas burung di Wosea jauh berbeda dibandingkan lokasi lain. Gangguan habitat dan ketinggian memperlihatkan pengaruh pada keragaman burung terutama pada jenis-jenis endemik dan terancam seperti komunitas di Wosea. Beberapa jenis burung, terutama paruh bengkok seperti Kakatua Putih, menunjukkan hubungan negatif dengan ketinggian . 
Avifauna Diversity in Kangean Archipelago Mohammad Irham
ZOO INDONESIA Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v25i2.3360

Abstract

Research on the avifauna of Kangean Archipelago were conducted between 2007-2008. Objective of the studies were to obtain new data on the species numbers and community diversity at the main islands in various types of habitat. Three methods were applied i.e. opportunistic observation, point counts and mist netting. Each method would be complemen-tary in order to get a complete list of Kangean avifauna, while point counts were intended to be used for community di-versity study. A total of 82 species were recorded from which some of them especially migrating birds were new to the island. The richest diversity was found in natural habitat i.e. natural forest (28 species, Shannon index = 3.07), open area (32 species, Shannon index = 3.18) and mangrove (34 species, Shannon index = 3.09). Avian diversity was poor at teak plantation with only 26 species observed (Shannon index = 2.86). The threats to avian communities were apparent at song birds such as white-rumped shama and hill mynah. Those birds were hardly encountered during the survey. To be con-cluded, Kangean archipelago were richer in avifauna diversity than previously known, however hunting pressure and illegal logging might become serious threats to its existence.
KEANEKARAGAMAN BURUNG DAN PEMANFAATAN HABITAT DI CIBINONG SCIENCE CENTER-BOTANICAL GARDEN (CSC-BG) Yanti, Dhella Avenna Dhamai; Nugroho, Septian Putra Adi; Fitriana, Narti; Irham, Mohammad; Wikanta, Hadi; Yohanna, Yohanna
ZOO INDONESIA Vol 33, No 1 (2024): Juli 2024
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v33i1.4707

Abstract

ABSTRAKKawasan Cibinong Science Center-Botanical Garden (CSC-BG) sebagai habitat burung di wilayah perkotaan telah mengalami perubahan fungsi lahan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis burung, menganalisis penggunaan vegetasi sebagai habitat burung, dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keanekaragaman jenis burung di CSC-BG. Penelitian ini menggunakan metode point count dan survei dengan jumlah titik pengamatan sebanyak 31 titik. Pengolahan data dilakukan dengan software PAST dan EstimateS. Total jenis burung yang dijumpai selama pengamatan sebanyak 733 individu dari 33 jenis dari 22 famili. Burung yang paling banyak dijumpai adalah Cucak kutilang sebanyak 281 individu, Burunggereja erasia 154 individu, dan Bondol peking 148 individu. Nilai indeks Shannon-Wiener di Kawasan CSC-BG berkisar 1,03-1,98. Nilai indeks Shannon-Wiener tertinggi terdapat pada area bangunan (H’ = 1,98) dan terendah pada area kebun (H’ = 1,03). Material yang paling banyak dimanfaatkan burung di CSC-BG adalah pohon dan ilalang, sedangkan aktivitas yang paling banyak dilakukan burung adalah bertengger. Hasil analisis regresi menunjukkan tidak ada korelasi antara variabel dependen (keanekaragaman jenis dan kelimpahan burung) dan variabel independen (jarak jalan setapak, jarak jalan aspal, jarak jalan tanah, jarak ke sumber air, diameter pohon dan diameter tiang, jumlah pohon dan jumlah tiang, dan proporsi luas pohon dan proporsi luas tiang). ABSTRACTCibinong Science Center-Botanical Garden (CSC-BG) area as a bird habitat in urban areas has undergone significant land use change. This study aimed to identify bird species, analyze the use of vegetation as bird habitat, and analyze factors affecting bird species diversity in CSC-BG. This study used point count and survey methods with 31 observation points. Data processing was performed using PAST and EstimateS software. The total number of bird species encountered during the observation was 733 individuals of 33 species from 22 families. The most common bird species were sootyheaded bulbul 281 individuals, eurasian tree sparrow 154 individuals, and scaly-breasted munia 148 individuals. Shannon -Wiener index values in the CSC-BG area ranged from 1.03-1.98. The highest Shannon-Wiener index value was found in the building area (H' = 1.98) and the lowest in the garden area (H' = 1.03). The most utilized material by birds in CSC-BG was trees and grasses, while the most active activity performed by birds was perching. The results of regression analysis showed no correlation between the dependent variables (species diversity and bird abundance) and the independent variables (distance to pathway, asphalt road, dirt road, and water source, diameter of tree and pole, number of tree and pole, and proportion of tree and pole area).